Tantangan Bagi yang Meragukan Kebenaran Al-Quran

0 954

Artikel yang berjudul Tantangan Bagi yang Meragukan Kebenaran Al-Quran ini adalah artikel ke-4 dari serial artikel #MadrasahRamadhan

 

 

1974. Tahun di mana Maurice Bucaille, seorang ahli bedah Perancis mendapat undangan dari Anwar Sadat, Presiden Mesir ketika itu. Adapun maksud dari undangan tersebut adalah untuk melakukan penelitian terhadap mumi Firaun yang ada di museum Kairo.

Pada tahun 1976, tepatnya dua tahun kemudian, Bucaille menulis sebuah buku yang berjudul La Bibel, le Coran et la Science yang sudah diterjemahkan oleh Prof. Rasyidi dan terbit pertama tahun 1979. Buku ini membahas tentang keserasian antara doktrin kitab suci dengan sains modern. Adapun objek dari tulisan ini adalah Bibel dan al-Quran.

Pada buku ini, Bucaille menerangkan kesesuaian al-Quran dengan sains. Banyak contoh yang ia tulis, seperti fakta tentang banjir Nabi Nuh, embriologi, astronomi, hingga zoologi. Dan dengan yakin ia menyatakan bahwa al-Quran sesuai dengan fakta-fakta sains modern tanpa ada keraguan.

Kembali pada penelitian Bucaille tentang mumi Firaun. Pada tahun 1976 Bucaille mengidentifikasi bahwa mumi yang ditelitinya adalah Merneptah anak dari Ramses II, dan dalam proyek penelitian tersebut Bucaille menemukan bahwa mumi ini adalah mumi yang pernah diselamatkan dari laut dan diawetkan. (www.gatra.com)

Penelitian Bucaille mendapati sisa-sisa air garam dalam lambung mumi Firaun ini, dan hal tersebut menguatkan keyakinannya bahwa mumi ini mati karena tenggelam di lautan. Hasil penelitian tersebut dipublikasikan dengan judul Les momies des Pharaons et la medecine (Mumi Firaun: sebuah Penelitian Medis Modern.)

 

Khazanah Fikih Islam: Pentingnya Kajian Sejarah Hukum Islam

 

Berkat penelitiannya ini, Bucaille mendapatkan pengharagaan Le Prix Diane-Potier-Boes, sebuah penghargaan dalam bidang sejarah dari Academie Francaise dan penghargaan Prix General dari Accademie Nationale de Medicine Prancis.  (www.wikipedia.com; Bible, Quran dan Sains Modern, Maurice Bucaille, 282-284)

Al-Quran telah menjelaskan peristiwa tersebut sejak 14 abad yang lalu. Sebuah deskripsi kematian seorang tiran yang ditenggelamkan di laut merah karena kesombongan dan kedurjanaannya, hingga berani menyatakan diri sebagai tuhan yang layak disembah. Untuk kemudian jasadnya Allah pelihara sebagai bahan pelajaran bagi manusia setelahnya. Allah berfirman:

“Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: “Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)”. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami.” (QS. Yunus: 90-92)

Setelah mengetahui bahwa al-Quran telah bicara tentang tenggelamnya Firaun dan jasadnya yang dipelihara oleh Allah, Maurice Bucaille percaya bahwa al-Quran adalah wahyu dari Tuhan yang benar tanpa kedustaan.

 

Al-Quran Adalah Kitab Petunjuk

Al-Quran adalah petunjuk (al-Huda) bagi manusia dalam melihat semua tanda-tanda yang ada di alam semesta. Allah memerintahkan manusia untuk memelajari, merenungi, dan menemukan keajaiban-keajaiban yang telah diisyaratkan oleh Al-Quran.

Sebagaimana firman Allah:

كِتَٰبٌ أَنزَلۡنَٰهُ إِلَيۡكَ مُبَٰرَكٌ لِّيَدَّبَّرُوٓاْ ءَايَٰتِهِۦ وَلِيَتَذَكَّرَ أُوْلُواْ ٱلۡأَلۡبَٰبِ

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad: 29)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan bahwa ayat ini meneguhkan posisi al-Quran sebagai sumber segala pengetahuan dengan kebaikan yang melimpah.

Al-Quran adalah petunjuk dari kesesatan, obat untuk penyakit, dan cahaya yang menerangi dalam kegelapan.

Dan manusia diperintahkan untuk mengkajinya untuk mengetahui rahasia-rahasia dan memahami hikmah yang terkandung di dalamnya. (Taisir Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, Abdurahman as-Sa’di, 712)

 

Artikel Fikih: Mendoakan Keburukan Saat Dizalimi, Harus Begitukah?

 

Al-Quran bukanlah buku sains ataupun ensiklopedia yang berisi fakta-fakta yang bersifat hipotesis dan spekulatif. Justru al-Quran adalah petunjuk yang berisi berbagai tanda, yang dengannya manusia dapat memahami segala fakta yang terjadi pada alam semesta.

Syaikh Muhammad al-Ghazali menjelaskan,

“Saya menangkap—wallahu a’lam—bahwa kemampuan al-Quran untuk memberi inspirasi berlaku sampai akhir zaman dan keberadaannya membuktikan bahwa ia (al-Quran) bukanlah kitab ilmu. Karena ilmu—dalam arti secara empiris—selalu mengalami pasang surut, sementara menolak teori-teori dan menetapkan fakta-fakta adalah tugas manusia.”

“Berbeda dengan al-Quran yang tugasnya adalah membina manusia serta membimbingnya pada tanda-tanda yang memungkinkan pintu ilmiah terbuka lebar, karenanya tidak pernah kita jumpai dalam al-Quran hal-hal kontradiktif antara hakikat ilmiah dan ayat-ayatnya.” (Al-Quran Kitab Zaman Kita, Muhammad al-Ghazali, 326)

Sebagai kitab yang berisi petunjuk, al-Quran telah menginspirasi banyak cendikiawan dalam menemukan kebenaran dan mengakuinya sebagai sesuatu yang berasal dari Tuhan.

Dari tanda-tanda yang mampu mereka temukan, mereka mendapatkan keimanan. Sesuai dengan apa yang telah Allah jelaskan dalam al-Quran:

إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ وَٱلنَّهَارِ لَأٓيَٰتٍ لِّأُوْلِي ٱلۡأَلۡبَٰبِ

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS. Ali Imran: 190)

Dr. Zakir Naik kembali menegaskan perihal al-Quran sebagai kumpulan tanda-tanda,

“Al-Quran bukanlah sebuah buku ilmu pengetahuan, tetapi ia adalah kitab yang berisi tanda-tanda dalam bentuk ayat-ayat. Di dalam al-Quran terdapat lebih dari 6000 ‘tanda’. Dan hingga saat ini, sudah lebih dari 1000 tanda yang selaras dengan ilmu pengetahuan.” (Miracle al-Quran dan as-Sunnah, Zakir Naik, 11)

 

Tantangan Al-Quran Terhadap Mereka yang Meragukan Kebenarannya

Al-Quran sebagai mukjizat terbesar yang diberikan oleh nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam benar-benar menundukkan setiap manusia yang terlalu menuhankan akal dan pikiran. Sebagaimana dahulu, saat orang-orang Quraisy menuduh bahwa al-Quran yang diturunkan kepada Nabi hanyalah dongeng belaka. (Lihat: Surat al-Anfal ayat 31)

Maka al-Quran menantang mereka untuk mendatangkan semisal al-Quran. Tantangan pertama termaktub dalam surat Hud ayat 13-14, yang menantang siapa pun yang bisa membuat sepuluh surat semisal al-Quran, bahkan al-Quran membolehkan untuk meminta bantuan kepada siapa pun dalam pembuatannya.

اَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرٰىهُ ۗقُلْ فَأْتُوْا بِعَشْرِ سُوَرٍ مِّثْلِهٖ مُفْتَرَيٰتٍ وَّادْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Bahkan mereka mengatakan: ‘Muhammad telah membuat-buat Al Quran itu’, Katakanlah: ‘(Kalau demikian), maka datangkanlah sepuluh surat-surat yang dibuat-buat yang menyamainya, dan panggillah orang-orang yang kamu sanggup (memanggilnya) selain Allah, jika kamu memang orang-orang yang benar’.” (QS. Hud: 13)

 

فَاِلَّمْ يَسْتَجِيْبُوْا لَكُمْ فَاعْلَمُوْٓا اَنَّمَآ اُنْزِلَ بِعِلْمِ اللّٰهِ وَاَنْ لَّآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۚفَهَلْ اَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Jika mereka yang kamu seru itu tidak menerima seruanmu (ajakanmu) itu maka ketahuilah, sesungguhnya al-Quran itu diturunkan dengan ilmu Allah, dan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia, maka maukah kamu berserah diri (kepada Allah)?” (QS. Hud: 14)

Tantangan yang Allah sebutkan dalam al-Quran tidak hanya berlaku pada masa itu saja, akan tetapi berlaku atas seluruh manusia hingga hari kiamat kelak. (I’jaz al-Quran, Abu Bakar al-Baqilani, 8)

 

Khazanah: Ilmu Islam itu Sangat Luas, Ini yang Fardhu ‘Ain untuk Dipelajari

 

Tantangan kedua yang al-Quran sebutkan lebih ringan dari sebelumnya. Turun level menjadi tantangan untuk mendatangkan satu surat semisal al-Quran. Seperti yang termaktub dalam surat Yunus ayat 38:

اَمْ يَقُوْلُوْنَ افْتَرٰىهُ ۗ قُلْ فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّثْلِهٖ وَادْعُوْا مَنِ اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Atau (patutkah) mereka mengatakan, ‘Muhammad membuat-buatnya’. Katakanlah, ‘(Kalau benar yang kamu katakan itu), maka cobalah datangkan sebuah surat seumpamanya dan panggillah siapa-siapa yang dapat kamu panggil (untuk membuatnya) selain Allah, jika kamu orang yang benar.” (QS. Yunus: 38)

Pada tantangan ketiga, Allah lewat al-Quran menantang seluruh jin dan manusia untuk mendatangkan satu ayat semisal al-Quran. Hanya satu ayat. Seperti yang Allah firmankan dalam surat al-Baqarah ayat 23-24,

وَاِنْ كُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ ۖ وَادْعُوْا شُهَدَاۤءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang al-Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal al-Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah: 23)

فَاِنْ لَّمْ تَفْعَلُوْا وَلَنْ تَفْعَلُوْا فَاتَّقُوا النَّارَ الَّتِيْ وَقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ ۖ اُعِدَّتْ لِلْكٰفِرِيْنَ

Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya)—dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 24)

Tantangan-tantangan ini bertujuan menunjukkan supremasi al-Quran sebagai wahyu yang benar dan tak terbantahkan. Dan semua ini menunjukkan bahwa manusia, secerdas apa pun tidak akan pernah sanggup menjawab tantangan al-Quran. Tidak dahulu, hari ini, bahkan hingga kiamat nanti.

 

Masihkah ada Keraguan Terhadap Kebenaran Al-Quran?

Hidayah merupakan hak prerogatif Allah secara mutlak. Allah memberikannya kepada siapa yang Dia kehendaki dan mencabut dari siapa pun yang Dia kehendaki pula.

Banyak para ilmuan dan cendikiawan pada akhirnya tunduk dan mengakui setelah mereka menemukan sesuatu yang ternyata al-Quran telah bicara jauh sebelumnya. Hingga akhirnya mereka menyatakan diri untuk beriman.

Allah membekali manusia akal pikiran dengan porsi dan ukuran yang mengagumkan. Akal berfungsi untuk membaca tanda-tanda yang telah Allah sematkan di seluruh semesta, agar manusia berpikir bahwa apa telah Allah ciptakan tidak pernah sia-sia. Justru ia menjadi rambu-rambu yang harus diikuti untuk menemukan keyakinan hakiki.

Namun yang sangat disayangkan justru datang dari mereka yang menyebut dirinya sebagai orang beriman. Mereka memiliki al-Quran dalam genggaman, tapi ibarat tikus yang mati di lumbung padi, al-Quran tidak pernah jadi pedoman. Seperti nahkoda kapal yang memegang kompas, tapi tidak mengerti cara menjalankannya dengan benar dan pas.

 

Artikel Tadabur: Sindiran Al-Quran Tentang Watak Liberalisme

 

Jika Ramadhan adalah bulan al-Quran, inilah kesempatan buat kita untuk kembali membuka lembarannya, membaca dengan penuh penghayatan, memahami dengan penuh kesungguhan untuk kemudian diamalkan tanpa ada keraguan.

Al-Quran adalah pedoman. Di dalamnya terdapat semua jawaban yang manusia butuhkan. Allah telah menjadikan al-Quran sebagai matahari yang cahayanya tidak akan pernah padam, menyingkap gulita kegelapan dan kebodohan.

Janji Allah bahwa al-Quran akan selalu otentik hingga akhir zaman tanpa pernah ada revisi dan perubahan. Al-Quran tidak akan pernah berubah, namun jika memelajari dan mengamalkannya, ia akan mengubah hidup kita.

Masihkah ada keraguan? (Fajar Jaganegara/dakwah.id)

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.