Gambar Dari Israf Menuju Fasad dakwah.id.jpg

Dari Israf Menuju Fasad

Terakhir diperbarui pada · 87 views

Israf atau berlebih-lebihan dalam hal mencari penghidupan adalah sebab kerusakan bumi bermula. Mari kita simak tulisan lengkapnya pada artikel berikut.

Manusia Sebagai Khalifatullah: Memakmurkan atau Merusak Bumi?

Semua hal yang ada di dunia pada asalnya diciptakan untuk berkhidmat kepada manusia. Bumi dengan segala isinya diperuntukkan untuk mereka. Hanya manusialah makhluk yang bisa memakmurkan bumi.

Manusia adalah khalifatullah fil ardhi (pengganti untuk mengurusi dan memakmurkan bumi), seperti yang termaktub dalam QS. Al-Baqarah: 30 dan QS. Shâd: 26. Hal ini dikuatkan dengan bentuk tubuh manusia yang istimewa dan dilengkapinya ia dengan indra serta akal yang membuatnya mengungguli makhluk lain.

Diciptakannya manusia di bumi adalah agar mereka menjaga kemakmuran bumi. Itulah tugas utama manusia sebagai khalifatullah fil ardhi.

Ibnu al-Qayyim rahimahullah dalam kitab Miftâḥ Dâr as-Saâdah menjelaskan, manusia sebagai khalifatullah fil ardhi bermakna manusia diberi tugas agar menjalankan aturan Allah di muka bumi. Meski dalam hal ibadah, manusia sangat jauh dari malaikat. Inilah sebab mengapa malaikat sempat menyangkal tentang penugasan manusia sebagai khalifatullah fil ardhi. (Ibnu Qayyim, 1/26)

Menerapkan aturan Allah di bumi merupakan salah satu bentuk pemakmuran bumi. Memakmurkan bumi ialah mengatur bumi sesuai aturan Allah, juga menerapkan seperangkat ilmu tentang bumi agar tetap makmur.

Al-Quran menyebutkan perihal pemakmuran bumi dalam Surah Hûd: 61. Dari ayat ini lahir banyak konsep dan cara dalam memakmurkan bumi.

Imam as-Sa’di rahimahullah, dalam Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsiri Kalami al-Mannan, ketika menafsirkan QS. Hûd: 61 menyebutkan bahwa manusia memakmurkan bumi dengan membangun bangunan, menanam pepohonan, menanam tumbuhan yang menjadi sumber makanan pokok, memanen hasilnya, dan mengambil hal-hal yang bisa bermanfaat dari bumi.

Manusia bisa mengambil hasil tambang, hasil pertanian, dan hasil alam yang lain. Dengan memanfaatkan semua hal tersebut, manusia bisa menjalani kehidupan.

Akan tetapi, kemakmuran tidak berarti hanya makmur di satu waktu saja atau di satu generasi saja. Kemakmuran yang harus ditunaikan adalah kemakmuran yang terus berlanjut (sustainable).

Dengan modal berupa bumi beserta isinya, kemakmuran kehidupan manusia bisa sejalan dengan kemakmuran bumi. Tujuan utamanya adalah keberlangsungan kelestarian bumi (sustainable). Karena salah satu makna khalîfah ialah manusia saling menggantikan dari generasi ke generasi dalam memakmurkan bumi.

Memakmurkan bumi merupakan bentuk kepatuhan dan ketundukan seorang hamba pada Tuhannya. Karena makmurnya bumi sejalan dengan kemudahan manusia untuk hidup di bumi.

Selain sebagai khalifatullah fil ardhi, manusia juga diperintahkan untuk beribadah kepada-Nya. Sebagaimana yang disebutkan dalam QS. Adz-Dzâriyât: 56.

Salah satu cara beribadah kepada Allah subhanahu wataala adalah menjalankan tugas memakmurkan bumi dengan baik. Dengan demikian, cara apa pun untuk memakmurkan bumi dengan baik itu termasuk pemenuhan tugas dan kepatuhan seorang hamba kepada Allah subhanahu wataala. Saat bumi makmur dan lestari, maka makhluk akan aman beribadah di bumi.

Allah memberikan aturan dalam bentuk syariat-Nya. Dengan syariat, manusia dapat menemukan hikmah di balik segala hal yang ada, termasuk hikmah di balik perintah memakmurkan bumi. Hal ini karena aturan syariat yang sarat akan hikmah dan tujuan, bukan sekadar perintah dan larangan.

Namun dalam mencarinya, dibutuhkan pemahaman mendalam dan penelitian agar tidak terjadi kerusakan parah yang bisa menyebabkan kepunahan atau kerusakan yang berlanjut.

Adanya tugas memakmurkan bumi menunjukkan bahwa Allah tidak butuh kepatuhan manusia, tapi manusia yang sejatinya membutuhkan. Jika manusia tidak memakmurkan bumi, maka kerusakan yang akan mereka rasakan sendiri.

Allah subhanahu wataala menciptakan bumi untuk para hamba-Nya dengan segala isinya tanpa sekutu. Oleh karena itu, seorang hamba tidak berhak membuat sekutu dalam beribadah kepada-Nya.

Dalam menjalankan tugas memakmurkan bumi, Allah banyak “membantu manusia”. Bumi ditundukkan untuk manusia. Jika tidak ditundukkan (taskhîr), maka manusia tidak dapat bertahan dan mustahil bisa hidup di bumi.

Allah mengondisikan bumi sedemikian rupa sehingga bumi menjadi tempat yang nyaman untuk ditinggali. Angin berhembus sekadarnya, ombak menerjang daratan sekadarnya, hujan sekadarnya, letusan gunung sekadarnya. Semua berjalan sesuai sunatullah.

Alam sangat mudah memusnahkan manusia. Meski itu bisa saja terjadi agar alam kembali normal.

Hal itu bisa juga terjadi saat aturan Allah dilanggar. Alam akan terguncang agar ia normal kembali, bersamaan dengan kondisi manusia banyak yang ingkar. Dengan demikian, sunatullah terjaga dan tidak ada yang bisa mengubahnya.

Khutbah Jumat: 5 Penyebab Turunnya Azab Allah di Dunia

Sebagaimana firman Allah yang menjelaskan bahwa jika manusia menyekutukan Allah maka hampir saja bumi hancur,

تَكَادُ السَّمٰوٰتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْاَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا ۙ اَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمٰنِ وَلَدًا ۚ

Hampir saja langit pecah, dan bumi terbelah, dan gunung-gunung runtuh,(karena ucapan itu), karena mereka menganggap (Allah) Yang Maha Pengasih mempunyai anak.” (QS. Maryam: 90–91)

Bumi juga makhluk Allah. Dalam diamnya, makhluk hidup bertasbih kepada Allah sebagaimana yang Dia kabarkan dalam QS. Al-Isrâ` ayat 44, “Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun.”

Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir al-Quran al-Azhim mencantumkan riwayat bahwa suatu ketika Nabi melewati sekelompok manusia yang sedang mengobrol dan nongkrong di atas hewan kendaraan mereka.

Maka Nabi mengingatkan mereka,

اِرْكَبُوْهَا ‌سَالِمَةً، وَدَعُوْهَا سَالِمَةً، وَلَا تَتَّخِذُوْهَا كَرَاسِيَّ لِأَحَادِيْثِكُمْ فِي الطُّرُقِ وَالْأَسْوَاقِ، فَرُبَّ مَرْكُوْبَةٍ خَيْرٌ مِنْ رَاكِبِهَا، وَأَكْثَرُ ذِكْرًا لِلّٰهِ مِنْهُ

Naiki hewan kendaraanmu itu dengan baik dan turun serta sandarkan dengan baik pula. Jangan jadikan hewan kendaraan itu sebagai kursi-kursi untuk mengobrol di jalan atau di pasar. Karena betapa banyak kendaraan yang lebih baik daripada yang mengendarai dan lebih banyak zikirnya kepada Allah.” (Tafsîr Ibnu Katsîr, 5/79)

Artikel Adab: Etika Berkendara Dalam Islam

Jika ada fenomena alam yang dahsyat maka itu termasuk bentuk patuhnya alam kepada Allah subhanahu wataala. Setiap gerak alam adalah tasbih, hanya saja dengan bahasa yang tidak bisa dimengerti oleh manusia.

Solusi untuk mengatur bumi agar tetap nyaman adalah mengikuti syariat dan mematuhi aturan serta batasan dari Pencipta bumi. Untuk mengetahui aturan dan syariat dalam memakmurkan bumi maka perlu kajian mendalam, baik terhadap wahyu sebagai dasar maupun terhadap tulisan dari para ulama dan ilmuwan terdahulu.

Sejatinya bumi terus berputar dan waktu ikut berputar. Substansi kehidupan akan sama antara orang terdahulu dan orang yang akan datang. Hanya berbeda orang, waktu, dan tempat.

Sebab Berlebihan (Israf)

Kesibukan manusia dari dulu hingga sekarang adalah mencari penghidupan. Dan darinya, salah satu sumber kerusakan dunia bermula.

Manusia dipenuhi ketamakan. Hingga dalam mencari penghidupan mereka berlebihan, tanpa berpikir panjang soal kemakmuran bumi dan keberlangsungannya (sustainable).

Allah subhanahu wataala mengingatkan hal ini dalam QS. Ar-Rûm: 41,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Imam as-Sa’di dalam Taisir al-Karim ar-Rahman (hlm. 643) menjelaskan bahwa maksud telah tampak kerusakan di darat dan di laut adalah rusaknya tempat mencari penghidupan (maîsyah) mereka, berkurangnya sumber penghidupan, dan dihinggapinya mereka dengan berbagai kesengsaraan. Hal itu menyebabkan munculnya banyak penyakit yang bisa mengancam jiwa, menyebabkan wabah, dan kerusakan lainnya.

Kerusakan yang ada tidak sepenuhnya setimpal dengan tingkat rusaknya perilaku manusia. Ada nikmat Allah yang bisa mengimbangi kerusakan sehingga manusia tidak binasa tersebab perilakunya. Termasuk bentuk kemurahan Allah adalah Ia memberikan nikmat dalam bentuk lain agar manusia tetap bisa bertahan di muka bumi.

Khutbah Jumat Singkat: Tadabur Sifat Allah al-Halim

Tamak menjadi salah satu sumber kerusakan. Israf atau berlebihan disebabkan oleh ketamakan. Karena tamak, kesibukan manusia dalam mencari penghidupan justru merusak tempat mencari penghidupan tersebut.

Ketamakan turut menumbuhkan sifat hasad (dengki) terhadap nikmat yang didapatkan oleh orang lain. Ia merupakan salah satu sifat yang merusak sistem sosial dan keharmonisannya. Ketamakan bersumber dari hati yang cinta dunia.

Tidak dipungkiri bahwa kerusakan yang terjadi merupakan ulah dari manusia sendiri. Jika muncul pertanyaan: Kenapa ada kerusakan di muka bumi sedangkan manusia memiliki cara memakmurkan? Maka jawabannya adalah di tangan orang yang mampu melestarikan, maka tangannya juga mampu menghancurkan.

Tamak dalam Diskursus Sosial

Ketamakan menjadi isu penting di dalam mencermati kehidupan sosial manusia. Kendati larangan berbuat tamak sudah banyak, tetapi ketamakan dalam diri manusia seperti bibit bunga yang siap tumbuh kembali. Tamak menjadi salah satu potensi yang dimilik oleh seluruh manusia.

Stanfor M. Lyman dalam bukunya, The Seven Deadly Sins: Society and Evil, mengatakan bahwa ketamakan termasuk dosa yang mematikan. Dalam jajaran “Tujuh Dosa di Era Gereja Purba Hingga Abad Pertengahan”, ketamakan pernah berada di posisi kunci dan menjadi dasar dari enam dosa lainnya dalam tatanan sosial.

Ketujuh dosa tersebut ialah (1) pride ‘kesombongan’, (2) greed ‘ketamakan’, (3) envy ‘iri hati’, (4) wrath ‘kemarahan’, (5) lust ‘hawa nafsu’, (6) gluttony ‘kerakusan’, dan (7) sloth ‘kemalasan’. Ketujuh dosa ini dipopulerkan oleh Gereja Katolik.

Artinya adalah dalam sejarah manusia ketamakan menjadi sumber kerusakan. Dan Islam menjawab itu dengan solusi dan terapi dalam bentuk tugas yang harus dikerjakan setiap hari secara konsisten.

Ketamakan digambarkan sebagai dorongan nafsu manusia untuk memiliki dan menguasai. Ketamakan adalah sifat buruk yang bisa merusak tatanan sosial. Pada era sekarang, ketamakan berwujud lembaga-lembaga: lembaga ekonomi, lembaga pendidikan, dll.

Ketamakan manusia juga terlihat nyata di aspek perdagangan yang bergerak yang menarget keuntungan besar. Banyak sekali kejahatan yang bersumber dari ketamakan dan kerakusan.

Hasrat ingin menguasai materi dan nonmateri banyak terjadi di aktivitas perekonomian. Sistem sosial dan lembaga-lembaganya berubah menjadi penjahat. Setidaknya, riset yang dilakukan oleh orang Barat yaitu Lyman ini, menjadi kesepakatan bahwa keserakahan merupakan kejahatan yang terjadi di kehidupan manusia.

Berlebihan (Israf) Adalah Dosa

Rakus dan tamak diberi stempel sebagai kejahatan di kehidupan manusia sehingga Islam pun memberikan aturan dan teguran untuk manusia pada umumnya serta umat Islam khususnya. Hal ini agar tidak berlaku israf yang teraktualisasi dalam bentuk ketamakan ingin menguasai materi atau nonmateri di segala aspek kehidupan.

Syariat merupakan aturan yang bisa diterapkan untuk semua orang. Meski syariat seakan dianggap hanya untuk umat Islam karena penerapan pertamanya harus dari umat Islam. Ini tak lain agar menjadi contoh untuk manusia seluruhnya karena manusia adalah makhluk sosial. Ia bisa berkaca dan belajar dari orang-orang yang konsisten dalam kebaikan sehingga menjadi sebab keberlangsungan kebaikan dan kemakmuran bumi.

Allah menerangkan secara detail sifat ideal hamba-Nya (ibâdurraḥmân) dalam Surat al-Furqân ayat 63–68.

Salah satu sifat ibâdurraḥmân yang Allah terangkan adalah tidak israf ‘berlebih-lebihan’, “Dan (termasuk hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih) orang-orang yang apabila menginfakkan (harta), mereka tidak berlebihan (israf), dan tidak (pula) kikir, di antara keduanya secara wajar.” (QS. Al-Furqân: 67)

Ibnu Katsir menyebutkan sebuah hadits berkenaan dengan ayat ini,

‌مَا ‌أَحْسَنَ ‌الْقَصْدَ فِي الْغِنَى، وَأَحْسَنَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ، وَأَحْسَنَ الْقَصْدَ فِي الْعِبَادَةِ

Alangkah baiknya bersikap sederhana saat kaya, alangkah baiknya bersikap sewajarnya saat miskin, dan alangkah baiknya melakukan ibadah secara proporsional.” (Musnad al-Bazzâr, 7/349: 2946)

Meski seseorang dimudahkan rezekinya, bukan berarti ia bisa israf berfoya-foya menghabiskan hartanya tanpa manfaat dan tujuan. Tidak pula, saat rezekinya pas-pasan, ia menjadi kikir dan tidak peduli dengan sesama.

Baik israf maupun kikir, keduanya merupakan sifat yang tercela. Orang yang mampu mengatur diri dan keinginannya adalah orang yang dimudahkan Allah untuk mencapai kebaikan.

Khutbah Jumat Singkat: Mari Hindari Perbuatan Israf

Tidak sedikit manusia yang berusaha agar bisa hidup sederhana. Tidak berlaku foya-foya dan hedon serta tidak pula berlaku kikir. Berlebihan bisa berbentuk menuruti semua hasrat, dan bisa berlebihan dalam kekikiran.

Berlebihan atau israf adalah perbuatan salah dan dosa. Oleh karena itu, salah satu doa yang diajarkan dalam al-Quran adalah,

 رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَاِسْرَافَنَا فِيْٓ اَمْرِنَا وَثَبِّتْ اَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكٰفِرِيْنَ

Ya Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebihan (dalam) urusan kami dan tetapkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir.” (QS. Âli ‘Imrân: 147)

Hal apa pun yang dikerjakan secara berlebihan (israf) akan berujung kerusakan. Semuanya berawal dari keinginan, hasrat, dan nafsu, kemudian diikuti tanpa ada usaha untuk menahan. Terlebih jika ada fasilitas yang menunjang dan memadai.

