Mengetahui sejarah Tiang Taubat di Masjid Nabawi akan membawa kita pada sebuah kisah haru tentang penyesalan, amanah, dan ketulusan taubat dari seorang sahabat Nabi yang bernama Abu Lubabah radhiyallahu ‘anhu.
Di salah satu sudut Masjid Nabawi, berdiri sebuah tiang yang tampak sederhana. Para peziarah mungkin melewatinya tanpa banyak memperhatikan.
Namun, tiang itu menyimpan sebuah kisah yang menggugah jiwa; kisah tentang kejujuran yang lahir dari rasa bersalah, kisah tentang keberanian seorang manusia untuk menghukum dirinya sendiri sebelum “diadili oleh langit”.
Tiang itu dikenal dengan nama Usthawânah at-Taubah, yang artinya Tiang Taubat. Di sanalah seorang sahabat Nabi bernama Abu Lubabah pernah mengikat dirinya sendiri. Tiang itu juga biasa disebut Usthawânah Abî Lubâbah.
Abu Lubabah bukanlah orang yang jauh dari kebenaran. Ia sahabat mulia dari kalangan Anshar yang hidup di tengah cahaya wahyu dan sering berada di dekat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Namun, kisah ini mengingatkan kita pada satu kenyataan yang sering terlupakan: sedekat apa pun seseorang dengan kebenaran, ia tetap manusia yang memiliki titik rapuh. Dan terkadang, satu detik kelemahan, cukup untuk melahirkan penyesalan yang panjang.
Isyarat yang Mengguncang Hati
Tahun 5 H, saat terjadi Perang Khandaq, ketika kaum muslimin diserang dari berbagai sisi, alih-alih memberikan bantuan sebagaimana kesepakatan yang tertuang dalam Mitsaq Madinah, Yahudi Bani Quraizhah justru berpihak pada pasukan koalisi.
Maka, begitu perang usai, persis setelah shalat Zuhur, Jibril datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyampaikan perintah untuk menyerang keturunan Quraizhah.
Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam segera menunjuk Ali sebagai pemegang bendera dan mengerahkan para sahabatnya untuk mengepung Yahudi Quraizhah. Sebelum matahari tenggelam, seluruh benteng telah dikepung oleh pasukan yang berjumlah 3.000, dan Jibril pun ikut hadir untuk mengguncangkan hati mereka.
Materi Khutbah Jumat: Abu Darda’, Teladan dalam Kebijaksanaan
Bani Quraizhah dikepung selama 25 malam. Di tengah situasi tegang itu, mereka memohon kepada Nabi agar diperbolehkan berunding dengan Abu Lubabah.
Permintaan itu bukan tanpa alasan.
Sejak lama Abu Lubabah memiliki hubungan sosial dengan mereka; keluarga dan harta mereka dahulu pernah berada di bawah perlindungannya. Karena itulah mereka merasa lebih mudah membuka pembicaraan kepadanya.
Kedatangan Abu Lubabah disambut dengan isak tangis anak-anak dan kaum wanita yang membuat hatinya merasa iba.
Mereka bertanya dengan cemas, “Haruskah kami tunduk kepada Muhammad?”
Ia menjawab, “Ya.” sambil memberi isyarat dengan menggerakkan tangannya ke tenggorokan.
Isyaratnya, berarti pengertian bahwa jika mereka tunduk, pasti akan dipenggal. Gerakan ini bertentangan dengan ucapannya, dan itu menyebabkan pengepungan kian berlanjut.
Hanya satu gerakan tangan, tanpa banyak kata-kata. Namun begitu gerakan itu selesai, sesuatu langsung menghantam hatinya.
Abu Lubabah sadar bahwa dalam satu detik simpati kepada kawan lama, ia telah membocorkan sesuatu yang seharusnya ia jaga sebagai amanah. Gema firman Allah seakan mengguncang nuraninya,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan (juga)janganlah kamu mengkhianati amanat yang dipercayakan kepadamu,sedang kamu mengetahui.” (QS. Al-Anfal: 27)
Isyarat itu mungkin tampak kecil. Namun bagi hati yang hidup, ia terasa seperti gunung yang runtuh di dalam dada.
Dengan langkah berat, Abu Lubabah meninggalkan tempat itu. Ia tidak berani pulang ke rumah atau melaporkan hasil pembicaraan kepada Rasulullah.
Kakinya justru membawa dirinya menuju Masjid Nabawi.
Tiang Taubat di Masjid Nabawi: “Penjara” yang Ia Pilih Sendiri
Abu Lubabah tidak mencari pembenaran. Ia tidak berkata, “Aku hanya memberi isyarat kecil.” Ia juga tidak berkata, “Aku hanya kasihan.”
Sebaliknya, rasa bersalah itu menghancurkan hatinya. Ia mengucapkan kalimat istirja’, “Innaa lillahi wa Innaa ilaihi rajiu’un.”
Setelah sampai, ia mengambil seutas tali, lalu mengikatkan dirinya sendiri pada pilar yang kini dikenal sebagai Tiang Taubat di Masjid Nabawi.
Ia memenjarakan tubuhnya agar hatinya tidak bisa lari dari tanggung jawab.
Ka’ab bertanya kebingungan sembari memegang-megang janggut Abu Lubabah yang basah oleh air mata.
Artikel Sejarah: Ujian Keimanan Imam Ahmad bin Hanbal dari Para Penguasa
Lalu Abu Lubabah mengakui bahwa ia telah mengkhianati Allah dan Rasul-Nya. Bahkan ia bersumpah, “Aku tidak akan beranjak dari tempat ini, sampai Allah mengampuniku atas apa yang telah aku lakukan!”
Inilah tekad seorang Abu Lubabah. Sahabat mulia yang dahulu duduk bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kini berdiri terikat di masjid, menahan beratnya penyesalan.
Ia tidak sanggup menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan membawa noda pengkhianatan di dalam hatinya.
Kemerdekaan Hakiki yang Turun dari Langit
Hari-hari pun berlalu sementara Abu Lubabah tetap terikat pada tiang itu. Ia tidak benar-benar sendirian.
Keluarganya datang pada waktu-waktu tertentu untuk memberinya sedikit makanan dan minuman agar ia tidak binasa karena lapar dan haus.
Ketika waktu shalat tiba, mereka melepaskan ikatannya sejenak agar Abu Lubabah dapat berdiri menghadap Allah, lalu setelah selesai, ia kembali meminta dirinya diikatkan lagi pada tiang tersebut.
Bahkan untuk keperluan buang hajat, keluarganya akan membukakan tali itu, kemudian setelah ia kembali ke masjid, ia meminta agar dirinya diikat seperti semula.
Hari-hari itu menjadi hari-hari yang panjang. Tubuhnya tetap berada di masjid, tetapi hatinya seakan berdiri di hadapan pengadilan langit, menunggu keputusan apakah tobatnya akan diterima atau tidak.
Para sahabat melihatnya setiap hari, tetapi tidak berani melepaskannya. Lalu datanglah momen yang sangat dinanti-nanti setelah enam hari berlalu.
Abu Lubabah bermimpi bahwa dirinya terperosok ke dalam lumpur yang kotor. Ia tidak dapat bernapas dan hampir mati akibat bau lumpur. Kemudian, ia melihat aliran air dan ia membasuh dirinya dengan air itu hingga bersih dan udara di atasnya terasa harum.
Abu Bakar menakwilkan mimpi tersebut bahwa Abu Lubabah akan segera terbebas dari segala beban yang menghimpit jiwanya.
Hingga akhirnya ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berada di rumah Ummu Salamah, tepat di tengah malam, istrinya yang cerdas itu, melihat sebuah senyuman terukir indah di wajah Sang Rasul, menghadirkan rona yang begitu cerah dan berseri.
Setelah ditanya, dalam jawabnya, beliau mengisahkan turunnya wahyu yang baru saja ia terima; sebuah maklumat suci bahwa Allah telah menerima tobat Abu Lubabah.
Mendengar kabar itu, Ummu Salamah berkata, “Wahai Rasulullah, bolehkah aku memberitahukan kabar gembira ini kepadanya?” Beliau pun mengizinkan.
Maka Ummu Salamah segera berdiri di pintu kamarnya yang menghadap ke masjid dan memanggil Abu Lubabah.
Kabar itu terdengar oleh para sahabat yang berada di masjid. Mereka bergembira dan segera bergegas menuju tiang tempat Abu Lubabah terikat untuk melepaskan talinya. Namun, di sinilah sisi yang sangat menyentuh dari kisah ini.
Abu Lubabah menolak. Ia berkata bahwa dirinya tidak ingin dilepaskan oleh siapa pun sampai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang melepaskan ikatan itu.
Baca Juga: 10 Keutamaan Kaum Anshar yang Perlu Kamu Ketahui
Keesokan paginya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke masjid dan mendekati Abu Lubabah. Dengan jemari penuh rahmat, satu demi satu, simpul-simpul itu diurai.
Di hadapan Sang Kekasih Allah, Abu Lubabah akhirnya mengecap kemerdekaan hakiki. Bukan karena tubuhnya terbebas dari ikatan, tetapi karena Allah telah mengangkat beban dari hatinya.
Wahyu yang turun saat itu adalah firman Allah,
وَآخَرُونَ اعْتَرَفُوا بِذُنُوبِهِمْ خَلَطُوا عَمَلًا صَالِحًا وَآخَرَ سَيِّئًا عَسَى اللَّهُ أَنْ يَتُوبَ عَلَيْهِمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Dan (ada pula) orang lain yang mengakui dosa-dosa mereka, mereka mencampuradukkan pekerjaan yang baik dengan pekerjaan lain yang buruk. Mudah-mudahan Allah menerima tobat mereka. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. At-Taubah: 102)
Kisah ini unik karena memperlihatkan sesuatu yang sangat manusiawi.
Seakan Allah ingin menunjukkan bahwa langit sangat dekat dengan hati yang jujur mengakui kesalahannya.
Hikmah dan Ibrah dari Sejarah Tiang Taubat di Masjid Nabawi
Pengalaman Abu Lubabah bukan sekadar peristiwa sejarah, tetapi pelajaran tentang amanah, kejujuran, dan luasnya kasih sayang Allah.
Dari kisah ini, terdapat beberapa ibrah penting.
1. Amanah harus dijaga dengan penuh kehati-hatian
Satu isyarat tangan saja membuat Abu Lubabah merasa telah mengkhianati kepercayaan yang diembankan kepadanya.
2. Hati yang hidup cepat menyadari kesalahan
Tanpa menunggu teguran manusia, nuraninya telah lebih dahulu menggugahnya untuk kembali dan memperbaiki kekhilafan itu.
3. Tobat menuntut keberanian untuk bertanggung jawab
Abu Lubabah tidak mencari alasan untuk membela diri. Ia justru mengakui kesalahannya dengan jujur dan menempuh jalan taubat dengan kesungguhan.
4. Bolehnya melakukan mu’āqabah an-nafs
Hikmah keempat dari kisah Abu Lubabah di atas adalah bolehnya melakukan mu’āqabah an-nafs (menghukum diri sendiri) setelah berbuat dosa, selama tidak melampaui batas yang dibenarkan oleh syariat.
5. Rahmat Allah selalu membuka jalan kembali
Ketika dosa diakui dengan jujur dan disertai penyesalan yang tulus, pintu tobat tidak pernah tertutup.
Saat merenungi kisah ini, Dr. Muhammad Abu Syahbah berkata, “Di sini kita perlu berhenti sejenak, menyaksikan betapa tangguhnya iman dan tajamnya nurani para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Saat bisikan setan menyengat,kesadaran mereka kepada Allah bangkit seketika; sebuah kepulangan yang cepat menuju tobat.
Inilah potret masyarakat dengan rasa malu yang tinggi terhadap dosa dan penghormatan mutlak pada nilai spiritual. Sebuah puncak kemuliaan yang, hingga detik ini, belum pernah dicapai oleh peradaban mana pun.”
Hingga hari ini, tiang Abu Lubabah masih berdiri; menjadi pengingat sunyi bahwa manusia bisa saja tergelincir dalam kesalahan, tetapi jalan kembali kepada Allah selalu terbuka bagi mereka yang berani mengakui dosa dan pulang kepada-Nya dengan hati yang tulus. (M. Faishal Fadhli/dakwah.id)
Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thariiq.
Referensi:
Al-Jazairi, Abu Bakr Jabir. Hādzā al-Ḥabīb Yā Muḥibb. Madinah: Mu’assasah Zaad. 2013.
Al-‘Azmi, Musa bin Rasyid. Al-Lu’lu’ al-Maknūn fi Sirah an-Nabi al-Ma’mun (vol. 3). Daar Shumay’i. 2013.
Al-Qurthubi, Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad. Al-Jami’ li Ahkam al-Qur’an (vol. 10). 2006.
Baca juga artikel menarik lainnya karya M. Faishal Fadhli atau artikel Sirah Nabawiyyah terbaru:
- Materi Khutbah Jumat: Menyikapi Krisis Global Terkini
- Lengkap! 7 Doa Saat Turun Hujan, Angin Kencang, dan Petir Sesuai Sunah
- Materi Khutbah Jumat: Memburu Waktu Mustajab di Hari Jumat
- Sejarah Tiang Taubat di Masjid Nabawi: Kisah Penyesalan Abu Lubabah
- Kisah Sahabat Nabi: 4 Pelajaran Berharga dari Abu Khaitsamah