Meniti Jalan Perjuangan: Jangan Sedih, Allah Bersamamu

0 88

Melalui firman-Nya dalam al-Quran, Allah menceritakan sekian episode perjalanan hamba-hamba pilihan-Nya dalam mengarungi jalan perjuangan menyampaikan risalah ilahiyah kepada manusia. Lika-liku kisah mereka menjadi cerminan dan teladan bagi mereka yang hidup setelahnya.

Dalam jalan panjang perjuangan para Nabi dan Rasul, didapati bahwa ujian adalah bagian yang tidak terpisahkan dalam perjalanan. Tentu bukan tanpa tujuan, melainkan sebagai tamhish rabbani dari Allah kepada mereka yang mengaku berjuang di jalan-Nya.

Karena perjuangan tanpa ujian dan cobaan ibarat sayuran tanpa garam, hambar. Ujian dan cobaan adalah cara Allah untuk menguji siapa saja yang jujur dan dusta dalam beriman, dan siapa saja yang teguh serta sabar dalam meniti jalan perjuangan.

Allah Ta’ala berfirman:

أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتۡرَكُوٓاْ أَن يَقُولُوٓاْ ءَامَنَّا وَهُمۡ لَا يُفۡتَنُونَ

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut: 2)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di menjelaskan bahwa ayat ini adalah kesempurnaan dari hikmah Allah atas hamba-hamba Nya. Bahwa siapa saja yang mengaku sebagai orang beriman, maka ia tidak akan lepas dari ujian dan cobaan.

Hal tersebut adalah untuk memperjelas garis batas antara mereka yang jujur dan dusta dalam keimanannya. Untuk melihat siapa saja yang berpihak di bawah panji-panji kebenaran dan siapa yang mengambil bagian bersama pengusung kebatilan.

Inilah ketetapan Allah (sunnatullah) yang berlaku atas generasi terdahulu dari umat ini; mereka telah diuji dengan kesenangan dan kesusahan, kesukaran dan kepayahan, kecukupan dan kekurangan, dan musuh-musuh yang menguasai mereka serta berjihad melawan mereka dengan ucapan dan perbuatan. (Taisir al-Karim ar-Rahman, Abdurahman as-Sa’di, 73)

 

Menikmati Jalan Perjuangan

Tempuhan jalan perjuangan para Nabi dan Rasul bukan jalan yang dipenuhi pesta dan cinta. Juga bukan jalan dengan taburan bunga dan riuh gempita tepuk tangan. Tapi jalan juang mereka adalah jalan dengan tempuhan yang berat dan panjang, tapi terasa manis bagi mereka yang beriman.

Rasa manis itulah yang akan memudahkan semua kesulitan, meringankan beban, meneguhkan langkah di jalan pendakian, dan pahitnya perjalanan terasa manis dirasakan.

Mari takjubi perjalanan Nabiyullah Musa ‘alaihi salam, Kalimullah. Namanya disebutkan sebanyak 131 kali dalam al-Quran. Kisahnya beraneka ragam dan rupa. Bahkan sejak buaian, ancaman mati bagi bayi Musa sudah begitu mendebarkan. Belum lagi kisahnya menjadi buronan karena membunuh seorang Qibthi karena perselisihan.

Tempuhan perjalanan Musa ‘alaihi salam panjang berliku. Tinggal dalam pengasingan bertahun-tahun. Padahal sebelumnya ia adalah seorang pangeran penghuni istana. Kemudian berubah menjadi pelarian.

Tapi coba renungi episode bagaimana permulaan Musa melarikan diri dari pasukan Firaun. Allah rekam ketakutan dan kecemasannya saat ia akan menyelamatkan diri. Maka saat berlari tersebut teruntai doa penuh harap kepada Dzat Yang Maha Kuat.

فَخَرَجَ مِنۡهَا خَآئِفٗا يَتَرَقَّبُۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِي مِنَ ٱلۡقَوۡمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir, dia berdoa: ‘Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu.’” (QS. Al-Qashash: 21)

Seorang pangeran yang hidup di tengah istana dan pelayanan purna harus mengambil langkah melarikan diri untuk meneyelamatkan lehernya dari pasukan Firaun yang memburunya. Maka bisa dibayangkan betapa gusar dan takutnya Musa saat itu.

Materi Khutbah Jumat: Al-Haq itu Hanya Satu, Kesesatan itu Beragam 

Musa pergi seorang diri tanpa bekal, teman, atau sesuatu yang akan membantunya dalam pelariannya, kecuali hanya pakaian yang melekat di badan. Ia terus berlari tanpa henti. (Al-Jami’ Li Ahkami al-Quran, Muhammad al-Qurthubi, 16/255-256)

Saat di tengah ketakutan dan kebingungan mencari jalan untuk berlari, maka Musa kembali melangitkan doanya:

وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلۡقَآءَ مَدۡيَنَ قَالَ عَسَىٰ رَبِّيٓ أَن يَهۡدِيَنِي سَوَآءَ ٱلسَّبِيلِ

Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Madyan ia berdoa (lagi): ‘Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar.’” (QS. Al-Qashash: 23)

Allah pun menuntun Musa menuju Madyan dengan kondisi kepayahan dan keletihan, ketakutan dan kecemasan, kehausan dan kelaparan, dan saat bersamaan tidak ada tempat meminta pertolongan, tidak ada teman dan saudara yang bisa dijadikan sandaran. Tidak ada.

Saat-saat seperti itu, kembali Musa bermunajat memohon kepada Allah.

فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَآ أَنزَلۡتَ إِلَيَّ مِنۡ خَيۡرٖ فَقِيرٞ

Ya Rabb, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku.” (QS. Al-Qashash: 24)

Dr.’Isham al-‘Uwaidh menjelaskan, Nabi Musa ‘alaihi salam menggunakan kata inni sebagai penekanan atas doa yang dipanjatkan dan kepayahan yang ia rasakan. Dan juga penggunaan sighah anzalta dari kata kerja lampau yang menunjukkan kuatnya pengharapan dan keyakinan atas ijabah untuk doanya tersebut. (Liyadabbaru ayatihi, 158)

Penatnya perjalanan, letihnya badan dan takutnya perasaan terasa manis saat bersama Allah. maka seorang mukmin tidak pernah khawatir dan bersedih hati. Karena Allah membersamai mereka yang berjalan di jalan-Nya.

 

Di Jalan Allah, Bersama Allah

Dari episode kisah Musa ‘alaihi salam dan Firaun terdapat pelajaran berharga dan mahal. Tentang mengambil sisi keberpihakan. Kepada siapa kita bersama.

Musa ‘alaihi salam mengaku sebagai Nabi dan Rasul-Nya dengan Taurat sebagai pedoman, sosok pengembala yang baru saja melarikan diri bertahun-tahun menjadi buronan di negeri Madyan. Pangeran buangan. Tidak memiliki harta. Tidak punya istana. Tidak juga pasukan penjaga. Tampilannya juga biasa saja. Pakaian dari bahan yang kasar dan tongkat kayu serta gaya bicara yang tidak lancar.

Orang-orang yang membersamainya juga adalah masyarakat kelas dua dari Bani Israil. Miskin, tertindas, terusir, terzalimi dan tidak punya hak politik di lingkaran kekuasaan Firaun. Secara sederhana; tidak ada harapan bergabung bersama Musa, tidak ada keuntungan sama sekali membersamainya.

Tapi Musa ‘alaihi salam paham, Bahwa Bumi ini adalah milik Allah, dan Allah akan berikan kepada siapa yang bersama dengan-Nya,

قَالَ مُوسَىٰ لِقَوۡمِهِ ٱسۡتَعِينُواْ بِٱللَّهِ وَٱصۡبِرُوٓاْۖ إِنَّ ٱلۡأَرۡضَ لِلَّهِ يُورِثُهَا مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦۖ وَٱلۡعَٰقِبَةُ لِلۡمُتَّقِينَ

Musa berkata kepada kaumnya: ‘Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; sesungguhnya bumi (ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari hamba-hamba-Nya. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa.’” (QS. Al-A’raf: 128)

Sedangkan Firaun adalah penguasa diraja. Pasukan tempurnya gagah perkasa. Hartanya melimpah ruah, segala sesuatu berada di ujung jari telunjuk komandonya.

Belum lagi barisan para penyihir andal dengan buhul-buhul sakti mandraguna, para konglomerat kaya raya semisal Qarun, ahli rancang bangunan seperti Haman.

Semuanya mengesankan. Semuanya menakjubkan. Dan siapa saja yang mendekat kepadanya pasti akan dilimpahi kenikmatan.

Tapi kita tahu ending dari cerita ini. Allah memenangkan hamba-Nya dan orang-orang yang membersamainya, dan Allah hancurkan siapa saja yang menentang dan melawan-Nya.

وَإِذۡ فَرَقۡنَا بِكُمُ ٱلۡبَحۡرَ فَأَنجَيۡنَٰكُمۡ وَأَغۡرَقۡنَآ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ وَأَنتُمۡ تَنظُرُونَ

Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan.” (QS. Al-Baqarah: 50)

Firaun dan bala tentaranya merasakan azab yang pedih, dan Neraka adalah janji yang Allah berikan kepada mereka sebagai tempat kembali:

فَوَقَىٰهُ ٱللَّهُ سَيِّ‍َٔاتِ مَا مَكَرُواْۖ وَحَاقَ بِ‍َٔالِ فِرۡعَوۡنَ سُوٓءُ ٱلۡعَذَابِ

Maka Allah memeliharanya (Musa) dari kejahatan tipu daya mereka, dan Firaun beserta kaumnya dikepung oleh azab yang amat buruk.(QS. Ghafir: 45)

ٱلنَّارُ يُعۡرَضُونَ عَلَيۡهَا غُدُوّٗا وَعَشِيّٗاۚ وَيَوۡمَ تَقُومُ ٱلسَّاعَةُ أَدۡخِلُوٓاْ ءَالَ فِرۡعَوۡنَ أَشَدَّ ٱلۡعَذَابِ

Kepada mereka dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya Kiamat. (Dikatakan kepada malaikat): ‘Masukkanlah Firaun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras.’” (QS. Ghafir: 46)

Adapun Musa dan orang-orang yang beriman bersamanya, Allah selamatkan mereka. Allah berikan pertolongan-Nya kepada mereka yang berjalan di atas jalan-Nya.

وَأَنجَيۡنَا مُوسَىٰ وَمَن مَّعَهُۥٓ أَجۡمَعِينَ

Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya.” (QS. Asy-Syu’ara: 65)

Allah senantiasa membersamai para hamba yang berjuang di jalan-Nya. Maka siapa pun yang bersama Allah dalam tempuhan langkahnya, sejatinya dia memiliki segalanya meskipun dia tidak punya apa-apa dan siapa-siapa.

Sebaliknya, mereka yang berpikir segala sesuatu ada dalam gengaman jemarinya, segala sesuatu berada dalam jangkauannya, orang-orang yang merasa bisa melakukan segalanya dengan kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki. Tapi Allah tidak bersama mereka, maka sesungguhnya mereka tidak punya apa-apa dan siapa-siapa.

 

Jangan bersedih, Allah bersama kita

Episode yang sama juga terjadi dalam sepenggal kisah hijrah Rasulullah shalallahu ‘alaihi  wa salam bersama Abu Bakar Radhiyallahu ‘anhu. Detik-detik menegangkan saat sepasukan pemuda Quraisy dengan pedang terhunus mencari Nabi dan Abu Bakar untuk membunuh keduanya.

Imam al-Bukhari merekam peristiwa ini dalam kitab shahihnya sebagaimana yang dituturkan Abu Bakar tentang memori hijrahnya bersama Nabi, saat pasukan Quraisy sudah  berada di bibir gua, terlihat begitu dekat, membuat suasana begitu tercekat.

Ya Rasulullah, andaikan mereka melirik ke bawah pastilah mereka melihat kita.” kecemasan Abu Bakar adalah kecemasan yang sangat wajar, terbayang olehnya betapa maut sudah begitu dekat. Tentu yang paling ia khawatirkan bukan dirinya, tapi keselamatan Nabi tercinta.

Maka saat seperti itu Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam menenangkan Abu Bakar, lewat kata-kata yang penuh keyakinan. Nabi bersabda, “Tenangnlah Abu Bakar. Kita mungkin hanya berdua, tapi ada Allah sebagai pihak ketiga.” (HR. Al-Bukhari)

Allah Ta’ala mengabadikan kisah ini dalam surat at-Taubah ayat 40:

“Jikalau kamu tidak menolongnya (Muhammad) maka sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir (musyrikin Mekah) mengeluarkannya (dari Mekah) sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, di waktu dia berkata kepada temannya: “Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita”. Maka Allah menurunkan keterangan-Nya kepada (Muhammad) dan membantunya dengan tentara yang kamu tidak melihatnya, dan Al-Quran menjadikan orang-orang kafir itulah yang rendah. Dan kalimat Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. at-Taubah: 40)

Demikianlah Allah jadikan jalan perjuangan ini berat dan panjang berliku. Tapi terasa manis bagi mereka yang sabar dan tegar. Allah tidak meminta untuk sampai di garis finisnya, Allah hanya minta agar kita tetap teguh di jalan-Nya.

Betapa lelah hidup di jalan perjuangan. Tapi jika itu kita lalui bersama Allah, maka kita akan dapati bahwa pertolongan Allah begitu dekat, kasih sayang-Nya begitu lekat. Dan saat kita benar-benar merasa sendirian, Allah akan bilang, “Jangan sedih, Aku bersamamu.” Wallahu a’lam (Fajar Jaganegara/dakwah.id)

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.