Orang Munafik; Malas Mendirikan Shalat, Riya’ dalam Beramal

540

Orang Munafik; Malas Mendirikan Shalat, Riya’ dalam Beramal

Ust. Abdullah Manaf Amin*

 

اَلْحَمْدُ لِلّهِ، اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا صِرَاطَهُ الْمُسْتَقِيْمَ، صِرَاطَ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالصِّدِيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُوْلٓـئِكَ رَفِيْقاً. أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

فَيَا عِبَادَ اللّٰه أوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَا نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقوَى، قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى فِي الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنَ الشَيْطَانِ الرَّجِيْمِ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء وَاتَّقُواْ اللّهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً وَقَالَ تَعَالَى

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

 

Ikhwani fiddin arsyadakumullah,

Saya wasiatkan kepada diri saya dan kepada ikhwani fiddin, saudara-saudaraku seiman dan seislam, marilah kita berusaha mengisi sisa-sisa usia kita dengan berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Yaitu salah satunya dengan berusaha menghindari sifat orang munafik yang diberikan Allah dan Rasul-Nya kepada orang-orang yang malas mengerjakan shalat. Surat an-Nisa ayat 142 yang telah saya bacakan dalam permulaan khutbah,

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَىٰ يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

“Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali.” (QS. An-Nisa’: 142) 

Orang-orang munafik itu menipu Allah ‘azza wajalla—laa haula wa laa quuwwata illaa billah. Allah ditipu oleh makhluk-Nya yang namanya manusia. Justru Allah lah yang akan memperdayakan mereka. Apa sifat orang munafik yang tersebut di sini:

  1. Apabila mengerjakan shalat, maka shalat itu dikerjakan dalam keadaan malas.
  2. Mereka berusaha agar shalat mereka dilihat oleh manusia.
  3. Mereka tidak ingat kepada Allah f diwaktu mengerjakan shalat kecuali hanya sedikit.

Mereka, orang-orang munafik, mengerjakan shalat di masjid. Berjamaah bersama orang banyak. Berbaur antara yang kaya dan yang miskin, antara pejabat dengan rakyat jelata, antara orang-orang yang bodoh dan orang-orang pandai, antara mereka lulusan SD dan S3. Shalat yang mereka kerjakan di masjid; Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, bahkan Subuh, merupakan usaha orang-orang munafik untuk mengelabui orang banyak tentang penyakit nifaknya. Itu usaha orang munafik untuk menutupi borok hati mereka, yang pada hakikatnya bertolak belakang dengan lahiriah mereka. Mereka memang mengerjakan shalat lima waktu di masjid berjamaah, tapi tujuannya ingin di lihat oleh manusia.

 

Ikhwani fiddin arsyadakumullah,

Kalau kita beruswah kepada Rasulullah, beliau tidak pernah mengerjakan shalat fardhu sendirian di rumah. Tidak pernah mengerjakan shalat fardhu berjamaah bersama keluarga besar beliau; istri-istri beliau yang sebelas orang, anak-anak beliau, menantu-menantu beliau, bahkan cucu-cucu beliau. Shalat pasti beliau kerjakan di masjid.

Rasulullah lah yang selalu menjadi imam di waktu Zhuhur, Ashar, Maghrib, Isya’ dan Subuh. Shalat Jumat pekan pertama sampai Jumat kelima, Idul Fitri, Idul Adha, shalat Istisqa’, shalat Kusuful Qamar, shalat Khusyufusy Syams, gerhana rembulan, gerhana matahari, beliaulah yang menjadi imam.

Rasulullah adalah uswah kita, suri tauladan kita. Rasulullah adalah qudwah kita, pimpinan kita, dan pemandu kita. Tidak ada keraguan lagi. Kita camkan dalam-dalam di hati, bahwa kita harus senantiasa menjadikan Rasulullah sebagai uswah dan qudwah, khususnya dalam melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah bersama imam.

Bahkan, begitu ditekankannya melaksanakan shalat berjamaah, ketika seseorang bersafar, shalat tetap diperintahkan berjamah bersama-sama.

Bahkan, ketika seseorang harus mempertaruhkan sesuatu paling mahal yang dia miliki, yang namanya nyawa. Bahkan ketika berada di tengah-tengah medan peperangan, yuqatiluna fi sabilillah fayaqtulun wa yuqtalun, berperang di jalan Allah, yang alternatifnya hanya satu di antara dua; membunuh atau di bunuh, memisahkan nyawa musuh atau nyawa dia dipisahkan oleh musuh. Dalam suasana segawat itu, dalam suasana setegang itu, dan dalam suasana nyawa menjadi taruhan, surat an-Nisa’ ayat 102 memerintahkan bahwa di saat peperangan sedang berkecamuk, pedang beradu dengan pedang, panah beterbangan di sekitar kepala, tombak datang dari segala arah, ketika waktu shalat telah datang maka shalat tetap dilaksanakan secara berjamaah.

Terkadang kita sibuk. Khatib sudah berkhutbah sementara ada di antara kita yang baru datang memasuki masjid untuk melaksanakan shalat Jumat. Mana kesibukan yang lebih menuntut waktu? Mana kekhawatiran agar satu-satunya nyawa yang kita pertahankan dengan segala daya dan upaya? Gambaran yang paling riil adalah kalau kita sudah masuk ke rumah sakit. Bayangan yang kita pikirkan bukan uang rupiah dengan satu nol atau dua nol. Bukan empat nol atau lima nol atau enam nol. Kalau perlu tujuh nol bahkan delapan nol. Demi yang namanya nyawa, kita harus korbankan semua itu.

Tetapi demi yang namanya shalat berjamaah, demi yang namanya shalat bersama imam, nyawa yang mestinya kita pertahankan dengan uang puluhan bahkan ratusan juta, harus kita korbankan. Karena kita ingin menyelamatkan diri kita, membawa diri kita agar bisa melaksanakan ayat 102 surat an-Nisa’.

Seorang laki-laki buta datang kepada Rasulullah. Riwayat mengatakan bahwa laki-laki itu bernama Abdullah bin Ummi Maktum, sepupu Rasulullah dari istri yang pertama, Khadijah binti Khuwailid. Apa yang disampaikan kepada beliau,

يَا رَسَوْلَ اللّهِ لَيْسَ قَاعِدٌ يَأْخُذَنِيْ إِلَى الْمَسْجِدِ

Rasulullah! Saya tidak mempunyai orang bayaran. Saya tidak mempunyai teman yang bisa saya minta untuk menuntun saya menuju masjid untuk shalat berjamaah, bermakmum di belakang Anda. Sementara rumah saya jauh dari masjid. Jalan menuju masjid berliku-liku, berdebu di musim panas, becek di musim hujan.  Ya Rasulallah! Izinkan saya untuk tidak shalat berjamaah makmum bersama anda.

Berangkat dari belas kasih Rasulullah kepada laki-laki tadi, beliau mengiyakan dan mengizinkan kapada yang bersangkutan untuk shalat di rumah. Dia minta izin untuk pulang. Ketika beberapa langkah dia meninggalkan Rasulullah, Rasulullah kembali memanggil, “Hal tasma’u nida’ash shalah? Apakah Anda mendengar panggilan shalat? Saya dengar Rasulullah. Satu kata dari Rasulullah, “Fa ajibhu” kalau begitu, penuhilah panggilan itu.

Kalau ada di antara Anda yang buta matanya dan tetap melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah, mudah-mudahan ia dicatat sebagai orang yang ittiba’ kepada Rasulullah.

Tapi, kalau di antara Anda ada yang sehat matanya, sehat fisiknya, sehat keduanya, tetapi secara sengaja dan merasa tidak bersalah ketika dia tidak memenuhi panggilan adzan, wallahu a’lam, na’uzdubillah, jangan-jangan yang bersangkutan dibuka matanya oleh Allah tetapi ditutup mata hatinya oleh setan. Kalau tidak cepat-cepat bertaubat dikhawatirkan apa yang telah dilakukan oleh setan dengan menutup mata hatinya, akan disetujui dan disempurnakan oleh Allah sebagai orang yang hatinya tidak bisa membaca, tidak bisa mendengar dan tidak bisa melihat.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِيْ هَدَانَا صِرَاطَهُ الْمُسْتَقِيْمَ، صِرَاطَ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَالصِّدِيْقِيْنَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ وَحَسُنَ أُوْلٓـئِكَ رَفِيْقاً. أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

Di permulaan khutbah, saya bacakan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh imam Bukhari dan imam Muslim dari Abi Hurairah yang artinya, “Sesungguhnya dua shalat yang paling berat bagi orang munafik untuk melaksanakannya secara berjamaah adalah al ‘Atamah dan Subuh

Shalat Isya mungkin alasannya terlalu penat, capek dan lelah kerena seharian mencari rizki. Shalat Subuh, berat badannya diajak untuk bangkit dari tempat tidur, karena telah dibuai oleh mimpi indah di dalam tidurnya.

Sahabat Rasulullah, Abdullah bin Umar bin Khattab, memahami hadits ini,

كُنَّا إِذَا تَخَلَّفَ مِنَّا إِنْسَانٌ فِيْ صَلَاةِ العِشَاءِ وَالُّصُبْحِ فِيْ الجَمَاعَةِ أَسَأْنَا بِهِ الظَنَّ أَنْ يَكُوْنَ قَدْ نَافَقَ

 

Shalat jamaah yang paling berat bagi orang munafik adalah shalat Isya dan Subuh. Apa kata Abdullah bin Umar, “Kami para sahabat Rasulullah, apabila tidak mendapati salah seorang diantara kita melaksanakan shalat Isya’ dan Subuh secara berjamaah. Padahal, berdasarkan keterangan di atas tidak turun hujan, sakit juga tidak. Jangan-jangan orang tadi seperti yang disinyalir oleh Rasulullah, ia termasuk orang munafik. Karena di antara sifat orang munafik yaitu paling berat melaksanakan shalat berjamaah Isya’ dan Subuh seperti yang diterangkan oleh Rasulullah.

Kalau ada di antara kita yang tadi tidak melaksanakan shalat Subuh secara berjamaah, padahal tidak sakit, musimnya musim kemarau, badan anda sehat, makan enak, tidur nyenyak. Mengapa tidak ke masjid shalat Subuh? Mengapa tidak ke masjid shalat Isya’? Jangan-jangan kalau tidak kita akhiri hari ini, berdasarkan hadits shahih, kita termasuk yang oleh Allah dan Rasul-Nya ditambatkan sebagai orang munafik. Wal ‘iyadzubillah min dzalik. Kita akhiri khutbah siang ini dengan do’a.

 

الَلّٰهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَغَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ،

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ،

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنفُسَنَا وَإِن لَّمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ،

رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِن لَّدُنكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنتَ الْوَهَّابُ،

رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ، وَالْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

 

 

 

 

*) Ustadz Abdullah Manaf Amin adalah salah seorang tokoh dan Ulama di Solo, Jawa Tengah.
**) Naskah Khutbah ini pernah diterbitkan oleh Majalah Fikih Islam Hujjah edisi 13.