Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

5 Langkah Rasulullah dalam Membangun Masyarakat Islam di Madinah

22,639

Sejak tiba di Madinah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam langsung memikul tugas berat memperbaiki dan membangun masyarakat Islam dan daulah Islam yang selanjutnya akan mewarisi dua daulah besar; Persia dan Romawi.

Lima langkah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diterapkan untuk membangun benih peradaban baru pembentukan masyarakat Islam di Madinah antara lain:

PERTAMA: MENDIRIKAN MASJID

Langkah pertama dalam perbaikan dan pembangunan masyarakat Islam di Madinah adalah mendirikan masjid dan beberapa ruang untuk tempat tinggal keluarga beliau.

Melalui masjid inilah yang akhirnya dijadikan sebagai basis dan pusat kendali seluruh aktivitas masyarakat Islam di Madinah. Sehingga, masjid menjadi icon persatuan masyarakat Islam hingga sekarang.

KEDUA: MENDATANGKAN DUA KELUARGA

Langkah berikutnya adalah mendatangkan dua keluarga mulia; keluarga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan keluarga Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan beberapa sahabat lain yang memungkinkan, untuk dihijrahkan dari Mekah ke Madinah. Di antaranya, Zaid bin Haritsah serta keluarganya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu. Ia mengirim seseorang untuk mencari keluarganya untuk dibawa ke Madinah. Begitu seterusnya hingga hampir seluruh umat Islam Mekah dipindahkan ke Madinah.

Baca juga: Rencana Ilahi di Balik Proses Perjuangan Rasulullah dalam Mempersiapkan Kemenangan Islam

KETIGA: MEMBANGUN KOMUNIKASI

Menjalin komunikasi dengan kaum Yahudi melalui orang yang ditokohkan oleh mereka dan mendakwahi mereka untuk masuk Islam. Saat itu yang didekati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah Abdullah bin Salam. Ia adalah seorang pendeta yang terhormat di kalangan Yahudi Madinah.

Saat beliau tiba di Madinah, Abdullah bin Salam datang untuk menguji kebenaran nubuwah dan risalah yang dibawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ia mengajukan sejumlah pertanyaan. Ia berkata, “Aku akan menanyakan tiga hal kepadamu. Tidak ada yang mengetahui jawabannya selain Nabi. Apa tanda-tanda pertama Kiamat? Apa makanan pertama yang dimakan para penghuni surga? Kenapa anak mirip dengan ayah atau ibunya?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu membeberkan jawaban yang barusan dikabarkan oleh malaikat Jibril. “Tanda pertama kiamat adalah api yang keluar dari timur, menghalau manusia menuju barat. Makanan pertama yang dimakan penghuni Surga adalah tambahan hati ikan Paus. Adapun anak, jika air mani lelaki mendahului air mani perempuan, anak mirip ayahnya. Jika air mani perempuan mendahului air mani laki-laki, anak mirip ibunya.”

Mendengar jawaban tersebut, saat itu juga Abdullah bin Salam mengucapkan dua kalimat syahadat.

Saat Abdullah bin Salam masuk Islam dan keislamannya mulai membaik, kesempatan terbuka lebar untuk menjalin komunikasi lebih lanjut dengan orang-orang Yahudi dan mengajak mereka untuk masuk Islam.

KEEMPAT: MEMBUAT PERJANJIAN

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membuat perjanjian untuk kaum Muhajirin dan Anshar yang memuat perjanjian dengan kalangan Yahudi di Madinah.

Isi perjanjian itu beliau buat sedetail mungkin dan memuat kebijakan-kebijakan yang mengarah pada pemeliharaan stabilitas posisi masyarakat Islam di Madinah saat itu.

Baca juga: Kemunduran Turki Utsmani Dipicu Oleh Beberapa Faktor Ini

Melalui perjanjian tersebut pula Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berusaha untuk menyatukan seluruh elemen penduduk Madinah yang terdiri dari kalangan Muhajirin-Anshar dan tetangga mereka dari kalangan Yahudi.

Dengan perjanjian tersebut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengikat mereka semua dan menjadikan mereka satu kelompok yang mampu menghadapi siapapun yang berniat jahat terhadap mereka.

KELIMA: MEMPERSAUDARAKAN ANTAR GOLONGAN

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshar dengan ikatan yang lebih kuat lagi. Generasi dari kalangan Muhajirin dinikahkan dengan generasi dari kalangan Anshar.

Di mana saat itu kalangan Muhajirin berada dalam situasi yang sangat memerlukan bantuan untuk meringankan segala beban hidup di tempat yang asing, dengan kondisi ekonomi yang masih lemah, dan pengaruh psikologis lantaran berpisah dengan keluarga besar mereka di Mekah.

Langkah ini merupakan bentuk sikap yang lurus, kesempurnaan nubuwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kematangan politik beliau, dan kebijaksanaan yang dapat diterima semua kalangan.

Walhasil, melalui konsep persaudaraan seperti itu masyarakat Islam Madinah saling menyatu dan menjadi satu tubuh untuk sama-sama memikul beban yang ditanggung.

Baca juga: Pembaruan Ajaran Agama di Era Jahiliyah

Ketika persatuan mereka tumbuh baik dan kokoh, itu artinya mereka juga akan siap untuk memikul beban pengumuman perang melawan seluruh umat yang berseberangan dengan Islam, memerangi orang yang dekat ataupun yang jauh dari kalangan musyrikin dan kafir. Allah ‘azza wa jalla berfirman,

وَقَٰتِلُوهُمۡ حَتَّىٰ لَا تَكُونَ فِتۡنَةٞ وَيَكُونَ ٱلدِّينُ كُلُّهُۥ لِلَّهِۚ فَإِنِ ٱنتَهَوۡاْ فَإِنَّ ٱللَّهَ بِمَا يَعۡمَلُونَ بَصِيرٞ

“Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu semata-mata untuk Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran), maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Anfal: 39)

(Disadur dari kitab Hadzal Habib Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ya muhib, Syaikh Abu Bakar Jabir al-Jazairi, 174-181) wallahu a’lam [Shodiq/dakwah.id]

Intisari

  • Rasulullah adalah sosok pemimpin yang memiliki kecerdasan di berbagai bidang, termasuk strategi politik pembentukan negara.
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki langkah strategis yang menghindarkan masyarakat Islam dari konflik dengan etnis Yahudi penduduk Madinah saat itu.
  • Mempersaudarakan antar sesama kelompok adalah strategi untuk memperkuat persatuan umat.