Gambar Terapi Penyehat Jiwa Rahasia Shalat dalam Mencegah Maksiat dan Syahwat dakwah.id

Rahasia Shalat: Cegah Maksiat Hingga Terapi Fungsi Sosial

Terakhir diperbarui pada ·

Shalat memiliki banyak keutamaan, baik yang bersifat vertikal (kepada Allah) maupun horizontal (kepada sesama manusia). Dalam artikel ini, kita akan membahas rahasia shalat sebagai terapi penyehat jiwa dan fisik.

Tujuannya, agar kita mampu menjadi manusia dengan fungsi sosial yang baik, terarah, dan kontinu.

Terdapat korelasi kuat antara shalat, syahwat, dan fungsi sosial. Ketiganya saling memengaruhi satu sama lain. Oleh karena itu, kita tidak bisa mengabaikan salah satunya.

Lemah Shalat Akibat Mengikuti Syahwat

Fondasi terpenting bagi seorang muslim adalah shalat. Namun, musuh utama yang sering menggerogoti ibadah ini adalah syahwat.

Tidak ada seorang pun yang mampu memperturutkan syahwatnya sekaligus memiliki kualitas shalat yang prima.

Mengikuti syahwat akan membuat seseorang semakin meremehkan shalat. Ia mulai menunda pelaksanaannya, kehilangan semangat, dan tidak khusyuk.

Ia juga menjadi malas saat azan berkumandang. Akibat paling fatal, ia perlahan meninggalkan shalat satu per satu hingga akhirnya tidak shalat lima waktu sama sekali.

Dalam hal ini, Allah subhanahu wataala menegaskan,

فَـخَلَفَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ اَضَاعُوا الصَّلٰوةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوٰتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّاۙ

Kemudian, datanglah setelah mereka (generasi) pengganti yang mengabaikan shalat dan mengikuti hawa nafsu. Mereka kelak akan tersesat.” (QS. Maryam: 59)

Melalui ayat ini, Allah menyebutkan alasan utama seseorang menyepelekan shalat, yakni karena mengumbar syahwat. Shalat yang mereka tinggalkan bahkan bukan sekadar shalat sunah, melainkan shalat wajib lima waktu.

Ghayya (غَيًّا) adalah nama sebuah lembah di neraka Jahanam. Allah menyiapkan lembah ini bagi mereka yang terus-menerus berzina, meminum khamar, dan memakan riba. Tempat ini juga diperuntukkan bagi anak durhaka dan pemberi kesaksian palsu. (An-Nasafi, Madîrik at-Tanzîl wa Ḥaqâiq at-Tawîl, 2/342)

Perilaku mengumbar syahwat berawal dari lepasnya kendali pancaindra dan hilangnya rasa malu. Proses ini terjadi secara perlahan hingga akhirnya menjadi kebiasaan.

Saat seorang laki-laki semakin mudah mengumbar pandangan—baik secara langsung maupun melalui media sosial—semangatnya untuk menunaikan shalat akan semakin melemah.

Materi Khutbah Jumat: 8 Hal yang Perlu Kita Ketahui tentang Ibadah Shalat

Begitu pula pada perempuan.

Saat seorang perempuan kehilangan rasa malu dengan memakai pakaian terbuka di tempat umum, kekuatan imannya untuk mendirikan shalat pun ikut merapuh.

Seseorang yang meremehkan shalat perlahan akan terbiasa melakukan maksiat.

Shalat adalah fondasi terkuat dan tiang agama. Jika tiangnya retak dan rapuh, bangunan agama dalam dirinya pasti akan roboh.

Allah juga memperingatkan ancaman celaka bagi orang yang meremehkan shalat dalam Surat al-Ma’un. Ancaman ini secara khusus ditujukan kepada kaum muslimin yang masih melalaikan ibadah tersebut.

فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَۙ ۝٤ الَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَۙ ۝٥

Celakalah orang-orang yang melaksanakan shalat,(yaitu) yang lalai terhadap shalatnya.” (QS. Al-Ma’un: 4—5)

Kata sâhûn (سَاهُونَ) memiliki arti menunda shalat wajib dari waktunya, atau bahkan tidak melaksanakannya sama sekali. Makna lainnya adalah tetap mendirikan shalat, namun meremehkan pelaksanaannya: dalam mendirikannya dan ketepatan waktunya.

Menurut Tafsir Mujahid dan Tafsir Ibnu Jarir ath-Thabari, kata ini tidak merujuk pada sifat lupa atau tidak fokus saat sedang shalat. Kata ini lebih merujuk pada sikap menyepelekan dan menunda-nunda pelaksanaan ibadah.

Bahkan, Ibnu Abbas menafsirkan ayat ini untuk orang munafik. Mereka rajin shalat ketika berada di keramaian atau sedang disaksikan orang lain. Namun, mereka sama sekali tidak shalat saat sedang sendirian. (Tafsir ath-Thabari, 24/661—662; Tafsir ats-Tsalabi, 10/305; Tafsir Mujahid, hlm. 753)

Rahasia Shalat: Kedisiplinan sebagai Kunci Mencegah Maksiat

Allah subhanahu wataala menegaskan bahwa seorang hamba akan selalu berada dalam kebaikan selama kualitas shalatnya terjaga.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ ۖ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ

Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Ankabut: 45)

Tafsir an-Nasafi menjelaskan rahasia shalat yang sering terlupakan: kelalaian dalam shalat menjadi alasan utama Allah menyiapkan Lembah Ghayya di kerak neraka Jahanam. Sebaliknya, cara terbaik untuk bertobat dari perbuatan keji dan mungkar adalah dengan merutinkan shalat lima waktu.

Terkait Surat al-Ankabut ayat 45, an-Nasafi menjelaskan bahwa seorang muslim harus menjaga shalatnya agar terhindar dari perbuatan keji seperti zina.

Shalat juga mencegah perbuatan mungkar, yakni tindakan yang melanggar syariat dan akal sehat. Siapa pun yang senantiasa menegakkan shalat, Allah akan menjauhkannya dari berbagai perbuatan tercela. (An-Nasafi, Madârik at-Tanzîl, 2/679)

Baca Juga: 9 Kerugian Jika Meninggalkan Shalat Subuh

Shalat adalah tolok ukur keimanan. Jika ibadah ini diremehkan terus-menerus, seseorang bisa terjerumus ke dalam perzinaan dan kesyirikan, nas-alullâhal-âfiyah.

Menurut riwayat Abdullah bin Abbas dari Abu Thalhah, perbuatan keji (al-faḥsyâ`) merujuk pada zina. Sementara itu, perbuatan mungkar merujuk pada dosa menyekutukan Allah atau syirik. (Ibnu Abi Hatim, Tafsîr al-Qur-ân al-Azhîm, 9/3067)

Rahasia shalat lainnya adalah, kerusakan umat manusia selalu berbanding lurus dengan kebiasaan meninggalkan shalat. Dari Abdullah bin Umar ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

يَكُوْنُ فِيْ أُمَّتِيْ مَنْ يَقْتُلُ عَلَى الْغَضَبِ، وَيَرْتَشِيْ فِي الْحُكْمِ، وَيُضَيِّعُ الصَّلَوَاتِ، وَيَتَّبِعُ الشَّهَوَاتِ، وَلَا تُرَدُّ لَهُ رَايَةٌ. قِيلَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَمُؤْمِنُونَ هُمْ؟ قَالَ: بِالْإِيمَانِ يُقِرُّوْنَ.

Akan ada dalam umatku orang yang membunuh lantaran emosi, menyogok dalam hukum ,meremehkan shalat, dan mengikuti syahwat. Tidak ada satu bendera pun yang bisa menghentikan mereka.” Lalu Rasul ditanya, “Ya Rasulullah, apakah mereka itu semua termasuk orang mukmin?” Beliau menjawab, “Mereka termasuk orang yang meyakini keimanan.” (As-Suyuti, ad-Durrul Mantsûr, 10/98)

Kalimat “Tidak ada satu bendera pun yang bisa menghentikan mereka” menunjukkan bahwa gelombang kerusakan manusia pasti akan terjadi.

Bahkan, tidak ada satu pun kelompok (yang disimbolkan dengan kata “bendera”) yang mampu menghentikan meluasnya dampak kerusakan tersebut.

Shalat dan Al-Ma’un

Surat al-Ma’un juga memperingatkan ancaman celaka (wail) bagi pelaku tiga dosa: (1) meremehkan shalat, (2) berbuat riya, dan (3) enggan bersedekah.

Kata al-Maun sendiri berarti perhiasan atau barang-barang rumah tangga yang berguna untuk dipinjamkan, seperti ember, kapak, dan alat masak. (As-Suyuthi, al-Durrul Mantsūr, 15/689—691)

Ketiga dosa yang tercantum dalam Surat al-Ma’un tersebut saling berkaitan erat.

Kitab tafsir yang sama mencela orang-orang yang pelit meminjamkan alat rumah tangga kepada saudaranya. Sikap kikir terhadap harta duniawi ini dipertegas dalam ayat ketiga Surat al-Ma’un,

وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ ۝٣

Dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un: 3)

Praktik dari ayat ini sering muncul sesuai dengan jabatan dan kedudukan seseorang di masyarakat. Seorang pejabat mungkin membuat kebijakan yang tidak berpihak pada orang miskin.

Seorang tokoh masyarakat mungkin mengabaikan warganya yang kesusahan.

Sementara itu, orang kaya enggan mengeluarkan hartanya untuk membantu kaum duafa.

Benang merah dari ketiga dosa dalam Surat al-Ma’un adalah kuatnya nafsu dan syahwat duniawi. Seseorang meninggalkan shalat semata-mata demi mengejar urusan dunia, sejalan dengan peringatan di Surat Maryam ayat 59.

Syahwat yang paling harus diwaspadai berpusat pada dua hal: mulut dan kemaluan.

Teks hadits yang membahas larangan ini menggunakan bahasa kiasan untuk menyebut anggota tubuh. Hal ini bertujuan untuk menjaga adab kesopanan, sekaligus memperingatkan besarnya potensi maksiat di area tersebut.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ وَقَاهُ اللَّهُ شَرَّ مَا بَيْنَ لِحْيَيْهِ وَشَرَّ مَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ دَخَلَ الْجَنَّةَ.

Barang siapa yang Allah jaga dari keburukan antara dua jenggotnya (mulut) dan keburukan antara kedua kakinya (kemaluan & dubur), maka akan masuk surga.” (HR. At-Tirmidzi no. 2409. Hasan)

Dalam riwayat lain, Rasulullah bersabda,

مَنْ يَضْمَنْ لِيْ مَا بَيْنَ لَحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ ‌أَضْمَنْ ‌لَهُ الْجَنَّةَ.

Barang siapa yang menjamin bisa menjaga antara dua janggutnya (mulut) dan menjaga yang ada di antara kedua pahanya, maka dijamin surga baginya.” (HR. Al-Bukhari no. 6109)

Terkait Surat al-Ma’un ayat 3, mulut yang seharusnya digunakan untuk kebaikan sering kali berbalik menjadi sumber kejahatan. Salah satu dosa mulut yang mendatangkan kehancuran (halâk) adalah memakan harta anak yatim. (Al-Fayumi, Fatḥul Qarîb al-Mujîb, 10/300)

Ngaji Fikih #72: Cara Menata Niat dalam Shalat

Surat al-Ma’un juga menyindir orang-orang yang tidak mau berbagi. Mereka biasanya sangat egois dan hanya mengejar keuntungan pribadi.

Sikap egois ini bermula dari kebiasaan meninggalkan shalat. Sekalipun mereka mengerjakannya, ibadah tersebut dipenuhi dengan sifat riya.

Maka dari itu, tidak heran jika Umar bin Khatthab menjadikan shalat sebagai tolok ukur utama keberhasilan seseorang. Beliau berkata, “Barang siapa yang mengabaikan shalat, maka ia akan lebih mengabaikan hal-hal lainnya.” (Anas bin Malik, al-Muwwatha’, 2/9).

Terdapat pula hadits marfuk yang secara tegas berbunyi,

لَا حَظَّ فِي الْإِسْلَامِ لِأَحَدٍ تَرَكَ الصَّلَاةَ.

Tidak ada bagian dalam Islam bagi orang yang meninggalkan shalat.” (Abdurrazaq, al-Mushannaf, 3/389)

Menyingkap Rahasia Shalat sebagai Proses Terapeutik

Terdapat satu rahasia shalat yang jarang diketahui. Rutin mendirikan shalat akan menumbuhkan kesehatan fisik dan mental. Pada akhirnya, kesehatan holistik ini akan sangat bermanfaat bagi hubungan sosial.

Safiruddin (2019: 89) mengaitkan manfaat shalat terhadap kesehatan mental ini dengan Surat al-A’raf ayat 31.

Shalat akan menekan sisi egois manusia. Melalui shalat, manusia akan tumbuh menjadi pribadi yang rendah hati, berempati, dan peka terhadap sesama. (Safirudin & Sholihah, “Manfaat Shalat untuk Kesehatan Mental: Sebuah Pendekatan Psikoreligi Terhadap Pasien Muslim”, dalam Qaluman: Jurnal Pendidikan, Sosial dan Agama, vol. 11 no. 1, 2019, hlm. 89)

Jurnal Safiruddin juga menyebutkan bahwa shalat berfungsi sebagai energi interpersonal. Hal ini sejalan dengan pesan Surat al-Ma’un ayat 3. Orang yang mendustakan agama adalah mereka yang kehilangan energi interpersonalnya, sehingga enggan mengajak orang lain untuk memberi makan kaum miskin.

Jika kualitas shalat seseorang baik, hubungan interpersonalnya otomatis akan menjadi positif. Ia akan memiliki empati dan rasa saling pengertian yang kuat. Sebaliknya, orang yang enggan berinfak dan bersedekah biasanya jauh lebih egois.

Oleh karena itu, formula terbaik untuk menekan ego sekaligus memupuk kepekaan sosial adalah dengan merutinkan shalat.

Kesimpulan

Seseorang yang rajin memperbaiki shalatnya akan lebih mudah mengemban amanah dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Oleh karena itu, rasanya mustahil mempercayakan sebuah lembaga sosial kepada pengurus yang tidak mendirikan shalat. Sebab, shalat adalah barometer utama untuk mengontrol dan memaksimalkan kompetensi diri.

Dengan menjaga shalat lima waktu, kita terhindar dari ancaman Surat al-Ma’un. Lebih dari itu, setiap gerakan dan rutinitas shalat akan menjadi proses terapeutik yang utuh untuk menyehatkan mental sekaligus fisik kita. Wallahu alam bish-shawab. (dakwah.id)

Baca juga artikel Refleksi menarik lainnya:

Topik Terkait

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading