Menatap Langit, Ibadah yang Terlupakan

0 4,566

Menatap Langit, Ibadah yang Terlupakan—Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hijrah ke Madinah, Allah memerintahkannya untuk shalat menghadap Baitul Maqdis. Orang-orang Yahudi, sebagai penduduk mayoritas di Madinah, merasa senang melihat Nabi Muhammad dan para pengikutnya beribadah menghadap kiblat yang mereka sucikan. Tetapi, Rasulullah lebih mencintai Kakbah karena di sana terdapat Maqam Ibrahim.

Maka setiap selesai shalat, Rasul menengadahkan wajahnya ke arah langit sambil berdoa agar kiblat dialihkan kembali dari Baitul Maqdis ke arah Kakbah. Rasul tidak pernah berhenti melangitkan asa. Beliau terus menunggu turunnya wahyu pemindahan kiblat selama kurang lebih enam sampai tujuh belas bulan. Kemudian Allah mengabulkan permohonan tersebut dalam firman-Nya yang berbunyi:

قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al-Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS Al-Baqarah: 144)

 

10 Hikmah Menatap Langit

Dalam banyak ayat, penciptaan langit selalu didahulukan sebelum menyebut penciptaan bumi. Misalnya surat Ali Imran ayat 190 yang memuat penjelasan bahwa dalam penciptaan langit dan bumi, serta pergantian siang dan malam, terdapat tanda-tanda kekuasan Allah yang hanya diketahui oleh Ulul Albab; orang-orang yang mempunyai kecerdasan berlapis-lapis, yang senantiasa berdzikir dan berpikir.

Contoh lainnya dalam surat Yasin ayat 81 dan surat Ghafir ayat 57 yang memberi rangsangan kepada akal manusia untuk menggunakan logika qiyas al-awlaa. Bahwa jika menciptakan langit dan bumi yang begitu besarnya Allah mampu, apalagi sekedar menciptakan manusia, mematikan, dan menghidupkannya. Itu perkara yang kecil dan terlalu mudah untuk Allah lakukan.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa langit adalah makhluk ciptaan Allah yang sangat agung. Langit selalu disebut ketika Allah hendak menunjukkan kemahakuasaan-Nya. Begitu juga halnya ketika Dia memperingatkan kepada manusia bahwa ajal mereka (hari kiamat) telah dekat. Sebagaimana tercantum dalam surat Al-A’raf ayat 185.

Untuk itu, menatap langit artinya menyaksikan salah satu tanda kebesaran, keperkasaan, dan kekuasaan Allah.

Artikel Tafsir al-Quran: Makna Ayat Nur ‘ala Nur, Cahaya di Atas Cahaya

Inilah kenapa Syaikh Abdul Aziz Ath-Tharifi mengatakan bahwa menatap langit termasuk ibadah. Namun sayangnya, sedikit sekali orang yang mengerjakan ibadah yang tergolong mudah untuk diamalkan ini.

Dalam kitab “At-Tafsir wal Bayan”, lebih lanjut, Syaikh Ath-Tharifi menulis sepuluh faidah dan hikmah yang sangat luar biasa ketika seseorang menengadahkan wajah ke langit. Berikut ini penjelasan dari sepuluh poin yang beliau sebutkan.

Pertama: tafakkur (berpikir), tadabbur (merenung) dan i’tibar (mengambil pelajaran). Yakni, dengan mendongakkan wajah ke atas melihat langit luas, secara otomatis, konsentrasi akan tertuju pada objek yang dilihat mata. Baik itu dilakukan ketika siang atau malam, langit selalu memberi ilham kepada orang-orang yang mau berpikir, bahwa alam semesta ini sangat mengagumkan, indah, dan memesona. Ada banyak rahasia-rahasia ilmu pengetahuan yang dapat diungkap di atas sana.

Kedua: menunjukkan hajat, kefakiran, dan kelemahan diri. Secara ekspresif, meski tidak diucapkan dengan lisan, orang yang mengarahkan mukanya ke langit, berarti mengakui bahwa di atas sana ada kekuatan maha dahsyat. Ia mengharapkan datangnya pertolongan pada kekuatan itu.

Menurut penelitian, secara psikis, ada ketenangan tersendiri yang menyelinap masuk ke dalam jiwa seseorang saat ia melihat langit. Maka, bagi siapa pun yang sedang dirundung masalah, ketika dadanya merasa sesak-terhimpit berbagai ujian hidup yang datang bertubi-tubi, cobalah untuk memandang birunya cakrawala. Meski tidak ada jaminan bahwa masalah akan terselesaikan dengan cara sesederahana ini, tetapi, setidaknya hati akan lebih tenang dan pikiran akan lebih jernih. Sedikit demi sedikit, terbukalah jalan keluar dari lilitan masalah yang sedang dihadapi.

Artikel Refleksi: Tantangan Bagi yang Meragukan Kebenaran Al-Quran

Adapun rahasia kenapa melihat langit semenakjubkan itu pengaruhnya bagi kejiwaan, dikarenakan amalan ini merupakan manifestasi dari syiddatul iftiqar (mengakui kefakiran diri dan rasa sangat membutuhkan pertolongan Allah) yang merupakan intisari beribadah kepada-Nya. Syiddatul iftiqar inilah yang menjadi sebab datangnya curahan rahmat dari Allah. Sebagaimana doa Nabi Musa ‘alaihissalam yang sangat indah.

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ

Ya Tuhanku sesungguhnya aku ini fakir (sangat memerlukan) suatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashash: 24)

Ketiga: berbaik sangka kepada Allah. Seakan-akan, insan yang menatap langit, sedang menanti datangnya berita baik dengan penuh rasa harap. Hal inilah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau berhusnudzhan kepada Rabbnya, dan ada rasa optimis dalam jiwanya, bahwa cepat atau lambat, apa yang diinginkan, pasti Allah kabulkan.

Keempat: mentauhidkan Allah dalam perkara Rububiyah dan perkara Uluhiyah. Maksud dari Rububiyah adalah; perbuatan-perbuatan yang hanya dapat dilakukan oleh Allah. Seperti memberi rezeki, menciptakan, menghidupkan, mematikan, serta mengatur tatanan alam semesta ini. Sedangkan pengertian Uluhiyah adalah; perbuatan-perbuatan hamba yang seharusnya ditujukan untuk Allah semata.

Materi Khutbah Jumat: Cara Menumbuhkan Sifat Muraqabah

Jadi, dengan melihat langit yang merupakan tanda-tanda keagungan-Nya, fitrah mengakui keesaan Khaliq akan tumbuh. Sebab, mustahil kiranya, alam semesta ini dengan segala sistemnya yang rumit, diatur oleh dua Tuhan.

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَانَ اللَّهِ رَبِّ الْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ

Sekiranya di langit dan bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka Maha Suci Allah yang mempunyai ‘Arsy dari pada apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Anbiya: 22)

Kelima: bertambahnya keimanan dengan menyaksikan kekuasaan Allah, keagungan ciptaan-Nya, dan kesempurnaan kreasi-Nya. Rasa takjub yang muncul saat seorang mukmin melihat angkasa raya, akan membuatnya semakin yakin bahwa Dia Yang mampu menicptakan semua kehebatan ini, adalah Dzat yang maha segala-galanya. Tidak ada lagi keraguan sedikit pun di dalam hatinya akan adanya Allah. Dengan demikian, jika stamina iman bertambah, semangat ibadah pun semakin menggebu-gebu.

Keenam: tumbuhnya sifat tawadhu’ (rendah hati) pada diri seseorang ketika ia melihat langit; makhluk yang jauh lebih besar darinya. Maka dengan mengetahui qudrah (kekuasaan) Allah, hilanglah benih-benih kesombongan, jiwanya pun tersucikan dari noktah-noktah hitam kejumawaan. Tumbuh kesadaran di hati, bahwa ia hanyalah debu di dalam debu. Manusia hanyalah makhluk yang kecil di planet bernama ‘Bumi’. Dibandingkan dengan planet-planet lainnya yang ada di tata surya, Bumi tidak lebih besar daripada Saturnus, Uranus, atau Jupiter.

Lebih dari itu, dengan melihat langit yang di sana terdapat Matahari saat siang dan Bulan di saat malam, seseorang akan semakin tawadhu’, bahwa ia bukanlah siapa-siapa. Sepenuhnya ia menyadari, bahwa semua yang ada di bumi, sangat bergantung dengan apa yang ada di atas sana.

Maka, jika di dunia ini masih ada orang yang berlaku sombong, bersifat angkuh, merasa lebih hebat dari pada yang lainnya, boleh jadi, ia merasa sedang di langit. Padahal, kakinya masih berpijak di bumi. Dan jika pun ia mempunyai kelebihan tertentu, bukan berarti ia boleh ujub dan takabur akan kehebatan dirinya. Sebab, masih ada langit di atas langit.

Artikel Sejarah Islam: Ain Jalut, Saksi Bisu Ketika Mongol Bertekuk Lutut

Ketujuh: tumbuhnya rasa khauf (takut) kepada Allah. Setiap kali kekuatan “Sang Raja” tampak jelas di mata seorang abdi, bertambahlah rasa takut dalam hatinya. Karena itulah ia akan selalu taat dan tidak berani berbuat maksiat. Jadi, dengan melihat langit, seseorang menginsafi adanya Dzat Yang Maha Melihat dan senantiasa mengawasi gerak-geriknya.

إِنَّ رَبَّكَ لَبِالْمِرْصَادِ

Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar mengawasi.” (QS. Al-Fajr: 14)

Inilah perbedaan antara takut kepada Allah dan takut kepada makhluk. Ketika kita takut kepada makhluk, maka kita akan menghindar dan menjauhinya. Tetapi ketika kita takut kepada Allah, maka kita kita akan semakin dekat dengan-Nya.

Kedelapan: tumbuhnya sifat tawakkal. Yaitu bersandar hanya kepada Allah; Dzat yang mengatur kehidupan ini. Mutawakkil, orang yang bertawakkal, artinya orang percaya dan menyerahkan segala urusannya kepada Dia yang yang Maha Mampu. “Sesungguhnya, apabila Dia menghendaki sesuatu, maka ia hanya perlu berkata, Jadilah!” Maka, jadilah sesuatu itu.” (QS. Yasin: 82)

Kesembilan: beriman kepada Allah dengan seluruh Asma’ul Husna dan sifat-sifat-Nya. Di antara nama dan sifat itu ialah; “Al-Aliy” (Yang Maha Tinggi), ‘Ar-Raziq’ (Yang Maha Memberi Rizqi), “Al-Lathif” (Yang Maha Lembut), “Al-Aziz” (Yang Maha Mulia), “Al-Khaliq” (Yang Maha Mencipta), “Al-Qahiru fauqa  ‘Ibaadihi” Dia yang Maha Perkasa, berada di atas seluruh makhluk, dilihat dari tempat dan kedudukan-Nya. Bukti-bukti dari semua nama dan sifat yang bagus itu, dapat kita saksikan dengan menatap langit.

Kesepuluh: kehinaan penguasa-penguasa selain Allah yang ditinggikan, diagungkan, berlaku zalim dan menyombongkan diri di muka bumi. Maksudnya, seseorang yang menghadap ke langit berarti dia hanya memiliki Allah. Maka pada saat yang bersamaan, ia telah meruntuhkan kejumawaan para sultan, raja, presiden, atau siapa pun yang berkuasa, karena sesungguhnya mereka itu memang tidak bisa berbuat banyak. Maka tidak bisa terlalu diharapkan. Hanya Allah sajalah penguasa Yang Maha Adil dan Bijaksana.

Mudah-mudahan, penjelasan di atas menambah wawasan dan pengetahuan keagamaan untuk kemudian diamalkan. Ini tentang amalan yang sangat mudah dikerjakan, besar manfaatnya, dan begitu banyak hikmahnya. Wallahu waliyut taufiiq ilaa aqwamith thariiq. (Muhammad Faishal Fadhli/dakwah.id)

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.