materi khutbah Jumat Abu Darda dakwah.id

Materi Khutbah Jumat: Abu Darda’, Teladan dalam Kebijaksanaan

Materi Khutbah Jumat
Abu Darda’, Teladan dalam Kebijaksanaan

Oleh: Abdul Halim Tri Hantoro, S.Pd.I

 

 

*) Link download PDF Materi Khutbah Jumat ini ada di akhir tulisan.

إنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ ونَسْتَغفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرشِدًا

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَلَّغَ الرِّسالةَ، وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الأمَّةَ، وَجاهَدَ فِى اللهِ حَقَّ جِهادِهِ حَتَّى أَتَاهُ اليَقِينُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِه وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُم بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْد

 

Pujian dan rasa syukur yang paling agung hanyalah milik Allah subhanahu wata’ala. Dialah yang Maha Pencipta. Dialah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hanya kepada-Nya kita mengabdikan diri. Dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan.

Siapa yang Allah beri petunjuk, tiada satu pun orang yang mampu menyesatkannya. Siapa yang telah Dia sesatkan, maka tiada satu pun orang yang mampu menunjukinya.

Salam dan shalawat kepada baginda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Nabi junjungan yang telah membimbing umat manusia kepada sebaik-baik jalan dan manhaj.

Semoga keselamatan juga Allah limpahkan kepada para istri beliau, para sahabat dan segenap umatnya yang tsiqah terhadap ajarannya hingga hari kiamat.

Marilah kita senantiasa tingkatkan iman dan takwa kepada Allah subhanahu wata’ala di mana saja berada, berusaha dengan maksimal melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan senantiasa memperhatikan amalan untuk bekal menghadapi pengadilan Allah subhanahu wata’ala di hari akhirat kelak.

Allah berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ‌وَلۡتَنظُرۡ ‌نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Allah subhanahu wata’ala memiliki salah satu nama dan sifat mulia yaitu Al-Hakim, Maha Bijaksana. Sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

لَّا يَأۡتِيهِ ٱلۡبَٰطِلُ مِنۢ بَيۡنِ يَدَيۡهِ وَلَا مِنۡ خَلۡفِهِۦۖ تَنزِيلٌ مِّنۡ حَكِيمٍ حَمِيدٖ

“(Al-Quran) tidak akan didatangi oleh kebatilan baik dari arah depan maupun dari belakang (pada masa lalu maupun yang akan datang), yang diturunkan dari Rabb yang Maha Bijaksana, Maha Terpuji.” (QS. Fushilat: 42)

Sebagaimana ia menjadi nama dan sifat baik yang Allah miliki, maka manakala sifat itu ada pada manusia tentunya, ia juga akan menjadikannya baik.

Orang yang bijaksana adalah orang yang memiliki sifat mulia. Di antara tanda kebaikan suatu kaum adalah didapatinya orang-orang yang bijaksana di dalamnya.

Dalam sebuah hadits mursal dha’if riwayat imam Abu Dawud dalam kitabnya al-Marasil dan riwayat imam ad-Dailami dalam kitab Musnad ad-Dailami, juga riwayat dalam kitab al-Hilmu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ خَيراً؛ وَلَّى أَمْرَهُمْ الْحُكَمَاءَ، وَجَعَلَ الْمَالَ عِنْدَ السُّمَحَاءِ، وَإِذَا أَرَادَ اللهُ بِقَوْمٍ شَرّاً، وَلَّى أَمْرَهُمْ السُّفَهَاءَ، وَجَعَلَ الْمَالَ عِنْدَ البُخَلاَءِ

Jika Allah menghendaki kebaikan ada pada suatu kaum, maka Allah akan mengangkat orang-orang yang bijak untuk mengatur urusan mereka, dan Allah akan menjadikan harta kekayaan berada pada orang-orang yang dermawan. Dan apabila Allah menghendaki keburukan suatu kaum, maka Allah akan mengangkat orang-orang yang bodoh untuk mengatur urusan mereka, dan Allah akan menjadikan harta kekayaan berada pada orang-orang yang pelit.”

