Materi Khutbah Jumat: Syariat Allah Butuh Sikap Totalitas, Bukan Tebang Pilih

80

Materi Khutbah Jumat: Syariat Allah Butuh Sikap Totalitas, Bukan Tebang Pilih

Ust. Muhajirin, Lc.

 

 

اَلْحَمْدُ للهِ، اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَالدِّيْنِ الْحَقِّ، لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَكَفَى بِاللهِ شَهِيْدًا

أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَصَفِيُّهُ مِنْ خَلْقِهِ، أَرْسَلَهُ بِالْحَقِّ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا، وَدَاعِيَا إِلَى اللهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيْرًا، بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَدَّى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ وَكَشَفَ اللهُ بِهِ الْغُمَّة، وَتَرَكَنَا عَلَى الْمَحَجَّةِ الْبَيْضَاءِ، لَيْلُهَا كَنَهَارِهَا، لَا يَزِيْغُ عَنْهَا إِلَّا هَالِكٌ

اَللَّهُمَّ فَصَلِّي وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى حَبِيْبِكَ وَصَفِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

فَقَالَ عَزَّ مِنْ قَائْلٍ، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

وقال: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

 

Sidang jamaah Jumat yang dirahmati oleh Allah.

Setelah kita memuji Allah ‘azza wajalla atas kesempurnaan Zat-Nya, kesempurnaan yang dimiliki Allah ‘azza wajalla, yang menuntut kita hanya untuk mengesakan Uluhiyah Allah ‘azza wajalla.

Dan setelah kita bershalawat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang membawa pesan Allah ‘azza wajalla dengan kesempurnaan sifat yang diberikan Allah ‘azza wajalla kepadanya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam membawa—dengan segala kejujurannya, syariat Allah ‘azza wajalla kepada manusia agar kita menuju kesuksesan dalam hidup di dunia ini sehingga kemudian mendapatkan kebahagiaan di akhirat.

Khatib berpesan kepada diri khatib pribadi dan kepada para jamaah sekalian, agar senantiasa bertakwa kepada Allah ‘azza wajalla dengan sebenar-benar takwa dan tidak mati kecuali dalam keadaan Islam, dalam keadaan bertauhid kepada Allah ‘azza wajalla dan menyerahkan ubudiyah hanya kepada Allah ‘azza wajalla.

Ketakwaan adalah kunci utama untuk menuju kesuksesan dalam menjalankan syariat Allah ‘azza wajalla. Tanpa ketakwaan maka yang terjadi adalah manusia berada dalam belenggu syahwat dan hawa nafsunya yang akan menjerumuskannya pada kerusakan.

 

Jamaah sekalian yang dirahmati oleh Allah ‘azza wajalla,

Syariat Allah ‘azza wajalla adalah syariat, adalah aturan yang paling agung dari kehidupan dunia ini. Tidak ada yang bisa mengatur kehidupan dunia agar sampai pada tujuan-tujuan mulia kecuali syariat Allah ‘azza wajalla.

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

Allah ‘azza wajalla berfirman bahwa Dialah yang pantas memerintahkan, Dialah yang pantas mengatur, karena Allah ‘azza wajalla yang punya ciptaan. (QS. Al-A’raf: 54) 

Tidak mungkin orang yang tidak menciptakan, tidak mengatur alam ini, tidak menghidupkan dan tidak mematikan kemudian dia punya wewenang untuk mengatur dunia selain daripada syariat Allah ‘azza wajalla.

أَلَا لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ

Allah ‘azza wajalla yang menciptakan dan Allah ‘azza wajalla yang punya wewenang untuk memerintahkannya.

Dan perlu kita pahami sesungguhnya ketika Allah ‘azza wajalla menetapkan syariat-Nya, baik di dalam al-Quran maupun Sunah yang kedua-duanya dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hakikatnya Allah ‘azza wajalla sedikit pun tidak mengambil manfaat untuk diri-Nya. Dan sedikitpun dalam syariat itu tidak memberikan madharat dan tidak ada kezaliman bagi para hamba. Allah ‘azza wajalla tidak butuh manfaat dari hamba-Nya ketika mereka menjalankan syariat Allah ‘azza wajalla.

Dan itu ditetapkan oleh Allah ‘azza wajalla dalam firman-Nya dalam surat adz-Dzariyat

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56) 

Tunduk terhadap semua ketetapan Allah ‘azza wajalla, baik berupa aturan, syiar-syiar ibadah, maupun aturan seluruh kehidupan dunia lainnya.

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

Aku tidak menghendaki rezeki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan.” (QS. Adz-Dzariyat: 57) 

Allah ‘azza wajalla menegaskan dalam bentuk perintah Allah ‘azza wajalla agar manusia beribadah kepada-Nya, taat terhadap seluruh syariat-Nya.

مَا أُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ

Allah ‘azza wajalla tidak menginginkan rizki dari mereka

وَمَا أُرِيدُ أَنْ يُطْعِمُونِ

Allah ‘azza wajalla juga tidak menginginkan mereka memberikan makanan, memberikan gizi, memberikan manfaat terhadap Allah ‘azza wajalla. Dan ini ditegaskan dalam sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari sahabat Abu Dzar al-Ghifari dimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يَا عِبَادِي إِنِّي حَرَّمْتُ الظُّلْمَ عَلىَ نَفْسِي وَجَعَلْتُهُ بَيْنَكُمْ مُحَرَّماً، فَلاَ تَظَالَمُوا

Wahai hamba-Ku, sesungguhnya aku mengharamkan kezaliman terhadap diriku. Dan Aku jadikan kezaliman itu haram terhadap hamba-hamba-Ku, maka janganlah kalian berlaku zalim.” (HR. Muslim: 4674) 

Sampai kemudian Allah ‘azza wajalla berfirman dalam hadits Qudsi yang diriwayatkan imam Muslim dari sahabat abu Dzar al-Ghifari,

يَا عِبَادِي كُلُّكُمْ جَائِعٌ إِلَّا مَنْ أَطْعَمْتُهُ فَاسْتَطْعِمُونِي أُطْعِمْكُمْ

Wahai hamba-Ku sesungguhnya kalian semua itu lapar kecuali yang Aku beri makan, oleh karena itu mohonlah makan kepada-Ku, maka Akulah yang akan memberi makan kepada kalian. (HR. Muslim: 4674) 

Ini merupakan sebuah konsep penting bahwa dalam setiap syariat Allah ‘azza wajalla yang ditetapkan kepada hamba-Nya sesungguhnya manfaatnya tidak kembali kepada Allah ‘azza wajalla, tapi manfaatnya kembali kepada manusia.

Maka di akhir-akhir hadits qudsi dari Abu Dzar tadi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَوْ أَنَّ أَوَّلَكُمْ وَآخِرَكُمْ وَإِنْسَكُمْ وَجِنَّكُمْ كَانُوا عَلَى أَتْقَى قَلْبِ رَجُلٍ وَاحِدٍ مِنْكُمْ مَا زَادَ ذَلِكَ فِي مُلْكِي شَيْئًا

Kalau seandainya manusia dan jin semuanya bertakwa kepada Allah ‘azza wajalla, menjalankan syariat Allah ‘azza wajalla, sedikitpun tidak menambah kekuasaan Allah ‘azza wajalla. Sedikitpun tidak menambah kekuasaan Allah ‘azza wajalla. (HR. Muslim: 4674) 

Jadi, dalam syariat, yang mengambil manfaat adalah manusia. Oleh karena itu inilah bentuk rahim-nya Allah ‘azza wajalla. Ini bentuk rahman-nya Allah ‘azza wajalla, dengan tidak membiarkan manusia dalam keadaan sesat ketika mereka diberikan kehidupan di bumi ini. Maka Allah ‘azza wajalla berikan panduan berupa syariat yang panduan syariat itu fungsinya kembali kepada diri mereka.

Namun, perlu kita pahami, sesungguhnya untuk sukses dalam perjalanan syariat bukan karena pertimbangan pilihan manfaat dan tidak. Artinya, ketika seseorang menimbang syariat dari unsur, dari sisi manfaat atau tidak, maka akan terjadi tebang pilih. Dia akan memilih dengan hawa nafsunya.

Oleh karena itu jamaah sekalian yang dirahmati Allah ‘azza wajalla, asasnya adalah laa ilaaha illallah.

Oleh karena itu, para nabi diperintahkan oleh Allah ‘azza wajalla kepada kaumnya untuk mengajak pertama kali mengikrarkan laa ilaha iallallah, ani’budullah wala tusyriku bihi syaian; beribadahlah kepada Allah ‘azza wajalla dan janganlah kalian berbuat syirik kepada-Nya.

Maka, konsekuensi laa ilaha illallah, konsekuensi beribadah kepada Allah ‘azza wajalla semata dan tidak berbuat syirik kepada-Nya adalah, setelah mereka mengakui bahwa Allah ‘azza wajalla adalah Rabb, kemudian mereka menisbatkan ibadah hanya kepada Allah ‘azza wajalla, maka konsekuensinya mereka tunduk kepada semua syariat Allah ‘azza wajalla. Dasarnya adalah laa ilaaha illallah. Dasarnya karena ketakwaan. Dasarnya karena keimanan. Bukan asa manfaat atau tidak.

Oleh karena itu, minimal 17 kali dalam satu hari. Setelah kita mengikrarkan pengakuan bahwa Allah ‘azza wajalla adalah Rabb, Allah ‘azza wajalla juga Ilaah, Allah ‘azza wajalla adalah raja dunia maupun raja akhirat. Sampai kemudian bentuk final pengikrarannya adalah iyyaka na’budu wa iyyakan nasta’in; hanya kepada Engkau ya Allah kami beribadah, hanya kepada Engkau ya Allah ‘azza wajalla kami menyandarkan hati.

Kemudian kita meminta hidayah agar kita diberi petunjuk yang lurus, yakni Islam, jalannya para Anbiya, jalannya orang-orang shiddiqiin, jalannya orang-orang syuhada, jalannya orang-orang shalihin, yang mereka meniti jalan tauhid, jalan hanya tunduk kepada Allah ‘azza wajalla dalam setiap ketentuan, dalam setiap perintah Allah ‘azza wajalla. Baik berupa syiar ibadah, shalat, zakat, puasa, dan lain sebagainya, maupun dalam segala bentuk aturan Allah ‘azza wajalla.

Maka kemudian surat setelahnya adalah surat al-Baqarah. Di mana di dalam surat al-Baqarah kita lihat Allah ‘azza wajalla membagi manusia, ada mukmin yang bertakwa kepada Allah ‘azza wajalla—di bagian yang pertama, ada pula orang kafir, kemudian ada orang-orang munafik.

Kemudian dalam surat al-Baqarah Allah ‘azza wajalla menjelaskan sesungguhnya Allah ‘azza wajalla mengeluarkan nabi Adam, dengan skenario Allah ‘azza wajalla setelah melakukan pelanggaran, maka Allah ‘azza wajalla keluarkan nabi Adam dan Hawa dan ditempatkan di bumi. Yang dikenal dengan qadhiyatul istikhlaf. Di mana nabi Adam diperintahkan Allah ‘azza wajalla untuk tinggal di bumi dan menjalankan segala perintah Allah ‘azza wajalla untuk mengatur bumi.

Maka di dalam surat al-Baqarah juga dijelaskan bagaimana Allah ‘azza wajalla menetapkan banyak hukum, ada hukum qishash, ada hukum tentang tata cara berkeluarga, hukum talak, hukum pernikahan, dan lain sebagainya. Ada hukum tentang jihad dan lain sebagainya. Allah ‘azza wajalla jelaskan secara umum hukum di dalam surat al-Baqarah.

Allah ‘azza wajalla juga menjelaskan, ada umat yang berhasil di dalam memakmurkan bumi, ada pula umat yang mereka tidak sukses dalam memakmurkan bumi. Siapa yang mereka tidak sukses? Allah ‘azza wajalla jelaskan dalam surat al-Baqarah: Bani Israil.

Manakala nabi Musa memerintahkan Bani Israil untuk menyembelih seekor sapi, dan ini adalah perintah syariat, mereka menimbang, dan banyak bantahan. Mereka menimbang dengan akalnya. Mereka menimbang dengan syahwatnya.

Sementara, Allah ‘azza wajalla juga bercerita tentang kesuksesan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

وَإِذِ ابْتَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ

Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya.” (QS. Al-Baqarah: 124) 

Nabi Ibrahim diperintah untuk menyembelih Ismail ‘alaihissalam beliau tidak menimbang asas manfaat atau tidak. Selama ini adalah syariat Allah ‘azza wajalla maka ini adalah yang paling bermanfaat untuk dirinya.

