Materi Khutbah Jumat Kenali Karakter Ulama Panutan Umat

1 1,134

Materi Khutbah Jumat
Kenali Karakter Ulama Panutan Umat

Oleh: Abdul Halim Tri Hantoro, S.Pd.I

 

*) Link download PDF materi khutbah Jumat ini ada di akhir tulisan.

اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِي عَلَّمَ الْقُرْآنَ وَخَلَقَ الْإِنْسَانَ وَعَلَّمَهُ الْبَيَانَ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ

أَيُّهَا الْمُؤْمِنُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فَقَالَ تَعَالَى:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فَإنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْد

Rasa syukur tak henti-hentinya kita haturkan ke hadirat Yang Maha Pemberi, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yakni Allah subhanahu wata’ala, atas pemberian-Nya yang demikian banyak, Kasih-Nya yang demikian luas, dan sayang-Nya yang tak bertepi. Hanya kepada-Nya kita menyembah dan hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan.

Allah berfirman,

قُلْ لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمٰتِ رَبِّيْ لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ اَنْ تَنْفَدَ كَلِمٰتُ رَبِّيْ وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهٖ مَدَدًا

Katakanlah (Muhammad), ‘Seandainya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Rabbku, maka pasti habislah lautan itu sebelum selesai (penulisan) kalimat-kalimat Rabbku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula).’” (QS. Al-Kahfi: 109)

Shalawat dan salam semoga tercurah untuk baginda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Keluarga dan para sahabatnya. Semoga keselamatan juga Allah curahkan untuk umatnya yang selalu berpegang teguh kepada ajarannya.

Kami wasiatkan kepada diri kami juga kepada jamaah sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah subhanahu wata’ala dengan sebenar-benar ketakwaan. Takwa dalam arti selalu tunduk dan patuh terhadap segala perintah-Nya serta menjauhi segala larangan-Nya.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102)

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Tidaklah Allah subhanahu wata’ala mengutus para nabi dan rasul melainkan untuk menyampaikan risalah Tauhid kepada manusia. Mengembalikan manusia pada fitrahnya yang lurus, yakni meyakini bahwasanya Allah saja yang patut disembah dan diagungkan bukan selain-Nya.

Melalui lisan para nabi dan rasul, agama Islam bisa berkembang luas ke berbagai wilayah. Kehadiran para utusan Allah mampu memberikan perubahan di suatu negeri yang dahulunya dipenuhi kemungkaran menjadi negeri yang diwarnai dengan hal-hal yang makruf.

Para nabi dan rasul menjadi manusia terdepan dalam menentang kezaliman penguasa. mereka akan selalu  berpihak kepada kelompok yang lemah lagi tertindas.

Kepribadian para Nabi dan Rasul tidak pernah mampu dibeli dengan harta duniawi. Tutur katanya keluar lewat hati yang tulus dan murni tanpa pesanan dari sana sini.

Selain daripada itu, mereka adalah orang yang lisannya selalu basah dengan zikrullah. Dua kelopak mata mereka mudah mengeluarkan air mata lantaran takut kepada Allah subhanahu wata’ala.

Allah berfirman,

كَانَ النَّاسُ اُمَّةً وَّاحِدَةً ۗ فَبَعَثَ اللّٰهُ النَّبِيّٖنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ ۖ وَاَنْزَلَ مَعَهُمُ الْكِتٰبَ بِالْحَقِّ لِيَحْكُمَ بَيْنَ النَّاسِ فِيْمَا اخْتَلَفُوْا فِيْهِ ۗ

Manusia itu (dahulunya) satu umat. Lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan. Dan diturunkan-Nya bersama mereka Kitab yang mengandung kebenaran, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan.” (QS. Al-Baqarah: 213)

Ibnu Qayyim al-Jauziyah menggambarkan keadaan para nabi dan rasul dalam aktivitas dakwah mereka,

Jalan perjuangan yang membuat Adam lelah, Nuh menangis, Ibrahim al-Khalil dilemparkan ke dalam api, Ismail rela disembelih, Yusuf dijual dengan harga yang murah dan dipenjara bertahun-tahun, Zakariya digergaji, Yahya disembelih, Ayyub mengalami sakit yang sangat berat, Daud menangis di luar batas kebiasaan, Isa melarikan diri dalam kecemasan, dan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam bergelut dengan kemiskinan dan menghadapi berbagai macam cobaan.” (Jalan Juang, kisah keteladanan ulama menaklukkan ujian, Dr. Masyari Sa’id Al-Mathrafi, 14-15)

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Para Ulama adalah pewaris Nabi, demikian sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang disebutkan dalam kitab Shahih al-Bukhari. Merekalah penerus perjuangan para nabi dan rasul.

Mereka adalah orang yang siap menghadapi segala risiko dalam menyampaikan al-Haq. Merekalah yang siap melakukan perlawanan terhadap setiap pengusung kebatilan yang mewujud dalam bentuk individu, kelompok, atau bahkan penguasa.

Para ulama juga orang-orang yang tulus dalam berdakwah dan membimbing umat tanpa mengharap iming-iming duniawi. Selain dari itu, mereka manusia yang sangat takut kepada Allah subhanahu wata’ala.

Tanpa keberadaan ulama yang menguasai ilmu syariat Islam, mustahil Islam akan tegak.

Kerja sama dan kolaborasi antara pemimpin dan ulama adalah sebuah keharusan dalam membumikan syariat Islam di tengah masyarakat.

Suatu komunitas masyarakat yang telah memiliki pemimpin sekalipun, jika mengabaikan keberadaan ulama yang mengerti betul rincian hukum Islam, sampai kapan pun tidak akan mampu mewujudkan tegaknya Islam.

Persis seperti penjelasan Ibnu Qayyim al-Jauziyah,

Islam dapat ditegakkan selama ada dua kelompok yaitu ulama dan pemimpin, seluruh manusia tunduk dan patuh kepada keduanya. Kebaikan dunia akan terwujud lantaran kebaikan keduanya, demikian juga rusaknya dunia dikarenakan rusaknya keduanya.”

Abdullah Ibnu Mubarak juga pernah menjelaskan, “Ada dua kelompok apabila keduanya baik maka baiklah manusia, dan apabila keduanya rusak maka rusaklah manusia.”

Lalu ada yang bertanya kepada beliau, “Siapakah itu?”

Beliau menjawab, “Para pemimpin dan ulama.” (I’lamul Muwaqi’in ‘an Rabbil ‘Alamin, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, 1/9)

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Ulama sejati yang biasa kita dengar dengan istilah dengan Ulama Rabbani, mereka adalah ahli ilmu yang meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para sahabat dalam masalah berbagai sisi kehidupan. Mulai dari perkara keyakinan hingga perkara amal anggota badan. Mulai dari urusan remeh yang bersifat individu, hingga urusan sosial dan pemerintahan.

 

5 Karakter Ulama Panutan Umat

Allah subhanahu wata’ala takdirkan kita hidup di zaman yang penuh fitnah. Zaman yang sangat jauh sekali jaraknya dengan zaman di mana Islam dipimpin langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Fitnah-fitnah yang sangat mengerikan itu hampir menimpa semua lini kehidupan. Salah satu fitnah yang cukup mengerikan adalah fenomena adanya ulama suu’.

Ulama suu’ adalah orang-orang yang mengenakan baju kebesaran ulama, perilaku fisiknya mirip perilaku ulama, arah bicaranya seperti arah bicara ulama, namun pada hakikatnya mereka menyeru umat menuju pintu-pintu neraka.

Mereka menyeru kepada kesesatan namun dengan kemasan yang menarik seolah mereka menyeru pada kebenaran.

Mereka berpenampilan seperti ulama tapi ilmunya jauh di bawah derajat keilmuan ulama. Terlalu sering lisan mereka bicara tanpa ilmu.

Dalil-dalil ayat dan hadits yang keluar dari lisan mereka hanya mereka manfaatkan untuk kepentingan duniawi, jabatan, dan ketenaran, bukan menempatkan dalil sebagaimana mestinya.

Ulama suu’ inilah yang sering dipesan oleh kelompok, organisasi, bahan penguasa untuk mendapatkan legitimasi agama terhadap kepentingan buruk yang sedang ingin mereka capai.

Ulama suu’ inilah yang sering dimanfaatkan untuk memecah belah umat, mengunggulkan satu kelompok dan menjatuhkan kelompok umat Islam lainnya.

Inilah satu di antara fitnah yang sangat luar biasa mengerikan yang berada di sekeliling kita.

Oleh sebab itu, mengetahui karakter ulama panutan yang sesungguhnya menjadi penting bagi setiap muslim.

Berikut ini 5 karakter ulama panutan yang perlu kita ketahui. Sebagai standar untuk menentukan mana ulama yang benar-benar bersih dan lurus. Sehingga dapat kita ikuti sebagai teladan dan tempat untuk bertanya dan meinta bimbingan agama.