Dalam menjalani kehidupan di tengah-tengah keluarga, masyarakat, bangsa dan negara harus dibutuhkan sikap bijaksana dalam memandang segala urusan.

Kebijaksanaan akan membawa kebaikan. Kebijaksanaan akan membawa urusan menjadi lebih lapang. Kebijaksanaan menjauhkan diri dari sikap angkuh lagi sombong.

 

Saudaraku, jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Mari kita belajar sifat bijaksana dari seorang sahabat Nabi yang dijuluki hakimu hadzihil ummah (orang bijaksananya umat ini). Nama lengkapnya Uwaimir bin Zaid bin Qais al-Anshari al-Khazraji. Umat Islam lebih familiar dengan kunyahnya daripada nama aslinya, yaitu Abu Darda’ radhiallahu ‘anhu.

Beliau termasuk sahabat dari kalangan kaum Anshar yang terakhir masuk Islam, tetapi justru terkenal menjadi sosok sahabat yang paling berilmu, fakih, dan banyak hikmah dalam ucapannya.

Awalnya, Abu Darda’ adalah seorang penyembah berhala. Lalu Allah subhanahu wata’ala beri ia hidayah melalui perantara temannya yang bernama Abdullah bin Rawahah dan Muhammad bin Maslamah.

Mereka berdua tiba-tiba saja datang ke rumah Abu Darda’ tanpa sepengetahuan dirinya. Tanpa basa-basi, mereka berdua langsung menghancurkan berhala yang ia sembah-sembah setiap saat di rumahnya.

Saat Abu Darda’ pulang, ia kaget. Lalu ia pungut remukan berhala itu seraya menggerutu penuh kekecewaan, “Bodoh sekali kalian ini! mengapa tidak kalian lawan? Mengapa tidak kalian bela diri kalian sendiri?”

Setelah itu ia pergi menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk menyatakan keislamannya.

Maka benarlah firman Allah,

مَن يَهۡدِ ٱللَّهُ فَهُوَ ٱلۡمُهۡتَدِۖ ‌وَمَن ‌يُضۡلِلۡ فَلَن تَجِدَ لَهُۥ وَلِيّٗا مُّرۡشِدٗا

Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapatkan seorang penolong yang dapat memberi petunjuk kepadanya.” (QS. Al-Kahfi: 17)

 

4 Keutamaan Sahabat Abu Darda’

Saudaraku, jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Sahabat Abu Darda’ adalah sahabat Nabi yang memiliki banyak keutamaan, di antaranya:

Pertama: Mengutamakan Akhirat daripada Dunia

Sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Sa’ad, Al-Haitsami, dan ath-Thabrani, bahwa sahabat Abu Darda’ berkata,

Dahulu aku adalah seorang pebisnis hebat sebelum Muhammad diangkat menjadi Nabi. Setelah Nabi diutus dan aku masuk Islam maka aku putuskan untuk tetap berbisnis dan banyak beribadah, namun keduanya tidak bisa menyatu. Maka aku pun memilih untuk beribadah dan meninggalkan bisnis.”

Mari kita renungi sikap sahabat Abu Darda’ ini. Ketika beliau melihat aktivitas bisnis ternyata mengganggu ibadahnya dan ia tidak mampu untuk mengumpulkan dua aktivitas itu dalam dirinya, ia pun memilih yang lebih utama yaitu beribadah.

Imam adz-Dzahabi berkata,

“Siapa di antara manusia yang mampu mengumpulkan di antara dua urusan yakni bisnis dan ibadah, maka hendaklah dia lakukan. Sebagaimana Abu Bakar ash-Shiddiq adalah seorang pebisnis, ahli ibadah, dan ahli ilmu. Demikian halnya Abdurrahman bin Auf. Namun apabila ia tidak memiliki kemampuan untuk mengumpulkan keduanya maka ibadah lebih berhak untuk ia utamakan.” (Siyaru A’lam an-Nubala’, 2/338)

Kedua: Kuat dalam Beribadah

Dalam Shahih al-Bukhari terdapat kisah Abu Darda’ yang cukup menarik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mempersaudarakan Abu Darda’ dengan Salman al-Farisi. Pada suatu hari, Salman berkunjung ke rumahnya, dan ia melihat Ummu Darda’ dalam kondisi yang serba lusuh baik pakaian maupun wajahnya.

