Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Loss of Adab, Salah Langkah atau Salah Arah Pendidikan?

5,498

Loss of Adab, Salah Langkah atau Salah Arah Pendidikan?  

 

Saat ini, dilema kaum muslimin ada pada kritisnya ilmu pengetahuan (Al-Attas, Islam and Secularism, 1993). Kita paham betul bahwa saat Islam mencapai titik gemilang, puncak kejayaan, saat itu juga para ulama banyak melahirkan karya-karya yang bisa mengubah pandangan manusia dan bisa membuka cakrawala pengetahuan.

Sekelumit dari ilmuwan dan ulama Islam yang dikenal hari ini berserta karyanya yang fenomenal adalah salah satu bukti bahwa dahulu Islam tidak hanya jaya dengan mengandalkan pedang dan kekuatan tangan. Tapi keluasan intelektual yang menembus batas garis teritorial hingga menaklukkan setiap kepala manusia asing dan akhirnya masuk ke dalam Islam.

Bukan berarti ketika hari ini melihat Islam mundur, maknanya umat Islam adalah umat yang tidak terpelajar.

Bukan itu.

Bisa jadi umatnya terpelajar, tapi muatan pendidikan yang dicerna bukan pendidikan Islam. Kalau pun objek pembelajarannya Islami; al-Quran atau pun Hadits, tapi metodologinya memakai metodologi yang bukan Islam.

Bahkan mungkin lebih sering menelan celotehan dari orientalis atau penjelasan ilmuwan muslim tentang suatu ayat namun ditafsirkan secara miring dan bahkan menabrak pondasi syariat, semisal Syahrur, Arkoun, Nasr Hamid Abu Zaid, atau lainnya.

Baca juga: Materi Khutbah Jumat: Waspada Penyakit Ujub

Nukilan mereka memang dari al-Quran, tapi penfasirannya dengan metode hermeneutika. Penafsirannya hanya mengendepankan sastra dan sisi etnosentris. Walhasil al-Quran memiliki wajah baru dengan penafsiran gaya bacaan kontemporer yang hakikatnya justru mendekonstruksi syariat.

Tidak hanya sampai di situ. Proses deislamisasi juga terjadi dalam dunia akademik. Secara konsisten dan periodik, Barat yang memosisikan diri sebagai dunia lain dari wajah Timur yang Islami sangat serius memproduksi karya tulisan, jurnal, dan gagasan mereka secara besar-besaran. Jaringan internet menjadi fasilitas utama dalam mempromosikan produk deislamisasi tersebut.

Istilah yang kini berserakan dan berkembang di kampus, universitas, dan perguruan tinggi, sarat akan nilai-nilai Barat.

Ada apa dengan Barat?

Secara geografis, Afrika juga berada di Barat dan Selatan. Rusia berada di Utara. Arab Saudi berada di tengah. Tapi, sematan Barat dan Timur bukan pada geografis, melainkan lebih kepada identitas corak nilai dan budaya. Dan Islam, menjadi tantangan bagi Kristen Eropa. (Al-Attas, Islam and Secularism, 1993)

Problem yang muncul tidak hanya berhenti di situ saja. Pendidikan mengenai ilmu yang fardhu ain juga kurang porsi. Hingga, dalam tataran praktis sangat tidak Islami dan bahkan cenderung menggerus nilai Islam.

Baca juga: Adab Makan Baginda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam

Di samping itu, corak pendidikan yang mementingkan proses daripada hasil tersebut boleh jadi secara nilai akademis tinggi, tapi praktik nol besar. Tidak memahami hakikat ilmu, tidak memahami tujuan mencari ilmu dan tidak memahami bagaimana memperoleh ilmu.

Loss of adab dan krisis epistemologi adalah istilah yang dikemukakan oleh seorang filsuf muslim kontemporer sekaligus penggagas Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, Syed Naquib al-Attas.

Istilah Loss of adab dan krisis epistemologi ini bukan karena sebab. Tapi benar-benar berangkat dari melihat kesalahan dalam proses penggalian ilmu dan cacatnya epistemologi. Padahal ilmu yang diketahui manusia hanya sebatas sifat luaran (aksiden). Hanya sekedar nama-nama (wa allama al-asmā), bukan menunjukkan pada esensi (dzat).

Ambil contoh pengetahuan tentang ruh. Manusia tidak mengetahui tentang ruh kecuali sedikit saja. Ilmu manusia hanya terbatas pada hal-hal yang bisa ditangkap panca indera (maẖsūsāt) dan ditangkap rasio (maqūlāt) kemudian selanjutnya dapat dibedakan antara satu dengan yang lainnya.

Baca juga: Memilih Makanan Halal dan Thayib, Begini Teladan Sahabat Abu Bakar

Pada kenyataannya, manusia terlalu mengejar ilmu yang bisa menjadi bekal untuk memenuhi sifat pragmatisnya, dan melupakan ilmu yang merupakan hidangan bagi jiwanya.

فَعَلَيْكُمْ بِهَذَا الْقُرْآنِ فَإِنَّهُ مَأْدُبَةُ اللَّهِ، فَمَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمْ أَنْ يَأْخُذَ مِنْ مَأْدُبَةِ اللَّهِ فَلْيَفْعَلْ، فَإِنَّمَا الْعِلْمُ بِالتَّعَلُّمِ.

Hendaklah kalian berpegang kepada al-Quran ini. Karena al-Quran adalah jamuan Allah. Barang siapa mampu mengambil jamuan Allah ini, hendaknya ia melakukannya. Karena ilmu itu diperoleh dengan belajar.” (Musnad al-Bazzar, No. 2055)

Al-Quran (Ilmu) adalah hidangan Allah di muka bumi, begitu hadits berbunyi.

Persoalan pertama yang harus diyakini, sumber ilmu dan semua ilmu merujuknya kepada Allah. Kemudian tuntutan berikutnya adalah bagaimana proses menjemput ilmu tersebut.

Jika hidangan itu dianggap istimewa, dihadapkan pada tamu istimewa nan terhormat, tentu dalam menyantapnya juga dengan cara yang sopan, terhormat, beretika, dan berperilaku yang istimewa. Bukan asal ambil dan makan seenaknya.

Materi Khutbah Jumat: Dunia Ibarat Setetes Air dan Akhirat Adalah Lautannya, Pilih Mana?

Ilmu bagaikan hidangan. Proses mencari ilmu adalah proses mendisiplinkan jiwa dan pikiran dengan adab. Jika proses ini tidak dilalui sebagaimana mestinya, maka jangan heran jika kelak yang menjadi pemimpin manusia adalah orang yang tak berakhlak, tak beradab, lagi bodoh. Karena kualitas intelektualnya kurang bisa dirasakan dan dijiwai. Tidak mendapatkan dhawq (rasa kenikmatan spiritual) dari ilmu tersebut.

Apalagi kebenaran agama hanya dipandang sebagai teori belaka, dan bayangan yang tidak berguna. Akhirnya makin rapuh imannya kepada Allah dan hari akhir.

Kehidupan dipertuhankan dan mengejar dunia bak hidup selamanya. Keadilan yang mutlak juga akan direlatifkan. Kebenaran juga akan direlatifkan demi kepuasan jiwa yang tidak pernah disirami oleh ilmu yang bisa menghidupkannya.

Disintegrasi adab juga terjadi dalam mengepadankan al-Quran dengan kitab suci lain. Agama Islam disetarakan dengan agama lain. Ilmu agama dianggap seperti ilmu umum lainnya. Suasana dan kondisi kehidupan di akhirat tak ubahnya dengan kehidupan di dunia. Aspek spiritual mana pun tak ada bedanya.

Dalam ranah pendidikan, para pencari ilmu agama disamakan dengan pencari ilmu umum lainnya. Ilmu akan moral, etika, dan pengembangannya disamakan dengan ilmu yang digunakan untuk meraih dan memenuhi ekonomi dan tujuan pragmatis yang lain.

Akhirnya, otoritas ilmu tidak lagi diperhatikan. Statemen pakar disetarakan dengan ucapan wartawan. Hierarki ilmu dan otoritasnya tidak lagi ada dan bahkan hilang.

Baca juga: Sikap Muslim Awam ketika Mendapati Keragaman Fatwa Ulama

Al-Ghazali menegaskan bahwa al-Humqu (kedunguan) adalah melakukan cara yang salah untuk mencapai tujuan tertentu. Sementara al-Junun (kegilaan) adalah perjuangan berbasis tujuan dan maksud yang salah. (Ihya’ Ulumid Din, Abu Hamid al-Ghazali, 3/54)

Jika ini terjadi, kezaliman akan merajalela. Menempatkan sesuatu bukan pada tempat dan hakikatnya.

Kezaliman juga terjadi dalam pemberian amanah dan jabatan. Kepercayaan dan amanah yang diberikan kepada bukan ahlinya.

Ini senada dengan tulisan Musthafa Ali tiga dekade sebelum Musthafa Kemal Attaturk menghapuskan khilafah, yaitu ketidakadilan merajalela karena posisi penting diduduki oleh orang yang amoral dan tidak berkualitas (Andreas Tietze, Mutapha Ali’s for Sultan of 1581, 1979, 1/17).

Hilangnya sistem dan disiplin pada militernya—meski masih terdapat jiwa keberanian, jumlah anggaran dan prajurit. Sungguh ironi ketika mengingat bahwa ilmu diraih dengan cara sembarangan dan dicapai untuk tujuan sembarang juga.

Jika ada yang mengatakan bahwa rusaknya umat ini karena rusaknya pemimpin, itu untuk saat ini kurang tepat. Karena rusaknya umat saat ini sebenarnya lebih dominan diakibatkan oleh rusaknya keilmuan, hingga rusak tatanan kepemimpinan dan soal amanah jabatan.

Baca juga: Pentingnya Kajian Sejarah Hukum Islam

Makanya, perbaikan pengetahuan dan ilmu menjadi titik penting di era sekarang. Ini menjadi PR kita, karena kita hidup di zaman sekarang dan ilmu sudah disusupi oleh pemikiran Barat yang sekularistik.

Jika abai terhadap ini, berarti belum mengetahui bahwa dahulu Islam telah dikenal baik oleh ilmuwan kafir karena tradisi keilmuwannya. Hingga ada perpustakaan besar al-Hikmah di Baghdad dan insfrastuktur bangunan dan negara yang eksotis di al-Hambra Andalus. Semua itu bukan karena muncul karena keajaiban sihir, tapi karena ilmu. [Syahidr/dakwah.id]