Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Jihad Literasi Ulama Nusantara dalam Melawan Penjajah

687

Jihad Literasi Ulama Nusantara dalam Melawan Penjajahan

 

Oleh: M. Ridwan, Alumni Pascasarjana UNIDA, Gontor

 

Jihad adalah bagian dari syariat Islam. Dalam al-Quran, kata jihad disebut sebanyak 41 kali. Sedangkan dalam hadis, mengambil sampel dari kitab Shahih al-Bukhari dan Shahih Muslim, ada 70 kata jihad di dalamnya.

Data ini mengindikasikan pembahasan jihad adalah bagian integral konsep keagamaan dalam Islam. Sehingga tidak heran bila mayoritas para ahli hukum Islam (fuqaha) mencantumkan bab jihad dalam karya tulis mereka.

Tidak hanya para fuqaha, para ahli hadits (muhaddits) juga membuat pembahasan khusus bab jihad dan keutamaannya.

Sebut saja, Imam al-Bukhari menulis dalam kitab Shahih-nya bab Jihad bagian dari Iman (bab al-Jihad min al-Iman), Imam Muslim menulis bab Keutamaan Jihad dan Berjaga di Perbatasan Negeri (bab Fadhl al-Jihad wa ar-Ribath), imam at-Tirmidzi menulis bab Hadis-Hadits terkait Keutamaan Jihad (bab ma Ja’a fi Fadhl al-Jihad), dan beberapa muhaddits lainnya menulis hal yang sama.

Baca juga: Goresan Api Fitnah dalam Lembaran Sejarah Islam

Bahkan beberapa ulama menulis kitab khusus terkait jihad. Misalnya, Abdullah bin Mubarak (w.181 H) dengan kitab al-Jihad, Izzuddin bin Abdissalam (w.660 H) dengan kitab Ahkam al-Jihad, Ibnu ‘Asakir (w. 571 H) dengan kitab al-Arba’un fi al-Hitsi a’la al-Jihad, Ibnu Katsir (w.774 H) dengan kitab al-Ijtihad fi Thalab al-Jihad, dan masih banyak lainnya.

Karya-karya ini menjadi bukti bahwa semangat literasi para ulama dalam menjelaskan jihad sangat besar. Inilah yang disebut dengan jihad literasi.

Hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, “Perangilah orang-orang musyrik dengan harta, jiwa dan lisan kalian” menjadi insipirasi bagi ulama untuk terus mengobarkan semangat jihad melalui media literasi.

Urgensi dari jihad literasi yang dilakukan para ulama ini, selain menjelaskan bahwa jihad bagian dari syariat Islam, juga sebagai media untuk memompa semangat perjuangan umat Islam melawan kezaliman.

Jihad adalah media perjuangan melawan kezaliman. Narasi ini sangat dipahami betul oleh para ulama, termasuk ulama Nusantara di zaman penjajahan.

Bagi mereka, penjajahan adalah bentuk kezaliman dan harus dihapuskan dari bumi Nusantara.

Para ulama Nusantara ini memiliki posisi penting dan terlibat aktif dalam setiap perjuangan melawan penjajahan di berbagai wilayah Nusantara. Berbagai upaya mereka lakukan untuk mengusir penjajah, salah satunya jihad literasi dengan menjelaskan keutamaan jihad melawan penjajahan.

literasi jihad nihayatu zain imam nawawi al bantani-dakwah.id
Kitab Nihayatuz Zain fi Irsyadil Mubtadi’in karya Syaikh Nawawi al-Bantani/waqfeya

Jihad Literasi Syaikh Nawawi al-Bantani

Ada beberapa data yang bisa dikonfirmasi sebagai bukti adanya jihad literasi para ulama Nusantara. Di antaranya Jihad Literasi oleh Syaikh Nawawi al-Bantani. Sosok ulama kesohor kelahiran Banten ini dalam beberapa karyanya menerangkan teori dan keutamaan Jihad fisabilillah.

Misalkan dalam kitabnya Nihayah az-Zain fi Irsyad al-Mubtadi’in dan Quut al-Habib al-Gharib, beliau menulis bab khusus tentang jihad dan hukum turunannya perspektif fiqh. Di antara bahasannya adalah hukum jihad ditinjau dari pelaksanaanya dibagi menjadi dua yaitu fardhu kifayah (kewajiban kolektif) dan fardhu a’in (kewajiban individu).

Beliau juga menerangkan syarat-syarat berjihad ada tujuh yaitu Islam, Baligh, berakal, merdeka, laki-laki, sehat, dan kemampuan berperang.

Selain itu, di kedua kitab tersebut dijelaskan pula fikih pembagian harta rampasan perang (ghanimah, salb, dan fa’i).

Baca juga: Fikih Siyasah: Formulasi Penyatuan Islam dan Negara

Dalam kitab tafsir Marah Labid li Kasyf ma’na al-Quran al-Majid, beliau menyatakan jihad adalah media penguatan agama dan termasuk bentuk ketaatan.

