Materi Khutbah Jumat: Meneladani 4 Karakter Sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah

0 1,385

Materi Khutbah Jumat
Meneladani 4 Karakter Sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah

Oleh: Abdul Halim Tri Hantoro, S.Pd.I

 

 

*) Link download PDF materi khutbah Jumat ada di akhir tulisan.

إنَّ الحمدَ لله نَحمدُهُ وَنَستَعِينُهُ ونَستَغفِرُه، وَنعوذُ بِالله مِن شُرورِ أنفسِنا وَسَيِّئاتِ أعمالِنا مَن يَهدِ اللهُ فَلا مضلَّ لَه ومن يُضلِل فَلَن تَجِدَ لهُ وَلِيَّا مُرشِدًا

أشهَد أن لا إلهَ إلا اللهُ وَحدَهُ لا شَريكَ لهُ وَأشهَدُ أنَّ مُحَمّدًا عَبدُهُ ورَسُولُه بَلَّغَ الرِّسالةَ، وَأدّى الأمانَةَ، وَنَصَحَ الأمَّةَ، وَجاهَدَ فِى اللهِ حَقَّ جِهادِهِ حَتَّى أتاهُ اليَقِينُ.

اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّم وَبارِك عَلَى سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِه وَصَحبِهِ وَمَن تَبِعَهُم بِإِحسانٍ إلى يِومِ الدِّينِ، أمَّا بَعد

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْد

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Segala puji bagi Allah subhanahu wata’ala yang telah memberi kita petunjuk kepada Iman dan Islam. Sekali-kali kita tidak akan mendapat petunjuk melainkan Dialah Allah subhanahu wata’ala yang memberikannya.

Kita bershalawat kepada baginda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi junjungan sekaligus penutup para Nabi dan Rasul atas bimbingan juga petunjuknya kepada sebaik-baik jalan dan manhaj, yakni dinul Islam.

Semoga keselamatan juga Allah senantiasa limpahkan kepada para istri beliau, para sahabat dan segenap umatnya yang tsiqah terhadap ajarannya hingga hari kiamat.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Marilah kita semua di hari yang paling mulia, dan juga di tempat yang paling mulia ini kita tingkatkan iman dan takwa kepada Allah subhanahu wata’ala di mana saja berada, berusaha dengan maksimal melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS. Ali Imran: 102)

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Di antara prinsip berislam yang benar adalah meneladani para pendahulu yang shalih, baik dalam hal ibadah maupun muamalah.

Para pendahulu yang dimaksud adalah para sahabat Nabi, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in. Karena mereka adalah generasi yang paling paham terhadap al-Quran dan sudah tentu paling paham jalan yang membawa keselamatan.

Materi Khutbah Jumat: 5 Sebab Kehancuran Umat

Merekalah generasi yang telah diberikan ke ridha’an Allah subhanahu wata’ala lantas merekapun juga ridha terhadap-Nya.

وَالسّٰبِقُوْنَ الْاَوَّلُوْنَ مِنَ الْمُهٰجِرِيْنَ وَالْاَنْصَارِ وَالَّذِيْنَ اتَّبَعُوْهُمْ بِاِحْسَانٍ رَّضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ وَاَعَدَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ تَحْتَهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَآ اَبَدًا ذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

Dan orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah rida kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung.” (QS. At-Taubah: 100)

Ibnu Katsir menyebutkan di dalam Tafsir al-Quran al-Azhim beberapa perkataan berkenaan dengan ayat di atas.

Imam Asy-Sya’bi mengatakan,

“Yang disebut dengan as-sabiqun al-awwalun (orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) adalah kaum Muhajirin dan kaum Anshar, yang mendapatkan peristiwa perjanjian Bai’atur Ridwan pada tahun Hudaibiyyah.”

Abu Musa al-Asy’ari, Said bin al-Musayyib, Muhammad bin Sirin, al-Hasan dan Qatadah mengatakan,

“Mereka adalah orang-orang yang pernah mengerjakan shalat dengan menghadap ke dua kiblat bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga memerintahkan kepada kita untuk meneladani mereka.

Dalam sabdanya,

…إِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كَثِيْراً، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّيْنَ الرَّاشِدِيْنَ، تَمَسَّكُوْا بِهَا وَعَضُّوْا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ.