Ia bertanya, “Kenapa keadaan Anda seperti ini?”

Ia menjawab, “Karena saudaramu, Abu Darda’, sudah tidak membutuhkan dunia lagi (menjauhi istri).”

Tak berapa lama lalu datanglah Abu Darda’. Salman pun membuatkan makanan untuknya dan berkata kepadanya, “Makanlah!”

Abu Darda’ menjawab, “Aku sedang puasa.”

Materi Khutbah Jumat: Abu Bakar ash-Shiddiq Teladan dalam Kejujuran

Salman menimpali, “Aku tidak akan makan hingga dirimu ikut makan.” Maka ia pun makan.

Ketika malam hari tiba, Abu Darda’ mulai berdiri untuk qiyamul lail. Salman berkata, “Tidurlah!” Dan ia pun tidur.

Kemudian ia bangun kembali ingin shalat, tetapi Salman melarangnya. Saat malam sudah masuk sepertiganya, Salman pun membangunkan Abu Darda’ dan berkata, “Sekarang shalatlah!”

Salman memberinya nasehat, “Sesungguhnya Rabbmu punya hak, dirimu punya hak, keluargamu punya hak, dan berikanlah masing-masing akan haknya.”

Selanjutnya peristiwa itu sampai kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lantas beliau bersabda, “Salman telah benar.” (HR. Al-Bukhari)

Riwayat di atas menunjukkan betapa semangat dan kuatnya Abu Darda’ dalam melazimi ibadah-ibadah meskipun ia pada akhirnya mendapatkan teguran agar tidak berlebihan.

Ketiga: Ahli Ilmu

Sahabat Abu Darda’ termasuk sahabat Nabi yang memiliki ilmu yang luas. Banyak di antara manusia yang harus berdesak-desakan untuk bisa mendengarkan nasehat ilmu darinya bagaikan orang yang mendatangi pintu-pintu istana.

Diceritakan oleh Abdullah bin Sa’id,

Aku melihat Abu Darda’ masuk ke masjid Nabawi dan diikuti oleh banyak kerumunan manusia layaknya seorang raja yang diikuti oleh banyak manusia. Di antara mereka adalah orang ingin bertanya tentang ilmu faraidh, bertanya tentang ilmu hisab, bertanya tentang ilmu syair, bertanya hadits Nabi dan perkara-perkara agama lainnya.” (Ibnu Abi Hatim, Al-Jarhu wa At-Ta’dil, 7/27)

Keempat: Penghafal Al-Quran di Masa Nabi

Abu Darda’ adalah salah satu dari empat orang sahabat yang menjadi penghafal al-Quran di masa hidup Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رضي الله عنه قَالَ: مَاتَ النَّبِيُّ صلي الله عليه وسلم وَلَمْ يَجْمَعْ الْقُرْآنَ غَيْرُ أَرْبَعَةٍ: أَبُو الدَّرْدَاءِ، وَمُعَاذُ بْنُ جَبَلٍ، وَزَيْدُ بْنُ ثَابِتٍ، وَأَبُو زَيْدٍ

Dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu, ia berkata, ‘Saat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, al-Quran itu tidak dihafal kecuali oleh empat orang; Abu Darda, Mu’adz bin Jabal, Zaid bin Tsabit, dan Abu Zaid.’”

 

Potret Sikap Bijaksana Sahabat Abu Darda’

Saudaraku, jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Di antara bukti sifat bijaknya Abu Darda’ dalam memandang dan menyikapi persoalan yang ia hadapi adalah sebagai berikut:

Menyikapi Pelaku Dosa

Dari Abu Qilabah, bahwasanya Abu Darda radhiallahu ‘anhu pernah bertemu seseorang yang melakukan dosa. Lalu banyak orang yang membenci dan mencelanya.

Abu Darda berkata, “Menurut kalian, bagaimana sekiranya kalian melihat ia (pendosa) tengah diterkam singa, apakah kalian akan menolongnya?”