Lebih lanjut menurut beliau, di antara bentuk menolong agama Allah dan Rasul-Nya adalah dengan mengangkat senjata atau media lainnya untuk memerangi musuh-musuh Islam. Keterangan ini terdapat dalam tafsir surat Al-Baqarah: 244 dan Al-Hadid: 25.

Di kitab lainnya, yaitu Kasyifah as-Suja Syarh Safinah an-Naja, beliau mengingatkan bahwa tujuan jihad adalah menegakkan agama Allah ‘azza wajalla.

Dari sini bisa dipahami, melalui jihad literasinya, Syaikh Nawawi al-Bantani ingin menarasikan bahwa jihad secara legal formal diakui dalam Islam. Ini bisa ditinjau dari penjelasan beliau dalam beberapa kitab fikih karya beliau.

Adapun secara tujuan final, menurutnya jihad adalah upaya membumikan agama Allah ‘azza wajalla. Sehingga ketika penjajah datang ke bumi Nusantara dengan semangat 3G mereka, yaitu Gold: semangat mengeruk kekayaan daerah jajahan, Glory: semangat menunjukkan superioritas bangsa penjajah, Gospel: semangat menyebarkan ajaran Kristen.

Maka para ulama, termasuk Nawawi al-Bantani mengampanyekan narasi jihad fisabilillah sebagai solusi mengusir penjajah.

jihad literasi abdusshamad al palimbani jihad melawan penjajah dakwah.id
Kitab Nasihatul Muslimin wa Tazkiratul Mu’minin karya Syaikh Abdushamad al-Palimbani

Anti Penjajahan: Narasi Jihad Literasi Syaikh Abdusshamad al-Palimbani

Syaikh Abdusshamad al-Palimbani disebut sangat berperan dalam penyebaran ideologi anti penjajahan di Nusantara.

Ulama besar asal Sumatera Selatan ini bahkan secara terbuka dan aktif mengampanyekan jihad melawan penjajah Belanda.

Kitab Nashihat al-Muslimin wa Tadzkirat al-Mu’minin fi Fadha’il al-Jihad fi Sabilillah wa Karamat al-Mujahidin fi Sabilillah menjadi data valid keterlibatan aktif syaikh Abdus Shamad dalam kampanye jihad.

Melalui media literasi ini, beliau menghasung kaum muslimin untuk berjihad melawan segala bentuk penjajahan.

Dalam kitab tersebut banyak dijelaskan berbagai persoalan terkait jihad. Secara umum di dalamnya memuat penafsiran Syaikh Abdusshamad al-Palimbani tetang 35 ayat-ayat jihad dalam al-Quran.

Beliau juga menyertakan sedikitnya 13 teks hadits berikut penjelasan dan analisisnya. Pada pembahasan awal kitab tersebut menjelaskan keutamaan mujahid (orang yang berjihad), dilanjutkan uraian tentang argumentasi dan dalil jihad dalam al-Quran.

Baca juga: Materi Khutbah Jumat: Ulama Pewaris Nabi & Ulama Pewaris Nafsu

Terakhir, beliau menyebutkan doa dan wirid mujahid ketika berjihad agar dirinya mendapat pertolongan dan perlindungan dari Allah ‘azza wajalla.

Kampanye jihad melalui kitab Nashihat al-Muslimin telah menginspirasi umat Islam untuk berbondong melawan penjajahan. Berkobarnya perang Sabil di Aceh terinspirasi dari kitab tersebut. Selain itu, munculnya perlawanan di Sumatera selatan dan wilayah sekitarnya tidak lepas juga dari pengaruh kampanye jihad syaikh Abdusshamad al-Palimbani.

Beliau juga terkenal sosok ulama yang sangat aktif berkirim surat kepada raja-raja Nusantara untuk mengobarkan semangat jihad melawan penjajahan.

Dari sini bisa dipahami bahwa Syaikh Abdusshamad al-Palimbani adalah sosok ulama karismatik yang berperan penting menyalakan semangat jihad anti penjajahan. Melalui media literasi beliau memotivasi umat Islam dan para raja Nusantara untuk melawan penindasan penjajah.

jihad literasi fatwa jihad hasyim asyari-dakwah.id
Manuskrip Fatwa Jihad KH. Hasyim Asy’ari/sumber: istimewa

Resolusi Jihad: Jihad Literasi KH. Hasyim Asy’ari Sekaligus Magnet Pemersatu Umat Melawan Penjajahan

Siapa tak kenal KH. Hasyim Asy’ari sosok ulama pendiri ormas Islam terbesar di Indonesia? Kiprahnya dalam dunia pendidikan, pergerakan, dan jihad melawan penjajahan telah diakui oleh masyarakat Indonesia.

Beliau adalah sosok produktif dalam dunia literasi. Setidaknya sekitar 15 karya tulis lahir dari tangan beliau. Karya-karya itu telah disatukan dalam kitab berjudul Irsyad as-Saari fi Jam’i Mushannafat as-Syaikh Hasyim Asy’ari diterbitkan oleh perpustakan at-Turats al-Islami pondok pesantren Tebuireng, Jombang.

