materi khutbah idul fitri pesan menyentuh hati di hari fitri dakwah.id

Khutbah Idul Fitri: Pesan Menyentuh Hati di Hari Fitri

Terakhir diperbarui pada ·

Materi khutbah Idul Fitri berjudul Pesan Menyentuh Hati di Hari Fitri yang disusun oleh Ustadz Muhammad Irfandi al Indragiri ini fokus pada refleksi spiritual setelah berlalunya bulan Ramadhan.

Penulis menekankan tiga amanat penting bagi umat Muslim, yaitu menjaga hubungan vertikal dengan Tuhan, memperkuat empati kemanusiaan melalui zakat, serta membina ikatan sosial melalui silaturahmi.

Di dalamnya terdapat ajakan mendalam untuk memuliakan orang tua dan peringatan agar tingkat ketaatan tidak menurun meskipun bulan puasa telah usai.

Materi khutbah Idul Fitri terbaru ini juga diwarnai dengan doa-doa emosional yang memohon ampunan serta harapan agar amal ibadah yang telah dikerjakan diterima oleh Allah. Secara keseluruhan, sumber ini berfungsi sebagai panduan moral bagi jamaah untuk tetap istiqamah dalam kebaikan sepanjang tahun.

Khutbah Idul Fitri
Pesan Menyentuh Hati di Hari Fitri
Pemateri: Ustadz Muhammad Irfandi al Indragiri

Pendahuluan Khutbah

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ،

اللهُ اَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كثيرا وسبحان الله بُكْرَةً وَأصِيْلاً لاَ اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَاللهُ اَكْبَرْ اللهُ اَكْبَرْ وَ للهِ اْلحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدَانَا لِهَذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللَّهُ.

أَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ، أَمَّابَعْدُ؛

فَيَآ أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تَقْوَاهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

Hadirin jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah,

Pagi ini, semesta bertakbir. Gema tahlil dan tahmid saling bersahutan membelah angkasa, menyusup ke ruang-ruang rumah kita, hingga menggetarkan relung dada. Di satu sisi, lisan ini tersenyum merayakan hari kemenangan. Namun di sisi lain, jauh di sudut hati terdalam, ada isak tangis yang tertahan.

Belum lama rasanya kita menengadahkan tangan, memohon dengan air mata, “Ya Allah, sampaikan usia kami pada bulan Ramadhan.” Dan Allah mengabulkannya. Namun hari ini, tamu agung itu telah pergi. Kita mengantarkan kepergian Ramadhan dengan lisan yang bergetar, “Ya Allah, terimalah amal ibadah kami yang tak seberapa ini.”

Ketahuilah, hadirin… Ramadhan pasti akan kembali tahun depan. Ia akan datang tepat pada waktunya. Namun pertanyaannya: Apakah kita masih ada di sini untuk menyambutnya?

Mari kita menengok sejenak ke belakang. Berapa banyak keluarga, sahabat, atau tetangga yang tahun lalu masih duduk berdampingan dengan kita mengumandangkan takbir, namun hari ini mereka telah berkalang tanah? Bahkan, ada yang baru beberapa hari lalu kita antarkan ke liang lahat. Tidak ada jaminan bagi nafas ini.

Maka, janganlah menangisi kepergian Ramadhan karena ia pasti kembali, tapi menangislah karena khawatir; ketika Ramadhan kembali mengetuk pintu dunia, kita sudah terbujur kaku di alam kubur.

Pesan Menyentuh Hati Bagi Jiwa

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil Hamd. Kaum muslimin yang dimuliakan Allah,

Di hari yang suci ini, Idul Fitri hadir bukan sekadar sebagai tradisi. Ia membawa tiga pesan menyentuh hati bagi jiwa kita: Pesan Ketuhanan (Rabbani), Pesan Kemanusiaan (Insani), dan Pesan Sosial (Ijtima’i).

Pertama: Pesan Rabbani

Pesan menyentuh hati yang pertama Adalah pesan Rabbani.

Hari ini adalah hari untuk membesarkan asma Allah, bukan hari untuk membesarkan hawa nafsu. Setelah sebulan penuh kita memenjarakan syahwat, menahan lapar dan dahaga, sungguh ironis jika hari raya ini justru dirayakan dengan kemaksiatan, kesombongan, atau foya-foya yang melalaikan.

Lebaran bukanlah “bubaran” dari ketaatan. Kegembiraan kita hari ini adalah kegembiraan karena karunia ampunan Allah, bukan kegembiraan karena bebas berbuat dosa.

Allah berfirman dalam surat Al-Baqarah ayat 185,

وَلِتُكۡمِلُوا۟ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

 “…Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Kedua, Pesan Insani (Kemanusiaan)

Pesan menyentuh hati yang kedua Adalah pesan Insani atau kemanusiaan.

 Islam tidak pernah mengizinkan kebahagiaan itu dimonopoli oleh orang kaya. Tidak dibenarkan kita bersuka cita dan tertawa lepas, sementara di sudut jalan atau di gubuk tetangga sebelah, ada janda-janda tua dan anak-anak yatim yang menangis kelaparan. Kita memakai baju baru yang mahal, sementara mereka menahan dingin. kita kekenyangan, sementara mereka kelaparan.

Ingatlah teguran tajam Baginda Nabi sebagaimana diriwayatkan oleh imam ath-Thabarani dalam kitabnya jilid 1 halaman 259,

مَا آمِنَ بِيْ مَنْ بَاتَ شَبْعَان وَجَارُهُ جَائِع إِلَى جَنْبِهِ وَهُوَ يَعْلَمُ بِهِ

 “Tidaklah beriman kepadaku, orang yang tidur malam dalam keadaan kenyang, sementara tetangga di sebelahnya kelaparan dan ia mengetahuinya.”

Itulah mengapa Zakat Fitrah diwajibkan. Untuk membersihkan jiwa kita yang kotor, sekaligus menyeka air mata mereka yang faqir, agar hari ini, tidak ada satu pun umat Islam yang menangis karena lapar.

Imam Abu Dawud meriwayatkan dalam kitab Sunan-nya, hadits nomor 1609, dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma bahwa ia berkata,

فَرَضَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِيْنِ،

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithri untuk menyucikan orang yang berpuasa dari perkara yang sia-sia dan perkataan yang keji sekaligus sebagai makanan bagi orang-orang miskin…..”

Hadirin yang dimuliakan Allah.

Ketiga, Pesan Ijtima’i (Sosial dan Silaturahim)

Pesan menyentuh hati yang ketiga adalah pesan Ijtima’i atau sosial dan silaturrahmi.

Umat Islam sangat disunnahkan terlebih di momentum yang mulia ini untuk saling menyambung silaturrahim dan menguatkan hubungan tali persaudaraan diantara mereka, saling berziarah dan mendoakan, saling menjadi penolong bagi sebagian yang lain serta saling mengajak kepada kepada hal yang makruf dan mencegah dari kemungkaran.

Bagi Anda yang saat ini masih memiliki orang tua, beruntunglah Anda. Pintu surga itu masih terbuka lebar. Namun, coba tanyakan pada hati kecil kita: Bagaimana perlakuan kita pada mereka selama ini?

Ingatlah sesosok wanita tua yang rahimnya pernah kita singgahi selama 9 bulan 10 hari. Ia meregang nyawa melahirkan kita, menyusui kita di pertengahan malam saat kita menangis, menahan lapar asalkan kita kenyang.

Ingat pula sesosok laki-laki renta yang tulang punggungnya membungkuk, kulitnya terbakar matahari, memeras keringat agar kita bisa bersekolah dan hidup layak. Darah yang mengalir di tubuh kita hari ini, daging yang menempel di tulang kita hari ini, adalah sari pati dari pengorbanan mereka!

Lalu, setelah kita sukses, setelah kita bergelar, setelah kita memiliki keluarga sendiri… mengapa kita menelantarkan mereka? Mengapa di momentum hari Idul Fitri ini dengan kesibukan dunia membuat kita lupa untuk berkunjung bahkan hanya sekadar menelpon mereka?

Betapa kejamnya kita jika menganggap orang tua yang sudah tua renta dan sakit-sakitan sebagai beban yang mengganggu keharmonisan rumah tangga kita.

