Takwil Batini, Cara ‘Nyeleneh’ Syiah Mengakali Tafsir Al-Quran

0 190

Takwil Batini, Cara ‘Nyeleneh’ Syiah Mengakali Tafsir Al-Quran — Beberapa kalangan masih ada yang beranggapan bahwa Syiah adalah Islam, tidak jauh berbeda dengan Ahlu sunah. Mereka berpandangan Syiah hanyalah sebuah mazhab, sebagaimana mazhab-mazhab fikih yang masyhur yaitu Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyah, dan Hanabilah.

Menurut kalangan ini, perbedaan antara Syiah dan Ahlu sunah hanya perbedaan dalam ranah furu’ (cabang) semata. Tidak jarang kemudian mereka mengupayakan taqrib (rekonsiliasi) antara Ahlu sunah dan Syiah di berbagai negara.

Padahal apabila ditelaah lebih dalam, terdapat perbedaan substansial antara Ahlu sunah dan Syiah. Perbedaan antara keduanya tidak hanya dalam ranah furu’ (cabang) semata, namun juga dalam ranah ushul (pokok). Sehingga mustahil menyamakan keduanya.

Di antara perbedaan fundamental antara keduanya adalah dalam rukun Islam, rukun Iman, pandangan terhadap sahabat Nabi, Ahlu Bait dan al-Quran. Sehingga dengan banyaknya perbedaan ini, banyak ulama yang telah mengeluarkan kelompok Syiah dari Islam.

MUI Jawa Timur dengan sangat tegas mengeluarkan fatwa tentang kesesatan ajaran Syiah pada 2012.

MUI pusat juga telah mengeluarkan rekomendasi dalam Rapat Kerja Nasional bulan Jumadil Akhir 1404 H./Maret 1984 M.

Dalam rekomendasi tersebut, MUI pusat menghimbau kepada umat Islam Indonesia yang berpaham Ahlus Sunnah wal Jamaah agar meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan masuknya paham yang didasarkan atas ajaran Syiah.

Untuk membaca kumpulan fatwa tentang kesesatan Syiah, silakan download E-Book berikut ini:

DOWNLOAD

 

Jika berbicara tentang kelompok Syiah, tentu tidak bisa dilepaskan dari doktrin ajaran paling fundamental mereka, yaitu konsep Imamah. Imamah menurut Syiah adalah keyakinan bahwa setelah Nabi Muhammad wafat, maka Ali dan keturunannyalah yang berhak menggantikan beliau. Bagi Syiah, imamah adalah perkara besar, bahkan kedudukannya sama atau lebih tinggi dari nubuwah (kenabian).

Beberapa hadis al-Kulaini dalam al-Kafi menyebutkan bahwa kedudukan imamah lebih tinggi dari nubuwah dan ini dinyatakan terang-terangan oleh sekelompok tokoh agama mereka.

Salah seorang tokoh agama mereka bernama Ni’matullah al-Jazairi mengatakan, “Imamah keseluruhan adalah imamah yang kedudukannya lebih tinggi dari derajat nubuwah (kenabian) dan risalah (kerasulan).” (Zahrur Rabi’, 12)

Maka tanpa imamah, tidak akan ada Syiah, atau dalam ungkapan lain karena imamahlah Syiah ada.

Artikel Tsaqafah: Ingin Tadabbur Al-Quran? Miliki 20 Buku Referensi Ini!

Namun doktrin imamah ini menjadi dilema bagi mereka, karena tidak adanya bukti yang nyata tentang ajaran ini di dalam al-Quran. Padahal mereka beranggapan bahwa imamah adalah ajaran pokok. Tentu sangat rancu apabila ajaran yang begitu penting ini tidak disebutkan di dalam al-Quran.

Oleh karena itulah, mereka memiliki cara pandang sendiri terhadap al-Quran. Bahkan mereka memiliki metode tersendiri dalam menafsirkan al-Quran. Seperti apakah pandangan Syiah terhadap al-Quran dan bagaimana mereka menafsirkan al-Quran? Pertanyaan inilah yang akan dijawab dalam artikel ini.