Dalam karya-karyanya, KH. Hasyim Asy’ari tidak secara langsung berbicara tentang jihad. Namun fakta sejarah telah mencatat melalui secarik kertas, beliau tuangkan fatwa jihad melawan penjajahan, hingga terbitlah sebuah resolusi yang dikenal sebagai resolusi jihad.

Baca juga: Sikap Ghuluw itu Terlarang dalam Islam, Kenapa Demikian?

Kronologi munculnya resolusi Jihad ini adalah ketika pihak Inggris mengultimatum para pejuang kota Surabaya untuk melucuti senjatanya dan menyerah pada sekutu. Menanggapi ultimatum tersebut, KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan fatwa jihad wajib mempertahankan kemerdekaan dan melawan penjajahan.

Fatwa itu akhirnya dicetak dan disebarluaskan di tengah-tengah masyarakat hingga bergeloralah semangat jihad melawan penjajah.

Peristiwa ini dikenal dengan peristiwa 10 November dan sekarang diperingati sebagai hari pahlawan.

 

Berikut ini isi fatwa jihad KH. Hasyim Asy’ari:

1) Hukum memerangi orang kafir yang merintangi kemerdekaan sekarang ini adalah fardhu ‘ain bagi tiap-tiap orang Islam yang mungkin sekalipun bagi orang fakir;

2) Hukum orang yang meninggal dalam peperangan melawan Inggris beserta komplotannya adalah mati syahid;

3) Hukum orang yang memecah persatuan kita sekarang ini wajib dibunuh.

 

Berpijak pada fatwa ini, akhirnya para ulama se-Jawa dan Madura mengukuhkan resolusi jihad dalam rapat yang digelar pada tanggal 21-22 Oktober 1945 di kantor pengurus besar NU di Bubutan, Surabaya.

Ada kisah menarik dari KH. Masyhudi, Pengasuh PP. Shiddiqien, Prambon, Dagangan, Madiun, yang juga pelaku sejarah pertempuran 10 November. Beliau mengatakan:

“Setelah  mendengar  seruan  dari  Mbah  Hasyim  ini, kami bersama para santri dan kiai lain segera mempersiapkan diri. Apa pun  senjata  kita  bawa. Karena  jarang  yang  punya senjata api,  maka  banyak  yang  membawa pedang, tombak, keris, bahkan banyak yang hanya membawa bambu runcing. Semua bersemangat menyongsong jihad di Surabaya.  Kami semua  berbondong-bondong  menuju  stasiun  Madiun,  ingin berangkat naik kereta api. Bagi yang nggak kebagian (tepat di gerbong), maka naik truk. Tapi karena jumlahnya terbatas, maka  banyak  yang  nggak  keangkut.  Mereka  ini  nangis. Bayangkan,  pengen  mati  syahid saja  antre. Masya Allah. Akhirnya yang nggak dapat kendaraan ini memilih berjalan kaki ke Surabaya termasuk saya dan mertua saya KH. Shiddiq.”

Baca juga: Ulama Umat yang Diam Terhadap Kesesatan

Inilah salah satu bukti, betapa kuat magnet dari resolusi jihad yang dikumandangkan KH. Hasyim Asy’ari dalam mengobarkan semangat para mujahid Surabaya untuk menolong agama Islam dan mengusir penjajah dari bumi pertiwi.

Dari sini juga membuktikan besarnya peran jihad literasi dari beliau, yaitu melalui terbitnya dan tersebarnya fatwa jihad tersebut.

Data dan fakta di atas adalah bukti kuat peran besar jihad literasi para ulama Nusantara dalam melawan penjajahan.

Para ulama adalah central figure (pusat keteladanan) dalam berbagai aspek kehidupan, termasuknya dalam upaya melawan setiap kezaliman.

Jihad literasi adalah salah satu bentuk keteladanan dari mereka, yaitu keteladan akan makna perjuangan melawan kezaliman. Wallahu a’lam (M. Ridwan/dakwah.id)

 

 

Sumber:

Syaikh Nawawi al-Bantani, Nihayah az-Zain fi Irsyad al-Mubtadi’in, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Cet.2, 2002), Hal. 354-360

Syaikh Nawawi al-Bantani, Quut al-Habib al-Gharib, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Cet.1, 1998), Hal. 304-312

Syaikh Nawawi al-Bantani, Marah Labid li Kasyf ma’na al-Quran al-Majid, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, Cet.1, 1417 H), 1/87 dan 2/496

Syaikh Nawawi al-Bantani, Kasyifah as-Suja Syarh Safinah an-Naja, (Beirut: Dar Ibnu Hazm, Cet. 1, 2011), Hal. 96

Ahmad Baso Dkk, KH. Hasyim Asy’ari: Pengabdian  Seorang Kyai Untuk Negeri, (Jakarta: Museum Kebangkitan Nasional), Hal. 53-78

Muhammad Julkarnain, Resolusi Jihad Muslim Nusantara abad XVIII: Interpretasi Jihad Abd al-Shamad al-Falimbani, (Jurnal Tajdid, Vol.XV, No.1, Januari-Juni 2016), Hal. 50-63

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.