Bagi para suami, ingatlah, surga istrimu ada padamu, tapi surgamu tetap ada di bawah telapak kaki ibumu. Dan bagi para istri, jadilah jembatan kasih sayang, bukan tembok penghalang yang memisahkan suami dari ibunya.

Sebab dari mana datangnya ridha Allah dalam rumah tangga, jika air mata seorang ibu terus menetes karena rindu atau sakit hati pada anak laki-lakinya?

Bagi saudara-saudara yang orang tuanya sudah tiada… hari ini mereka tidak butuh baju baru dari Anda. Mereka hanya menunggu satu hal di alam kubur sana: lantunan doa dan permohonan ampun yang Anda panjatkan dengan tulus hari ini.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa lillahil Hamd. Hadirin yang dimuliakan Allah,

Lantas, apa yang harus kita lakukan besok, lusa, dan bulan-bulan setelah Ramadhan ini berlalu?

Tidakkah kita malu menjadi hamba yang hanya shalat malam di bulan Ramadhan, namun kembali meninggalkannya di bulan Syawal?

Tidakkah kita takut menjadi seperti perempuan bodoh yang digambarkan oleh Allah dalam Al-Quran surat an-Nahl ayat 92,

وَلَا تَكُونُوا۟ كَٱلَّتِی نَقَضَتۡ غَزۡلَهَا مِنۢ بَعۡدِ قُوَّةٍ أَنكَـٰثࣰا

 “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat, menjadi cerai berai kembali…” (QS. An-Nahl: 92)

Jangan hancurkan bangunan ketaatan yang susah payah kita bangun selama sebulan! Tanda ibadah puasa kita diterima, adalah membaiknya akhlak dan ibadah kita setelah Ramadhan berlalu.

Tetaplah qiyamullail, meski hanya dua rakaat. Tetaplah baca Al-Quran, meski hanya beberapa ayat. Tetaplah jaga lisan, jaga pandangan, jaga sedekah, meski tak sebanyak di bulan puasa, dan tanda Allah sudah menerima amal seorang hamba, Ia akan memberinya petunjuk untuk beramal shalih setelahnya.

Baca juga: Kumpulan Kitab Tafsir Terpopuler Klasik dan Kontemporer

Imam Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-Azhim jilid 7 halaman 583,

مِنْ ثَوَابِ الحَسَنَةِ الحَسَنَةُ بَعْدَهَا، وَمِنْ جَزَاءِ السَّيِّئَةِ السَّيِّئَةُ بَعْدَهَا

“Di antara balasan kebaikan adalah kebaikan selanjutnya dan di antara balasan kejelekan adalah kejelekan selanjutnya”

Syaikh Mahmud Hasanat dalam salah satu ceramahnya beliau menyampaikan ungkapan yang sangat dalam sekali,

مَنْ كَانَ يَعْبُدُ رَمَضَان فَإِنَّ رَمَضَانَ قَدْ انْتَهَى، وَمَنْ كَانَ يَعْبُدُ الله فَإِنَّ اللهَ بَاقٍ حَيٌّ لا يَمُوْتُ

Barangsiapa yang menyembah Ramadhan, sungguh Ramadhan telah pergi berlalu. Namun barangsiapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Hidup, Kekal, dan tak akan pernah mati.”

Puasa kita di bulan Ramadhan memang telah usai, namun puasa dari hal yang haram tidak akan pernah berakhir. Al-Quran tidak pernah ditarik dari bumi. Pintu masjid tidak pernah digembok oleh malaikat. Dan rahmat Allah tidak pernah terputus hingga nyawa sampai di tenggorokan.

Teruslah beribadah… Teruslah menjadi hamba yang baik.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat al-Hijr ayat 99,

اعْبُدْ رَبَّكَ حَتَّى يَأْتِيَكَ اليَقِيْن

“Sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu kematian.” (QS. Al-Hijr: 99).

Semoga kita dapat menangkap pesan menyentuh hati nan mulia Idul Fitri di hari yang agung ini. Mari kita pulang dari tempat suci ini dengan hati yang baru. Peluk erat orang tua kita selagi wujudnya masih ada, doakan mereka yang telah tiada, dan rawatlah ketaatan kita kepada Allah hingga kelak kain kafan membungkus raga. Amiin Ya Rabbal ‘Alamin. Taqabbalallahu minna wa minkum.

أَقُوْلُ قَوْلِي هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْه إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم

Khutbah Kedua

اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا.

أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ أَمَّا بَعْدُ،

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

Hadirin jamaah shalat Idul Fitri yang dirahmati Allah,

Di detik-detik hari yang fitri ini, mari kita tundukkan kepala, rendahkan hati, dan angkat kedua tangan kita. Kita memohon kepada Dzat Yang Maha Mendengar, Dzat Yang Maha Mengetahui kedalaman hati kita…

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. حَمْدًا يُوَافِيْ نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَهُ. يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِيْ لِجَلاَلِ وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ.

Ya Allah, Ya Rahman, Ya Rahim… Pada pagi yang syahdu ini, kami berkumpul di rumah-Mu, bersimpuh mengagungkan asma-Mu. Hari ini kami merayakan kemenangan, namun hati kami bergetar ketakutan.

Takut jika puasa kami, shalat kami, dan rintihan kami di bulan Ramadhan kemarin tidak Engkau terima, Ya Allah. Allahumma taqabbal minna shiyamana wa qiyamana… Ya Allah, terimalah amal ibadah kami yang penuh dengan kekurangan ini.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.

Ya Allah, Yang Maha Pengampun… Ampunilah dosa-dosa kami. Dosa mata yang sering melihat maksiat, dosa lisan yang sering melukai hati sesama, dosa hati yang masih dijangkiti sombong dan dengki. Bersihkan jiwa kami, Ya Allah. Jadikan hari ini hari di mana kami terlahir kembali layaknya bayi yang suci dari noda.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا.

Ya Rabb… Pandanglah kami dan kedua orang tua kami dengan tatapan kasih sayang-Mu. Bagi kami yang ayah dan ibunya masih hidup… panjangkanlah umurnya dalam ketaatan. Berikan kami kesempatan untuk membahagiakan mereka.

Ampuni kami, Ya Allah… ampuni kami yang sering membentak mereka, yang membuat air mata mereka menetes karena lisan kami yang kasar, yang sering mengabaikan mereka karena sibuknya kami dengan urusan dunia.

Ya Allah, jangan cabut nyawa mereka sebelum mereka meridhai kami.

Ya Allah… bagi saudara-saudara kami yang hari ini bersimpuh sendirian. Yang ketika pulang nanti tidak ada lagi tangan ibu yang bisa dicium, tidak ada lagi senyum ayah yang menyambut di depan pintu. Bagi orang tua kami yang hari ini telah terbujur kaku di bawah gelapnya tanah…

Ya Allah, jadikanlah doa kami pagi ini sebagai pelita di alam kubur mereka.

Luaskan kuburnya, Ya Allah… Jadikan kuburnya taman dari taman-taman surga-Mu. Haramkan api neraka dari menyentuh kulit ayah dan ibu kami. Jangan siksa mereka karena dosa-dosa kami, anak-anaknya. Kumpulkan kami kelak bersama mereka di surga Firdaus-Mu, Ya Allah…

اَللَّهُمَّ يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ ثَبِّتْ قُلُوْبَنَا عَلَى دِيْنِكَ وَعَلَى طَاعَتِكَ.

Ya Allah, Dzat yang membolak-balikkan hati… Ramadhan telah pergi, namun jangan biarkan hidayah-Mu ikut pergi dari hati kami. Jangan biarkan masjid-masjid ini kembali sepi. Teguhkan hati kami untuk terus istiqamah.

Berikan kami kekuatan untuk menjaga shalat, menjaga lisan, dan menjaga ketaatan sampai malaikat maut datang menjemput kami. Matikan kami dalam keadaan husnul khatimah.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن.

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُم صَالِحَ الأَعْمَالِ، عِيْدُكُمْ مُبَارَكٌ وَعَسَاكُمْ مِنَ العَائِدِيْنَ وَالفَائِزِيْنَ كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ 

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

Download PDF Materi Khutbah Idul Fitri Terbaru
Pesan Menyentuh Hati di Hari Fitri
di sini

Semoga bermanfaat!

Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?

Topik Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading