Materi khutbah Idul Fitri berjudul Renungan Tarbiyah Ramadhan yang disusun oleh Ustadz Qosdi Ridwanullah ini fokus utama pada evaluasi spiritual pasca bulan suci.
Penulis memaparkan tiga indikator utama keberhasilan ibadah, yakni meningkatnya kedekatan batin dengan Allah, penguatan kendali diri serta kesabaran, dan penajaman kepedulian sosial terhadap sesama.
Melalui kutipan dalil al-Quran dan Hadits, naskah khutbah ini mengajak umat untuk mentransformasi ritual puasa menjadi pembentukan karakter yang berkelanjutan dalam kehidupan sehari-hari. Selain nasihat praktis mengenai etika lisan dan penggunaan media sosial, teks khutbah ditutup dengan penekanan pada pentingnya doa dan istikamah dalam menjaga nilai-nilai takwa.
Seluruh rangkaian khutbah Idul Fitri terbaru ini bertujuan agar kaum muslimin tidak hanya merayakan hari raya secara seremonial, tetapi benar-benar menjadi pribadi yang lebih bermanfaat bagi masyarakat dan kemanusiaan.
Materi Khutbah Idul Fitri:
Renungan Tarbiyah Ramadhan
Pemateri: Ustadz Qosdi Ridwanullah
(Direktur Pesantren Darusy Syahadah Boyolali)
Pembukaan Khutbah
السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي بِنِعْمَتِهِ تَتِمُّ الصَّالِحَاتُ، وَبِفَضْلِهِ تَتَنَزَّلُ الْبَرَكَاتُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ،
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ،
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا،
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Khutbah Pertama
Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah!
Hari ini, gema takbir membahana memuji keagungan Allah subhanahu wata’ala. Kita berkumpul dengan hati yang penuh syukur karena baru saja menyelesaikan tarbiyah Ramadhan, sebuah madrasah ruhani yang dibimbing langsung oleh Allah subhanahu wata’ala, selama satu bulan penuh.
Shalawat dan salam terhaturkan kepada tauladan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, para sahabat, serta pengikut yang setia mengikuti sunah-sunahnya.
Pada kesempatan mulia ini, kami mengingatkan pribadi kami dan semua yang hadir untuk terus menjaga dan meningkatkan kualitas ketakwaan kepada Allah ta’ala, sehingga kita semakin menikmati ketaatan karena dorongan mengharap ridha dan pahala-Nya, serta menjauhi kemaksiatan karena dorongan takut kepada-Nya dan kepada siksa-Nya.
Dengan modal takwa maka semua urusan kita akan mendapatkan kemudahan dari-Nya.
Hal ini sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, dalam al-Quran Surah ath-Thalaq: 4,
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مِنْ اَمْرِهٖ يُسْرًا
“Dan barang siapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya.”
Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd
Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah!
Indikator Keberhasilan Tarbiyah Ramadhan
Ramadhan tahun ini telah kita jalani bersama. Ramadhan hakikatnya bukanlah sekadar ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan proses pembentukan karakter, character building, untuk menjadi pribadi yang lebih bertakwa.
Setidaknya, ada tiga indikator utama untuk mengetahui apakah tarbiyah Ramadhan kita telah berhasil atau tidak.
Indikator Pertama: Menikmati Kedekatan dengan Allah (Ittishal Billah)
Indikator pertama keberhasilan tarbiyah Ramadhan adalah menikmati kedekatan dengan Allah subhanahu wata’ala.
Pribadi hasil tarbiyah Ramadhan adalah mereka yang hatinya telah “hidup”. Ia merasakan kenikmatan saat berkomunikasi dengan Allah subhanahu wata’ala melalui shalat, tilawah, dan zikir. Kedekatan ini melahirkan perasaan muraqabatullah, yaitu merasa selalu diawasi dan dibersamai oleh Allah.
Oleh karena itu, mari kita terus jaga hubungan kita dengan Allah melalui aktivitas zikir kita, baik dengan shalat, tilawah al-Quran, maupun kalimat-kalimat thayyibah, yang akan menjernihkan hati kita dan memberi dampak dahsyat dalam meredam dua musuh utama kita, yaitu syaithan dan hawa nafsu.
Imam at-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits yang dinilai sahih oleh Syekh al-Albani, hadits nomor 2863, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,
وَآمُرُكُمْ أَنْ تَذْكُرُوا اللَّهَ، فَإِنَّ مَثَلَ ذَلِكَ كَمَثَلِ رَجُلٍ خَرَجَ الْعَدُوُّ فِي أَثَرِهِ سِرَاعًا، حَتَّى إِذَا أَتَى عَلَى حِصْنٍ حَصِينٍ فَأَحْرَزَ نَفْسَهُ مِنْهُمْ، كَذَلِكَ الْعَبْدُ لَا يُحْرِزُ نَفْسَهُ مِنَ الشَّيْطَانِ إِلَّا بِذِكْرِ اللَّهِ.
“Dan aku perintahkan kalian untuk berzikir kepada Allah. Sesungguhnya, perumpamaan zikir itu seperti seorang laki-laki yang dikejar musuh dengan cepat, hingga ketika ia sampai pada benteng yang kokoh, ia pun menyelamatkan dirinya dari mereka. Demikian pula seorang hamba, tidak akan bisa menyelamatkan dirinya dari setan kecuali dengan zikir kepada Allah.”
Allah subhanahu wata’ala berfirman, sebagaimana yang termaktub dalam al-Quran Surat al-Kahfi: 28,
وَلَا تُطِعْ مَنْ اَغْفَلْنَا قَلْبَهٗ عَنْ ذِكْرِنَا وَاتَّبَعَ هَوٰىهُ وَكَانَ اَمْرُهٗ فُرُطًا
“Dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya dan keadaannya sudah melewati batas.”
Dari ayat mulia ini kita bisa memahami bahwa lalai dari berzikir akan membuat kita memperturutkan hawa nafsu, sedangkan menguatkan zikir akan meluruhkan hawa nafsu.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd
Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah!
Indikator Kedua: Sabar dan Pengendalian Diri
Indikator kedua keberhasilan tarbiyah Ramadhan adalah menjadi pribadi yang penyabar dan mampu mengendalikan diri.
Ramadhan melatih kita menahan diri dari yang halal, yakni makan dan minum, agar kita mampu menahan diri dari yang haram. Kesabaran ini harus berlanjut pada pengendalian lisan dan anggota tubuh. Jangan biarkan lidah kita kembali ternoda oleh dusta, ghibah, atau berkata kotor.
Baca juga: Khutbah Idul Fitri: Istiqamah Menggenggam Bara Api Kebenaran
Imam al-Bukhari meriwayatkan, dalam shahih-nya hadits nomor 1804, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ.
“Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta dan malah melakukannya, maka Allah tidak butuh rasa lapar dan haus yang ia tahan.”
Marilah terus waspada agar lisan kita tidak terkena dosa ghibah dan dosa lisan lainnya, meskipun hanya dilakukan dengan istri. Bukankah Rasulullah pernah menegur bunda Aisyah, dengan teguran yang tegas saat Aisyah menyifati istri beliau yang lainnya dengan sebutan pendek.
Nabi berkata kepada Aisyah,
لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَ بِهَا الْبَحْرُ لَمَزَجَتْهُ
“Sungguh engkau telah mengucapkan suatu kalimat yang seandainya dicampur dengan air laut, niscaya kalimat itu akan mengotorinya.” (HR. Abu Dawud no. 4875 dan at-Tirmidzi no. 2502)
Terlebih bagi kita yang hidup pada zaman digital ini. Kita harus lebih hati-hati lagi agar tidak mudah menyebar fitnah melalui medsos tanpa kita sadari.
Mari kita jadikan medsos menjadi sahabat kebaikan, bukan ajang fitnah dan celaan.
Allahu Akbar, Allahu Akbar, walillahil hamd
Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah!
Indikator Ketiga: Penajaman Empati Sosial
Indikator ketiga keberhasilan tarbiyah Ramadhan adalah penajaman empati sosial.
Ramadhan adalah sekolah empati. Kewajiban zakat fitrah dan anjuran memberi ifthar atau buka puasa adalah latihan agar kita peka terhadap penderitaan orang lain. Amal sosial ini sangat dicintai oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.
Beliau bersabda, sebagaimana yang diriwayatkan oleh ath-Thabrani dalam Mu’jam Ash-Shaghir hadits nomor 861,
وَلَئِنْ أَمْشِي مَعَ أَخٍ لِي فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ شَهْرًا فِي مَسْجِدِ الْمَدِينَةِ
“Sungguh, aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya, lebih aku cintai daripada beriktikaf di Masjid Nabawi ini selama sebulan penuh.”
Maka marilah kita menjadi manusia yang paling bermanfaat, anfa’uhum linnas. Di sekitar kita, masih banyak yang membutuhkan uluran tangan dan empati kita. Jangan biarkan semangat berbagi ini padam seiring berlalunya Ramadhan.
Mari kuatkan rasa sebagai satu tubuh sesama muslim. Di mana, penderitaan mereka adalah penderitaan kita juga. Sekuat daya mari kita saling membantu sesama. Di sekitar kita, di Sumatera, di Palestina, di Sudan, dan belahan bumi lainnya.
Intinya, mari menjadi pribadi yang semangat berkontribusi untuk kebaikan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara, serta dunia pada umumnya, sebagai tuntutan menjadi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ.
أَقُولُ قَوْلِي هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا كَمَا أَمَرَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ،
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ،
اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا.
أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ.
Jamaah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah!
Mengakhiri rangkaian ibadah kita, satu hal yang tidak boleh kita lupakan adalah bahwa semua kebaikan, ketaatan, dan perubahan positif yang kita inginkan tidak akan pernah terjadi tanpa qudrah dan iradah, yakni kuasa dan kehendak, Allah ta’ala.
Kita adalah hamba yang lemah. Kita tidak memiliki daya dan upaya kecuali dengan pertolongan-Nya. Sebagaimana kalimat yang sering kita ucapkan,
لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ
“Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
Maka, setelah Ramadhan ini, kuatkanlah doa-doa kita. Mintalah keistikamahan agar kita tetap berada di jalan ketaatan. Mintalah maslahat dunia dan akhirat. Karena hanya dengan pertolongan Allah-lah, kita bisa menjaga nilai-nilai Ramadhan sepanjang tahun.
Mari kita tutup dengan doa,
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللَّهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوعَنَا وَسُجُودَنَا.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ.
فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ.
Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?