 

Pertama: Ulama Panutan Selalu Takut kepada Allah

Adanya rasa takut kepada Allah dalam diri merupakan ciri utama dan mutlak dari seorang ulama. Adanya rasa takut kepada Allah subhanahu wata’ala merupakan karakter ulama panutan yang mutlak.

Allah berfirman,

اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ غَفُوْرٌ

Di antara hamba Allah yang takut kepada-Nya, hanyalah para ulama. Sungguh, Allah Mahaperkasa, Maha Pengampun.” (QS. Fathir: 28)

Apa maksud dari takut kepada Allah subhanahu wata’ala? mari kita cermati penjelasan seorang ahli tafsir yang bernama Imam al-Qurthubi berikut ini.

Imam Al-Qurthubi menjelaskan, yaitu mereka adalah para ulama yang takut akan kedudukan Allah. Mengetahui bahwasanya Allah berkuasa terhadap segala sesuatu, dan ia meyakini akan balasan terhadap setiap perbuatan maksiat. (Tafsir Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, Imam al-Qurthubi, 14/343)

Rasa takut kepada Allah subhanahu wata’ala sebagai karakter ulama panutan ini juga banyak ditegaskan oleh para ulama salaf.

Ar-Rabi’ bin Anas mengatakan, “Orang yang tidak takut kepada Allah tidaklah disebut dengan orang alim.”

Mujahid berkata, “Orang yang disebut dengan alim atau faqih adalah orang yang takut kepada Allah.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Cukuplah orang yang takut kepada Allah itu dikatakan orang yang alim dan yang tidak takut kepada-Nya adalah Jahil.”

Jika kita menjumpai seseorang yang mengaku sebagai ulama, namun tidak tampak rasa takut kepada Allah subhanahu wata’ala, maka waspadalah, kita khawatir orang seperti ini sejatinya bukanlah sosok ulama.

 

Kedua: Ulama Teladan Senantiasa Sesuai antara Ilmu dan Amal

Amalan dalam keseharian seorang ulama semestinya sesuai dengan ilmu yang ia kuasai. Kesesuaian antara amal dengan ilmu ini menjadi karakter ulama umat panutan.

Ulama panutan bukanlah orang yang berbangga diri dengan pengetahuan yang banyak dan luas. Ulama panutan adalah manusia mulia yang amalannya sesuai dengan ilmunya.

Sebab, orang yang benar-benar memahami ilmu yang telah dipelajarinya, ia pasti tahu bahwa kewajiban setelah berilmu adalah mengamalkan ilmunya. Ulama yang tidak mengamalkan ilmunya ibarat pohon tanpa buah.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

مَثَلُ الَّذِيْنَ حُمِّلُوا التَّوْرٰىةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوْهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ اَسْفَارًاۗ بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰيٰتِ اللّٰهِ ۗوَاللّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ

Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Jumu’ah: 5)

Ulama yang banyak ilmunya tetapi sedikit amalnya, akan terkena ancaman dari Allah subhanahu wata’ala sebagaimana dalam firman-Nya:

اَتَأْمُرُوْنَ النَّاسَ بِالْبِرِّ وَتَنْسَوْنَ اَنْفُسَكُمْ وَاَنْتُمْ تَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-Baqarah: 44)

Berkenaan dengan ayat di atas, Syaikh Utsaimin di dalam Syarh Riyadhu ash-Shalihin menjelaskan,

“Ayat di atas merupakan dalil bahwa manusia yang melanggar apa yang dia larang, tidak mengamalkan apa yang ia perintahkan, maka dia telah menyelisihi jalan para rasul. Karena para rasul tidak mungkin menyelisihi apa yang mereka larang manusia dari mengerjakannya.”

Tidak ada ceritanya seorang ulama, dai, atau ustadz yang meninggalkan shalat lima waktu berjamaah tanpa ada uzur syar’i.

Tidak ada ceritanya seorang ulama, dai, atau ustadz yang keluar rumah mengenakan celana pendek yang dapat menyingkap bagian atas lututnya, atau menampakkan pusarnya.

Tidak ada ceritanya seorang ulama, dai, atau ustadz yang masih merasa biasa-biasa-biasa saja bermuamalah secara ribawi.

Tidak ada ceritanya seorang ulama, dai, atau ustadz yang masih melanggar perintah-perintah Allah subhanahu wata’ala, sementara ia tahu dan paham ilmunya.

Jika kita masih menjumpai ulama, dai, atau ustadz yang berperilaku demikian, kita khawatir, jangan-jangan dia ini sebenarnya bukan sosok yang pantas dijadikan sebagai panutan.

 

Ketiga: Ulama Panutan adalah Qudwah Shalihah

Ulama adalah panutan. Ulama adalah teladan. Teladan pada kebaikan. Ini menjadi karakter ulama panutan yang sangat penting untuk kita pahami.

Tugas para dai adalah menyeru umat kepada kebenaran dan kebaikan. Tugas para ustadz dan ulama adalah membimbing umat menuju pribadi yang lebih shalih dan bertakwa.

Tugas-tugas tersebut adalah tugas yang sangat mulia. Tidak mudah mengemban tugas-tugas tersebut kecuali mereka yang benar-benar memiliki kemampuan untuk melakukannya atas petunjuk Allah subhanahu wata’ala.

Ustadz, dai, dan ulama adalah orang-orang pertama yang akan menunjukkan kepada umat kemuliaan Islam dalam wujud keyakinan dan amalan. Sebagaimana posisi mereka sebagai pewaris nabi. Lurusnya keyakinan mereka akan dilihat oleh umat. Perilaku keseharian mereka akan selalu disaksikan oleh umat.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab: 21)

Jika kita menjumpai orang yang mengaku ustadz, dai, atau ulama yang sekilas tampak sangat berwibawa di atas mimbar atau di balik meja kajian, namun dalam kehidupan sehari-hari tampak keyakinannya melenceng dari kebenaran, atau perilakunya tidak selaras dengan perilaku dalam syariat Islam, maka, jangan sekali-kali kita ikuti orang model semacam ini.

Sebab orang seperti ini sama sekali tidak layak sebagai panutan umat, meskipun pada diri mereka terlanjut terdapat stempel nama ulama, ustadz, atau dai.

Sudah jauh-jauh hari Allah mengingatkan kita melalui firman-Nya,

وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا

Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.” (QS. Al-Kahf: 28)

 

Keempat: Ulama Teladan Bukan Penghamba Dunia

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Cara lain kita mengenali ulama yang lurus adalah dengan melihat sikapnya terhadap urusan duniawi.

Seorang ulama, pasti sangat memahami hakikat dunia ini. Seorang ulama panutan umat pasti akan memandang dunia dan gemerlap yang ada di dalamnya tidak lebih dari apa yang telah Allah firmankan.

Allah subhanahu wata’ala berfirman,

وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَعِبٌ وَّلَهْوٌ ۗوَلَلدَّارُ الْاٰخِرَةُ خَيْرٌ لِّلَّذِيْنَ يَتَّقُوْنَۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

Dan kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan senda gurau. Sedangkan negeri akhirat itu, sungguh lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Al-An’am: 32)

Sebagaimana yang telah disampaikan sebelumnya, salah satu fitnah terbesar yang menimpa umat ini adalah keberadaan ulama suu’ yang menyeru kepada pintu Jahanam.

Imam al-Ghazali menyebutkan, salah satu wujud ulama suu’ adalah ulama yang cinta dunia. Oleh beliau, ulama model seperti ini beliau sebut dengan ulama dunia. Yaitu orang yang memiliki ilmu pengetahuan, namun hanya digunakan untuk kesenangan duniawi, kedudukan, dan kemegahan. (Ihya’ Ulum ad-Din, Abu Hamid al-Ghazali, 1/59)

Jika kita mendapati model ustadz, dai, atau ulama yang seperti ini, kita patut khawatir, lalu mempertanyakan kredibilitasnya sebagai sosok ulama panutan.

 

Kelima: Ulama Panutan Selalu Teguh Pendirian

Para nabi dan rasul adalah mereka yang teguh dalam pendirian dan memegang prinsip kebenaran. Oleh karenanya di antara mereka ada yang dijuluki Ulul Azmi (orang yang memiliki pendirian teguh).

Pendirian yang teguh sebagaimana dapat kita lihat gambarannya pada diri para nabi dan rasul ini juga dapat kita lihat pada diri para ulama yang sesungguhnya.

Allah berfirman,

وَكَاَيِّنْ مِّنْ نَّبِيٍّ قَاتَلَۙ مَعَهٗ رِبِّيُّوْنَ كَثِيْرٌۚ فَمَا وَهَنُوْا لِمَآ اَصَابَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَمَا ضَعُفُوْا وَمَا اسْتَكَانُوْا ۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الصّٰبِرِيْنَ

Dan betapa banyak nabi yang berperang didampingi sejumlah besar dari pengikut(nya) yang bertakwa. Mereka tidak (menjadi) lemah karena bencana yang menimpanya di jalan Allah, tidak patah semangat dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar.(QS. Ali ’Imran: 146)

Di panggung sejarah baik yang dahulu maupun yang akan datang, para ulama sejati tidaklah mendapati keadaan yang nyaman, kesenangan, kelonggaran.

Mereka adalah orang-orang yang banyak menemui cobaan dalam dakwah. Maka apabila ada seorang ulama mengira, bahwa menegakkan al-haq ini sepi dan jauh dari halangan, hambatan, dan rintangan maka ingatlah bahwa orang itu sedang berangan-angan kosong.

Salah seorang tabi’in pernah meriwayatkan dari ayahnya yang menjadi sahabat Nabi. Suatu Ketika ayahnya pernah bertanya kepada Nabi,

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَيُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً

Wahai Rasulullah, manusia manakah yang paling berat ujiannya?”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,

الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ فَيُبْتَلَى الرَّجُلُ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَإِنْ كَانَ دِينُهُ صُلْبًا اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ وَإِنْ كَانَ فِى دِينِهِ رِقَّةٌ ابْتُلِىَ عَلَى حَسَبِ دِينِهِ فَمَا يَبْرَحُ الْبَلاَءُ بِالْعَبْدِ حَتَّى يَتْرُكَهُ يَمْشِى عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

Para Nabi, kemudian yang semisalnya dan semisalnya lagi. Seseorang akan diuji sesuai dengan kondisi agamanya. Apabila agamanya begitu kuat (kokoh), maka semakin berat pula ujiannya. Apabila agamanya lemah, maka ia akan diuji sesuai dengan kualitas agamanya. Seorang hamba senantiasa akan mendapatkan cobaan hingga dia berjalan di muka bumi dalam keadaan bersih dari dosa.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Ad-Darimi)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mnejelaskan,

“Allah akan memberikan cobaan terberat bagi setiap mukmin yang sempurna imannya. Cobaan yang semakin berat akan senantiasa menimpa seorang mukmin yang shalih untuk meninggikan derajatnya dan agar ia semakin mendapatkan ganjaran yang besar.” (Al-Istiqamah, Ibnu Taimiyah, 2/260)

Banyak ulama, ustadz, atau dai yang goyah pendiriannya karena tawaran harta. Sebagian lain goyah pendirian karena godaan wanita. Sebagian lain kelu lidahnya ketika telah mendapatkan posisi, jabatan, dan kehormatan.

Jika kita mendapati seorang ulama, ustadz, atau da’i yang telah berubah pendiriannya dalam mempertahankan kebenaran, lalu justru malah menyeru pada kesesatan dan kesenangan duniawi, maka orang yang seperti ini tidak lagi memiliki kelayakan menjadi seorang panutan.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Demikian materi khutbah Jumat yang dapat kami sampaikan pada kesempatan yang mulia ini.

Dengan mengenali karakter-karakter ulama panutan sebagaimana yang telah dijelaskan, semoga memudahkan kita dalam menilai mana ulama, ustadz, atau dai yang layak untuk kita jadikan panutan. Sebagai tempat bertanya, sebagai pemandu belajar ilmu Islam yang benar.

Sebab, karakter ulama panutan umat yang lurus dan sesuai dengan al-Haq itu ukurannya bukan yang tinggi jabatannya, bukan yang banyak hartanya, bukan yang terbanyak jumlah subscriber channel youtube-nya, bukan yang terbanyak jumlah follower akun instagram dan twitter-nya, bukan pula yang terbanyak jumlah like videonya di facebook dan youtube.

Semoga Allah Ta’ala membimbing kita untuk selalu menganugerahi kita dengan keberadaan para ulama yang lurus dan layak menjadi panutan. Amin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

KHUTBAH KEDUA

أَحْمَدُ رَبِّي وَأَشْكُرُهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالمُسْلِمِينَ وَالمُسْلِمَاتِ وَأَلِّفْ بَيْنَ قُلُوْبِهِمْ وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِهِمْ وَانْصُرْهُمْ عَلَى عَدُوِّكَ وَعَدُوِّهِمْ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَائَكَ أَعْدَاءَ الدِّيْنَ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِيْنَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

 

 

 

 

Download PDF Materi Khutbah Jumat dakwah.id
Kenali Ulama Panutan Umat
di sini:

DOWNLOAD PDF

Semoga bermanfaat!

Materi Khutbah Jumat Sebelumnya:
Pentingnya Keberadaan Ulama di Tengah Umat

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat
1 Komen
  1. […] Materi Khutbah Jumat Kenali Karakter Ulama Panutan Umat […]

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.