Berlebihan (Israf) Bisa Membinasakan

Salah satu sebab kebinasaan adalah israf. Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

فَوَاللَّهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ عَلَيْكُمْ الدُّنْيَا كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ فَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا وَتُهْلِكَكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa kalian. Akan tetapi, aku khawatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur.” (HR. Al-Bukhari no. 3791 dan Muslim no. 2961)

Nabi juga mengingatkan dalam hadits lain,

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً، وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

Setiap umat memiliki dan menghadapi ujiannya masing-masing. Sedangkan ujian umatku adalah harta.” (HR. At-Tirmidzi no. 2336: hadits hasan shahih)

مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلَا فِيْ غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِيْنِهِ

Kerusakan yang disebabkan dengan dilepasnya dua serigala yang lapar untuk memburu seekor kambing, tidak lebih parah daripada kerusakan bagi agama seseorang yang memburu harta dan kedudukan.” (HR. At-Tirmidzi no. 2376: hadits hasan shahih)

Dunia diciptakan untuk mempermudah manusia dalam menjalankan perintah Allah. Dengan demikian, memakmurkan bumi ialah perintah Allah. Melangsungkan kehidupan juga merupakan perintah Allah.

Ketamakan dan sifat berlebihan manusia memberi sumbangsih dalam kerusakan bumi. Kerusakan di ekosistem dan keserasian alam. Ketamakan berdampak bumi tidak lagi nyaman dan aman. Karena manusia berpikir bahwa jika tidak diambil sekarang, maka kelak akan habis dan takut tidak kebagian.

Ketamakan juga membuat sistem keberlangsungan bumi rusak. Misalnya pada penemuan-penemuan yang memiliki tujuan bisnis seperti penemuan untuk membuat tanaman berbuah di luar musimnya, yang bisa berdampak buruk pada siklus alam. Penemuan tersebut awalnya untuk kebaikan, tapi akan merusak ketika digunakan secara masif dan untuk kebutuhan komersial.

Karena pada asalnya, buah-buahan akan matang tepat pada musimnya. Gizi yang dikandung buah-buahan tersebut sesuai dengan kebutuhan manusia untuk bisa menghadapi musim tersebut.

Menjaga kelestarian alam merupakan sebuah keharusan. Manusia adalah makhluk pilihan karena mereka mempunyai kemampuan untuk memakmurkan bumi sehingga disebut sebagai khalifah Allah di bumi. Akan tetapi, di tangan manusia, bumi juga bisa rusak.

Jika kehidupan musnah, tentu peribadatan manusia kepada Allah juga akan berhenti. Meskipun kehancuran dunia adalah hal yang mesti terjadi, tetapi tugas dan perintah memakmurkan bumi tetap harus dilaksanakan. Karena perintah dan anjuran memakmurkan bumi tetap harus dilakukan meski besok adalah hari kiamat.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لَا تَقُومَ حَتَّى ‌يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا

Jika kiamat terjadi sedangkan di tangan kalian ada bibit yang sudah bertunas, dan ia mampu menanamnya sebelum kiamat benar-benar terjadi, maka hendaknya ia menanamnya.” (HR. Al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad no. 479 dan Ahmad no. 12596)

Potensi yang dimiliki manusia bisa menjadi sarana peribadatan. Mengembangkannya juga bisa menjadi jariyah abadi. Fondasi utamanya ialah Islam, kemudian menjadikan kehidupan yang fana ini untuk bisa mendapatkan pahala yang mengalir dengan mengerjakan kebaikan di semua aspek kehidupan.  (dakwah.id/syahidridwanullah)

Baca juga artikel Makalah atau artikel menarik lainnya karya Syahid Ridwanullah.

Penulis: Syahid Ridwanullah
Editor: Ahmad Robith

Artikel Makalah terbaru:

Topik Terkait

Syahid Ridwanullah

Nama asli Eko Muji Rahayu, S.Pd. Mahasiswa pascasarjana UNIDA Gontor. Alumnus progam kaderisasi ulama gontor angkatan XII dan XIII. Pernah mengikuti Asian Africa Conference, Ushul Fikih International Conference, ICRIIM (konferensi isu-isu kontemporer keagamaan Indo dan Malaysia). Sangat antusias dengan displin ilmu Akidah, Filsafat Islam, dan Isu Islam kontemporer.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *