Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Materi Khutbah Jumat: Ulama Pewaris Nabi & Ulama Pewaris Nafsu

8,016

Materi Khutbah Jumat: Ulama Pewaris Nabi dan Ulama Pewaris Nafsu

 

 

Download PDF

الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَصْلَحَ الضَمَائِرَ، وَنَقَّى السَرَائِرَ، فَهَدَى القَلْبَ الحَائِرَ إَلَى طَرِيْقِ أُوْليِ البَصَائرِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأشْهَدُ أَنَّ سيِّدَناَ وَنَبِيَناَ مُحَمَّداً عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُه، أَنْقَى العَالَمِيْنَ سَرِيْرةً وَأَزْكاَهُمْ سِيْرَةً، (وَعَلَى آلَهَ وَصَحْبِهَ وَمَنْ ساَرَ عَلَى هَدْيِهِ إِلىَ يَومِ الدِّيْنِ.

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Ulama adalah pewaris nabi. Mereka mewarisi ilmu sekaligus amanah dakwah para nabi. Para ulama akan berusaha mencontoh seluruh sikap Nabi, termasuk saat berhadapan dengan penguasa. Bagaimana seorang nabi menghadapi penguasa akan terwariskan pula kepada para ulama sejati.

Kita lihat, ada tiga golongan Nabi kaitannya dengan kekuasaan.

Pertama, Nabi yang sekaligus menjabat sebagai penguasa. Di antaranya adalah nabi Sulaiman dan Nabi Daud. Keduanya adalah Nabi sekaligus raja, bahkan Raja dengan kekuasaan terbesar dan terluas sepanjang masa. Dengan kekuasaan berada dalam genggaman, kedua Nabi tersebut menggunakannya untuk menegakkan kalimat Allah dan syariat-Nya.

Kedua, nabi yang mengambil bagian dari kekuasaan untuk melakukan perbaikan, yaitu Nabi Yusuf. Nabi Yusuf meminta jabatan sebagai Menteri sumberdaya alam dan pertanian agar dapat membantu masyarakat menghadapi masa paceklik panjang. Beliau juga menegakkan syariat Allah dan mendakwahkannya.

Ketiga, Nabi yang berdiri tegak dan teguh menentang penguasa zalim di masanya. Tak surut langkah meski beragam intimidasi dan makar-makar buruk dilancarkan oleh penguasa terhadapnya.

Di antara mereka adalah para ulul azmi; Nabi Ibrahim, Nabi Musa dan Nabi Muhammad. Nabi Ibrahim berhadapan langsung dengan Namrud, Tiran pada masa itu. Nabi Musa menghadapi raja paling diktator dan rezim paling otoriter dalam sejarah, Rezim Firaun. Sedangkan nabi Muhammad menghadapi para tokoh penguasa Makkah.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Para ulama pun demikian. Di antara mereka ada yang menjadi penguasa. Khalifah arba’ah atau khalifah yang empat adalah contohnya. Abu bakar, Umar, Utsman dan Ali adalah para ulama dari kalangan sahabat. Mereka adalah penghulu ilmu sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah panutan umat yang menjadi rujukan saat ada masalah. Dan dengan kekuasaan di tangan mereka, Islam mengalami masa kejayaan luar biasa.

Di antara para ulama ada juga yang dekat dengan penguasa. Bukan untuk mengambil keuntungan pribadi atau menjadi penjilat, tapi membantu penguasa agar senantiasa berada di jalan yang benar.

Imam Malik merupakan salah satu ulama besar, pendiri mazhab fikih terkenak, yang dekat dengan penguasa saat itu. Pun demikian, bukan berarti beliau tidak kritis saat penguasa melakukan kesalahan. Beliau pernah dicambuk hingga luka parah karena mengeluarkan fatwa yang bertentangan dengan sikap penguasa yang beliau nilai salah.

Dan posisi yang paling banyak ditempati para ulama adalah mereka yang berdiri tegak menentang penguasa-penguasa zalim. Said bin Jubair bahkan sampai dihukum mati karena menentang al Hajjaj. Seorang Gubernur otoriter pada masa kekhalifahan bani Umayyah. Imam Ahmad harus dipenjara dan disiksa dalam waktu lama karena menentang akidah sesat yang diusung tiga rezim secara berturut-turut.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Hari ini, para penguasa zalim semakin banyak. Zaman di mana sekulerisme, dalam kadar sedikit maupun banyak, dianut banyak penguasa dalam menjalankan kekuasaannya. Mereka menjauhkan agama dari kekuasaan dan menihilkan peran ulama sebagai supervise, pengawas, dan penasihat pemerintahan. Untuk apa menjadikan ulama sebagai penasehat? Toh di dunia ini hampir tidak ada negara Islam yang murni menjalankan syariat dan memiliki kedaulatan dari mafia dunia; Amerika, Rusia ataupun China?

Oleh karenanya, jika kita ingin mencari ulama sejati pewaris nabi, perhatikanlah bagaimana sikap mereka terhadap penguasa. JIka mereka diam terhadap kezaliman, menjilat kekuasaan demi kepentingan duniawi, atau bahkan mendukung kesewenangan penguasa, ketahuilah! Tidak ada satupun Nabi yang diam terhadap kezaliman. Tidak ada nabi yang menjilat kekuasaan demi uang dan bantuan dana! Dan tidak ada satupun Nabi yang turut mendukung kesewenangan, siapapun pelakunya.

Maka, para pewarisnya pun pasti akan bersikap sama. Pewaris sejati para nabi akan berdiri paling depan mencegah kezaliman. Akan bersikap paling wara’, paling menjaga diri dari kepentingan pribadi dan duniawi. Dan akan senantiasa menentang kezaliman, bahkan meski raga mereka telah terpenjara.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah,

Identifikasi ulama sejati sangat penting bagi kita di masa sekarang. Zaman ini, seseorang bisa dengan mudah disebut ulama dan kyai hanya karena menjabat posisi tertentu dalam ormas, atau bahkan hanya karena setingan media televisi. Bukan dari ilmunya dan keistiqomahannya dalam membela kebenaran dan menentang kezaliman.

Mengikuti mereka hanya akan menyesatkan kita kepada sikap yang salah. Padahal kelak di akhirat, kita tidak bisa protes dan menyalahkan orang-orang yang menyesatkan kita, karena setiap kita menanggung dosa masing-masing

Meski si penyesat dosanya jadi lebih banyak, namun para pengikutnya akan tetap mendapat hukuman karena keengganan mereka mencari panutan yang membawa kepada kebenaran.

Para pengikutnya akan tetap diazab karena kefanatikan mereka pada panutan yang salah, sementara para pewaris nabi sejati, telah terlihat jelas berdiri tegak melawan kezaliman.

إِذْ تَبَرَّأَ الَّذِينَ اتُّبِعُوا مِنَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا وَرَأَوُا الْعَذَابَ وَتَقَطَّعَتْ بِهِمُ الْأَسْبَابُ وَقَالَ الَّذِينَ اتَّبَعُوا لَوْ أَنَّ لَنَا كَرَّةً فَنَتَبَرَّأَ مِنْهُمْ كَمَا تَبَرَّءُوا مِنَّا كَذَلِكَ يُرِيهِمُ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ حَسَرَاتٍ عَلَيْهِمْ وَمَا هُمْ بِخَارِجِينَ مِنَ النَّارِ

 (Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa; dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: “Seandainya kami dapat kembali (ke dunia), pasti kami akan berlepas diri dari mereka, sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.” Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi sesalan bagi mereka; dan sekali-kali mereka tidak akan ke luar dari api neraka.” (QS. Al-Baqarah: 165-167)

Semoga Allah senantiasa membimbing kita, membuka mata hati kita agar mampu membedakan mana al haq dan al bathil, membedakan mana ulama pewaris Nabi dan mana yang pewaris Nafsu, serta menjaga keselamatan para ulama sejati dari kejahatan orang-orang yang zalim. Aamin, ya rabbal alaimin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ اْلعَالَمِيْن، وَالعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلاَ عُدْوَانَ إِلاَّ عَلَى الظَّالِمِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَلِيُّ الصَّالِحِيْنَ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ إِمَامُ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَأَفْضَلُ خَلْقِ اللهِ أَجْمَعِيْنَ، صَلَوَاتُ اللهِ وَسَلاَمُهُ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنَ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ

اَللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ باَطِلاً وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

 

*) Materi khutbah Jumat ini telah diterbitkan oleh Majalah Arrisalah edisi 216

 

 

 

Download PDF