Sementara Bani Israil ketika turun syariat Allah ‘azza wajalla diperintahkan untuk menyembelih seekor sapi, mereka menimbang dengan banyak syahwatnya dengan banyak hawa nafsunya sehingga banyak pertanyaan dan banyak pertanyaan.

Dalam mengamalkan syariat jangan kemudian kita menimbang dengan hawa nafsu kita. Bertanya atas asas manfaat ataupun tidak, meskipun di mukadimah khatib telah menjelaskan bahwa seluruh syariat yang telah Allah ‘azza wajalla tetapkan semua manfaatnya kembali kepada manusia, bukan kepada Allah ‘azza wajalla.

Tetapi untuk mengambil syariat, bukan karena asas manfaat atau tidak, tetapi karena dasar iman dan takwa kepada Allah ‘azza wajalla. Inilah bedanya nabi Ibrahim ‘alaihissalam dengan bani Israil, sehingga terjadi banyak kegagalan pada diri Bani Israil.

 

Jamaah sekalian yang dirahmati Allah ‘azza wajalla.

Oleh karena itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُوْنَ هَوَاهُ تَبَعاً لِمَا جِئْتُ بِهِ

Demi Allah ‘azza wajalla, kalian tidak dianggap beriman sampai hawa nafsunya itu ditundukkan kepada apa yang dibawa oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Baik berupa al-Quran maupun sunah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Dalam memandang syariat cadar, dalam memandang syariat jilbab jangan kemudian memandang dari asas manfaat dan tidak. Selama ini adalah syariat Allah ‘azza wajalla, maka orang yang bertakwa kepada Allah, yang beriman kepada Allah ‘azza wajalla, maka dia akan mengatakan “sami’na wa atha’na”; kami mendengar dan kami patuh.

بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ وَنَفَعَنِي بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ للهِ حمدا طيبا مباركا كثيرا فيه كما أمر، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اَللَّهُمَّ فَصَلِّي وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى حَبِيْبِكَ وَصَفِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

 

Jamaah sekalian yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,

Khatib menasehatkan, marilah senantiasa bertakwa kepada Allah ‘azza wajalla. Merundukkan hati kita. Ta’dzim, mengagungkan semua perintah Allah ‘azza wajalla dan semua larangan Allah ‘azza wajalla.

Tidak ada yang membuat hidup kita menjadi lurus kecuali dengan patuh kepada Allah ‘azza wajalla. Maka, nabi Syu’aib, satu contoh, ketika datang kepada kaum Madyan dan kaum Madyan dalam kehidupan mereka telah menjalankan konsep ekonomi sendiri, di mana konsep tersebut hakikatnya adalah konsep yang rusak.

Maka ketika nabi Syu’aib datang kepada kaum Madyan dan mereka diperintah untuk tunduk kepada syariat, maka apa jawaban mereka?

Mereka mengatakan, kepada nabi Syu’aib ‘alaihissalam,

أَصَلَاتُكَ تَأْمُرُكَ أَنْ نَتْرُكَ مَا يَعْبُدُ آبَاؤُنَا أَوْ أَنْ نَفْعَلَ فِي أَمْوَالِنَا مَا نَشَاءُ

Kaum Madyan mengatakan, “Wahai syuaib, apakah shalatmu di dalamnya mengandung perintah melarang kami untuk tetap berpegang pada warisan budaya kami yang ditinggalkan oleh nenek moyang kami dan melarang kami untuk tetap berekonomi, atau, memiliki aturan ekonomi sendiri, atau kami mengatur ekonomi sendiri tanpa aturan yang kamu bawa?” (QS. Hud: 87)

Artinya apa, seandainya nabi Syu’aib ‘alaihissalam sekedar mengajak kaum Madyan untuk shalat tanpa taat dalam aturan-aturan Allah ‘azza wajalla termasuk aturan di dalam tata cara berekonomi dengan syariat Allah ‘azza wajalla, maka sangat mudah bagi kaum Madyan untuk mengikuti ajakan shalat yang diajak oleh nabi Syu’aib ‘alaihissalam.

Tetapi, ketika mereka tahu bahwa shalat itu konsekuensinya adalah taat kepada aturan Allah ‘azza wajalla termasuk di dalam taat aturan dalam kehidupan ekonomi, maka mereka menolak nabi Syu’aib ‘alaihissalam.

 

Jamaah sekalian yang dirahmati Allah ‘azza wajalla,

Oleh karena itu, inilah bentuk dari ikrar kita laa ilaaha illallah dan bentuk dari ucapan,

 إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ حَنِيفًا ۖ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Sesungguhnya aku telah hadapkan wajahku lurus hanya menghadap untuk Allah ‘azza wajalla, taat kepada Allah ‘azza wajalla, hanifan muslima, inilah agama yang hanif, agama yang berserah diri terhadap Allah ‘azza wajalla.

وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

Maka, saya ulang satu kisah di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam datang membawa syariat tentang menyembelih binatang, maka orang-orang munafik mengatakan,

Wahai Muhammad, bagaimana mungkin kamu mengharamkan binatang yang mati karena Allah ‘azza wajalla dan kamu halalkan binatang yang mati karena manusia?

Apa maksudnya? Binatang yang sakit kemudian dia mati ini menjadi haram dalam syariat karena tidak ada proses penyembelihan.

Menurut mereka, mereka membantah seakan-akan logis dengan pilihan syahwat mereka bahwa mereka mengatakan, apakah kamu mengharamkan yang sakit tadi sakitnya karena Allah ‘azza wajalla dia mati karena Allah ‘azza wajalla, sementara kamu menghalalkan binatang yang mati karena manusia, karena disembelih tadi.

Maka kemudian turunlah firman Allah ‘azza wajalla,

وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

Jika kamu taat kepada mereka, orang-orang munafik, wahai Muhammad dan orang-orang beriman, meskipun seakan-akan logis namun bertentangan dengan syariat Allah ‘azza wajalla, innakum lamusyrikun: Kalian jatuh kepada kesyirikan. (QS. Al-An’am: 121) 

Marilah kita tundukkan hati kita untuk takwa kepada Allah ‘azza wajalla. Dan semoga kita diwafatkan Allah ‘azza wajalla dalam keadaan hanya memberikan ‘ubudiyah hanya kepada Allah ‘azza wajalla. [transkrip: Shodiq/dakwah.id]

 

إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِي، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ

اللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَا تَحُولُ بِهِ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعَاصِيكَ، وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَا بِهِ جَنَّتَكَ، وَمِنَ الْيَقِينِ مَا تُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا وّالدِّيْنِ

اللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُوَّاتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا، وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا، وَاجْعَلْ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ ظَلَمَنَا، وَانْصُرْنَا عَلَى مَنْ عَادَانَا، وَلَا تَجْعَلْ مُصِيبَتَنَا فِي دِينِنَا، وَلَا تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا، وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَا، وَلَا تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لَا يَرْحَمُنَا

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

اللَّهُمَّ إِخْوَانِنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ فِي كُلِّ مَكَانٍ،

اللَّهُمَّ وَحِّدْ صُفُوْفَهُمْ وَسَدِّدْ رَمْيَهُمْ وَثَبِّتْ أَقْدَامَهُمْ وَاجْمَعْ كَلِمَاتِهِمْ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ

اللَّهُمَّ أَفْرِغْ فِي قُلٌوْبِهِمْ صَبْرًا، يَا إِلَهَ الْحَقُ، لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ

اللَّهُمَّ دَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، اللَّهُمَّ مَزِّقْ صُفُوْفَهُمْ، وَشَتِّتْ شَمْلَهُمْ وَفَرِّقْ جَمْعَهُمْ، وَمَزِّقْهُمْ كُلَّ مُمَزَّقٍ، يَا عَزِيْزُ ذُو انْتِقَامٍ

اَللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي كُلِّ مَكَانٍ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ نِسَائَهُمْ وَصِبْيَانَ هُمْ، اللَّهُمَّ ارْحَمْ ضُعَفَاءَ هُمْ، اللَّهُمَّ دَاوِ جَرْحَهُمْ وَاشْفِ مَرْضَاهُمْ

رَبَنَا ءَاتِنَا فِي الدّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النّارِ. وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة