materi khutbah idul fitri Menciptakan Hayatan Thayyibah dalam Keluarga dakwah.id

Materi Khutbah Idul Fitri: Menciptakan Hayatan Thayyibah dalam Keluarga

Terakhir diperbarui pada ·

Naskah khutbah Idul Fitri yang berjudul Menciptakan Hayatan Thayyibah dalam Keluarga ini berfokus pada konsep hayatan thayyibah, yaitu kehidupan yang baik dan penuh keberkahan bagi setiap keluarga muslim.

Penulis menekankan bahwa kebahagiaan sejati tidak bersumber dari kemewahan harta, melainkan dari ketenangan batin, rasa syukur, dan rezeki yang halal.

Melalui kutipan ayat suci dan hadis, materi khutbah Idul Fitri terbaru ini mengajak jemaah untuk membangun ketakwaan pasca-Ramadan guna meraih rida Allah dalam setiap urusan duniawi. Keteladanan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ditampilkan sebagai inspirasi utama dalam menjaga kesederhanaan dan kekayaan jiwa di tengah dinamika kehidupan.

Secara keseluruhan, materi khutbah ini berfungsi sebagai panduan spiritual untuk mewujudkan rumah tangga yang harmonis dan senantiasa merasa cukup dengan ketetapan Sang Pencipta.

Materi Khutbah Idul Fitri
Menciptakan Hayatan Thayyibah dalam Keluarga

Pemateri: Ustadz Naufal Masunika
(Ketua Yayasan Griya Keluarga Sakinah
Konsultan Keluarga Sakinah)

Pembukaan Khutbah

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. نَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى نَبِيِّنَا وَرَسُوْلِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَمَنِ اتَّبَعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ،

أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُؤْمِنُوْنَ الْمُتَّقُوْنَ، حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْعَزِيْزِ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ﴾.

﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ، وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا، وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَنِسَاءً، وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِيْ تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ، إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا﴾.

﴿يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ، وَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ، وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا﴾.

وَقَالَ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ.

اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Khutbah Pertama

Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah!

Segala puji hanya bagi Allah Ta’ala, Rabb semesta alam. Kepada-Nya dipanjatkan pujian, disandarkan harapan, dimohon pertolongan dan ampunan atas segala dosa. Hanya kepada-Nya seluruh urusan digantungkan.

Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman. Tiada jalan mencintai Allah kecuali dengan menaati Rasul-Nya. Dialah Rasul al-Amin, penutup para nabi, pembawa risalah terakhir yang menjadi pegangan hidup.

Keimanan inilah warisan paling berharga, yang mesti dijaga, ditanamkan, dan diperjuangkan agar berakar kuat dalam jiwa generasi penerus.

اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Jamaah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah,

Di pagi yang penuh keberkahan ini, kaum muslimin berkumpul mengagungkan asma Allah, menunaikan shalat Id sebagai syiar dan sunah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Ramadhan telah dilalui dengan puasa, qiyam, dan berbagai amal kebaikan.

Semoga seluruh amalan kita ini diterima dan menjadi sebab terhapusnya dosa-dosa. Semoga Allah menerima seluruh amal kita dan menjadikannya kebaikan yang mengantarkan kita ke pintu Ar-Rayyan. Amin.

اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Apa Arti Keberkahan dalam Kehidupan?

Jamaah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah,

Setiap insan beriman pasti mendambakan kehidupan yang penuh keberkahan. Barakah bukan sekadar banyaknya rezeki atau melimpahnya harta, melainkan kebaikan yang terus tumbuh dan menghadirkan manfaat dalam segala keadaan.

Kesuksesan pernikahan tidak diukur dari kekayaan, tapi dari ketakwaan, kesabaran, dan kemampuan menjaga fitrah hidup berumah tangga sesuai dengan syariat.

Setiap orang mungkin bisa mendapatkan kekayaan, namun tidak setiap orang mendapatkan keberkahan di dalam setiap urusannya.

Siapa pun bisa memperindah pesona dirinya: rumah, pekerjaan, dan usahanya. Tetapi, tidak semua orang mendapatkan keberkahan dari kenikmatan dunia yang diraihnya.

Karena itulah mengapa kita selalu memohon kepada Allah agar keluarga kita selalu dinaungi keberkahan.

Kenapa? Masalah itu pasti akan kita temukan dalam kehidupan dunia dan tidak ada yang bisa menyelesaikan problematika yang terjadi kecuali keberkahan yang Allah turunkan.

Hayatan Thayyibah Adalah Kehidupan yang Baik

Kehidupan yang dinaungi keberkahan inilah yang oleh al-Quran disebut dengan hayatan thayyibah. Allah subhanahu wataala berfirman, dalam al-Quran Surah an-Nahl ayat 97,

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهٗ حَيٰوةً طَيِّبَةًۚ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ اَجْرَهُمْ بِاَحْسَنِ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ

Siapa yang mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan, sedangkan dia seorang mukmin, sungguh, Kami pasti akan berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan dengan pahala yang lebih baik daripada apa yang selalu mereka kerjakan.”

Imam Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa amal saleh yang dimaksud adalah amal yang sesuai dengan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu alaihi wasallam.  Amal yang dilakukan merupakan amal yang diperintahkan dan disyariatkan Allah. Maka Allah berjanji akan mengaruniakan kepadanya kehidupan yang baik di dunia, serta pahala terbaik kelak di akhirat.

Hayatan thayyibah adalah kehidupan yang menghimpun berbagai sisi kebahagiaan, mulai dari fisik, mental, hingga spiritual. Bukan karena banyaknya harta, tetapi karena hati dipenuhi ketenangan, jiwa diliputi ridha, dan langkah diarahkan oleh iman. Inilah anugerah yang Allah janjikan bagi hamba-hamba-Nya yang beriman dan beramal saleh.

Lalu, adakah kehidupan yang lebih baik daripada hidup seorang hamba yang seluruh cita-cita tertingginya adalah meraih ridha Allah?

Hati yang sebelumnya tercerai-berai oleh ambisi dunia, kini dipersatukan oleh tujuan akhirat.

Allah subhanahu wataala kembali menegaskan dalam firman-Nya, al-Quran Surah Ghafir ayat 51,

اِنَّا لَنَنْصُرُ رُسُلَنَا وَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ يَقُوْمُ الْاَشْهَادُۙ

Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari dihadirkannya para saksi (hari Kiamat).”

Ini adalah jaminan dari Allah. Pertolongan-Nya bukan hanya di akhirat, tetapi juga di dunia. Bentuk pertolongan itu adalah keteguhan hati, kemudahan dalam kesulitan, dan kehidupan yang baik, hayatan thayyibah yang Allah karuniakan kepada orang-orang beriman.

اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Hayatan Thayyibah Adalah Rezeki yang Halal dan Hati yang Merasa Cukup

Jamaah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah,

Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu anhuma dan sejumlah ulama, menafsirkan hayatan thayyibah sebagai rezeki yang halal lagi baik.

Rezeki yang halal bukan sekadar bersih secara hukum, tetapi juga menenangkan jiwa saat mencarinya dan menghadirkan ketenteraman ketika membelanjakannya. Tidak disertai kegelisahan, tidak dibayangi kecemasan. Jika sedikit, ia mencukupi. Jika banyak, ia membawa maslahat. Dan yang terpenting, ia menjadi sarana untuk taat kepada Allah.

Adh-Dhahhak rahimahullah menjelaskan bahwa kehidupan yang baik adalah kehidupan yang dipenuhi ketaatan dan hati merasa lapang serta bahagia dalam menjalankannya. Hidup dihiasi rasa syukur yang menuntun pemiliknya untuk terus ber-taqarrub, mendekatkan diri kepada Allah Ta‘ala.

Kaidah rezeki bagi orang beriman adalah mendapatkan yang thayyib, yang baik dan terbaik. Allah subhanahu wataala berfirman, dalam al-Quran Surah al-Baqarah ayat 172,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَاشْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

Wahai orang-orang yang beriman, makanlah apa-apa yang baik yang Kami anugerahkan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu benar-benar hanya menyembah kepada-Nya.”

Perintah “kuluu min thayyibaat” menunjukkan bahwa iman yang benar akan membimbing kepada yang halal. Tidak pantas seorang yang mengaku beriman justru menempuh jalan yang haram.

Dan firman-Nya, “maa razaqnaakum” mengingatkan bahwa rezeki sejatinya berasal dari Allah. Manusia hanya berikhtiar; Allah-lah yang menyiapkan, membagi, dan menetapkannya.

Baca juga: Memilih Makanan Halal dan Thayib, Begini Teladan Sahabat Abu Bakar

Sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu menafsirkan hayatan thayyibah dengan al-qanaaah, hati yang merasa cukup. Hidup yang barakah adalah hidup yang dipenuhi rasa cukup terhadap apa yang Allah berikan, sedikit ataupun banyak.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, dalam hadits riwayat Muslim No. 1054,

 قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

Sungguh beruntung orang yang masuk Islam, diberi rezeki yang sekadar mencukupi, dan Allah menjadikannya merasa cukup dengan apa yang diberikan kepadanya.”

Betapa indahnya ketika syarat terhadap dunia tidak ditinggikan. Semakin sedikit tuntutan, semakin lapang hati merasakan kebahagiaan. Sebab yang paling berharga bukanlah apa yang tergenggam, melainkan keridhaan Allah atas apa yang dimiliki.

Bisa jadi sesuatu yang terlepas dari genggaman bukanlah kerugian, melainkan pertukaran dari Allah dengan sesuatu yang lebih baik. Setiap kehilangan mungkin sedang diganti dengan kebaikan yang lebih besar—meski belum segera tampak oleh mata.

Inilah makna kehidupan yang baik: hati yang tenang, rezeki yang halal, ketaatan yang dirasakan manis, serta keyakinan bahwa segala ketentuan Allah pasti membawa hikmah dan kebaikan.

اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ.

Hayatan Thayyibah dalam Kehidupan Rasulullah

Jamaah Shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah,

Cukuplah menoleh sejenak kepada kehidupan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Pernah bekas anyaman alas tidur membekas di pipi beliau. Namun, kesederhanaan itu tidak pernah mengurangi kebahagiaan dalam dadanya.

Ada atau tiadanya makanan tidak mengurangi syukurnya. Bagi beliau, sederhana bukanlah kekurangan, melainkan kemuliaan yang memerdekakan jiwa dari ketergantungan kepada dunia.

Suatu hari beliau bertanya kepada Aisyah radhiyallahu anha, “Adakah makanan?” Ia menjawab, “Tidak ada.” Tanpa keluh kesah beliau bersabda, “Kalau begitu, hari ini aku berpuasa.” Ketiadaan diubah menjadi ibadah.

Di kesempatan lain, ketika ada makanan, beliau memakannya dengan tenang, seraya bersabda, “Sebenarnya sejak pagi tadi aku berpuasa.” Jika ada, beliau bersyukur. Jika tiada, beliau bersabar. Tidak gelisah dalam kekurangan, tidak berlebihan dalam kecukupan. Itulah hati yang tidak menggantungkan bahagia pada dunia.

Nabi shallallahu alaihi wasallam bersabda, dalam hadits riwayat al-Bukhari No. 6081 dan Muslim No. 1051,

‌لَيْسَ ‌الْغِنَى ‌عَنْ ‌كَثْرَةِ ‌الْعَرَضِ، وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Kekayaan yang hakiki bukanlah karena banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya jiwa.”

Betapa banyak manusia berharta namun tetap merasa kurang. Sebaliknya, ada yang sederhana tetapi lapang dan tenang. Itulah ghinan-nafsi, jiwa yang merasa cukup dengan ketetapan Allah. Tidak tamak, tidak iri, tidak gelisah oleh perbandingan.

Kekayaan jiwa adalah anugerah yang dimohonkan. Nabi shallallahu alaihi wasallam berdoa, dalam hadits riwayat Muslim No. 2721,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى، وَالتُّقَى، وَالْعَفَافَ، وَالْغِنَى

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, kehormatan diri, dan kekayaan jiwa.”

Perhatikan urutannya: hidayah, takwa, penjagaan diri, lalu kekayaan jiwa. Seakan menegaskan bahwa hati yang terpaut kepada Allah akan dibebaskan dari ketergantungan kepada dunia. Kemuliaan sejati bukan pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada sedikitnya yang diinginkan.

Bukan pada luasnya simpanan, tetapi pada lapangnya hati. Karena merasa cukup adalah pintu kebahagiaan.

Rasullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan kepada kita untuk melazimi doa, hadits riwayat Abu Dawud No. 1522 dan Ahmad No. 22126,

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Ya Allah, tolonglah agar selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperindah ibadah kepada-Mu.”

Semoga ibadah Ramadhan yang telah dilalui melahirkan ketakwaan, menumbuhkan kekayaan jiwa, dan menghadirkan kehidupan yang baik sebagaimana janji Allah Ta‘ala. Amin.

Semoga Allah menjadikan keluarga kita sebagai keluarga yang diliputi keberkahan, diteguhkan dalam iman, dan dianugerahi kehidupan yang baik di dunia serta keselamatan di akhirat. Amin.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ، اَللَّهُ أَكْبَرُ، وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا. مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. نَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَآلِ مُحَمَّدٍ.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ، وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ.

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَافِيَةَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ فِي دِينِنَا وَدُنْيَانَا وَأَهْلِنَا وَمَالِنَا. اللَّهُمَّ اسْتُرْ عَوْرَاتِنَا، وَآمِنْ رَوْعَاتِنَا. اللَّهُمَّ احْفَظْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِينَا وَمِنْ خَلْفِنَا وَعَنْ يَمِينِنَا وَعَنْ شِمَالِنَا وَمِنْ فَوْقِنَا، وَنَعُوذُ بِعَظَمَتِكَ أَنْ نُغْتَالَ مِنْ تَحْتِنَا.

رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ صَلَاتَنَا، وَقِيَامَنَا، وَصِيَامَنَا، وَتِلَاوَتَنَا، وَصَدَقَتَنَا، وَزَكَاتَنَا، وَنُسُكَنَا، وَجَمِيعَ أَعْمَالِنَا، إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِينَنَا الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِي فِيهَا مَعَاشُنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِي فِيهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Download PDF Materi Khutbah Idul Fitri Terbaru
Menciptakan Hayatan Thayyibah dalam Keluarga
di sini

Semoga bermanfaat!

Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?

Topik Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading