Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Menelisik Sumber Teks Doa Akhir Tahun dan Doa Awal Tahun Hijriyah

431

Di akhir bulan Dzulhijjah ini, beredar broadcast yang disebar melalui group-group whastapp, facebook, dan media sosial lain tentang anjuran membaca doa akhir tahun dan doa awal tahun Hijriyah dengan lafal tertentu dan dalam jumlah tertentu yang ditambah dengan pelaksanaan shalat dua rekaat dengan surat dan ayat yang dibaca secara khusus.

Sebagian broadcast yang beredar menyebutkan, redaksi doa tersebut bersumber dari Sibt Ibnu Jauzi dari Abu Umar bin Qudamah al-Maqdisi.

Sebagian lain menyebutkan redaksi doa itu bukanlah bersumber dari hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang riwayatnya dapat dipertanggungjawabkan.

Di sini lah persoalannya. Sebenarnya, dari mana redaksi doa itu berasal? Pada kesempatan kali ini, kami mencoba untuk menelusuri sumber redaksi doa akhir tahun dan doa awal tahun tersebut.

 

Kitab yang Menyebutkan Doa Akhir Tahun dan Doa Awal Tahun Hijriyah

Ada beberapa kitab yang menyebutkan adanya doa akhir tahun dan doa awal tahun Hijriyah. Ada yang berasal dari kitab milik aliran Syiah, dan mayoritas dari referensi-referensi aliran Sufi.

Dalam literatur aliran Syiah, doa akhir tahun dan awal tahun terdapat dalam kitab Iqbalul A’mali karya salah seorang tokoh Syiah, as-Sayyid Ali bin Musa bin Thawus, pada bab Amalan di Akhir Bulan Dzulhijjah halaman 862. Kitab ini diterbitkan oleh Muassasah al-A’lami, Lebanon. Cetakan pertama, 1417H/1996M.

Berikut ini redaksinya,

يصلى ركعتين بفاتحة الكتاب، وعشر دفعات سورة (قل هو الله احد) وعشر دفعات آية الكرسي، ثم تدعوا وتقول :

اللهم ما عملت في هذه السنة من عمل، نهيتني عنه ولم ترضه، ونسيته ولم تنسه، ودعوتني الى التوبة بعد اجترائي عليك، اللهم فانى استغفرك منه فاغفر لي، وما عملت من عمل يقربني اليك فاقبله منى، ولا تقطع رجائي منك يا كريم. قال: فإذا قلت هذا قال الشيطان: يا ويله ما تعبت فيه هذه السنة هدمه اجمع بهذه الكلامات وشهدت له السنة له السنة الماضية انه قد ختمها بخير .

أقول: ووجدت في بعض الكتب لفظ آخر بعد الصلاة في هذا اليوم وهوان يقول: اللهم ما عملت في هذه السنة من عمل صالح ووعدتني ان تعطيني عليه الثواب، فتقبله منى بفضلك وسعة رحمتك، ولا تقطع رجائي، ولا تخيب دعائي، اللهم وما عملت في هذه السنة مما نهيتني عنه، وتجرأت عليه، فانى استغفرك لذلك كله فاغفر لى يا غفور .

Di dalam buku itu disebutkan, doa akhir tahun dibaca setelah melaksanakan shalat dua rekaat dengan membaca al-Fatihah lalu membaca surat al-Ikhlash 10 kali dan ayat kursi 10 kali. Tidak disebutkan dari mana asal fikih shalat akhir tahun seperti ini; apakah ini petunjuk yang shahih dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, atau bukan. Wallahu a’lam.

Baca juga: Kenapa Disebut Bulan Muharam?

Abdurrahman bin Abdussalam bin Abdurrahman bin Utsman ash-Shafuri asy-Syafi’i juga menukil doa ini dalam bukunya Nuzhatul Majalis wa Muntakhab an-Nafa’is dengan redaksi,

اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِنْ عَمَلٍ، نَهَيْتَنِي عَنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ، وَنَسَيْتُهُ وَلَمْ تَنْسَهُ، وَحَمَلْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْرَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِي وَدَعَوْتَنِي إِلَى التَّوْبَةِ مِنْهُ بَعْدَ جِرَاءَتِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ، اَللَّهُمَّ يَا كَرِيْمُ يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ اَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّيْ وَلاَتَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَاكَرِيْمُ، وَصَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

قال الشيطان: تعبنا منه طول سنته فأفسده في ساعة واحدة وولى يحثو التراب على وجهه.

 

Kemudian, di dalam kitab Kanzun Najah was Surur fil Ad’iyatil Ma’tsurah Allati Tasyrahu ash-Shudur, karya Abdul Hamid bin Muhammad Ali bin Abdul Qadir Quds Al-Makki asy-Syafi’i (1277-1335H) halaman 298 yang diterbitkan oleh Darul Hawi, Beirut, cetakan pertama tahun 1430H/2009M juga disebutkan doa akhir tahun dengan redaksi sebagai berikut,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

وَصَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا وَمَوْلَانَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّم

اَللَّهُمَّ مَا عَمِلْتُ فِي هَذِهِ السَّنَةِ مِمَّا نَهَيْتَنِيْ عَنْهُ فَلَمْ اَتُبْ مِنْهُ وَلَمْ تَرْضَهُ وِلَمْ تَنْسَهُ وَحَلُمْتَ عَلَيَّ بَعْدَ قُدْ رَتِكَ عَلَى عُقُوْبَتِيْ وَدَعَوْتَنِيْ اِلَى التَّوْ بَةِ مِنْهُ بَعْدَ جُرْءأَ تِي عَلَى مَعْصِيَتِكَ فَاِنِّيْ اَسْتَغْفِرُكَ فَاغْفِرْلِيْ

وَمَا عَمِلْتُ فِيْهَا مِمَّا تَرْضَاهُ وَوَعَدْتَنِيْ عَلَيْهِ الثَّوَابَ فَاَسْئَلُكَ اَللَّهُمَّ يَا كَرِيْمُ يَاذَا الْجَلاَلِ وَاْلاِكْرَامِ اَنْ تَتَقَبَّلَهُ مِنِّيْ وَلاَتَقْطَعْ رَجَائِيْ مِنْكَ يَاكَرِيْمُ

وَصَلىَّ اللهُ عَلَى سَيِّدِ نَا مُحَمَّدٍ وَّعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

(Kanzun Najah was Surur fil Ad’iyatil Ma’tsurah Allati Tasyrahu ash-Shudur, Abdul Hamid bin Muhammad Ali bin Abdul Qadir Quds Al-Makki asy-Syafi’i, 298)

Di halaman itu, penulis menuliskan sumber rujukan dimana ia menukil redaksi doa akhir tahun tersebut. Beliau menukil redaksi doa akhir tahun tersebut dari kitab Mujarabat ad-Dairabi halaman 71, dan Nu’atul Bidayat karya syaikh Ma’ul ‘Ainain Ibnu Syaikh Muhammad Fadhil Ibnu Mamin halaman 191-192.

Setelah kami merujuk langsung sumber referensi tersebut, kami temukan berdasarkan kitab sumber rujukan versi pertama yang kami pakai (versi pdf) doa akhir tahun dan awal tahun tersebut terdapat di halaman 87-88, bukan halaman 71.

Kitab versi pertama yang dapat diunduh gratis di website kupdf.net ini diterbitkan oleh percetakan Mushtafa Muhammad, pemilik Al-Maktabah At-Tijariyah Al-Kubra di Mesir. Namun copy-an versi ini tidak mencantumkan edisi cetak dan tahun terbit.

Pada kitab Mujarabat ad-Dairabi versi kedua (versi PDF) doa akhir tahun dan doa awal tahun tersebut terdapat di halaman 56-57, bukan halaman 71. Pada copy-an kitab ini tidak tertera nama penerbit dan tahun terbitnya. Yang ada hanya stempel arsip tertanda kepemilikan oleh University of Toronto nomor 940077. Soft file kitab ini dapat diunduh secara gratis di sini.

Perbedaan halaman ini barangkali terjadi karena perbedaan penerbitan dan tahun terbitnya. Wallahu a’lam.

 

Tentang Sibt Ibnul Jauzi Perawi Teks Doa Awal Tahun dan Doa Akhir Tahun

Beberapa tulisan menyebutkan bahwa redaksi doa akhir tahun dan doa awal tahun Hijriyah yang ditulis oleh Ad-Dairabi dalam bukunya Mujarrabat itu diriwayatkan dari Sibt Ibnul Jauzi, dari Abu Umar Ibnu Qudamah al-Maqdisi.

Dalam mukaddimah kitab Mir’atuz Zaman fi Tarikhil A’yan disebutkan bahwa Sibt Ibnul Jauzi mengadakan perjalanan ke Baitul Maqdis. Di sana ia berkenalan dengan banyak ulama. Di antaranya adalah Abu Umar bin Qudamah al-Maqdisi (528-602H).

Inilah pertemuan pertama antara Sibt Ibnul Jauzi dengan Abu Umar bin Qudamah al-Maqdisi.

Dalam pertemuan itu, Sibt Ibnul Jauzi mendapatkan beberapa hadits dari Abu Umar bin Qudamah al-Maqdisi. Selain memberi hadits, Abu Umar bin Qudamah al-Maqdisi juga mengajarkan doa tahunan yang dikenal dengan doa akhir tahun dan doa awal tahun Hijriyah. (Mir’atuz Zaman fi Tarikhil A’yan, Yusuf bin Qiz’uli bin Abdullah Sibt Ibnul Jauzi (w. 654H), 1/11 Darul Kutub Al-Ilmiyah: Beirut)

Ternyata, dari sinilah sumber redaksi doa akhir tahun dan doa awal tahun tersebut.

Kemudian, siapa Sibt Ibnul Jauzi?

Sibt Ibnul Jauzi itu beda dengan Ibnul Jauzi. Banyak umat yang terkecoh dengan nama ini.

Nama asli Sibt Ibnul Jauzi adalah Abul Muzhafar Syamsuddin Yusuf bin Amir Hisamuddin Qiz’uli bin Abdullah.

Ia dilahirkan dan dibesarkan di Baghdad di bawah asuhan kakeknya yang bernama Abul Faraj Ibnul Jauzi. Kemudian ia pindah ke Damaskus dan menetap di sana. Ia meninggal tahun 654H.

Jadi, Sibt Ibnul Jauzi yang nama aslinya Yusuf bin Amir Hisamuddin Qiz’uli adalah cucunya Ibnul Jauzi.

Al-Hafidz adz-Dzahabi memberikan catatan terhadap kitab Mir’atuz Zaman fi Tarikhil A’yan. Ia berkata, “Sibt Ibnul Jauzi menulis kitab Mir’atuz Zaman, dan engkau akan melihat di dalamnya banyak hikayat-hikayat yang munkar. Kami tidak yakin dia tsiqah (terpercaya) dalam menukilnya, bahkan ia cenderung berat sebelah, lalu mempertaruhkan diri, dan akhirnya menjadi rafidhah.” (Mizanul I’tidal, 4/471)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah juga berkomentar, Dia menulis untuk memuaskan kepentingan manusia. Ia menulis untuk Syiah sebuah tulisan yang sesuai selera mereka agar mereka tertarik dengannya. Ia menulis tentang mazhab Abu Hanifah untuk memuaskan kepentingan para penguasa agar ia mendapatkan apa yang ia inginkan.

Oleh sebab itu, di dalam beberapa tulisannya ia mendiskreditkan Khulafaur Rasyidin dan sahabat lainnya dalam rangka mendekat (mudahanah) dengan paham Syiah. (Minhajus Sunnah an-Nabawiyyah, 4/98)

 

Tentang Kitab Mujarrabat Ad-Dairabi yang Memuat Doa Akhir tahun dan Doa Awal Tahun

Kitab Mujarabat ad-Dairabi adalah kitab yang berisi penjelasan khasiat ayat-ayat tertentu dan doa-doa tertentu yang masing-masing diyakini memiliki kegunaan khusus yang beliau hasilkan dari percobaan-percobaan (Tajarrubah) di bidang pengobatan dan ruhani.

Kitab ini ditulis oleh Ahmad bin Umar ad-Dairabi, wafat tahun 1151H. Judul lengkap kitab tersebut adalah Fathul Mulukil Majid Al-Muallaf li Naf’il ‘Abid wa Qam’i Kulli Jabbarin ‘Anid.  Penjelasan lengkap tentang briografi dan track record ad-Dairabi bisa dibaca di kitab Al-A’lam karya Az-Zarkali juz 1 halaman 188.

Tentang kitab Mujarabat ad-Dairabi, Syaikh Muhammad Shalih al-Munajjid memberi komentar yang cukup mengejutkan. Beliau menganggap kitab itu adalah kitab yang penuh dengan konten khurafat.

Setelah menelaah isi kitab tersebut, beliau sama sekali tidak mendapati teks yang manqul sumbernya dari para ulama salafush shalih, ulama ahli fikih, atau pun ulama ahli hadits.

Bahkan, beliau justru menemukan banyak konten batil yang ternyata banyak dijadikan rujukan oleh kitab-kitab sejenis yang penuh dengan khurafat dan kebatilan yang tidak boleh diyakini kesahihannya oleh setiap muslim, apalagi sampai mengamalkannya.

Baca juga: Pintu Surga Tertutup Gara-Gara Syirik

Memang, penulis kitab Mujarrabat tersebut tidak menyebutkan dalil shahih ketika menyebutkan khasiat ayat atau doa tertentu.

Selain itu, penulis juga menggunakan kata-kata yang menurut Syaikh Shalih al-Munajjid itu sulit dipahami.

Lembaga fatwa Lajnah Daimah juga pernah mendapatkan aduan yang mempertanyakan soal kredibilitas kitab Mujarabat karya Ahmad bin Umar ad-Dairabi ini.

Lembaga fatwa tersebut menyatakan bahwa kitab tersebut berisi amalan-amalan syirik dan doa-doa bid’ah. Oleh sebab itu tidak boleh mengambil dan mengamalkan apa yang ada di dalamnya.

Markaz al-Fatwa islamweb.net  menambahkan, kitab ad-Dairabi mengajarkan ilmu sihir padahal itu termasuk perbuatan haram dan kategori dosa besar.

Doa akhir tahun dan doa awal tahun ini juga disebutkan oleh seorang tokoh Sufi, Abdul Qadir al-Jailani dalam bukunya As-Safinah Al-Qadiriyah (terbitan Maktabah An-Najah, Libiya) halaman 84-85.

Abdul Qadir al-Jailani menyebut redaksi doa awal tahun dan doa akhir tahun tersebut bersumber dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang disebutkan oleh Imam as-Suyuti dalam kitabnya Al-Jami’ al-Kabir. Namun, banyak yang mengatakan bahwa riwayat tersebut tidak dijumpai dalam kitab Al-Jami’ al-Kabir karya Imam as-Suyuti.

 

Lalu, Apakah Melantunkan Doa Akhir Tahun dan Doa Awal tahun itu Dilarang?

Prinsip yang perlu dimengerti dengan baik dalam persoalan ini adalah bahwa peringatan pada suatu kebaikan dan peribadatan kepada Allah ‘azza wajalla dengan segala macam bentuknya; Doa, istighfar, muhasabah diri, dan lainnya, pada asalnya adalah perbuatan yang disyariatkan.

Akan tetapi, Syaikh Khalid bin al-Mun’im ar-Rifa’i menjelaskan, ketika dalam mengamalkan itu terdapat pengkhususan waktu tertentu tanpa disertai dalil syar’i sebagai argumentasi atas pengkhususan itu, maka dikhawatirkan akan berdampak pada timbulnya persepsi dan berlanjut pada keyakinan bahwa pengkhususan itu adalah bagian dari sunnah, sehingga akhirnya itu menjadi suatu bid’ah idhafiyah sebagaimana disebutkan oleh Imam asy-Syathibi dalam kitab Al-I’tisham.

Baca juga: Dzikir Pagi dan Sore Paling Tepat Waktu Membacanya Kapan, ya?

Maka, hendaknya seorang muslim menjauh dari sikap pengkhususan akhir tahun dan awal tahun Hijriyah dengan ibadah tertentu seperti doa tertentu, zikir tertentu, atau shalat tertentu dengan spesifikasi bacaan ayat tertentu.

Namun, jika membaca doa akhir tahun dan awal tahun tersebut hanyalah sebuah aktivitas insidental, bukan untuk dijadikan kebiasaan—sebab pembiasaan itu berdampak pada penyerupaan sebagai sunnah, dan konten doa tersebut tidak ada penyimpangan makna, maka boleh-boleh saja. Wallahu a’lam. [Shodiq Fajar/dakwah.id]