“…Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Peganglah erat-erat dan gigitlah ia dengan gigi geraham kalian. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid‘ah. Dan setiap bid‘ah itu adalah sesat.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi)

Sahabat Abdullah bin Mas’ud juga berpesan,

مَنْ كَانَ مِنْكُمْ مُتَأَسِّياً فَلْيَتَأَسَّ بِأَصْحَابِ رَسُولِ اللهِ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ فَإِنَّهُم كَانُوا أَبَرَّ هَذِهِ الأُمَّةِ قُلُوباً، وَأَعَمَقـَهَا عِلماً، وَأقَلـَّهَا تَكَلـُّفاً، وَأَقْوَمَهَا هَديَا، وأَحسَنَـها حَالاً، اِخْتَارَهُمُ اللهُ لِصُحبةِ نبيِّهِ صلى اللهُ عليهِ وسلمَ وَإقَامَةِ دِينِهِ، فَاعْرِفُوا لَهُم فَضْلـَهُم، واتـَّبـِعُوهُم فِي آثارِهِم، فَإِنَّهُم كَانُوا عَلَى الهُدَى المُسْتَقِيْمِ

“Siapa saja yang mencari teladan, teladanilah para sahabat Rasulullah shallallahu ’alaihi wasallam. Karena merekalah orang yang paling baik hatinya di antara umat ini, paling mendalam ilmu agamanya, umat yang paling sedikit dalam berlebihan-lebihan, paling lurus bimbingannya, paling baik keadaannya. Allah telah memilih mereka untuk mendampingi Nabi shallallahu ’alaihi wasallam dan menegakkan agama-Nya. Kenalilah keutamaan mereka, dan ikutilah jalan mereka. Karena mereka semua berada pada shirathal mustaqim (jalan yang lurus).” (Tafsir Al Qurthubi, 1/60)

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Pendahulu yang shalih dari generasi sahabat yang akan teladani kali ini adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah. Beliau adalah sosok sahabat yang banyak berjasa untuk Islam, orang yang mendapatkan tempat mulia di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Nama lengkap sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah adalah Amir bin Abdullah bin Jarrah, lahir di Makkah pada tahun ke-40 sebelum hijrah atau 584 Masehi. Ayahnya bernama Abdullah bin Al-Jarrah merupakan seorang pengusaha dan secara garis keturunan berasal dari salah satu suku utama bangsa Quraisy. Itulah sebabnya Abu Ubaidah dianggap sebagai salah satu dari bangsawan Quraisy.

Artikel Fikih: 9 Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam di Hari Jumat

Abu Ubaidah masuk Islam atas dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dan ia bersyahadat selang satu hari setelah keislaman Abu Bakar sekaligus termasuk golongan orang yang masuk Islam pertama.

Pada tahun 622 Masehi, beliau mengikuti Rasulullah hijrah ke Madinah dan kemudian membersamai beliau dalam banyak peperangan.

 

4 Karakter Sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah

Ada 4 karakter yang paling menonjol dalam diri seorang Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, dan telah tercatat dalam kitab-kitab sejarah oleh para ulama sehingga kita dapat menjadikannya teladan dalam menapaki kehidupan.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Pertama: Loyalitas terhadap Islam

Masalah al-Wala’ (loyalitas/kecintaan) dan al-Bara’ (berlepas diri/kebencian) adalah masalah yang sangat penting dan ditekankan kewajibannya dalam Islam, bahkan merupakan salah satu landasan keimanan yang agung. Melalaikan persoalan ini dapat menyebabkan rusaknya keimanan seseorang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata,

“Hakikat tauhid adalah (dengan) tidak mencintai selain Allah dan mencintai apa dicintai Allah karena-Nya. Maka kita tidak (boleh) mencintai sesuatu kecuali karena Allah dan (juga) tidak membencinya kecuali karena-Nya.”

Dari sahabat Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

أَوْثَقُ عُرَى اْلإِيْمَانِ: الْمُوَالاَةُ فِي اللهِ، وَالْمُعَادَاةُ فِي اللهِ، وَالْحُبُّ فِي اللهِ، وَالْبُغْضُ فِي اللهِ

Tali keimanan yang paling kokoh adalah berloyal karena Allah dan memusuhi karena Allah, cinta karena Allah dan benci karena Allah.” (HR. Al-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Kabir no. 11.537 dan dihukumi hasan oleh Syaikh Al-Albani dalam Ash-Shahihah no. 1728)

Dalam sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang lain, dari hadits Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu,

مَنْ أَحَبَّ لِلَّهِ وَأَبْغَضَ لِلَّهِ وَأَعْطَى لِلَّهِ وَمَنَعَ لِلَّهِ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ الْإِيْمَانُ

Siapa yang cinta karena Allah, benci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan pemberian karena Allah, benar-benar telah menyempurnakan imannya.” (HR. Abu Dawud dan dishahihkan oleh al-Albani)

Inilah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah yang terpaksa membunuh ayahnya karena berada di barisan orang-orang musyrik yang memerangi kaum muslimin pada perang Badar.

Dengan tindakannya ini Allah subhanahu wata’ala menurunkan ayat-Nya,

لَا تَجِدُ قَوْمًا يُّؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ يُوَادُّوْنَ مَنْ حَادَّ اللّٰهَ وَرَسُوْلَه وَلَوْ كَانُوْٓا اٰبَاءَهُمْ اَوْ اَبْنَاءَهُمْ اَوْ اِخْوَانَهُمْ اَوْ عَشِيْرَتَهُمْ اُولٰىِٕكَ كَتَبَ فِيْ قُلُوْبِهِمُ الْاِيْمَانَ وَاَيَّدَهُمْ بِرُوْحٍ مِّنْهُ وَيُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ اُولٰىِٕكَ حِزْبُ اللّٰهِ اَلَآ اِنَّ حِزْبَ اللّٰهِ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

Engkau (Muhammad) tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhirat saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapaknya, anaknya, saudaranya atau keluarganya. Mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah telah menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari Dia. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Merekalah golongan Allah. Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung.” (QS. Al-Mujadilah: 22)

 

Kedua: Kepercayaan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Tidak bisa kita pungkiri bahwa sifat amanah (kejujuran) adalah hal yang mulai langka saat ini. Padahal sifat amanah itu adalah syarat menuju kebangkitan dan kejayaan.

Tidak akan ada orang yang tampil menjadi pemimpin besar tanpa memiliki sifat amanah. Karena keadilan tidak akan tegak kecuali di tangan orang-orang yang dapat dipercaya.

Di antara ciri orang beriman adalah sifat amanahnya dalam segala urusan. Sementara kebalikannya, bahwa khianat yang menjadi lawan dari amanah adalah sifat atau ciri-ciri orang munafik.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Tanda-tanda orang munafik ada tiga; jika berbicara dia berdusta, jika berjanji dia mengingkari, dan jika diberi amanah dia berkhianat.” (HR. Al-Bukhari)

Dalam riwayat lain terdapat tambahan,

وِإِنْ صَامَ وَصَلَّى وَزَعَمَ أَنُّه مُسْلِمٍ

Dan apabila ia mengerjakan puasa dan shalat, ia menyangka bahwa dirinya seorang muslim.” (HR. Muslim)

Abu Ubaidah bin Jarrah adalah sosok sahabat yang sifat amanahnya telah diakui langsung oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Dikisahkan, pada saat delegasi Najran dari Yaman datang untuk menyatakan keislaman mereka dan meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar mengutus bersama mereka orang yang mengajarkan kepada mereka al-Quran, Sunnah, dan ajaran Islam, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan kepada mereka,

لأَبْعَثَنَّ مَعَكُمْ رَجُلاً أَمِيْنًا، حَقَّ أَمِيْنٍ، حَقَّ أَمِيْنٍ، حَقَّ أَمِيْنٍ

Aku benar-benar akan mengutus bersama kalian seorang pria yang sangat dapat dipercaya, benar-benar orang yang dapat dipercaya, benar-benar orang yang dapat dipercaya, benar-benar orang yang dapat dipercaya.” (Thabaqat Ibn Sa’d, 3/314)

Semua sahabat berharap bahwa dialah yang bakal dipilih oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Termasuk Umar Al-Faruq radhiallahu ‘anhu. Tetapi ternyata yang dipilih adalah Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Ketiga: Ketaatan terhadap pemimpin

Di antara prinsip-prinsip Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah wajibnya taat kepada pemimpin kaum Muslimin selama mereka berhukum kepada hukum Allah dan tidak memerintahkan pada perbuatan maksiat.

Karena mentaati mereka termasuk dalam ketaatan kepada Allah, dan ketaatan kepada Allah subhanahu wata’ala adalah wajib.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْ فَاِنْ تَنَازَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَالرَّسُوْلِ اِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa’: 59)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

لاَطاَعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوْفِ

Tidak (boleh) taat (terhadap perintah) yang di dalamnya terdapat maksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam kebajikan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Juga sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam,

عَلَى الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيْمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِنْ أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ.

Wajib atas seorang Muslim untuk mendengar dan taat (kepada penguasa) pada apa-apa yang ia cintai atau ia benci kecuali jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Abu Ubaidah adalah sahabat yang sangat taat kepada pemimpin, terbukti ia melaksanakan perintah Amirul Mukminin Umar bin Khattab untuk menggantikan Khalid bin Walid meskipun dengan berat hati, mengingat kedudukan dan jasa besar panglima Khalid.

