Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Materi Khutbah Jumat: Pilih Bersama Musa, atau Bersama Firaun?

711

Materi Khutbah Jumat Tentang Musa dan Firaun

Pilih Bersama Musa, atau Bersama Firaun?

Ditulis oleh: Sodiq Fajar

 

 

Download materi khutbah Jumat versi PDF DI SINI

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

وَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

وَقَالَ: وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْدُ:

 

Ikhwani fiddin jamaah shalat dan khutbah Jumat rahimakumullah

Sesungguhnya pertentangan antara al-Haq dan al-Bathil adalah bagian dari persoalan yang telah baku dan pasti, dan ini telah menjadi sunnatullah yang tak akan pernah berubah.

سُنَّةَ اللَّهِ الَّتِي قَدْ خَلَتْ مِنْ قَبْلُ ۖ وَلَنْ تَجِدَ لِسُنَّةِ اللَّهِ تَبْدِيلًا

Sebagai suatu sunnatullah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan perubahan bagi sunnatullah itu.” (QS. Al-Fath: 23) 

Meskipun kebatilan selalu menyeruak, meninggi, dan mendominasi di mata mayoritas masyarakat dunia, pasti akan ada waktunya ia tumbang, hancur, dan musnah.

لِيُحِقَّ الْحَقَّ وَيُبْطِلَ الْبَاطِلَ وَلَوْ كَرِهَ الْمُجْرِمُونَ

Agar Allah menetapkan yang hak (Islam) dan membatalkan yang batil (syirik) walaupun orang-orang yang berdosa (musyrik) itu tidak menyukainya.” (QS. Al-Anfal: 8) 

 

Ikhwani fiddin jamaah shalat dan khutbah Jumat rahimakumullah

Untuk dapat mengetahui apa yang akan dilakukan al-Haq terhadap al-Bathil, mari kita selami firman Allah ‘azza wajalla ini,

بَلْ نَقْذِفُ بِالْحَقِّ عَلَى الْبَاطِلِ فَيَدْمَغُهُ فَإِذَا هُوَ زَاهِقٌ ۚ وَلَكُمُ الْوَيْلُ مِمَّا تَصِفُونَ

Sebenarya Kami melontarkan yang hak kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu mensifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya).” (QS. Al-Anbiya’: 18) 

Seperti itulah akhir cerita dari kebatilan; Al-Haq berjaya, sementara al-Bathil lenyap. Lenyap atau Zahuq adalah sifat yang melekat pada kebatilan. Maha Benar Allah ‘azza wajalla dengan firman-Nya,

وَقُلْ جَاءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا

Dan katakanlah: ‘Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap’. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.” (QS. Al- Isra’: 81) 

Zahuq maknanya adalah hancur, lenyap, sama sekali tidak memiliki keabadian sebagaimana al-Haq.

 

Ikhwani fiddin jamaah shalat dan khutbah Jumat rahimakumullah

Di bulan Muharram ini, ribuan tahun yang lalu terjadi sebuah peristiwa besar. Di mana peristiwa besar itu mencapai puncaknya dan berakhir pada tanggal sepuluh bulan Muharram. Peristiwa besar itu berupa peperangan yang cukup dahsyat. Perang narasi yang berlanjut pada perang fisik. Peperangan antara ahli tauhid dengan ahli syirik. Peperangan kaum beriman melawan kaum penyembah berhala.

Peperangan besar ini terjadi antara seorang nabi di antara nabi-nabi yang diutus oleh Allah ‘azza wajalla yang melawan seorang thagut penguasa sebuah kerajaan yang sangat besar. Peperangan ini adalah peperangan antara nabiyullah Musa ‘alaihissalam yang melawan penguasa yang mengaku-aku sebagai Tuhan, yaitu Firaun laknatullah ‘alaih.

 

Ikhwani fiddin jamaah shalat dan khutbah Jumat rahimakumullah

Sesungguhnya kisah perlawanan Musa ‘alaihissalam terhadap penguasa Firaun adalah potret hidup pertolongan kepada al-Haq dalam melawan kebatilan. Kisah itu adalah gambaran yang cukup jelas dan detail, betapa menyedihkannya akhir dari sebuah dominasi kebatilan dan para pengikutnya.

Mari sejenak kita gunakan akal pikiran masing-masing. Allah ‘azza wajalla mengutus Musa ‘alaihissalam kepada Firaun laknatullah ‘alaih, sosok thagut yang paling tiran yang pernah hidup di muka bumi ini sebelum turunnya Dajjal.

اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ

Pergilah kepada Firaun; sesungguhnya ia telah melampaui batas.” (QS. Thaha: 24) 

Pergilah wahai Musa kepada thagut yang telah melampaui batas kekafirannya ini, yang telah merampas hak Rububiyah Allah ‘azza wajalla ketika ia berseru kepada kaumnya,

وَقَالَ فِرْعَوْنُ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ مَا عَلِمْتُ لَكُمْ مِنْ إِلَٰهٍ غَيْرِي

Dan berkata Firaun: ‘Hai pembesar kaumku, aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku’.” (QS. Al-Qashash: 38) 

Firaun laknatullah ‘alaih yang sombongnya nggak keruan ini juga pernah melakukan proyek kampanye di hadapan rakyatnya,

أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ

Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. An-Nazi’at: 24) 

Kemudian, untuk menyukseskan misi kampanyenya tersebut, Firaun laknatullah ‘alaih memproduksi propaganda-propaganda dusta untuk melakukan penyesatan opini rakyatnya melalui berbagai kanal media komunikasi yang ia kuasai saat itu,

وَنَادَىٰ فِرْعَوْنُ فِي قَوْمِهِ قَالَ يَا قَوْمِ أَلَيْسَ لِي مُلْكُ مِصْرَ وَهَٰذِهِ الْأَنْهَارُ تَجْرِي مِنْ تَحْتِي ۖ أَفَلَا تُبْصِرُونَ

Dan Firaun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: ‘Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)?’” (QS. Az-Zukhruf: 51)

Dengan mengerahkan seluruh keahlian bernarasi, mengerahkan seluruh corong media yang ia kuasai, Firaun laknatullah ‘alaih pun berhasil menyesatkan opini masyarakat. Ia berhasil menyihir rakyatnya sehingga rakyatnya tunduk patuh, taat, dan menjadi fans berat Firaun laknatullah ‘alaih atas segala keindahan sihir narasi kampanyenya.

فَاسْتَخَفَّ قَوْمَهُ فَأَطَاعُوهُ ۚ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمًا فَاسِقِينَ

Maka Firaun mempengaruhi kaumnya (dengan perkataan itu) lalu mereka patuh kepadanya. Karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (QS. Az-Zukhruf: 54)

 

Ikhwani fiddin jamaah shalat dan khutbah Jumat rahimakumullah

Inilah Firaun laknatullah ‘alaih. Sosok thagut yang berkuasa dengan penuh kepongahan. Dengan memanfaatkan kelicikan narasi dan kekuasaan atas seluruh media komunikasi, ia sesatkan rakyatnya.

Inilah Firaun laknatullah ‘alaih, di mana Allah ‘azza wajalla mengutus Musa ‘alaihissalam dan Harun ‘alaihissalam untuk mendakwahinya dengan melakukan kontra narasi yang sangat baik. Allah ‘azza wajalla berpesan kepada Nabi mulia ini,

فَقُولَا لَهُ قَوْلًا لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَىٰ

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaha: 44) 

Strategi narasi dakwah yang digunakan oleh Musa ‘alaihissalam dan Harun ‘alaihissalam adalah narasi yang positif secara intonasi dan konten. Namun, kekafiran Firaun laknatullah ‘alaih yang menganggap dirinya memiliki kemampuan Tuhan, menjadikan narasi positif itu mental dan tertolak. Hatinya terlalu keras untuk menerima kebenaran.

Sungguh strategi yang sangat menarik, saudaraku sekalian. Melalui potret perang narasi antara Musa ‘alaihissalam dan Firaun laknatullah ‘alaih ini, Allah ‘azza wajalla ingin menunjukkan betapa buruknya karakter thagut itu. Begitu kerasnya hati pemilik karakter thagut itu, sampai-sampai sentuhan dengan bahasa yang halus dan lembut pun tak dapat meluluhkannya!

Allah ‘azza wajalla ingin menunjukkan kepada hamba-Nya bahwa seperti itulah sifat thagut itu. Selalu saja akan menolak ajakan kembali kepada peribadatan kepada Allah ‘azza wajalla, menolak ajakan kembali kepada syariat Allah ‘azza wajalla, selalu menolak jika diseru untuk menegakkan hukum Allah ‘azza wajalla dalam bingkai kekuasaan.

 

Ikhwani fiddin jamaah shalat dan khutbah Jumat rahimakumullah

Perang narasi pun berlanjut. Firaun laknatullah ‘alaih mencoba menjatuhkan wibawa Musa ‘alaihissalam dan menempelkan citra negatif pada dirinya di hadapan publik dengan membangun narasi yang memanfaatkan celah level strata sosial dan kondisi ekonomi nabi Musa. Firaun laknatullah ‘alaih berkata,

أَمْ أَنَا خَيْرٌ مِنْ هَٰذَا الَّذِي هُوَ مَهِينٌ وَلَا يَكَادُ يُبِينُ

Bukankah aku lebih baik dari orang yang hina ini dan yang hampir tidak dapat menjelaskan (perkataannya)?(QS. Az-Zukhruf: 52) 

Kemudian Firaun laknatullah ‘alaih memperkuat serangan narasinya dengan membalikkan fakta, menyesatkan opini, yang dibalut dengan narasi yang begitu memukau bagi pikiran rakyatnya.

ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَنْ يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ

Biarkanlah aku membunuh Musa dan hendaklah ia memohon kepada Rabbnya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi.” (QS. Al-Mukmin: 26) 

Narasi itu pula yang dijadikan Firaun laknatullah ‘alaih sebagai argumentasi agar diterima logika publik untuk melakukan kriminalisasi, penangkapan, dan eksekusi mati terhadap Musa ‘alaihissalam.

Nabi Musa ‘alaihissalam yang pada faktanya berdakwah dengan penuh kesantunan dan kelembutan, difitnah sebagai manusia hina yang layak untuk dikriminalisasi dan dibunuh. Sementara Firaun laknatullah ‘alaih penguasa yang pada faktanya suka membunuh anak-anak dan bayi yang lahir dan mengaku-aku sebagai Tuhan, justru mengopinikan diri sebagai sosok yang baik dan berjasa.

 

Ikhwani fiddin jamaah shalat dan khutbah Jumat rahimakumullah

Perseteruan antara al-Haq dan al-Bathil yang tergambar dalam kisah Musa ‘alaihissalam melawan tirani Firaun laknatullah ‘alaih pun berlanjut.

Serangan Firaun laknatullah ‘alaih kepada Musa ‘alaihissalam yang diawali dengan perang narasi pun berkembang ke arah serangan dengan senjata. Firaun laknatullah ‘alaih mengerahkan para penyihir professionalnya untuk mempertontonkan kekalahan Musa ‘alaihissalam di hadapan rakyat.

وَجَاءَ السَّحَرَةُ فِرْعَوْنَ قَالُوا إِنَّ لَنَا لَأَجْرًا إِنْ كُنَّا نَحْنُ الْغَالِبِينَ

Dan beberapa ahli sihir itu datang kepada Firaun mengatakan: ‘(Apakah) sesungguhnya kami akan mendapat upah, jika kamilah yang menang?’” (QS. Al-A’raf: 113)

قَالَ نَعَمْ وَإِنَّكُمْ لَمِنَ الْمُقَرَّبِينَ

Firaun menjawab: ‘Ya, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku)’.(QS. Al-A’raf: 114) 

Namun, jauh-jauh hari Allah ‘azza wajalla telah membekali nabi Musa ‘alaihissalam dengan mukjizat yang tak dimiliki oleh Firaun laknatullah ‘alaih. Mukjizat inilah yang menjadi senjata Musa ‘alaihissalam untuk melawan balik serangan dari tirani Firaun laknatullah ‘alaih.

Maka, bertemulah dua kelompok yang saling berseteru. Sekelompok berada di barisan Allah ‘azza wajalla, sekelompok berada di barisan setan.

Para penyihir Firaun laknatullah ‘alaih mengeluarkan ular-ular dengan sihirnya. Dengan harapan, ular-ular ini akan memangsa Musa ‘alaihissalam dan Harun ‘alaihissalam.

Namun, di luar prediksi seluruh penyihir Firaun laknatullah ‘alaih, ternyata tongkat yang dibawa Musa ‘alaihissalam ke mana pun ia pergi itu, dengan kuasa Allah ‘azza wajalla dapat berubah menjadi ular yang sangat besar dan menelan ular-ular para penyihir itu.

 

Ikhwani fiddin jamaah shalat dan khutbah Jumat rahimakumullah

Para penyihir pun kaget dan takut. Firaun laknatullah ‘alaih pun kaget. Dari mana Musa ‘alaihissalam mendapatkan kemampuan yang cukup dahsyat itu?

Firaun laknatullah ‘alaih dan para penyihir mulai tampak kalah. Mereka tidak tahu akan mukjizat Allah ‘azza wajalla kepada nabi-Nya. Kedustaan mereka terhadap Musa ‘alaihissalam menjadi petunjuk nyata akan kebodohan mereka.

Musa ‘alaihissalam bukanlah penyihir. Musa ‘alaihissalam hanyalah seorang hamba Allah ‘azza wajalla yang diutus untuk menyampaikan risalah tauhid dan menegakkan syariat Allah ‘azza wajalla di kalangan kaumnya. Seluruh kelebihan yang ada pada diri Musa ‘alaihissalam adalah mukjizat. Anugerah dari Allah ‘azza wajalla sebagai bantahan telak yang akan melemahkan kekuatan kebatilan yang dibawa oleh musuh-musuhnya.

 

Ikhwani fiddin jamaah shalat dan khutbah Jumat rahimakumullah

Setelah merasa takjub dengan aksi yang dipertontonkan Musa ‘alaihissalam, dan melihat kenyataan kekalahan mereka, akhirnya mereka pun langsung menyungkur sujud dan berkata,

آمَنَّا بِرَبِّ هَارُونَ وَمُوسَىٰ

Kami telah percaya kepada Rabb Harun dan Musa.” (QS. Thaha: 70) https://tafsirq.com/20-ta-ha/ayat-70

وَأُلْقِيَ السَّحَرَةُ سَاجِدِينَ

Dan ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud.” (QS. Al-A’raf: 120)

قَالُوا آمَنَّا بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Mereka berkata: ‘Kami beriman kepada Rabb semesta alam.’” (QS. Al-A’raf: 121)

 رَبِّ مُوسَىٰ وَهَارُونَ

(yaitu) Rabbnya Musa dan Harun.” (QS. Al-A’raf: 122) 

Lihatlah saudaraku sekalian. Para penyihir bayaran Firaun laknatullah ‘alaih akhirnya takluk dan menyerah kepada Musa ‘alaihissalam. Menyadari sihir mereka telah kalah, dan melihat kedahsyatan senjata yang dimiliki Musa ‘alaihissalam, akhirnya mereka tanpa basa-basi, tanpa meminta syarat upah sebagaimana yang mereka ajukan kepada Firaun laknatullah ‘alaih, tanpa menoleh kepada Firaun laknatullah ‘alaih, mereka langsung menyatakan beriman kepada Rabb yang telah menganugerahi Musa ‘alaihissalam dengan senjata berupa mukjizat yang sangat menakjubkan itu.

 

Ikhwani fiddin jamaah shalat dan khutbah Jumat rahimakumullah

Melihat pembelotan para penyihir itu, Firaun laknatullah ‘alaih pun tambah geram kepada Musa ‘alaihissalam. Tanda-tanda kekalahan hegemoni Firaun laknatullah ‘alaih mulai tampak nyata di hadapan publik saat itu. Firaun laknatullah ‘alaih telah dikhianati oleh para penyihirnya.

Karakter thagut yang ada dalam diri Firaun laknatullah ‘alaih pun muncul. Ia tidak terima dengan sikap para penyihirnya yang telah membelot tanpa seizin majikannya.

قَالَ آمَنْتُمْ لَهُ قَبْلَ أَنْ آذَنَ لَكُمْ ۖ إِنَّهُ لَكَبِيرُكُمُ الَّذِي عَلَّمَكُمُ السِّحْرَ

Berkata Firaun: ‘Apakah kamu telah beriman kepadanya (Musa) sebelum aku memberi izin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian.” (QS. Thaha: 71) 

Namun, sekali lagi tampak kebodohan Firaun laknatullah ‘alaih di hadapan publik. Ia tidak sadar, orang yang telah beriman kepada Allah ‘azza wajalla artinya ia telah pasrah sepenuhnya kepada Allah ‘azza wajalla. Segala ketundukan hanya diberikan kepada Allah ‘azza wajalla. Karena Allah ‘azza wajalla lah yang Maha Menguasai segalanya.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تُؤْمِنَ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَجْعَلُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يَعْقِلُونَ

Dan tidak ada seorang pun akan beriman kecuali dengan izin Allah; dan Allah menimpakan kemurkaan kepada orang-orang yang tidak mempergunakan akalnya.” (QS. Yunus: 100)

Dalam ayat lain Allah ‘azza wajalla berfirman,

إِنَّا آمَنَّا بِرَبِّنَا لِيَغْفِرَ لَنَا خَطَايَانَا وَمَا أَكْرَهْتَنَا عَلَيْهِ مِنَ السِّحْرِ ۗ وَاللَّهُ خَيْرٌ وَأَبْقَىٰ

Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya).” (QS. Thaha: 73)

 

Ikhwani fiddin jamaah shalat dan khutbah Jumat rahimakumullah

Begitulah gambaran keimanan yang sebebnarnya. Sekali Allah ‘azza wajalla hujamkan iman dalam hati manusia, maka ia akan tunduk, patuh, taat secara totalitas kepada Allah ‘azza wajalla. Sebab, ia dengan keimanan itu ia telah menjadi sadar bahwa tiada Ilah yang Haq untuk disembah dan diibadahi kecuali hanya Allah ‘azza wajalla semata.

 

Ikhwani fiddin jamaah shalat dan khutbah Jumat rahimakumullah

Kisah pun berlanjut. Firaun laknatullah ‘alaih marah besar. Ia pun akhirnya mengerahkan seluruh kekuatannya untuk memusnahkan Musa ‘alaihissalam dan para pengikutnya dari muka bumi ini.

Terdetik dalam hati Musa ‘alaihissalam sedikit rasa takut. Bagaimana tidak takut? Sebagai manusia biasa, melihat kekuatan adikuasa yang begitu dahsyat mulai totalitas menyerang dirinya yang tak memiliki senjata dan sistem pertahanan perang.

Firaun laknatullah ‘alaih mengerahkan seluruh sumber daya perangnya untuk memburu Musa ‘alaihissalam. Karena bagi Firaun, Musa ‘alaihissalam dan para pengikutnya adalah sekelompok teroris yang mencoba menggulingkan kekuasaan dengan syariat Islam.

Musa ‘alaihissalam adalah pemberontak yang mencoba menggerogoti kekuasaan Firaun laknatullah ‘alaih dengan ajaran tauhidnya. Musa ‘alaihissalam adalah ancaman bagi kerajaan Firaun laknatullah ‘alaih karena mempromosikan ajakan untuk menegakkan syariat Allah ‘azza wajalla. Musa ‘alaihissalam harus dikriminalisasi karena telah mempromosikan kalimat tauhid laa ilaaha illallah.

Sehingga Musa ‘alaihissalam harus dikriminalsisasi, ditangkap, lalu dijatuhi hukuman mati, atau dibunuh saat medang perang berkecamuk.

Saudaraku sekalian, namun apa yang terjadi?

Allah ‘azza wajalla berfirman,

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An-Nahl: 128)

قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَىٰ

Allah berfirman: ‘Janganlah kamu berdua khawatir, sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan melihat’.” (QS. Thaha: 46)

Baca juga: Syaikh Al-Qahthani, Penulis Buku Kumpulan Doa Hisnul Muslim Meninggal Dunia

Ikhwani fiddin jamaah shalat dan khutbah Jumat rahimakumullah

Janji Allah ‘azza wajalla adalah benar. Janji Allah ‘azza wajalla adalah nyata. Sekali lagi Allah ‘azza wajalla memberikan bantuan langsung kepada nabi Musa ‘alaihissalam dan para pengikutnya.

Saat nabi Musa ‘alaihissalam dan para pengikutnya terdesak di tepi laut yang begitu luas dan dalam, Allah ‘azza wajalla memerintahkan Musa ‘alaihissalam untuk melemparkan tongkatnya ke laut. Lalu laut pun terbelah membentuk seruas jalan seolah menyambut kedatangan Musa ‘alaihissalam dan para pengikutnya untuk segera menyeberangi laut tersebut.

Lalu, Musa ‘alaihissalam dan para pengikutnya bergegas menyeberangi laut itu. Tak lama kemudian, tampak Firaun laknatullah ‘alaih dan seluruh brigade pasukannya dari kejauhan. Mereka pun ikut menyeberangi lautan itu.

Namun, Allah ‘azza wajalla yang Maha Kuasa. Saat Musa ‘alaihissalam dan pengikutnya telah sampai di seberang laut, sementara Firaun laknatullah ‘alaih dan pasukannya masih berada di tengah-tengah, tiba-tiba belahan laut itu menyatu kembali.

Allahu Akbar! Allah ‘azza wajalla tenggelamkan Firaun laknatullah ‘alaih dan seluruh pasukannya di tengah laut itu.

Ikhwani fiddin… inilah wujud nyata pertolongan Allah ‘azza wajalla kepada hamba-Nya yang bersungguh-sungguh berpartisipasi dalam upaya menegakkan syariat Allah ‘azza wajalla di muka bumi.

Inilah akhir jalan kebatilan yang dibanggakan oleh Firaun laknatullah ‘alaih, sang Thagut penentang Allah ‘azza wajalla.

Semoga Allah ‘azza wajalla senantiasa menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang mendapat bagian dalam upaya menegakkan syariat Allah ‘azza wajalla di muka bumi ini. Dan melindungi kita dan agama ini dari segala bentuk makar kebatilan yang senantiasa digulirkan oleh musuh-musuh Allah ‘azza wajalla.

 

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

إِنَّ الْحَمْدَ للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، أشْهَدُ أنْ لاَ إِلٰه إلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

 

Ikhwani fiddin jamaah shalat dan khutbah Jumat rahimakumullah

Maka, di siang hari yang penuh barakah ini, marilah kita periksa kembali diri kita. Apakah keimanan kita telah kuat untuk menghadapi tantangan kebatilan di sekitar kita? Apakah keimanan kita telah menggerakkan raga ini untuk senantiasa menegakkan syariat Allah ‘azza wajalla?

Jika jawabannya adalah belum, maka tugas utama kita adalah mempertebal keimanan kita, meningkatkan kemampuan takwa kita kepada Allah ‘azza wajalla, dengan serius mempelajari ilmu Islam, lalu mengamalkannya, lalu mendakwahkannya, lalu teguh dan sabar di atas semua aktivitas itu.

Baca juga: Menunaikan Haji Dulu, atau Melangsungkan Pernikahan Dulu?

Ikhwani fiddin jamaah shalat dan khutbah Jumat rahimakumullah

Syariat Islam itu menembus batas seluruh aspek kehidupan. Syariat Islam itu tidak hanya sekedar tata cara dan doa masuk kamar mandi. Syariat Islam itu tidak hanya sekedar urusan shalat, zakat, shaum, Haji. Syariat Islam itu tidak sekedar memperbaiki adab dan akhlak. Syariat Islam itu tidak sekedar urusan doa dan zikir.

Tapi, syariat Islam itu menyeluruh di semua aspek kehidupan manusia. Seruan untuk menegakkan syariat Islam itu berlaku di seluruh bidang kehidupan; ekonomi, politik, sosial, budaya, dari urusan pribadi hingga urusan sosial masyarakat di seluruh muka bumi ini.

Pertentangan antara al-Haq dan al-Bathil akan terus berlangsung hingga hari kiamat tegak.

Maka, pilihannya, akankah kita menempatkan diri di barisan para pengusung kebatilan yang selalu berupaya menentang tegaknya syariat Allah ‘azza wajalla, atau menempatkan diri di barisan para pembawa panji al-Haq yang akan terus dan tanpa lelah mendakwahkan tauhid dan menegakkan syariat Allah ‘azza wajalla di muka bumi ini?

Segera tentukan pilihan kita, sebelum malaikat pencabut nyawa datang menghampiri kita!

 

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدّعَوَاتِ

رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ حُكَّامًا وَمَحْكُوْمِيْنَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا وَمَرْضَاهُمْ، وَفُكَّ أَسْرَانَا وَأَسْرَاهُمْ، وَاغْفِرْ لِمَوْتَانَا وَمَوْتَاهُمْ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا، أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلَاهَا، اَللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا، وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ.

اَللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمنًا مُطْمَئِنًّا قَائِمًا بِشَرِيْعَتِكَ وَحُكْمِكَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمّ ارْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ، وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هَذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة

 

 

Download materi khutbah Jumat versi PDF DI SINI