Ain Jalut, Saksi Bisu Ketika Mongol Bertekuk Lutut

0 854

Artikel yang berjudul “Ain Jalut, Saksi Bisu Ketika Mongol Bertekuk Lutut” ini adalah artikel ke-16 dari serial artikel #MadrasahRamadhan

 

3 September 1260 M adalah tanggal yang dicatat oleh sejarawan tentang peristiwa besar ini. Sebuah pertempuran yang menentukan nasib kaum muslimin melawan bangsa Mongol. Pertempuran yang dikenal dengan pertempuran Ain Jalut, merujuk pada tempat peristiwa ini terjadi.

Perang ini dikenal dari nama tempat terjadinya medan laga pertempuran ini. Ain Jalut, sebuah daerah di daerah Nablus, Selatan Palestina, menjadi saksi perang besar yang mempertemukan 40.000 pasukan. Masing-masing pihak membawa 20.000 personil pada pertempuran ini.

Pertempuran ini bertepatan pada 25 Ramadan tahun 658 H, seperti yang dicatat oleh Tamir Badar dalam bukunya Ayyamun La Tunsa, ia menyebutkan, bahwa pertempuran ini adalah pertempuran yang sangat menentukan dalam sejarah Islam dan kaum muslimin. (Ayyamun La Tunsa, Tamir Badar, 185)

Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa para ahli sejarah sepakat bahwa pertempuran ini terjadi di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, yang berlangsung selama tiga hari dan puncak pertempuran terjadi pada hari Jumat, 25 Ramadan 658 H. (Al-Bidayah wa an-Nihayah, Ibnu Katsir, 17/399)

Pada pertempuran ini kaum muslimin dipimpin oleh Saifuddin Quthuz dan panglimanya Ruknuddin Baibars. Sedangkan di pihak mongol dipimpin oleh Kitbugha salah seorang panglima dari Hulagu Khan, penguasa Mongol untuk wilayah Asia Barat.

Pertempuran Ain Jalut adalah kemenangan pertama bagi kaum muslimin, setelah sebelumnya negeri-negeri kaum muslimin jatuh dalam hinanya kekalahan. Gelombang ekspansi pasukan Mongol telah membunuh jutaan manusia, bahkan Baghdad harus tunduk menyerah pada tahun 656 H.

Artikel Tsaqafah: Golongan Munafik Lebih Berbahaya dari Musuh, Kenali Sifat dan Karakter Mereka!

Sang Khalifah, al-Musta’sim Billah bahkan terbunuh, pada hari di mana Badghad diserbu 200.000 pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan. Keluarganya habis dibantai, sedangkan sisanya dijual sebagai budak.

Sebuah memori pedih yang pernah berlaku dalam sejarah perjalanan kaum muslimin. Satu ingatan perih, bahwa kelemahan, perpecahan, dan cinta dunia menjadi sebab runtuhnya rumah besar yang kita sebut khilafah.

Paska runtuhnya Baghdad, bahkan kekhilafahan kaum muslimin harus ‘tertidur’ selama 3,5 tahun lamanya. Kedigdayaan kekhilafahan Abbasiyah selama kurang lebih 600 tahun roboh. Gelombang serangan Bangsa Mongol atas dunia Islam membuat mental para pemimpin dan sultan runtuh.

 

Merawat Ingatan: Tahun 656 H, Pengkhianatan Intelijen Syiah dan Pembantaian Kaum Muslimin

Wilayah Kekuasaan Mongol yang menjadi lawan pasukan Islam di pertempuran Ain Jalut-dakwah.id
Wilayah kekuasaan Mongol yang menjadi lawan pasukan Islam di Pertempuran Ain Jalut | Source: www.britannica.com

Dua tahun sebelumnya, di tahun 656 H, sebuah tahun yang kelam, hari-hari pada tahun itu begitu mencekam. Tahun di mana kematian begitu dekat, mengetuk setiap pintu rumah kaum muslimin. Langit Baghdad mungkin cerah, tapi tanahnya basah oleh darah, di mana jasad-jasad bergelimpangan tanpa kepala.

Hulagu Khan berhasil menaklukkan banyak kerajaan, dari wilayah-wilayah Asia Tengah, hingga perbatasan Abbasiyah. Belum puas, ia melirik kekhilafahan Abbasiyah sebagai target selanjutnya.

Sudah sejak tahun 649 H, Hulagu mempersiapkan pasukan dan rencana untuk melumat kekhilafahan kaum muslimin. Lobi politik telah dilakukan, dan strategi telah disiapkan. Ia juga menggaet raja-raja Nasrani Armenia dan wilayah Syam untuk bekerja sama.

Bahkan, internal kekhilafahan pun berhasil menjadi pion yang dimanfaatkan. Adalah Ibnu al-‘Alqami, seorang perdana Menteri Syiah yang juga ikut ambil bagian dari rencana besar ini. Ia berperan sebagai mata-mata, dan peran strategis lainnya yang banyak memuluskan rencana Hulagu menaklukkan Baghdad.

Artikel Sejarah: 5 Langkah Rasulullah dalam Membangun Masyarakat Islam di Madinah

Salah satu peran strategis Ibnu al-‘Alqami dalam membantu pasukan Mongol adalah memangkas personil militer kekhilafahan, ia juga melakukan lobi politik kepada Hulagu untuk menjadikannya wakil Mongol di Irak, dan sebagai gantinya, ia akan memuluskan masuknya pasukan Mongol ke Bangdad. (Taarikh al-Islami, Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi, 48/34-35)

Serigala berbulu domba, itulah Ibnu al-‘Alqami, dia juga berperan sebagai negosiator antara Khalifah al-Musta’shim dengan Hulagu. Dengan kelicikan dan kecerdikannya, ia berhasil menipu sang Khalifah untuk datang menghadap Hulagu dan membicarakan perjanjian damai tipu-tipu.

Perang adalah tipu daya, begitu sabda Nabi. Sayangnya, Sang Khalifah dalam episode pahit ini adalah objek dari tipu daya yang dimainkan Hulagu dan Ibnu al-‘Alqami.

Ketika al-Musta’shim beserta pembesar kekhilafahan, berikut keluarga dan para ulama datang ke Kemah Hulagu untuk ‘berbincang’, namun yang bicara pada kesempatan itu buka kata-kata, tapi pedang yang memutuskan kepala dari raga.

Terjadilah panggung pembantaian. Para pejabat, para ulama, keluarga khalifah dibunuh di tempat, di hadapan al-Musta’shim sendiri. Sang Khalifah juga dipaksa menonton bagaimana putra-putra dan cucunya dibunuh di depan matanya, dan Khalifah juga dibunuh sebagai penutup ‘acara’. (Tarikh al-Islami, Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi, 48/36)

Pembantaian atas khalifah, para pejabat dan pembesar kekhilafahan adalah mukadimah dari panggung pembantaian yang lebih besar. Karena hari-hari mengerikan bagi Baghdad baru dimulai setelah itu.

Artikel Sejarah Islam: Belajar Sabar dari Kisah Perang Badar

Para muslimah yang menjaga kesucian dirinya, pada hari itu ternoda, hanya sedikit anak-anak yang menjadi yatim dan hanya sedikit muslimah yang menjanda. Karena pasukan Mongol tidak pilih kasih untuk membunuh, tidak ada batas minimal bagi mereka untuk sebuah kematian.

Imam Suyuti menyebutkan, bahwa panggung pembantaian dipentaskan selama 40 hari lamanya. Nyawa manusia bagai permainan. Hidup seseorang diputuskan pada pedang-pedang mereka, siapa yang hidup, dan siapa yang mati dipilih sesuai selera hati.

Imam ad-Dzahabi berkomentar atas musibah naas tersebut, “Ini adalah musibah yang belum pernah menimpa kaum muslimin.” Sebuah gambaran betapa hari itu, air mata dan pekik tangis pun tak sanggup lagi mengalir. (Tarikh al-Khulafa’, Jalaluddin as-Suyuti, 369)

 

Pertempuran Ain Jalut: Bukti Ruh Jihad Masih Membara

Peta pertempuran Ain Jalut-dakwah.id
Peta pertempuran Ain Jalut | Source: weaponsandwarfare.com

Paska jatuhnya Baghdad, hegemoni Mongol semakin meluas. Pedang-pedang mereka terus haus darah hingga merembet ke negeri-negeri lainnya. Kematian datang lebih cepat lewat ketakutan. Pamor pasukan Mongol membuat siapa saja bergidik ngeri.

Setelah selesai dengan Baghdad, Hulagu melirik Syam sebagai target selanjutnya. Pada bulan Safar tahun 656 H atau bertepatan dengan 10 Februari 1258 M, Hulagu dengan kekuatan 120.000 pasukan menuju Syam.

Daerah demi daerah takluk, tanah mereka basah oleh darah, karena sudah diketahui secara umum, pasukan Mongol tidak pernah belas kasih atas wilayah yang mereka taklukan, kecuali akan terjadi apa yang disebut panggung pembantaian.

Tidak butuh waktu lama, cukup satu bulan, pada bulan Rabiul Awwal, pasukan Mongol telah menguasai hampir seluruh Syam, dari Aleppo, Damaskus hingga Gaza berhasil ditaklukkan. Sedangkan Mesir masih dalam intaian. (Ayyamun La Tunsa, Tamir Badar, 186)

Artikel Sejarah Islam: Kemunduran Turki Utsmani Dipicu Oleh Beberapa Faktor Ini

Sementara di Mesir, yang ketika itu menjadi wilayah kekuasaan Dinasti Mamalik, sedang kasak- kusuk mengetahui kabar bahwa pasukan Mongol telah berhasil menduduki sebagian besar wilayah Syam. Hanya soal waktu mereka sampai di tempat mereka.

Musyawarah dibuka, keputusan tepat dan cepat harus segera diambil. Pada mulanya mereka ragu untuk maju menghadapi pasukan Mongol yang tentu kengerian akan pasukan tersebut telah sampai lebih dulu ke telinga mereka.

Pada saat itulah Saifuddin Quthuz, pemimpin mereka menyampaikan sesuatu yang membuat mereka malu dan bersedia berjihad bersamanya melawan pasukan Mongol.

يَا أُمَرَاءَ الْمُسْلِمِينَ، لَكُمْ زَمَانٌ تَأْكُلُونَ أَمْوَالَ بَيْتِ الْمَالِ، وَأَنْتُمْ لِلْغَزاةِ كَارِهُونَ، وَأَنَا مُتَوَجِّهٌ، فَمَنْ اخْتَارَ الْجِهَادَ يُصْحِبُنِي، وَمَنْ لَمْ يَخْتَرْ ذَالِكَ يَرْجِعْ إِلَى بَيْتِهِ، فَإِنَّ اللهَ مُطَّلِعٌ عَلِيْهِ

Wahai Pemimpin kaum muslimin, selama ini kalian telah makan dari harta baitul mal, sedangkan (sekarang) kalian enggan berperang. Adapun aku akan maju menghadapi mereka (pasukan Mongol), maka barang siapa yang memilih untuk berjihad, bergabunglah denganku, dan barang siapa yang enggan, silakan pulang ke rumahnya. Sesungguhnya Allah Mengawasi kalian.” (Ayyamun La Tunsa, Tamir Badar, 188)

Para pembesar kerajaan sepakat menyambut pasukan Mongol di perbatasan Mesir, membuka front jihad jauh dari ibu kota negara. Berangkatlah pasukan yang kelak akan dicatat sejarah sebagai pasukan pertama yang mengalahkan pasukan Mongol.

Artikel Sejarah Islam: Uighur Turkistan Timur Sebagai ‘Tunas Peradaban’ (Cradle of Civilizations)

Pasukan kaum muslimin kurang lebih berjumlah 20.000 mujahid yang ambil bagian dari misi mulia ini. Mereka dipimpin oleh Saifuddin Quthuz sendiri dan panglimanya Ruknuddin Baibars, menjemput pasukan Mongol di Ain Jalut.

Masing-masing pasukan telah berhadapan, gelanggang laga 40.000 pasukan dimulai. Denting pedang, pekik kematian menggema bersamaan dengan ringkih kuda. Ain Jalut menjadi saksi kecerdikan strategi Saifuddin Quthuz dan Baibars pada perang ini.

Pasukan Mongol digiring menuju dua sisi tebing yang sempit, hingga mereka terjepit, pasukan yang telah disiapkan oleh Panglima Quthuz segera melibas pasukan Mongol yang terdesak sulit.

Hari itu 25 Ramadan, hari kemenangan berhasil diraih, korban besar jatuh di pihak musuh, bahkan panglima Mongol , Kathbuga terbunuh dan sisa-sia pasukan lainnya tunggang langgang melarikan diri. (Tarikh al-Islami, Muhammad bin Ahmad adz-Dzahabi, 48/61)

Sisa-sisa pasukan Mongol terus diburu, hingga mereka keluar dari Syam. Pada tanggal 27 Ramadan Saifuddin Quthuz memasuki kota Damaskus, mengamankan wilayah Syam. Untuk kemudian Syam dan Mesir di bawah kekuasaan Dinasti Mamalik.

 

Pertempuran Ain Jalut: Kemenangan Itu Dipergilirkan

Ilustrasi pasukan Islam ketika berjihad-dakwah.id
Ilustrasi pasukan Islam ketika berjihad | Source: pinterest

Allah lewat kalam suci-Nya telah menyebutkan bahwa kemenangan dan kekalahan, itu dipergilirkan di antara manusia. Allah berfirman:

وَتِلۡكَ ٱلۡأَيَّامُ نُدَاوِلُهَا بَيۡنَ ٱلنَّاسِ وَلِيَعۡلَمَ ٱللَّهُ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَيَتَّخِذَ مِنكُمۡ شُهَدَآءَۗ وَٱللَّهُ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ

Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran: 140)

Inilah sebuah keniscayaan dalam peperangan.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam al-Qurthubi, Allah memberikan kemenangan kepada orang-orang beriman dan menolong agama-Nya. Dan terkadang kemenangan itu diberikan kepada orang-orang kafir sebab kemaksiatan orang-orang beriman. Jika mereka tidak bermaksiat, tentulah mereka akan selalu menang. (Al-Jami’ li Ahkam al-Quran, Muhammad bin Ahmad al-Qurthubi, 5/335)

Artikel Sejarah Islam: Jihad Literasi Ulama Nusantara dalam Melawan Penjajah

Kehinaan dan kekalahan hanyalah sebuah akibat, sebuah muara dari ulah tangan kita sendiri. Karena sebab dan pangkalnya adalah dosa-dosa dan kemaksiatan yang diperbuat. Sehingga Allah cabut kedigdayaan, dan Allah tenggelamkan dalam pedihnya kehinaan.

Jatuh dan runtuhnya kekhilafahan Abbasiyah mungkin salah satu episode terburuk dari sejarah kaum muslimin. Tahun-tahun yang penuh dengan duka dan luka. Seakan-akan kehinaan Allah timpakan melalui tangan-tangan musuh.

Namun pelajaran besar dari sebuah kekalahan adalah; sedang ada yang salah pada tubuh kaum muslimin. Sehingga kejayaan itu Allah cabut, dan diganti kehinaan. Dan itu terjadi karena jauhnya mereka dari petunjuk Allah subhanahu wata’ala.

Karena janji Allah sungguh benar atas hamba-hamba-Nya. Allah akan senantiasa menolong mereka selama mereka menolong agama-Nya.

Allah berfirman:

وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa”. (QS. Al-Hajj: 40) Wallahu a’lam (Fajar Jaganegara/dakwah.id)

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.