Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Doa Qunut Nazilah Untuk Saudara Muslim Yang Tertindas

34

Pernahkah anda mendapati Imam shalat berdoa dan mengangkat tangan usai rukuk rekaat terakhir dalam shalat fardhu berjamaah di masjid? Tahukah anda apa yang sedang dilakukan oleh Imam shalat tersebut? Doa apa yang sedang dilantunkan Imam shalat tersebut? Siapa yang sedang didoakan imam shalat tersebut? Itulah yang disebut dengan doa qunut nazilah. Doa qunut nazilah adalah doa yang dibaca setelah rukuk terakhir ketika shalat.

Akibat dari tidak tegaknya pemerintahan yang betul-betul berhukum dengan syariat Allah (Khilafah Islamiyah) umat Islam yang ada saat ini hanya bisa ‘ikut tinggal’ di negara-negara di mana mereka dilahirkan. Dampak dari fenomena ini adalah hilangnya jaminan perlindungan jasmani dan ruhani pada setiap manusia yang beragama Islam.

Saat ini, banyak sekali umat Islam yang dizalimi oleh non-Muslim. Mulai dari kezaliman berbentuk perampasan harta, bullying, pemerkosaan, genosida, penindasan, pembunuhan, pengusiran, hingga pencabutan hak tinggal sebagai warga Negara.

Semua bentuk penindasan itu terasa semakin pedih ketika hampir seluruh arus informasi global, portal-portal media massa mainstream baik digital maupun cetak dikuasai oleh pihak-pihak yang memang dengan sengaja memusuhi Islam.

Doa Qunut Nazilah Untuk Saudara Muslim Yang Tertindas

Arus opini publik dengan mudahnya dikuasai dan dikendalikan oleh mereka. Informasi-informasi fakta dipelintir sehingga tampak hoaks. Sebaliknya, informasi-informasi hoaks disulap seolah-olah itu adalah fakta. Korban penindasan dengan sangat mudahnya mereka branding menjadi pelaku kriminal. Sementara pelaku kriminal dipoles narasi pemberitaannya seolah ia adalah korban kejahatan.

Menghadapi ujian ini, umat Islam harus segera bersatu padu. saling membantu. Saling membahu. Saling peduli. Mengerahkan kecerdasan pikiran untuk membangun kekuatan umat. Mengerahkan kelincahan bergerak untuk menggerakkan persatuan umat. Mengerahkan kekayaan untuk memeratakan kesejahteraan umat. Mengerahkan keahlian untuk memproduktifkan dan melindungi umat. Semua bisa dikerahkan untuk membangun kesatuan umat Islam. Di bidang apapun, di waktu kapanpun, di tempat manapun.

 

DOA QUNUT NAZILAH BENTUK KEPEDULIAN YANG MAMPU DILAKUKAN SEMUA KALANGAN

Jika anda muslim yang dititipi Allah dengan kekayaan harta, anda bisa membantu muslim yang tertindas dengan harta. Muslim yang kurang harta mungkin belum mampu. Jika anda dititipi Allah dengan keahlian tertentu, sebagai ahli medis misalnya, anda bisa membantu dengan keahlian anda. Muslim yang tak memiliki keahlian tentu kesulitan untuk mengulurkan bantuan seperti anda.

Tapi semua kalangan bisa melantunkan doa untuk membantu meringankan penderitaan saudara muslim yang tertindas, doa qunut nazilah. Doa qunut nazilah dilantunkan sebagai bentuk permohonan kepada Allah agar Dia meringankan beban penderitaan yang menimpa saudara sesama muslim, atau sebagai permohonan laknat bagi orang-orang kafir yang sedang menindas dan memerangi umat Islam.

Doa qunut nazilah bisa dilakukan oleh seluruh kalangan; miskin ataupun kaya, pengangguran ataupun pekerja, muslim yang lemah ataupun muslim yang kuat, seluruhnya bisa melakukannya. Doa qunut nazilah itu mudah dan murah. kita tentu akan malu kepada Allah jika tak mau melakukannya.

Baca juga: Doa Buka Puasa yang Dalilnya Shahih itu Lafalnya Seperti Apa?

RASULULLAH PERNAH MELANTUNKAN DOA QUNUT NAZILAH

Ada beberapa hadits shahih yang menyebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya pernah melantunkan doa qunut nazilah dalam shalat. Hadits-hadits ini sekaligus menjadi dasar argumentasi syar’i atas disyariatkannya melantunkan doa qunut nazilah

 

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَنَتَ شَهْرًا يَلْعَنُ رِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ عَصَوُا اللَّهَ وَرَسُولَهُ

Bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan doa qunut selama satu bulan untuk melaknat kabilah Ri’l, Dzakwan, dan ‘Ushayyah karena mereka telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. (HR. Al-Bukhari dan Muslim dengan lafal Muslim)

 

Kemudian dalam riwayat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu juga, ia berkata,

أَنَّ رِعْلاً وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَبَنِي لَحْيَانَ اسْتَمَدُّوا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى عَدُوٍّ فَأَمَدَّهُمْ بِسَبْعِينَ مِنَ الْأَنْصَارِ كُنَّا نُسَمِّيهِمُ الْقُرَّاءَ فِي زَمَانِهِمْ كَانُوا يَحْتَطِبُونَ بِالنَّهَارِ وَيُصَلُّونَ بِاللَّيْلِ حَتَّى كَانُوا بِبِئْرِ مَعُونَةَ قَتَلُوهُمْ وَغَدَرُوا بِهِمْ فَبَلَغَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَنَتَ شَهْرًا يَدْعُو فِي الصُّبْحِ عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ أَحْيَاءِ الْعَرَبِ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَبَنِي لَحْيَانَ قَالَ أَنَسٌ فَقَرَأْنَا فِيهِمْ قُرْآنًا ثُمَّ إِنَّ ذَلِكَ رُفِعَ (بَلِّغُوا عَنَّا قَوْمَنَا أَنَّا لَقِينَا رَبَّنَا فَرَضِيَ عَنَّا وَأَرْضَانَا)

“Bahwasanya penduduk kabilah Ri’l, Dzakwan, Ushayyah, dan Bani Lihyan meminta pengiriman bantuan kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk melawan musuh mereka. Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam mengirimkan bantuan sebanyak tujuh puluh orang sahabat Anshar yang biasa kami panggil al-Qurra’ (para penghafal al-Qur’an).

Al-Qurra’ pada masa itu biasa mencari (dan menjual) kayu bakar di siang hari (sebagai mata pencaharian mereka) dan di malam hari mereka tekun melakukan shalat malam. Ketika rombongan Al-Qurra’ tiba di Bi’r Ma’unah, mereka dibunuh dan dikhianati oleh penduduk keempat kabilah tersebut.

Berita itu sampai kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, maka beliau melakukan qunut (doa qunut nazilah) selama satu bulan penuh dalam shalat Shubuh. Beliau mendoakan kebinasaan penduduk beberapa kabilah Arab, yaitu marga Ri’l, Dzakwan, Ushayyah, dan Bani Lihyan.

Anas bin Malik berkata: “Pada masa itu kami membaca ayat al-Qur’an tentang al-Qurra, ‘Sampaikanlah dari kami kepada kaum kami bahwasanya kami telah berjumpa dengan Rabb kami, maka Rabb ridha kepada kami dan Rabb telah membuat kami ridha.’ Kemudian ayat tersebut diangkat kembali oleh Allah ‘Azza wa Jalla.” (HR. Al-Bukhari)

 

Dalam hadits yang lain riwayat dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ia berkata,

كَانَ الْقُنُوتُ فِي الْمَغْرِبِ وَالْفَجْرِ

Dahulu qunut (doa qunut nazilah) dikerjakan dalam shalat Maghrib dan Shubuh.” (HR. Al-Bukhari)

 

Kemudian hadits dari al-Barra’ radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم فِي الْفَجْرِ وَالْمَغْرِبِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan doa qunut nazilah ketika shalat Subuh dan Maghrib.” (HR. Muslim)

 

Baca juga: Doa Menyembelih Kurban (Udhiyyah) yang Sesuai Sunnah itu Seperti Apa?

 

Kemudian ada juga hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِنْ صَلَاةِ الْعِشَاءِ قَنَتَ اللَّهُمَّ أَنْجِ عَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ اللَّهُمَّ أَنْجِ سَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْمُسْتَضْعَفِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ اللَّهُمَّ اجْعَلْهَا عَلَيْهِمْ سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ

Bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam jika melakukan i’tidal dan mengucapkan sami’allahu liman hamidah pada rekaat terakhir dalam shalat Isya’, beliau membaca doa qunut nazilah,

Ya Allah, selamatkanlah Ayyash bin Abi Rabi’ah! Selamatkanlah Al-Walid bin Walid! Selamatkanlah Salamah bin Hisyam! Selamatkanlah orang-orang mukmin yang tertindas! Ya Allah, keraskanlah hukuman-Mu terhadap orang-orang kafir dari Suku Mudhar! Timpakanlah tahun-tahun paceklik kepada mereka seperti tahun-tahun paceklik yang menimpa bangsa Nabi Yusuf (penduduk Qibti Mesir).” (HR. Al-Bukhari)

 

Dalam riwayat lain, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

لأقَرِّبَنَّ صَلَاةَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَكَانَ أَبُو هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقْنُتُ فِي الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ مِنْ صَلَاةِ الظُّهْرِ وَصَلَاةِ الْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ بَعْدَ مَا يَقُولُ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ فَيَدْعُو لِلْمُؤْمِنِينَ وَيَلْعَنُ الْكُفَّارَ

“Sungguh aku akan memperagakan shalat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.” Abu Hurairah melakukan qunut pada rekaat terakhir dalam shalat Zhuhur, shalat Isya’, dan shalat Subuh, yaitu setelah mengucapkan sami’allahu liman hamidah, maka ia membaca doa qunut nazilah untuk kebaikan orang-orang beriman dan laknat untuk orang-orang kafir. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

Hadits berikutnya, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

قَنَتَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ شَهْرًا مُتَتَابِعًا فِي الظُّهْرِ وَالْعَصْرِ وَالْمَغْرِبِ وَالْعِشَاءِ وَصَلَاةِ الصُّبْحِ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ مِنَ الرَّكْعَةِ الْآخِرَةِ يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam melakukan doa qunut nazilah selama satu bulan penuh secara berturut-turut dalam shalat Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’, dan Shubuh pada raka’at terakhir setiap shalat. Yaitu setelah membaca sami’allahu liman hamidah pada raka’at terakhir. Beliau mendoakan kehancuran bagi beberapa kabilah dalam suku besar Sulaim; kabilah Ri’l, Dzakwan, dan Ushayyah. Para makmum di belakang beliau mengaminkan doa beliau.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Al-Hakim. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah. Ibnu Hajar Al-Asqalani dan Al-Albani menyatakan sanadnya hasan. An-Nawawi berkomentar, “Diriwayatkan oleh Abu Daud dengan sanad hasan atau shahih (Al-Majmu’, 3/482)

 

Baca juga: Rencana Ilahi di Balik Proses Perjuangan Rasulullah dalam Mempersiapkan Kemenangan Islam

 

APAKAH ADA CARA TERTENTU DALAM PELAKSANAAN DOA QUNUT NAZILAH?

Secara hukum fikih, doa qunut nazilah dilaksanakan ketika sebagian umat Islam ditimpa bencana dan musibah baik berbentuk penindasan, pembunuhan, pengusiran, atau genosida yang dilakukan oleh orang-orang kafir.

Doa qunut nazilah yang dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dahulu tersebab oleh pembantaian terhadap tujuh puluh sahabat Nabi dari kalangan Qurra’ atau penghafal al-Quran yang sedianya dikirim sebagai bala bantuan atas permintaan dari kabilah Ri’l, Dzakwan, dan Ushayyah yang ternyata diketahui itu adalah bentuk strategi pengkhianatan mereka.

Rassulullah juga melakukan doa qunut nazilah ketika sebagian sahabat beliau ditangkap dan ditahan oleh orang-orang kafir Quraisy, seperti penangkapan Ayyas bin Abi Rabiah, Al-Walid bin Walid, dan Salamah bin Hisyam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

اَلْقُنُوْتُ مَسْنُوْنٌ عِنْدَ النَّوَازِلِ، وَهَذَا الْقَوْلُ هُوَ الَّذِي عَلَيْهِ فُقَهَاءُ أَهْلِ الْحَدِيْثِ، وَهُوَ الْمَأْثُوْرُ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ

“Doa qunut Nazilah disunnahkan ketika adan busibah atau bencana. Ini adalah pendapat para ulama Ahli Hadits, dan dicontohkan pula oleh para Khulafaur Rasyidin.” (Majmu’ al-Fatawa, 23/108)

Doa qunut nazilah dilakukan dalam shalat wajib lima waktu saja. Boleh dilakukan ketika shalat Shubuh, Zhuhur, Ashar, Maghrib, maupun shalat Isya’. Doa qunut nazilah paling sering dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat Subuh, dan paling jarang dilakukan salam shalat Ashar.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

فَيُشْرَعُ أَنْ يَقْنُتَ عِنْدَ النَّوَازِلِ يَدْعُو لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَيَدْعُو عَلَى الْكُفَّارِ فِي الْفَجْرِ وَغَيْرِهَا مِنَ الصَّلَوَاتِ، وَهَكَذَا كَانَ عُمَرُ يَقْنُتُ لّمَّا حَارَبَ النَّصَارَى بِدُعَائِهِ الَّذِي فِيْهِ (اَللَّهُمَّ الْعَنْ كَفَرَةَ أَهْلِ الْكِتَابِ)

“Doa qunut nazilah disyariatkan ketika terjadi musibah atau bencana. Mendoakan keselamatan orang-orang beriman dan memohon kehancuran atas orang-orang kafir ketika shalat Subuh atau shalat fardhu lainnya. Seperti ini pula Umar ibnul Khattab melakukan doa qunut nazilah ketika memerangi orang-orang Nasrani yang dalam doanya itu ada kalimat, “Ya Allah, laknatlah keingkaran Ahlul Kitab!” (Majmu’ al-Fatawa, 22/270)

Beliau juga menyampaikan, “Doa qunut nazilah yang paling banyak dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah ketika shalat Subuh.” (Majmu’ al-Fatawa, 22/269)

Imam Ibnul Qayyim dalam kitab Zadul Ma’ad (1/273) menjelaskan,

وَكَانَ هَدْيُهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْقُنُوْتُ فِي النَّوَازِلِ خَاصَّةً، وَتَرْكَهُ عِنْدَ عَدَمِهَا، وَلَمْ يَكُنْ يَخُصُّهُ بِالْفَجْرِ، بَلْ كَانَ أَكْثَرُ قُنُوْتِهِ فِيْهَا

“Petunjuk dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, pelaksanaan doa qunut nazilah itu ketika terjadi sebuah musibah atau bencana, kemudian menghentikannya ketika musibah atau bencana itu telah usai. Beliau sama sekali tidak mengkhususkan doa qunut nazilah ketika shalat Subuh saja, hanya saja doa qunut nazilah paling sering beliau lakukan ketika shalat Subuh.”

Kemudian, doa qunut nazilah dilaksanakan pada rekaat terakhir dalam shalat wajib. Tepatnya ketika posisi berdiri setah bangkit dari rukuk dan membaca doa “Sami’allahu liman hamidah.”

Tentang bacaan doa qunut nazilah, lebih utama untuk tidak memanjangkan bacaannya. Berdasarkan hadits-hadits yang ada, menunjukkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memanjangkan doa qunut nazilah yang dibacanya.

Ketika Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu ditanya, “Apakah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca doa qunut nazilah ketika shalat Subuh?” Sahabat Anas bin Malik menjawab, “Ya, beliau membacanya dengan ringan (pendek) setelah rukuk.” (HR. Muslim)

Fokuskan doa qunut nazilah pada musibah atau bencana yang sedang terjadi. Inilah yang dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau selalu mengulang-ulang doa qunut nazilah selama sebulan penuh atas pembantaian yang menimpa tujuh puluh sahabatnya.

 

Baca juga: 5 Langkah Rasulullah dalam Membangun Masyarakat Islam di Madinah

 

TIDAK ADA LAFAL KHUSUS UNTUK DOA QUNUT NAZILAH

Tidak ada lafal khusus untuk doa qunut nazilah. Doa qunut nazilah disesuaikan dengan kondisi dan musibah atau bencana yang sedang terjadi. Ini sesuai dengan maqashid/tujuan disyariatkannya doa qunut nazilah. (islamqa.info) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan,

فَالسُّنَّةُ أَنْ يَقْنُتَ عِنْدَ النَّازِلَةِ وَيَدْعُو فِيْهَا بِمَا يُنَاسِبُ الْقَوْمَ الْمُحَارَبِيْنَ

“Sunnahnya, doa qunut nazilah disesuaikan dengan kaum yang diserang.” (Majmu’ al-Fatawa, 21/155)

Pada halaman lain dalam kitab yang sama beliau menjelaskan, “Hendaknya orang yang melakukan doa qunut nazilah berdoa sesuai dengan musibah atau bencana yang terjadi. Jika perlu menyebutkan nama-nama orang mukmin yang didoakan dengan pertolongan, atau nama-nama orang kafir yang akan didoakan dengan laknat maka itu lebih baik.” (Majmu’ al-Fatawa, 22/271)

Syaikh Abdul Aziz bin Marzuq ath-Thuraifi mengatakan,

فَتَسْمِيَةُ أَعْدَاءِ الْأُمَّةِ فِي الدُّعَاءِ هُوَ أَمْرٌ حَسَنٌ

“Menyebutkan nama-nama musuh umat dalam doa qunut nazilah adalah hal yang baik.” (www.altarefe.com)

 

KERASKAN BACAAN DOA QUNUT NAZILAH

Bagi anda yang berperan sebagai imam shalat, ketika membaca doa qunut nazilah disunnahkan untuk mengeraskan suara bacaannya. Sunnah ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Abi Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْعُوَ عَلَى أَحَدٍ أَوْ يَدْعُوَ لأحَدٍ قَنَتَ بَعْدَ الرُّكُوعِ فَرُبَّمَا قَالَ إِذَا قَالَ سَمِعَ اللَّهُ لِمَنْ حَمِدَهُ اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ اللَّهُمَّ أَنْجِ الْوَلِيدَ بْنَ الْوَلِيدِ وَسَلَمَةَ بْنَ هِشَامٍ وَعَيَّاشَ بْنَ أَبِي رَبِيعَةَ اللَّهُمَّ اشْدُدْ وَطْأَتَكَ عَلَى مُضَرَ وَاجْعَلْهَا سِنِينَ كَسِنِي يُوسُفَ يَجْهَرُ بِذَلِكَ

Bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam jika melakukan i’tidal dan mengucapkan sami’allahu liman hamidah pada rekaat terakhir dalam shalat Isya’, beliau membaca doa qunut nazilah,

Ya Allah, selamatkanlah Ayyash bin Abi Rabi’ah! Selamatkanlah Al-Walid bin Walid! Selamatkanlah Salamah bin Hisyam! Selamatkanlah orang-orang mukmin yang tertindas! Ya Allah, keraskanlah hukuman-Mu terhadap orang-orang kafir dari Suku Mudhar! Timpakanlah tahun-tahun paceklik kepada mereka seperti tahun-tahun paceklik yang menimpa bangsa Nabi Yusuf.” Beliau mengeraskan suaranya.” (HR. Al-Bukhari)

Ibnu Hajar al-Asqalani menjelaskan bahwa di antara hikmah kenapa doa qunut nazilah itu dilakukan setelah bangkit dari rukuk, bukan ketika sujud—padahal sujud adalah termasuk posisi doa mustajab—adalah agar doa qunut nazilah yang dibaca imam tersebut diikuti oleh makmum. Minimal makmum mengamininya. Tentu saja makmum tidak bisa mengamini kecuali suara doa qunut nazilah terdegar oleh makmum. Dari kesimpulan inilah para ulama sepakat bahwa doa qunut nazilah itu dibaca dengan keras. (Fathul Bari, 2/570)

 

Baca juga: Doa Setelah Membaca Al-Quran itu Apakah Ada Tuntunannya dalam Sunnah Nabi?

 

Kemudian, jika anda berposisi sebagai makmum, anda disunnahkan untuk mengamini doa qunut nazilah yang dibaca oleh Imam shalat, berdasarkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu,

يَدْعُو عَلَى أَحْيَاءٍ مِنْ بَنِي سُلَيْمٍ عَلَى رِعْلٍ وَذَكْوَانَ وَعُصَيَّةَ وَيُؤَمِّنُ مَنْ خَلْفَهُ

“…Beliau mendoakan kehancuran bagi beberapa kabilah dalam suku besar Sulaim; kabilah Ri’l, Dzakwan, dan Ushayyah. Para makmum di belakang beliau mengaminkan doa beliau.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Al-Hakim. Hadits ini dinyatakan shahih oleh Ibnu Qayyim Al-Jauziyah)

Baik makmum ataupun imam shalat, disunnahkan pula untuk mengangkat kedua tangan ketika melakukan doa qunut nazilah. Sunnah ini didasarkan pada hadits Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَجَدَ عَلَى شَيْءٍ قَطُّ وَجْدَهُ عَلَيْهِمْ ـ يعني القرَّاء ـ فَلَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي صَلَاةِ الْغَدَاةِ رَفَعَ يَدَيْهِ فَدَعَا عَلَيْهِمْ

“Aku tak pernah melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam sedemikian sedih sebagaimana kesedihan beliau atas tragedi yang mereka alami (dibunuhnya 70 Ahli al-Quran). Dan aku melihat Rasulullah Shallallahu’alaihi wa sallam dalam salat Subuh beliau mengangkat kedua tangan mendoakan kecelakaan atas mereka (yang menzalimi).” (HR. Ahmad no. 12173) [Shodiq/dakwah.id]