Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Wasiat Terakhir Rasulullah Saat Haji Wada’ Tahun 10 Hijriyah

3,749

Wasiat Terakhir Rasulullah Saat Haji Wada’ Tahun 10 Hijriyah — Setelah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyampaikan risalah Islam, menyelesaikan amanah, menasihati umat, dan berjihad di jalan Allah ‘azza wajalla dengan sebenar-benarnya jihad, beliau mengumumkan dan memberitahukan kepada umatnya bahwa beliau akan melaksanakan Haji pada tahun kesepuluh—setelah menetap di Madinah selama sembilan tahun yang setiap tahunnya diperintahkan untuk berjihad, berdakwah, dan mengedukasi umat.

Setelah seruan mulia ini—yang beliau maksudkan untuk menyampaikan kepada umatnya tentang kewajiban Haji agar mereka belajar manasik Haji dari beliau dan agar mereka menyaksikan seluruh perkataan dan perbuatan beliau.

Beliau berpesan kepada mereka agar yang hadir di tempat itu menyampaikan kepada yang tidak hadir dan menghidupkan dakwah Islam serta menyampaikan risalah kepada orang yang dekat maupun yang jauh. (Syarh an-Nawawi ala Shahih Muslim, 8/422; Syarh al-Abi, 4/244)

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata,

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Madinah selama sembilan tahun belum pernah melaksanakan Haji. Kemudian mengumumkan kepada umatnya bahwa beliau akan melaksanakan Haji pada tahun kesepuluh.”

“Maka berdatanganlah sejumlah besar umatnya, semua ingin berkumpul bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beramal sesuai dengan amalannya.”

“Disebutkan dalam Hadits yang isinya, ‘Sehingga ketika unta beliau sampai di Baidha’ (hamparan padang sahara tanpa ada tumbuhan di daerah Dzul Hilaifah), aku lihat dari kejauhan tampak pengendara dan pejalan kaki datang dari arah depan beliau, demikian juga dari arah samping kanan, kiri, dan dari arah belakang beliau. Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berada di tengah-tengah kami sementara al-Quran diturunkan kepadanya, dan beliaulah yang mengetahui tafsirnya. Apa pun yang beliau kerjakan, kami kerjakan pula..’”

“Ia menyebutkan sebuah hadits dan berkata, ‘Sehingga ketika beliau sampai di Arafah, beliau mendapatkan sebuah kubah yang telah berada di Namrah. Beliau pun singgah di situ.”

 

Wasiat Terakhir Rasulullah Kepada Umatnya Ketika di Arafah

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika matahari telah condong ke barat, beliau mengendarai Qashwa’ (salah satu nama unta beliau) menuju ke tengah lembah lalu berkhutbah,

Sesungguhnya darah dan harta benda kalian adalah suci bagi kalian sebagaimana sucinya hari, bulan, dan negeri ini. Ingatlah semua perkara jahiliyah telah terhapus di bawah telapak kakiku (Syarh an-Nawawi, 8/432; Syarh al-Abi, 4/255, Fathul Muluk al-Ma’bud, 2/18), demikian pula darah jahiliyah.’

Sesungguhnya darah yang pertama kali lenyap dari kita adalah darah Rabi’ah bin Harits yang disusui oleh wanita Bani Sa’ad. Dia telah dibunuh oleh Hudzail.’

Riba Jahiliyah juga telah terhapus. Riba pertama yang terhapus adalah riba Abbas bin Abdul Muthalib, terhapus semuanya.’

Bertakwalah kepada Allah terhadap istri-istri kalian karena kalian telah menikahinya dengan perlindungan Allah. Kalian telah menghalalkan faraj (kemaluan) mereka dengan kalimat Allah.’

Sedangkan hak kalian atas mereka adalah mereka tidak boleh membawa seorang pun yang kamu benci ke tempat tidur kalian.’ (Syarh an-Nawawi, 8/433; Syarh al-Abi, 4/256, Fathul Muluk al-Ma’bud, 2/19)

Apabila mereka melakukan hal tersebut, maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak keras lagi tidak menyakiti.’ (Syarh an-Nawawi, 8/434; Fathul Muluk al-Ma’bud, 2/19)

Sementara hak mereka atas kalian adalah mendapatkan rezeki dan pakaian yang baik.

Sungguh telah aku tinggalkan untuk kalian Kitabullah yang jika kalian berpegang teguh dengannya niscaya kalian tidak akan pernah tersesat.’

Dan kalian telah menanyakan tentang keadaanku, apa yang akan kalian katakan?

Para sahabat serentak menjawab. ‘Kami bersaksi bahwa Anda telah menyampaikan nasehat’.’

‘Kemudian beliau bersabda seraya mengangkat jari telunjuknya ke langit dan mengarahkannya kepada khalayak, ‘Ya Allah, saksikanlah!’ diucapkan tiga kali.’ (HR. Muslim No. 1218)

Di tempat itu terdapat sejumlah besar manusia yang tidak bisa diketahui jumlahnya kecuali hanya Allah ‘azza wajalla yang tahu.’ (Ada yang mengatakan jumlahnya mencapai 130.000 orang.’ (Fathul Muluk al-Ma’bud, 2/105)

Baca juga: Membaca al-Kahfi Pada Malam Jumat atau Hari Jumat?

Pada hari Arafah pula, tepatnya pada hari Jumat, Allah ‘azza wajalla menurunkan wahyu-Nya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam (HR. Al-Bukhari No. 3016, 3017),

لْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْاِسْلَامَ دِيْنًاۗ

Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Maidah: 3)

Ini adalah nikmat Allah ‘azza wajalla terbesar yang diberikan Allah ‘azza wajalla kepada umat ini ketika Allah ‘azza wajalla menyempurnakan bagi mereka agama mereka sehingga mereka tidak membutuhkan agama selainnya. Tidak juga kepada Nabi yang bukan Nabi mereka.

Oleh karena itu, Allah ‘azza wajalla menjadikan beliau sebagai penutup para nabi dan mengutusnya kepada jin dan manusia sehingga tidak ada sesuatu pun yang halal kecuali yang telah dihalalkan olehnya, dan tidak ada yang haram kecuali yang telah beliau haramkan, serta tidak ada undang-undang kecuali yang telah beliau syariatkan.

Segala sesuatu yang beliau kabarkan adalah kebenaran. Tidak ada kedustaan atau pun penyimpangan.

وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ صِدْقًا وَّعَدْلًاۗ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمٰتِهٖ ۚوَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

Dan telah sempurna firman Rabbmu (Al-Qur’an) dengan benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah firman-Nya. Dan Dia Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-An’am: 115)

Artinya, benar dalam berita dan adil dalam hal-hal yang dilarang. Ketika Allah ‘azza wajalla sempurnakan agama, berarti telah sempurna pula nikmat yang diberikan kepada mereka. (Tafsir Ibnu Katsir, 2/12)

Ketika ayat ini diturunkan pada hari Arafah, Umar menangis.

Beliau ditanya, “Kenapa Anda menangis?

Umar menjawab, “Apakah dengan sempurnanya agama ini akan membuatku menangis. Adapun ketika agama telah sempurna, maka sesuatu itu belum sempurna kecuali akan berkurang.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/12. Sanadnya bersumber dari Tafsir ath-Thabrani)

Seakan-akan Umar menyaksikan ajal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah dekat.

 

Wasiat Terakhir Rasulullah Kepada Umatnya Ketika di Jamrat

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ketika aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melempar jumrah dari atas tunggangannya pada hari kesepuluh bulan Dzulhijjah, beliau bersabda,

لِتَأْخُذُوا مَنَاسِكَكُمْ، فَإِنِّي لَا أَدْرِي لَعَلِّي لَا أَحُجُّ بَعْدَ حَجَّتِي هَذِهِ

Hendaklah kalian mulai bermanasik Haji karena tidak tahu apakah aku masih bisa melaksanakan Haji lagi setelah hajiku ini.” (HR. Muslim No. 1297)

Dari Ummu Husain radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Aku melaksanakan Haji bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Aku melihat beliau ketika melempar jumrah Aqabah seraya berpaling sedangkan beliau berada di atas tunggangannya. Bersamanya terdapat Bilal dan Usamah. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam banyak mengatakan sesuatu. Lalu aku mendengar beliau bersabda,

إِنْ أُمِّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ مُجَدَّعٌ أَسْوَدُ، يَقُودُكُمْ بِكِتَابِ اللهِ تَعَالَى، فَاسْمَعُوا لَهُ وَأَطِيعُوا

Jika kalian nanti dipimpin oleh seorang hamba yang buruk lagi hitam yang akan memimpin kalian dengan kitabullah, maka dengar dan taatilah dia.” (HR. Muslim No. 1298)

 

Wasiat Terakhir Rasulullah Kepada Umatnya pada tanggal 10 Dzulhijjah

Dari Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sedang duduk di atas untanya, sedang seseorang memegang tali kekang untanya. Beliau berkhutbah,

Tahukah kalian hari apakah ini?

Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Lalu beliau diam sejenak, sampai-sampai kami mengira beliau akan menamainya dengan nama lain. kemudian beliau bersabda,

Bukankah ini adalah hari kesepuluh bulan Dzulhijjah?

Benar, wahai Rasulullah,” jawab kami.

Beliau bertanya lagi, “Tahun apakah ini?

Kami jawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.”

Lalu beliau diam, sampai-sampai kami mengira beliau akan menamainya dengan nama lain. beliau bersabda,

Bukankah ini adalah negeri yang suci?

Kami menjawab, “Benar, wahai Rasulullah.”

Baca juga: Fikih Instan: Keluar Darah Setelah Keguguran, Tetap Shalat?

Beliau kemudian bersabda, “Sesungguhnya darah, harta benda, kehormatan dan kemanusiaan kalian adalah suci atas kalian, sebagaimana sucinya hari, bulan, dan negeri kalian ini. (Kalian akan menghadap Rabb kalian. Dia akan bertanya kepada kalian tentang amalan kalian. Maka janganlah kalian kembali kepada kekafiran sepeninggalku) atau kepada kesesatan sehingga kalian saling bunuh membunuh.”

Ingatlah! Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, (karena boleh jadi yang menyampaikan lebih paham daripada yang sekedar mendengar).”

Ingatlah! Apakah aku telah sampaikan?

Kemudian beliau berbalik (Syarh an-Nawawi, 11/183) ke arah dua kambing yang gemuk lalu menyembelih keduanya.” (HR. Al-Bukhari No. 67, 105, 1741, 3197, 4406, 4662, 5550, 7078, 7447; HR. Muslim No. 1679)

Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma berkata, “Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya itu adalah wasit beliau kepada umatnya. Maka hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir.” (HR. Al-Bukhari No. 1739)

Diamnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam setiap kali habis bertanya adalah agar mereka paham dan bisa menerimanya secara keseluruhan serta merasakan keagungan berita yang beliau sampaikan kepada mereka. (Fathul Bari, 1/159)

Baca juga: Menelisik Sumber Teks Doa Akhir Tahun dan Doa Awal Tahun Hijriyah

Dari Ibnu Umar ia berkata, “Pada hari kesepuluh bulan Dzulhijjah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berhenti di antara dua jumrah. Seraya berkata,

Ini adalah hari Haji Akbar.”

Lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ya Allah, saksikahlah!” dan beliau berpesan kepada khalayak, “Ini adalah Haji perpisahan.” (HR. Al-Bukhari No. 1742)

Sungguh, Allah ‘azza wajalla telah membuka pendengaran seluruh jamaah Haji yang berada di Mina sehingga mereka bisa mendengar khutbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada yaumun nahr itu.

Ini merupakan mukjizat beliau bahwa Allah ‘azza wajalla telah memberkati suara beliau dalam pendengaran mereka dan menguatkannya sehingga bisa didengar dari jarak jauh maupun dekat, bahkan orang-orang yang tinggal di rumah-rumah mereka juga dapat mendengarnya. (Aunul Ma’bud, 5/436; Fathul Muluk al-Ma’bud, 2/106)

Dari Abdurrahman bin Muadz at-Taimi radhiyallahu ‘anhu ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah kepada kami sedangkan kami waktu itu berada di Mina. Allah ‘azza wajalla bukakan pendengaran kami sehingga kami semua bisa mendengar apa yang beliau sampaikan meskipun kami waktu itu berada di rumah.” (HR. Abu Daud No. 1957, dishahihkan oleh al-Albani dalam Shahih Sunan Abi Daud, 1/369 No. 1724)

 

Wasiat Terakhir Rasulullah kepada Umatnya pada Pertengahan Hari Tasyriq

Rasulullah berkhutbah pada tanggal 12 Dzulhijjah, yaitu hari kedua tasyriq yang biasa disebut dengan yaumur ru’us (hari kepala). Penduduk Mekkah menyebutnya demikian karena pada hari itu mereka makan kepala hewan Udhiyyah, yakni pertengahan hari Tasyriq. (‘Aunul Ma’bud, 5/432; Fathul Muluk al-Ma’bud, 2/100; Fathul Bari, 3/574)

Dari Abu Najih, dari dua orang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Bani Bakr, keduanya berkata, “Kami melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah pada pertengahan hari Tasyriq sementara kami berada di atas kendaraan kami. Ini adalah sebagaimana khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di Mina.” (‘Aunul Ma’bud, 5/431; Fathul Muluk al-Ma’bud, 2/100; HR. Abu Daud No. 1952)

Baca juga: Materi Khutbah Jumat: Tazkirah di Balik Musibah Gempa

Dari Abu Nadhrah berkata, “Telah bercerita kepada kami orang yang mendengar khutbah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada pertengahan hari Tasyriq. Sabda beliau,

Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Rabb kalian adalah satu, bapak kalian juga satu.’

Ingatlah, tidak ada keutamaan yang dimiliki bangsa Arab atas bangsa non-Arab, tidak pula bangsa non-Arab atas bangsa Arab.’

Tidak pula orang berkulit merah dengan orang berkulit hitam, dan orang berkulit hitam atas orang berkulit merah kecuali dengan ketakwaan. Apakah aku telah menyampaikan?

Mereka menjawab, “Benar, wahai Rasulullah, Anda telah menyampaikan.”

Kemudian beliau bertanya, “Hari apakah ini?

Bereka menjawab, “Hari suci.

Beliau bertanya lagi, “Bulan apakah ini?

Bulan Haram (suci).” Jawab mereka.

Negeri apakah ini?

Negeri Haram.”

Baca juga: Tiga Amalan Dahsyat di Bulan Muharam

Beliau kemudian bersabda,

Sesungguhnya Allah ‘azza wajalla telah mengharamkan (menyucikan) di antara kalian darah, harta benda, dan kehormatan kalian sebagaimana Allah ‘azza wajalla telah menyucikan hari, bulan, dan negeri ini. Apakah aku telah menyampaikan?

Mereka menjawab, “Rasulullah telah sampaikan.”

Hendaknya yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir,” lanjut beliau. (HR. Ahmad, 12/226; Al-Haitsami berkata, “Diriwayatkan oleh Ahmad dan rijalnya shahih.” Majmu az-Zawaid, 3/266)

Terdapat kumpulan khutbah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada saat Haji Wada’ di tempat-tempat suci. Di antaranya yang termaktub dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkhutbah di hadapan khalayak pada saat Haji Wada’.

Baca juga: Jamak Shalat Saat Bepergian atau Safar

Beliau bersabda,

Sesungguhnya setan telah berputus asa untuk diibadahi di dunia kalian. Akan tetapi dia rela ditaati dalam hal-hal selain itu sehingga kalian meremehkan amalan-amalan kalian. Maka hendaknya kalian waspada!

Sesungguhnya telah aku tinggalkan bagi kalian dua perkara yang jika kalian berpegang teguh pada keduanya, niscaya kalian tidak akan pernah tersesat selamanya, yakni kitabullah dan sunnah Nabi-Nya.” (HR. Muslim No. 2812; Musnad Ahmad, 2/368; Al-Ahadits ash-Shahihah No. 472)

Juga hadits dari Abu Umammah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika beliau berbicara kepada khalayak di atas unta beliau, yakni Juda’, pada saat Haji Wada’. Beliau bersabda,

Wahai manusia, taatilah Rabb kalian, shalatlah lima waktu, bayarlah zakat harta kalian, puasalah Ramadhan, dan taatilah Zat pemegang urusan kalian, niscaya kalian akan masuk ke dalam surga milik Rabb kalian.” (HR. Hakim, 1/473. Dishahihkan dengan syarat Muslim dan disepakati oleh imam azh-Zhahabi). Wallahu a’lam [Sodiq Fajar/dakwah.id | diambil dari kitab Wada’ur Rasul li Ummatihi karya Syaikh Sa’id bin Ali bin Wahf al-Qahthani]