Aisyah Istri Rasulullah yang Sangat Dibenci Kaum Syiah

0 1,578

Jika kita membuka trending di Youtube beberapa hari terkahir, maka akan didapati deretan video yang berisi tentang video lagu yang tengah viral. Lagu itu berjudul Aisyah Istri Rasulullah. Seminggu terakhir lagu ini menjadi trending topik yang meramaikan jagat media sosial.

Lagu Aisyah Istri Rasulullah ini menjadi populer karena banyak dinyanyikan ulang (dicover) oleh para penyanyi dan para  Youtuber. Sebut saja; Nisa Sabyan yang kerap mencover lagu-lagu dengan nuansa islami,  video covernya atas lagu ini telah ditonton sebanyak 19 juta penonton dalam waktu satu minggu.

Sedangkan di urutan pertama ada cover dari kanal Youtube Syakir Daulay dengan penonton sebanyak 20 juta dalam waktu enam hari. Kemudian disusul dengan video-video  dari berbagai kanal Youtube lainnya dengan viewer yang juga mencapai angka jutaan.

Melihat fenomena ini, ada pesan positif dari lagu yang sudah muncul sejak 2017 ini, sekilas jika dilihat sambutan penonton Indonesia, menunjukkan lagu ciptaan Mr. Bie, penyanyi asal Malaysia ini membawa pesan positif sebagai upaya mengenalkan Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha kepada kaum muslimin.

Meskipun, sebagian kalangan kontra dengan hadirnya lagu ini, yang dinilai tidak etis dari segi lirik karena menggambarkan Ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha terlalu hiperbolis. Walaupun jika diteliti dengan seksama, sebenarnya lirik lagu ini ternyata tidak bertentangan dengan riwayat-riwayat shahih yang menggambarkan hal tersebut.

Baca juga: 5 Langkah Rasulullah dalam Membangun Masyarakat Islam di Madinah

Hadirnya lagu Aisyah Istri Rasulullah ini perlu disikapi dengan bijak. Sisi negatifnya memang ada, namun perlu juga melihat sisi positifnya. Dan juga tidak menutup mata dari niat baik penulis lagu yang (mungkin) menjadikan lagu ini sebagai sarana dakwah.

Terlepas dari itu semua, tulisan ini tidak ingin membahas hukum bermusik—yang telah disepakati oleh ulama atas hukum haramnya, atau pro-kontra lagu ini sebagai sesuatu yang pantas atau tidak pantas untuk dinyanyikan—dari sisi penekanan konten maupun cara penyampaiannya.

Paling tidak ada dua hal positif yang penulis tangkap dari viralnya lagu ini,

Pertama, sebuah pesan bahwa memuliakan dan mencintai istri Nabi yang juga sebagai ibu orang-orang beriman adalah kewajiban.

Kedua, upaya melawan kampanye aliran Syiah di Indonesia maupun di dunia yang membenci sahabat dan istri-istri Nabi shalallahu ’alahi wa salam. Terlebih lagi kebencian mereka terhadap Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dan ibunda Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

 

Celaan Syiah terhadap Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan ‘Aisyah Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Kalau ada yang sangat benci secara berlebihan atas viralnya lagu ini—di luar faktor musik yang mengiringi atau cara penyampaiannya, bahkan boleh jadi membenci hingga ke dalam hati, pastilah orang-orang tersebut adalah kelompok sesat Syiah.

Bukan bermaksud mengeneralisir kepada mereka yang kontra dengan adanya lagu ini. Akan tetapi, tulisan ini ingin menampakkan kesesatan mereka berupa kebencian dan celaan mereka terhadap para sahabat dan istri-istri Nabi.

Baca juga: Goresan Api Fitnah dalam Lembaran Sejarah Islam

Bagi syiah lagu ini sangat menampar wajah mereka. Doktrin kebencian yang selama ini mereka sebarkan rusak dalam hitungan hari, karena lagu ini digandrungi banyak orang.

Pasalnya, Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam  yang selama ini mereka citrakan buruk, justru hari ini dibicarakan banyak kaum muslimin. Bahkan tak sedikit dari kalangan muda yang menghafal lirik lagu Aisyah Istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini.

Syiah, pada awal kemunculannya adalah mereka yang lebih mengutamakan Ali radhiyallahu ‘anhu atas seluruh sahabat atau atas tiga khalifah sebelumnya; Abu Bakar, Umar dan Utsman radhiyallahu ‘anhum.