Mereka menjawab, “Tentu.”

Abu Darda berkata, “Karena itu, jangan kalian caci maki saudara kalian ini. Pujilah Allah subhanahu wata’ala yang telah menjaga kalian (tidak melakukan dosa tersebut).”

Mereka berkata, “Tidakkah engkau membencinya (karena berbuat maksiat)?”

Abu Darda berkata, “Yang aku benci itu perbuatannya. Kalau dia sudah berhenti melakukannya, dia tetap saudaraku.”

Beliau juga mengatakan, “Aku sering memerintahkan manusia untuk melakukan kebaikan sementara aku sendiri tidak mengerjakannya, tetapi mudah-mudahan dengan itu aku mendapatkan pahala.”

Banyak di antara kita tatkala melihat pelaku dosa adalah berlaku sinis, benci, dan tidak respek tidak hanya kepada perbuatannya, termasuk kepada pelakunya.

Padahal bisa jadi pelaku dosa tadi adalah memang orang yang bodoh dalam agama, tidak pernah ada orang yang menasihatinya, mendekatinya, perhatian kepadanya.

Bisa jadi ketika kita respek terhadapnya ia akan menerima ajakan kebaikan kita dan menjadi pintu tobat dirinya kepada Allah subhanahu wata’ala.

Sahabat Abu Darda’ bernah berkata, “Seseorang tidak akan memahami Islam secara sempurna sebelum membenci orang lain karena Allah, kemudian ia mengoreksi dirinya sendiri lalu lebih membenci dirinya lagi.”

Hebat dalam Bisnis, tapi tidak Mencela Bisnis Orang Lain

Abu Darda’ adalah seorang pebisnis sukses sebelum ia masuk Islam. Setelah masuk Islam, ketika ia melihat banyak manusia melakukan aktivitas dunia dengan jual beli, ia tidak kemudian menghardik mereka; mencela, dan mencemooh para pencari dunia.

Ia mengatakan, “Aku tidak mengharamkan jual beli. Hanya saja, aku pribadi lebih menyukai diriku termasuk dalam golongan orang-orang yang perniagaan dan jual beli itu tidak melalaikannya dari zikir kepada Allah.”

Jika kita memperhatikan manusia hari ini yang terjun dalam dunia bisnis dan kerja duniawi, mereka masuk sedalam-dalamnya hingga tiada tersisa waktu sedikit pun untuk amal akhirat mereka, kecuali orang-orang yang Allah rahmati.

Jual beli tidak dilarang dalam agama, namun ada warning Allah subhanahu wata’ala yang harus diperhatikan, yaitu firman-Nya,

أَلۡهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ

Bermegah-megahan (dalam harta) akan membinasakanmu.” (QS. At-Takatsur: 1)

Nasehat Abu Darda’ terhadap para pelaku jual beli di atas adalah buah tadabburnya akan firman Allah subhanahu wata’ala,

‌رِجَالٌ ‌لَّا تُلۡهِيهِمۡ تِجَٰرَةٌ وَلَا بَيۡعٌ عَن ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَإِقَامِ ٱلصَّلَوٰةِ وَإِيتَآءِ ٱلزَّكَوٰةِ يَخَافُونَ يَوۡمٗا تَتَقَلَّبُ فِيهِ ٱلۡقُلُوبُ وَٱلۡأَبۡصَٰرُ. لِيَجۡزِيَهُمُ ٱللَّهُ أَحۡسَنَ مَا عَمِلُواْ وَيَزِيدَهُم مِّن فَضۡلِهِۦۗ وَٱللَّهُ يَرۡزُقُ مَن يَشَآءُ بِغَيۡرِ حِسَابٖ

Orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual beli dari mengingat Allah, melaksanakan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari kiamat). (mereka melakukan itu) agar Allah memberi balasan kepada mereka dengan yang lebih baik daripada apa yang telah mereka kerjakan, dan agar Dia menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa batas.”

Terakhir, mari renungi nasehat emas sahabat Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berikut ini,

Ingatlah Allah saat engkau lapang, niscaya Dia mengingatmu saat engkau susah. Jika diceritakan kepadamu tentang orang-orang mati, anggaplah dirimu salah satu dari mereka. Jika jiwamu mulai tertarik dengan urusan dunia, ingatlah akhirnya nanti ia menjadi apa.”

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Demikian khutbah pertama ini kami sampaikan, semoga Allah Ta’ala membimbing kita untuk meneladani para sahabat Nabi yang mulia.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

KHUTBAH KEDUA

إنَّ الْحَمْدَ لِلهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ ونَسْتَغفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرشِدًا

أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلهَ إلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أنَّ مُحَمّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ بَلَّغَ الرِّسالةَ، وَأَدَّى الْأَمَانَةَ، وَنَصَحَ الأمَّةَ، وَجاهَدَ فِى اللهِ حَقَّ جِهادِهِ حَتَّى أَتَاهُ اليَقِينُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِه وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُم بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

وَصَلُّوْا وَسَلِّمُوْا عَلَى خَاتِمِ النَّبِيِّيْنَ وَرَسُوْلِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ؛ فَقَدْ أُمِرْتُمْ بِذَلِكَ فِي الْكِتَابِ الْمُبِيْنِ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اَللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الْأَرْبَعَةِ: أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَليٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الآلِ وَالصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِعَفْوِكَ وَكَرَمِكَ وَإِحْسَانِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أعِزَّ اْلإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أعِزَّ اْلإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَاحْمِ حَوْزَةَ الدِّيْنِ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَسَائِرَ الطُّغَاةِ وَالْمُفْسِدِيْنَ، وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِ الْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدْ صُفُوْفَهُمْ، وَأَصْلِحْ قَادَتَهُمْ، وَاجْمَعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الْحَقِّ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ.

اَللَّهُمَّ انْصُرْ دِيْنَكَ وَكِتَابَكَ وَسُنَّةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَعِبَادَكَ الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُجَاهِدِيْنَ الصَّادِقِيْنَ…

اَللَّهُمَّ اكْفِنَا أَعْدَاءَكَ وَأَعْدَاءَنَا بِمَا شِئْتَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ أَعْدَاءَكَ وَأَعْدَاءَنَا بِمَا شِئْتَ يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِ أَعْدَائِكَ وَأَعْدَائِنَا، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ، اَللَّهُمَّ إِنَّا نَجْعَلُكَ فِي نُحُوْرِهِمْ، وَنَعُوْذُ بِكَ مِنْ شُرُوْرِهِمْ.

اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيْهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَالْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

اَللَّهُمَّ آتِ نُفُوْسَنَا تَقْوَاهَا، وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا.

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ زَوَالِ نِعْمَتِكَ، وَتَحَوُّلِ عَافِيَتِكَ، وَفُجَاءَةِ نِقْمَتِكَ، وَجَمِيْعِ سُخْطِكَ.

اَللَّهُمَّ اشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا، وَبَلِّغْنَا فِيْمَا يُرْضِيْكَ آمَالَنَا، وَاخْتِمْ بِالصَّالِحَاتِ أَعْمَالِنَا… رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمُ عَلَى عَبْدِهِ وَرَسُوْلِهِ نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

 

 

 

 

Download PDF Materi Khutbah Jumat dakwah.id Abu Darda’, Teladan dalam Kebijaksanaan
di sini:

DOWNLOAD PDF

Semoga bermanfaat!

Topik Terkait

Abdul Halim Tri Hantoro, S.Pd.I

Mahasiswa pascasarjana Manajemen Pendidikan Islam di IAIN Surakarta. Konsentrasi di bidang Tafsir, Hadits dan Tazkiyah. Penikmat kitab Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan karya Syaikh Abdurrahman bin Nashir as-Sa'di, Kitab hadits Shahih Fadhailul A'mal karya Syaikh Ali Bin Nayif Asy-Syahud, kitab Madarijus Salikin Manazil Iyyaka Na'budu wa Iyyaka Nasta'in karya Ibnu Qayyim al-Jauziyah. Aktif mengajar di beberapa kajian tafsir, hadits, dan kajian umum.

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.