Namun meskipun berat karena itu perintah tetap ia laksanakan dengan satu keyakinan bahwa di belakang itu pasti ada maslahat yang besar.

Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu mengatakan,

“Sesungguhnya aku tidak melepaskan jabatan Khalid bin Walid karena marah atau dia berkhianat, tetapi manusia telah terfitnah dan aku ingin manusia tahu bahwa Allah lah yang memberi kemenangan.”

Ibnu ‘Aun meriwayatkan, tatkala Umar menjadi Khalifah ia berkata,

“Sungguh aku akan melepas jabatan Khalid (dari panglima) sehingga manusia tahu bahwa Allah mampu menolong agama-Nya tanpa Khalid.”

 

Keempat: Kesabaran dalam menghadapi musibah

Kesabaran merupakan inti dari iman. Tidak ada iman jika tiada kesabaran di dalamnya. Kedudukan sabar yang sangat tinggi digambarkan oleh sahabat Ali dalam perkataannya,

الصَّبْرُ مِنَ الْإِيمَانِ، بِمَنْزِلَةِ الرَّأْسِ مِنَ الْجَسَدِ

Kedudukan sabar dalam keimanan laksana kedudukan kepada dalam jasad manusia.”

Buah dari perilaku sabar sangat banyak kita dapati dalam firman Allah subhanahu wata’ala,

…وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاءِ وَالضَّرَّاءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِ اُولٰىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَاُولٰىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 177)

مَا عِنْدَكُمْ يَنْفَدُ وَمَا عِنْدَ اللّٰهِ بَاقٍ وَلَنَجْزِيَنَّ الَّذِيْنَ صَبَرُوْٓا اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Apa yang ada di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan Kami pasti akan memberi balasan kepada orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 9)

Dari bagian perjalanan kehidupan Abu Ubaidah bin Jarrah yang mana kita bisa mengambil hikmah kesabarannya?

Dari sikap yang beliau tunjukkan ketika menghadapi wabah penyakit Thaun. Wabah Thaun adalah wabah yang mirip dengan wabah covid-19 yang sekarang kita alami ini.

Wabah Thaun pernah menyerang Negeri Syam pada pada tahun 640 Masehi. Tepatnya pada tahun 16 Hijriyah. Khilafah Islamiyah pada saat itu dipimpin oleh Amirul Mukminin Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu.

Akibat merebaknya wabah Thaun saat itu, 25 ribu orang wafat termasuk sahabat-sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Salah satunya adalah panglima perang muslim, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah.

Menjelang wafatnya, beliau berwasiat kepada seluruh prajurit,

Artikel Sejarah: Goresan Api Fitnah dalam Lembaran Sejarah Islam

“Aku berwasiat kepada kalian. Jika wasiat ini kalian terima dan laksanakan, kalian tidak akan sesat dari jalan yang baik, dan senantiasa dalam keadaan bahagia. Tetaplah kalian menegakkan shalat, berpuasa Ramadhan, membayar zakat, dan menunaikan haji dan umrah. Hendaklah kalian saling menasihati sesama kalian, nasihati pemerintah kalian, dan jangan biarkan mereka tersesat. Dan janganlah kalian tergoda oleh dunia. Walaupun seseorang berusia panjang hingga seribu tahun, dia pasti akan menjumpai kematian seperti yang kalian saksikan ini.” (At-Ta’azi, Muhammad bin Abdil Akbar ats-Tsumali al-Azdi, 141)

Begitu mulianya sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang bernama Abu Ubaidah bin Jarrah ini. Sehingga dengan penuh keimanan harus kita katakan untuk beliau, “Radhiyallahu ‘anhu”. Semoga Allah subhanahu wata’ala meridhainya.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Demikian materi khutbah Jumat tentang karakter sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah yang dapat kami sampaikan pada siang hari yang sangat mulia ini, semoga Allah Ta’ala membimbing dan memudahkan kita untuk meneladani karakter-karakter mulia para sahabat Nabi yang mulia.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِيْنَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللهم أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الْكُفْرَ وَالْكَافِرِيْنَ.

اللهم انْصُرْ مَنْ نَصَرَ دِيْنَ الْإِسْلَامِ فيِ كُلِّ مَكَانٍ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ دِيْنَ الْإِسْلَامِ فِي كُلِّ مَكَانٍ، يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

 

 

 

Download PDF Materi Khutbah Jumat dakwah.id Meneladani 4 Karakter Sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah di sini:

DOWNLOAD PDF

Semoga bermanfaat!

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.