Namun seiring berjalannya waktu, penyimpangan dan kesesatan mereka semakin menjadi. Mereka mulai mengkafirkan para sahabat, menghina mereka dengan hinaan yang buruk. Mereka juga berlebihan dalam memposisikan ahlu bait, bahkan pada sekte aliran Syiah tertentu, mereka menuhankan Ali radhiyallahu ‘anhu. (Lihat: Nashir bin Abdul Karim al-Uqal, Dirasah fi al-Ahwa’ wa al-Firaq wa al-Bida’, 182)

Kebencian mereka terhadap para sahabat bisa dilihat dalam literatur-literatur yang menjadi rujukan utama mereka. Dalam kitab-kitab tulisan tokoh-tokoh mereka, terdapat riwayat-riwayat palsu yang mereka jadikan dalil legitimasi kebencian mereka kepada para sahabat Nabi yang mulia.

Materi Khutbah Jumat: 9 Tanda Seseorang Cinta Rasulullah

Seperti yang disebutkan oleh al-Kulaini, salah satu Imam rujukan kelompok Syiah, ia menyebutkan sebuah riwayat dari Ja’far ash-Shadiq yang berkata,

“Semua orang (para sahabat) murtad sepeninggal Rasulullah, kecuali tiga orang, al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifari, dan Salman al-Farisi.” (Muhammad bin Ya’qub al-Kulaini, Furu’ al-Kaafi, hlm. 115)

Ibnu Taimiyah menyebutkan bahwa kaum Syiah Rafidhah adalah mereka yang mencela para sahabat Nabi yang mulia, melaknat mereka, mengkafirkan seluruh sahabat atau sebagian dari mereka. (Muhammad Khalil Harras, Syarhu al-Aqidah al-Wasathiyah. Hlm.192)

Kebencian mereka terhadap para sahabat sudah menjadi bagian dari keyakinan dan iman. Bahkan kebencian terhadap para sahabat menjadi tolok ukur iman dan kufurnya seseorang.

Al-Majlisi, salah seorang tokoh rujukan pengikut aliran sesat Syiah, menuliskan sebuah riwayat dari Abu Hamzah ats-Tsumali bahwa dia pernah bertanya kepada Ali bin Husain tentang Abu Bakar dan Umar, maka dia menjawab,

“Mereka berdua kafir, dan kafir pula yang setia kepada keduanya.” (Muhammad Baqir al-Majlisi, Bihar al-Anwar, 69/ 137-138)

Tentu riwayat-riwayat yang mereka sandarkan kepada ahlu bait Nabi adalah palsu. Bahwa sesungguhnya Ali bin Husain dan ahlu bait berlepas diri dari kedustaan yang mereka buat. (Abdullah bin Muhammad as-Salafi, Min ‘Aqaidi asy-Syiah, 20)

Kelompok ini juga tidak segan membuat tafsiran-tafsiran menyesatkan yang berisi cacian mereka terhadap Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhuma. Seperti Al-Qummi, salah satu ulama tafsir kawakan syiah, ketika menafsirkan surat an-Nahl ayat 90:

وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِ

“Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.”

Al-Qummi menafsirkan maksud dari perbuatan keji adalah Abu Bakar, kemungkaran adalah Umar bin Khattab, dan Permusuhan adalah Utsman bin ‘Affan. (Lihat: Ali bin Ibrahim al-Qummi, Tafsir al-Qummi, 1/390)

Mereka juga menyebut Abu Bakar ash-Siddiq dan Umar al-Faruq radhiyallahu ‘anhuma sebagai jibt dan thagut. (Lihat: Al-Kulaini, Usul al-Kafi, 1/429.)  Kebencian mereka terhadap Abu Bakar dan Umar dilandasi tuduhan bahwa keduanya adalah perampas hak Ali sebagai Khalifah setelah Rasulullah.

Baca juga: Pengertian Syariat Islam yang Perlu Anda Pahami dengan Baik

Begitulah lembaran-lembaran kitab tokoh rujukan mereka dihitamkan dengan kalimat-kalimat celaan dan kebencian kepada para sahabat. Mereka membuat riwayat-riwayat dusta dan menjadikannya salah satu doktrin utama ajaran mereka.

Kebencian dan permusuhan mereka juga ditujukan kepada Ummahat al-Mu’minin, istri-istri Nabi shalallahu ‘alahi wa salam. Terkhusus kepada ‘Aisyah dan Hafshah radhiyallahu ‘anhuma.

Seperti yang ditulis oleh al-‘Ayyasyi dalam tafsirnya ketika ia menafsirkan surat Ali Imran ayat 144, tentang kematian Nabi shalallahu ‘alahi wa salam, ia menyebutkan sebuah riwayat dusta bahwa kematian Nabi shalallahu ‘alahi wa salam disebabkan oleh racun yang diberikan ‘Aisyah dan Hafshah radhiyallahu ‘anhuma kepada Nabi sebelum wafatnya.

“Beliau diracun sebelum meninggal. Mereka berdua (‘Aisyah dan Hafshah) yang telah meminumkan racun tersebut kepada Nabi. Maka kami katakan, ‘Sesungguhnya keduanya dan kedua bapaknya (Abu Bakar dan Umar) adalah seburuk-buruk makhluk ciptaan Allah.” (Lihat: Muhammad al-‘Ayyasyi, Tafsir al-‘Ayyasyi, 1/342)

Mereka juga membuat celaan, hinaan dan tuduhan dusta dengan seburuk-buruknya terhadap ibunda ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, dengan menuduhnya sebagai pezina. (lihat: al-Qummi, Tafsir al-Qummi, 2/377, lihat juga: Al-Majlisi, Bihar al-Anwar,  22/240)

Terlalu  banyak celaan dan hinaan yang mereka sematkan kepada para sahabat dan istri-istri Nabi radhiyallahu ‘anhum ‘ajmain yang tidak perlu ditampilkan. Namun hal tersebut cukup menunjukkan kesesatan dan kedustaan mereka.

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan, “Tidak ada kelompok yang menisbatkan diri kepada Islam dengan kebid’ahan dan kesesatannya  yang lebih parah dari mereka (Syiah). Tidak ada yang lebih zalim, lebih dekat pada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan serta jauh dari keimanan melebihi mereka (Syiah). (Ibnu Taimiyah, Minhaj as-Sunah, 1/160)

 

Pandangan Ahlu Sunnah terhadap Sahabat dan Istri-Istri Nabi

Mencintai Nabi, istri-istri, dan para sahabatnya adalah wajib dan bagian dari keimanan. Inilah yang membedakan antara aqidah ahlu sunnah dan syiah. Berbalik 180 derajat, aqidah ahlu sunnah mewajibkan untuk mencintai, menghormati, menahan ucapan dan perbuatan dari menyakiti dan mencoreng kehormatan mereka.

Pemahaman ini mutlak harus meresap dalam hati setiap mukmin. Karena Ahlu Sunnah sepakat bahwa sahabat Nabi seluruhnya adalah adil, terlebih Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, yang merupakan sahabat terbaik setelah Nabi shalallahu ‘alahi wa salam, kemudian Umar, Utsman dan ‘Ali radhiyallahu ‘anhum (lihat:  Abi al-Hasan bin al-Qathan, al-‘Iqna’ fii Masail al-Ijma’, 1/58-59)

Salah satu asas akidah Ahlu Sunnah wal Jamaah yang membedakan dengan sekte-sekte sesat adalah; mereka tidak mencela, mencaci, dan membicarakan hal-hal buruk tentang seluruh sahabat Nabi. Hal-hal buruk tersebut tidak ada pada hati dan lisan mereka.( ‘Allamah Muhammad Khalil Harros, Syarhu al-Aqidah al-Wasathiyah, hlm. 236-237)

Mencintai ahli bait Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga termasuk bagian akidah Ahlu Sunnah wal Jamaah. Dan tidak sempurna Iman seorang mukmin sampai ia mendahulukan dalam mencintai ahli bait Rasulullah. Karena kedudukan mereka di hati Rasulullah dan nasab mereka yang bersambung kepada Nabi. (Syarhu al-Aqidah al-Wasathiyah, 244-247)

Baca juga: Menghina dengan Sebutan Binatang itu Dosa Besar

Ahlu Sunnah juga meyakini bahwa istri-istri Nabi adalah ibu bagi kaum mukminin, dan meyaikini bahwa mereka adalah istri-istri nabi kelak di Akhirat. Sikap Ahlu Sunnah berlepas diri dari kelompok Rafidhah yang membenci dan mencela para sahabat. Dan juga berlepas dari kelompok Nawasib yang membenci ahlu bait Nabi dan menyakiti mereka dengan perkataan dan perbuatan. (Syarhu al-Aqidah al-Wasathiyah. 247-248)

Inilah akidah Ahlu Sunnah wal Jamaah dan sikap mereka terhadap para sahabat Nabi dan istri-istrinya. Terkhusus Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu dan ‘Aisyah istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan dua orang yang paling dicintai oleh Nabi.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Amru bin al-‘Ash, saat ia bertanya kepada Nabi perihal orang yang paling beliau cintai:

أَيُّ النَّاسِ أَحَبُّ إِلَيْكَ قَالَ عَائِشَةُ فَقُلْتُ مِنَ الرِّجَالِ فَقَالَ أَبُوهَا

“Siapa orang yang paling engkau cintai? Beliau menjawab, “ Aisyah.” Aku bertanya lagi, “Dari laki-laki?” Nabi menjawab, “Bapaknya (Abu Bakar).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain dari Ummu salamah, Nabi juga pernah bersabda:

لَا تُؤْذِينِي فِي عَائِشَةَ فَإِنَّ الْوَحْيَ لَمْ يَأْتِنِي وَأَنَا فِي ثَوْبِ امْرَأَةٍ إِلَّا عَائِشَة

“Jangan kalian sakiti aku dengan menyakiti Aisyah, Sesungguhnya hanya Aisyah  yang pernah aku sandari saat wahyu datang kepadaku.” (HR. Al-Bukhari)

Nabi mencintai keduanya, maka sudah seharusnya mereka yang menyatakan diri mencintai Nabi, mencintai pula apa yang beliau cintai.

 

Tradisi Menyanggah Arus Penyebaran Paham Syiah

Muslim Indonesia telah sejak lama punya tradisi dalam menyanggah Syiah, terkhusus dalam kampanye anti-sahabat. Seperti yang diketahui, mayoritas warga ahlu sunnah dari NU biasa merayakan maulid dengan pembacaan kitab Diba’, Barzanji, dan Simthuth Dhurar.

Di mana kitab-kitab ini berisi tentang sejarah perjalanan Nabi sekaligus pujian terhadap beliau dan para sahabat. Inilah yang disebut oleh Kholili Hasib sebagai media untuk membentengi Ahlu Sunnah dari ajaran Syiah. Karena dalam tradisi pembacaan kitab-kitab tersebut mendidik umat untuk mencintai Ahlul bait dan sahabat Nabi shalallahu ‘alahi wa salam.

Lebih lanjut, Kholili menyebutkan dalam tulisannya yang berjudul Tradisi Muslim Nusantara Menyanggah Syi’ah bahwa termasuk kebiasaan pujian terhadap para khulafa’ Rasyidin; Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali radhiyallahu ‘anhum yang dibuat di masjid-masjid atau surau-surau sebelum diadakannya shalat jamaah merupakan bagian dari strategi ulama untuk membentengi umat dari pengaruh Syiah.

Maka tidak heran sejak dahulu ulama Nusantara juga sudah mewanti-wanti tentang kesesatan Syiah.

Baca juga: Akar Pertumbuhan Mazhab Syafi’i di Nusantara

Syaikh Hasyim ‘Asyari telah menuliskan hal tersebut dalam kitabnya Risalah Ahlu Sunnah wal Jama’ah, menyebutkan Syi’ah Rafidhah sebagai kelompok sesat dan termasuk ahli bid’ah, karena mereka mencela Abu Bakar dan Umar serta sahabat lainnya. (Lihat: Hasyim ‘Asyari, Risalah Ahlu Sunnah wal Jama’ah, 15)

Maka perlu bijak melihat viralnya lagu Aisyah istri Rasulullah yang tengah menjadi trending topik di media sosial. Terlepas dari plus-minusnya, secara tidak langsung hadirnya lagu ini telah menjadi konter kampanye gelap kelompok Syiah untuk menyebarkan ajaran sesat mereka. Terutama di kalangan awam yang mungkin akan merasa berat jika didakwahi menggunakan dalil normatif secara langsung.

Yaitu, ajaran untuk membenci dan mencaci para sahabat dan istri-istri Rasulullah. Semoga Allah selalu jaga kaum muslimin dari penyimpangan. Dan semoga Allah berikan petunjuk mereka yang masih tenggelam di lubang kesesatan. (Fajar Jaganegara/dakwah.id)

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.