 Tampilan kitab Zahru ar-Rabi' dokumen dakwah.id

Bagi Syiah, Al-Quran Utsmani yang Beredar Saat Ini adalah Palsu

Bagi kaum muslimin, keaslian dan keotentikan al-Quran sudah tidak diragukan lagi. Kaum muslimin telah berijmak (bersepakat bulat) bahwa al-Quran yang ada ditengah-tengah umat ini adalah al-Quran yang asli sebagaimana diturunkan Allah kepada Rasul-Nya.

Tidak ada yang menyelisihi ijma’ ini kecuali Syiah.

Padahal para ulama juga telah bersepakat bahwa barang siapa yang meyakini adanya perubahan dalam al-Quran sepeninggal Rasulullah, maka ia telah kafir.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata dalam kitabnya, ash-Sharim al-Maslul, “Barang siapa mengklaim bahwa al-Quran telah dikurangi sebagian ayat-ayatnya, atau disembunyikan…maka tidak ada lagi perselisihan tentang kekafirannya.” (Ash-Sharim al-Maslul ‘ala Syatim ar-Rasul, 460)

Dalam pandangan Syiah, al-Quran telah dipalsukan dan sebagian surahnya ada yang dibuang. Menurut mereka dalam al-Quran yang asli banyak ayat yang diturunkan berkaitan dengan keutamaan Ahlulbait, kewajiban untuk mengikuti mereka, larangan menentang mereka dan celaan terhadap para penentang Ahlulbait.

Namun menurut Syiah para sahabat telah membuang ayat-ayat tersebut dari al-Quran. Misalnya dalam al-Kafi (kitab induk Syiah) dinyatakan bahwa al-Quran yang sekarang ini banyak menghapus nama ‘Ali.

Di antaranya adalah dalam QS. al-Ahzab, yang tertulis: “Wa man yuṭi’illâh wa rasûlahu faqad fâza”. Namun menurut kitab itu yang benar “Wa man yuṭi’illâh wa rasûlahu  fî wilâyati ‘Aly wa al-a’immah ba’dahu  faqad fâza”. (Ushul Kafi, 1/262)

Artikel Sejarah: Aisyah Istri Rasulullah yang Sangat Dibenci Kaum Syiah

Syiah meyakini bahwa tidak ada yang mengumpulkan al-Quran dengan lengkap selain ‘Ali bin Abi Thalib dan para imam sesudahnya. Mereka meyakini adanya mushaf (kitab suci) yang disebut Mushaf Fathimah. Mushaf ini adalah al-Quran yang asli menurut mereka. Tebal mushaf ini tiga kali dari pada al-Quran yang ada sekarang.

Disebutkan dalam kitab Syiah berjudul Ushul Kafi bahwa al-Quran yang dibawa Jibril kepada Nabi Muhammad ada 17 ribu ayat, namun sekarang tinggal tersisa 6660 ayat.

Bahkan Syiah meyakini bahwa mushaf Fathimah ini akan dihadirkan kembali oleh Imam Mahdi (Imam yang ke-12) ketika ia datang kelak di akhir zaman. Begitulah keterangan dari al-Kulaini dalam kitabnya al-Kafi.

 

Takwil Batini, Strategi Syiah dalam Mencari Legitimasi Doktrin Imamah

Selain meyakini kekurangan al-Quran Mushaf Utsmani, Syiah juga memiliki cara menafsirkan dan menakwilkan al-Quran sesuai dengan teologi yang mereka yakini.

Tafsir Syiah bukan tafsir dengan metodologi ilmiah, tapi takwil Batini yang sangat bebas dan sering kali tidak ada kaitannya dengan lafal dan konteks ayatnya. Tafsir atau takwil Batini itu diarahkan untuk mendukung imamah Ali bin Abi Thalib.

Prof. Dr. Muhammad Ibrahim al-‘Asal menulis dalam disertasi beliau berjudul Asy-Syiah Itsna Asyariyah wa Manhajuhum fi Tafsir al-Quran al-Karim bahwa di antara prinsip penafsiran yang dipegang oleh Kaum Syiah adalah mereka berkeyakinan bahwa Al-Quran mempunyai makna tersirat (batin) dan makna tersurat (zahir). Bahkan mereka meyakini bahwa setiap ayat memiliki tujuh hingga tujuh puluh tujuh makna tersirat (batin).

Mereka bersepakat bahwa siapa yang mengingkari makna tersirat ini, maka hukumnya kafir sebagaimana orang yang mengingkari makna tersurat (zahir) dari al-Quran.

Akar metode tafsir makna batin ini dapat ditelusuri jejaknya dari upaya Abdullah bin Saba’ untuk  mencari sandaran al-Quran dalam mendukung kepercayaannya tentang raj’ah (reinkarnasi) dengan melakukan penafsiran kebatinan.

Yaitu perkataannya bahwa sungguh mengherankan orang percaya Isa akan kembali ke dunia tapi tidak percaya Muhammad akan kembali. Ia menyitir firman Allah dalam surah al-Qashash ayat 85, padahal yang dimaksud dengan “kembali” dalam ayat tersebut adalah “kembali menguasai Makkah”.

Kemudian para tokoh Syiah setelah itu, banyak yang membuat tafsiran Al-Quran dengan metode takwil Batini ini. Seperti menakwilkan makna Allah menjadi makna imam, dalam firman Allah,

وَقَالَ اللّٰهُ لَا تَتَّخِذُوْٓا اِلٰهَيْنِ اثْنَيْنِۚ اِنَّمَا هُوَ اِلٰهٌ وَّاحِدٌ فَاِيَّايَ فَارْهَبُوْنِ

Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut.” (QS. An-Nahl: 51)

Ditafsirkan oleh mufasir Syiah, Abu Abdillah, bahwa yang dimaksud dengan ayat tersebut adalah jangan angkat dua imam karena imam itu hanya satu saja. (Tafsir al-Burhan, 2/373)

Selain itu al-Qummi, mufasir Syiah, mengarahkan makna “orang kafir” dalam surah al-Furqan ayat 55 kepada Umar bin al-Khathab.

Ayat tersebut berbunyi:

وَيَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَنْفَعُهُمْ وَلَا يَضُرُّهُمْ وَكَانَ الْكَافِرُ عَلَى رَبِّهِ ظَهِيرًا

Mereka menyembah selain Allah apa yang tidak memberi manfaat dan tidak (pula) memberi mudharat kepada mereka. Orang kafir itu penolong (setan untuk berbuat durhaka) terhadap Tuhannya.” (QS. Al-Furqan: 55)

Lafal “orang kafir” dalam ayat ini menurut al-Qummi adalah “si orang kedua’ yaitu Khalifah Umar bin al-Khathab yang dahulu dianggap pernah menolong orang untuk berbuat durhaka kepada Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib.

Masih banyak lagi ayat-ayat yang maknanya diselewengkan oleh Syiah untuk tujuan menguatkan doktrin imamah.

 

Mengkritisi Metode Takwil Batini ala Syiah

Definisi takwil yang paling luas, yang diterima oleh Ahlu sunah adalah yang dikemukakan oleh Tajuddin as-Subki (w. 771 H) dalam kitabnya Jam’ul Jawami’ fi Ushul al-Fiqh:

وَالتَّأْوِيلُ حَمْلُ الظَّاهِرِ عَلَى الْمُحْتَمَلِ الْمَرْجُوحِ فَإِنْ حُمِلَ لِدَلِيلٍ فَصَحِيحٌ، أَوْ لِمَا يُظَنُّ دَلِيلًا فَفَاسِدٌ أَوْ لَا لِشَيْءٍ فَلَعِبٌ لَا تَأْوِيلٌ

“Takwil adalah mengalihkan makna lafal zahir; bila kepada makna yang dimungkinkan yang lemah tapi berdasarkan dalil maka itulah takwil yang benar, namun bila berdasarkan anggapan belaka, maka itu adalah takwil yang salah, dan bila tidak memiliki landasan sama sekali, maka itu adalah main-main, bukan takwil.” (Jam’ul Jawami’ fi Ushul al-Fiqh, Tajuddin as-Subki, 54)

Oleh karena itu, pemaknaan zahir dari setiap lafal adalah wajib, sebab ia adalah argumentasi kuat karna maknanya bersifat aksiomatik.

Menjadikan ungkapan sebagai majaz sementara menjadikannya hakikat masih mungkin, adalah membuang semua aturan pembicaraan dan makna perkataan secara keseluruhan.

Bila demikian maka fungsi bahasa bisa hancur dan bahasa tidak lagi bisa menunjukkan makna apa-apa.

Tampilan kitab al awashim min al qawashim Abu Bakar Ibn al Arabi dokumen dakwah.id

Antara Takwil Batini dan Tafsir Isyari

Tafsir Isyari, sebagaimana telah dijelaskan ulama ahli tafsir, Syaikh Muhammad Khidhir Husain (Grand Syaikh al-Azhar) bahwa tafsir Isyari berbeda dengan takwil Batini.

Menurut menyebutkan,

فَالْبَاطِنِيَّةُ يَصْرِفُوْنَ الْآيَةَ عَنْ مَعْنَاهَا الْمَنْقُوْلِ أَوِ الْمَعْقُوْلِ إِلَى مَا يُوَافِقُ بُغْيَتِهِمْ، بِدَعْوَى أَنَّ هَذَا هُوَ مُرَادُ اللهِ دُوْنَ مَا سِوَاهُ

“Kelompok batiniah memalingkan ayat dari makna tekstualnya atau makna logisnya kepada makna yang sesuai dengan kepentingan mereka dan menarasikan bahwa itu adalah maksud Allah, bukan makna yang lain.” (Mausu’ah al-A’mal al-Kamilah, Muhammad al-Khidhr al-Husain, 2/150)

Artikel Tafsir: Kumpulan Kitab Tafsir Terpopuler Klasik dan Kontemporer

Sementara tafsir Isyari adalah seperti dikatakan Abu Bakr Ibnu al-Arabi (568-543 H) dalam kitab al-Awashim min al-Qawashim adalah membawa lafal-lafal syariah melalui prosedurnya dan mendudukkannya sesuai porsinya, namun mereka meyakini bahwa di balik itu semua terdapat makna-makna yang tersimpan dan samar yang dapat dijangkau melalui isyarat dari berbagai lafal-lafal zahir. Artinya, mereka menyeberang menuju isyarat itu dengan merenung dan menganggapnya sebagai jalan berzikir.

Muhammad Abdul Azim al-Zarqani dalam Manahil al-‘Irfan fi Ulum al-Qur’an menetapkan beberapa kaidah dan ketentuan (dhawabith) pada metode takwil isyari, yaitu:

(1) Tidak  bertentangan (ta’arudh) dengan makna zahir (tekstual) al-Quran,

(2) tidak membatasi makna isyari saja yang benar,

(3) penafsiran diperkuat oleh dalil syara’ yang lain,

(4) penafsiran tidak bertentangan dengan dalil syara’ atau rasio,

(5) tidak mengandung penyimpangan dari susunan kalimat (lafal-lafal) al-Qur’an, dan

(6) tidak bertentangan dengan apa-apa yang sudah dipahami (ma’lum) oleh khalayak manusia.

Dari pemaparan di atas, dapat diketahui bahwa pemahaman Syiah terkait al-Quran berbeda dari pemahaman Ahlu sunah. Syiah berkeyakinan bahwa al-Quran yang ada sekarang tidak lengkap, karena tidak menyebutkan keimamahan Ali bin Abi Thalib.

Maka mereka kemudian merumuskan metode interpretasi (tafsir) yang mengada-ada. Metode interpretasi atau tafsir inilah yang disebut oleh Syiah sebagai tafsir Batini atau takwil Batini. Dalam metode ini, terlihat begitu jelas pemaksaan interpretasi makna. Yang pada intinya hanya pembenaran dari doktrin imamah mereka semata.

Selain itu, takwil Batini Syiah ini berbeda dengan tafsir Isyari. Di mana tafsir Isyari memiliki syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. Salah satunya, tidak boleh bertentangan dengan makna zahirnya.

Sedangkan takwil Batini, justru sangat bertentangan dengan makna zahir ayat. Dengan demikian, takwil Batini ala Syiah ini dengan sangat jelas tidak bisa diterima secara ilmiah. Wallahu a’lam (Adib Fattah/dakwah.id)

 

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.