Ngaji Fikih #19: Wanita Haid dan Nifas Dilarang Melakukan 9 Hal Ini

0 45

Syariat Islam memberi batasan tertentu kepada wanita haid dan nifas dalam hal ibadah. Tujuannya untuk menjaga kemuliaan syariat itu sendiri. Para wanita muslimah harus paham tentang batasan-batasan tersebut agar tidak melewati garis yang ditentukan.

Apa saja batasan larangan yang harus diperhatikan oleh setiap wanita haid dan nifas?

Serial Ngaji Fikih #19 kali ini akan menjelaskan 9 larangan bagi wanita haid dan nifas.

Untuk membaca artikel serial Ngaji Fikih sebelumnya, silakan BACA DI SINI.

Pertama: Tidak boleh mendirikan shalat

Wanita haid dan nifas dilarang mendirikan shalat. Karena di antara syarat sah shalat adalah suci dari hadats dan najis. Haid dan nifas termasuk hadats, sehingga ia menjadi penghalang bagi wanita untuk melakukan shalat.

Larangannya bukan hanya shalat fardhu saja, tetapi juga shalat nafilah atau shalat mutlak yang lain; seperti shalat jenazah, shalat gerhana, dan lain sebagainya.

Rasulullah pernah berkata kepada Fatimah binti Abu Hubaisy:

إِذَا أَقْبَلَتْ الحَيْضَةُ فَدَعِّي الصَّلاَةَ، فَإِذَا أَدْبَرَتْ فَاغْسِلِيْ عَنْكِ الدَّمَّ فَصَلِّي

Apabila darah haid datang maka tinggalkanlah shalat. Apabila darah haid telah pergi maka cucilah darah darimu (mandilah) dan kemudian shalatlah.” (HR. Al-Bukhari No. 320)

Wanita haid dan nifas yang berwudhu dan kemudian tetap melakukan shalat maka shalatnya tidak sah atau batal, dia pun berdosa atas perbuatannya.

 

Kedua: Tidak boleh menjalankan puasa

Wanita haid dan nifas dilarang menjalankan puasa. Berdalih dengan hadits Aisyah, dia berkata,

كُنَّا نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّوْمِ وَلاَ نُؤْمَرُ بِقَضَاءِ الصَّلاَةِ

Kami; kaum wanita, diperintahkan untuk mengqadha puasa dan kami tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat.” (HR. Muslim No. 335)

Hadits di atas menjadi petunjuk bahwa wanita haid pada zaman Nabi tidak menjalankan ibadah puasa. Hanya saja mereka diperintahkan untuk mengqadha’ puasa yang mereka tinggalkan. Lain halnya dengan shalat, mereka tidak diperintahkan untuk mengqadha’-nya.

Artikel Adab: Benarkah Busana Muslimah Harus Warna Hitam?

Abu Sa’id Al-Khudri pernah meriwayatkan hadits tentang wanita haid dan nifas tidak shalat dan tidak berpuasa. Yaitu ketika Rasulullah ditanya tentang “kekurangan” kaum wanita, beliau bersabda,

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّي وَلَمْ تَصُوْمْ؟

Bukankah wanita itu jika haid dia tidak mendirikan shalat dan tidak perpuasa?” (HR. Al-Bukhari No. 1951)

 

Ketiga: Tidak boleh berthawaf

Thawaf itu seperti shalat. Shalat dan thawaf adalah ibadah yang mengharuskan thaharah, sehingga tidak boleh dilakukan oleh orang yang berhadats; seperti contohnya oleh wanita yang sedang haid dan nifas.

Nabi pernah berkata kepada Aisyah, saat itu Aisyah ikut ihram dalam haji wada’, namun Aisyah dalam kondisi haid, Rasulullah bersabda,

فَاقْضِي مَا يَقْضِي الحَاجُّ، غَيْرَ أَنْ لَا ‌تَطُوفِي ‌بِالْبَيْتِ

Lakukanlah apa saja seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang berhaji, kecuali engkau berthawaf di Baitullah.” (HR. Al-Bukhari)

 

Keempat: Tidak boleh membaca al-Quran

Wanita yang sedang haid dan nifas tidak boleh membaca al-Quran. Dalilnya adalah sabda Rasulullah,

لاَ تَقْرَأُ الحَائِضُ وَالجُنُبُ القُرْآنَ

Wanita haid dan junub tidak (boleh) membaca al-Quran.” (HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)

Maksud larangan di atas adalah bacaan yang keluar dari lisannya. Sehingga wanita haid dan nifas tetap boleh membaca al-Quran dengan hatinya.

Pun para ulama muta’akhirin membolehkan wanita haid dan nifas membaca al-Quran sebagai kalimat-kalimat doa, atau boleh membaca karena khawatir akan lupa dengan ayat-ayat al-Quran, atau boleh membaca untuk kepentingan belajar mengajar.

 

Kelima: Tidak boleh membawa dan menyentuh al-Quran

Wanita haid dan nifas tidak boleh membawa dan menyentuh al-Quran karena al-Quran adalah Kalam Allah yang disucikan. Tidak boleh menyentuh cover-nya, atau menyentuh lembarannya. Apabila menyentuhnya saja tidak boleh, maka membawanya tentu lebih tidak boleh.

Namun demikian, wanita haid dan nifas boleh membawa kitab tafsir al-Quran, yang di dalamnya selain memuat lafal-lafal al-Quran itu sendiri juga berisi tentang penjelasan-penjelasan ayat al-Quran. Alasannya adalah karena kitab tafsir tidak dianggap sebagai mushaf al-Quran secara adat kebiasaan.

Allah berfirman,

لَّا يَمَسُّهُۥٓ إِلَّا ٱلۡمُطَهَّرُونَ

Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan.” (QS. Al-Waqi’ah: 79)

Rasulullah juga bersabda,

لاَ يَمُسُّ القُرْآنَ إِلَّا وَأَنْتَ طاَهِرٌ

Tidak boleh menyentuh al-Quran kecuali engkau suci.” (HR. Malik)

 

Keenam: Tidak boleh masuk ke dalam masjid jika takut mengotori

Apabila takut akan mengotori masjid, atau mengotori bagian yang biasa digunakan untuk shalat maka wanita haid dan nifas tidak boleh masuk ke dalam masjid, apalagi berdiam diri di dalamnya.

Rasulullah bersabda,

لاَ أُحِلُّ المَسْجِدَ لِجُنُبٍ وَلاَ حَائِضٍ

Aku tidak menghalalkan masjid bagi orang yang junub dan haid.” (HR. Abu Dawud No. 232)

Namun sekiranya aman dari mengotori masjid, maka wanita haid dan nifas boleh masuk ke dalam masjid. Contohnya, masuk ke dalam masjid untuk mengambil barang yang tertinggal dan kemudian bergegas keluar.

Artikel Adab: Pakaian Muslimah Harus Memenuhi 8 Syarat Ini

Wanita haid dan nifas juga boleh berdiam diri di dalam masjid, yaitu berdiam di tempat-tempat yang tidak biasa digunakan untuk mendirikan shalat. Tentunya ketika dirinya merasa aman dari mengotori masjid.

 

Ketujuh: Tidak boleh bersetubuh

Dilarang menyetubuhi wanita yang sedang haid maupun nifas. Yaitu persetubuhan pada farjinya. Allah berfirman:

فَٱعۡتَزِلُواْ ٱلنِّسَآءَ فِي ٱلۡمَحِيضِ وَلَا تَقۡرَبُوهُنَّ حَتَّىٰ يَطۡهُرۡنَۖ

Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci.” (QS. Al-Baqarah: 222)

Siapa menyetubuhi istrinya yang sedang haid atau nifas dengan sengaja maka dia berhak mendapatkan hukuman dan kemudian hendaknya bertaubat atas perbuatannya.

Bagi orang yang melanggar larangan ini, disunnahkan untuk membayar kafarah sebesar satu dinar, atau setengah dinar bagi kaum fakir dan miskin. Kafarah ini dibayar oleh suami secara khusus, sebab dia telah menyetubuhi wanita yang sedang tidak boleh disetubuhi.

 

Kedelapan: Tidak boleh bercumbu antara pusar dan lutut

Tidak boleh mencumbui wanita haid dan nifas pada bagian antara pusar dan lutut.

Berdasarkan riwayat Muadz bin Jabal, dia bertanya kepada Nabi tentang apa saja yang dihalalkan bagi laki-laki terhadap istrinya yang sedang haid. Nabi menjawab,

مَا فَوْقَ الإِزَارِ

Selain pada bagian yang tertutupi sarung.” (HR. Abu Daud No. 213)

Maksudnya adalah bagian antara pusar dan lutut. Hikmah larangan ini karena bisa jadi mengundang pada persetubuhan yang sesungguhnya. Untuk mengambil langkah kehati-hatian maka dilaranglah mencumbui wanita haid dan nifas pada bagian yang tertutupi sarung.

Hanya saja ada pendapat lain yang tidak mengharamkan mencumbui wanita haid dan nifas di bagian antara pusar dan lutut. Kelompok pendapat ini berdalih dengan hadits yang dibawa oleh Anas bin Malik, Rasulullah bersabda,

اِصْنَعُوْا كُلَّ شَيْءٍ إِلاَّ النِّكَاحُ

Lakukan apa saja (kepada wanita yang haid) kecuali persetubuhan.” (HR. Muslim No. 302)

 

Kesembilan: Tidak boleh melakukan perceraian

Tidak boleh menceraikan wanita yang sedang haid. Haram hukumnya. Dalam istilah fikih, cerai yang dilakukan ketika haid disebut dengan cerai bidi.

Cerai seperti ini dilarang oleh syariat. Alasannya karena akan memperpanjang masa iddah dari masa yang seharusnya. Oleh sebab itu, pihak laki-laki harus merujuk kembali wanita yang telah dia cerai secara bidi.

Allah berfirman:

فَطَلِّقُوهُنَّ لِعِدَّتِهِنَّ

Maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar).” (QS. Ath-Thalaq: 1)

Selain yang telah disebutkan di atas, wanita haid dan nifas juga tidak boleh melakukan sujud tilawah serta tidak boleh beri’tikaf. Sebab dua ibadah tersebut mengharuskan pelakukan suci dari hadats besar. Wallahu alam. (Arif Hidayat/dakwah.id)

 

Daftar Pustaka:

  1. Wahbah Az-Zuhaili, Al-Wajiz fi Al-Fiqhi Al-Islami, 1/122-123, Dar Al-Fikr, cet. 2005.
  2. Muhammad Az-Zuhaili, Al-Mutamad fi Al-Fiqhi Al-Islami, 1/116-119, 125, Dar Al-Qalam, cet. 3/2011.
  3. Hisyam Kamil, Al-Imta bi Syarhi Matan Abi Syuja’, hal. 66-67, Dar Al-Manar, Cet. 1/2011.

 

 

 

Serial Ngaji Fikih sebelumnya:
Ngaji Fikih #18 Muslimah Wajib Belajar Fikih Haid Dan Nifas

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat
Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.