materi khutbah idul fitri Istiqamah Menggenggam Bara Api Kebenaran dakwah.id

Khutbah Idul Fitri: Istiqamah Menggenggam Bara Api Kebenaran

Terakhir diperbarui pada ·

Materi khutbah Idul Fitri berjudul Istiqamah Menggenggam Bara Api Kebenaran yang ditulis oleh ustadz Abu Zufar Mujtaba ini menekankan pentingnya menjaga istiqamah dalam menjalankan ajaran agama di tengah tantangan zaman yang semakin berat.

Penulis menggunakan metafora menggenggam bara api untuk menggambarkan betapa sulitnya mempertahankan kebenaran dan ketakwaan saat nilai-nilai Islam dianggap asing oleh masyarakat.

Umat Muslim diingatkan untuk tidak goyah menghadapi cemoohan atau tekanan sosial, melainkan tetap fokus pada ridha Allah dan keberhasilan sejati di akhirat.

Selain nasihat spiritual, materi khutbah Idul Fitri terbaru ini juga mengajak jamaah untuk menumbuhkan kepedulian sosial dan empati terhadap penderitaan sesama Muslim, khususnya di wilayah konflik seperti Gaza, Palestina.

Secara keseluruhan, teks khutbah Idul Fitri ini berfungsi sebagai panduan moral bagi umat untuk memperkuat identitas keislaman dan persaudaraan global pasca-Ramadhan.

Khutbah Idul Fitri Terbaru
Istiqamah Menggenggam Bara Api Kebenaran
Pemateri: Ustadz Abu Zufar Mujtaba

Khutbah Pertama

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلهِ، الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا، وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ محمداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

اَللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعْيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ

أَمَّا بَعْدُ،

مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ أُوصِيكُمْ وَإيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ وَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالَى

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

يَا أَيُّهَا اَّلذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Mukadimah Khutbah

Ma’asyiral Muslimin Jamaah Shalat Idul Fithri yang berbahagia,

Mari kita bersyukur kepada Allah atas segala limpahan nikmat dan karunia-Nya. Sebulan penuh kita sudah berlimpah nikmat dan karunia-Nya. Nikmat dapat melaksanakan shiyam Ramadhan agar lempang jalan takwa. Nikmat dapat melaksanakan Qiyam Ramadhan atau Tarawih agar tercapai ridha-Nya. Nikmat tilawah dan tadarus al-Quran agar semakin terang jalan menuju jannah-Nya.

Semoga shiyam kita, qiyam atau Tarawih kita, tilawah-tadarus kita, dan semua amal shalih kita, diterima oleh Allah dan diberi balasan di dunia dan di akhirat. Aamiiin.

Shalawat dan salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada uswah hasanah kita, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Suri teladan terbaik dalam segala sisi keislaman dan keimanan. Beliau telah meninggalkan jejak penjelasan yang sangat amat cukup, sehingga siapapun yang bersungguh-sungguh menapaki jejaknya, akan dengan mudah memahami dan menjalaninya.

Selanjutnya saya berwasiat untuk diri saya pribadi dan jamaah sekalian, marilah selalu kita tingkatkan takwa dan iman kita kepada Allah; agar kelak kita memiliki harapan, dikumpulkan bersama dengan para Nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang shalih.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَر

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Jamaah shalat Idul Fithri yang dicintai Allah,

Di hari lisan semua muslim melantunkan takbir, tahlil, tasbih, dan tahmid ini, mari kita menghayati satu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang merupakan satu petunjuk sekaligus kaidah penting. Petunjuk dan kaidah terkait dengan kondisi kita hari ini. Kondisi dimana Islam semakin dianggap sebagai sesuatu yang asing.

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits berderajat hasan, hadits nomor 2260, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda,

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ، الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

Akan datang suatu zaman kepada manusia, orang yang bersabar dalam memegangi agamanya di tengah-tengah mereka, layaknya orang yang menggenggam bara api.”

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَر

لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Ma’asyiral Muslimin, arsyadakumullah.

Jika kita bertemu dengan seseorang yang ke sana-ke mari, ke manapun dia pergi, dia selalu menggenggam bara api… apa pandangan kita terhadapnya?

Kiranya, kita semua akan memandangnya sebagai orang yang berkelakuan aneh. Bahkan mungkin ada di antara kita yang menganggapnya tidak waras.

Bagaimana tidak? Bara api yang panas. Bara api yang bisa membakar dan melepuhkan tangannya. Namun ia tetap menggenggamnya. Bahkan ketika ada orang yang “menasihati”-nya, semakin kencang dia menggenggam bara api yang melepuhkan tangannya.

Namun begitulah gambaran yang diberikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang orang yang berpegang teguh kepada kebenaran pada suatu zaman. Zaman banyak orang yang mengaku muslim tetapi tidak mengamalkan Islamnya; atau bahkan tidak memahaminya.

Orang yang dikabarkan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam ini sama sekali tidak akan melepaskannya… sebab dia tahu persis… panas bara api yang digenggamnya… derita tangan melepuh itu hanyalah sesaat.

Kesudahannya adalah kebahagiaan yang sejati di akhirat… Kesuksesan yang sesungguhnya di hari yang tak ada akhirnya. Dia tidak peduli dibilang tidak waras. Dia tidak peduli di-bully. Bahkan dia tak peduli, jika harus menahan derita dan rasa sakit atau bahkan kehilangan semua miliknya yang berharga… termasuk nyawanya.

Dia tahu, jauh sebelum dia mengalami hal itu, ada banyak saudaranya yang mendapati keadaan yang sama… dan mereka tetap bersabar dalam berpegang kepada kebenaran.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Hari ini, kita benar-benar menyaksikan dan atau bahkan mengalami… Jika kita tertib mengerjakan shalat lima waktu, apalagi memastikan selalu berjamaah… Jika kita tak pernah absen untuk melaksanakan shalat Jumat, membayar zakat, melaksanakan shiyam Ramadhan sebulan penuh; kita dianggap sebagai orang yang terlalu kuat dalam berislam.

Baca juga: Hukum Shalat Jumat Jika Telah Melaksanakan Shalat Id

Berislam itu biasa saja, tidak usah terlalu berlebihan. Begitu biasa kita mendengar para penggembos komitmen kita.

Sama juga halnya jika kita menjaga diri dari berbagai larangan Allah seperti berjudi, mencuri, korupsi, berbuat riba, berzina, percaya kepada ramalan bintang, percaya kepada apa kata dukun, curang dalam berdagang, tidak amanah saat dipercaya, dan lain sebagainya; kita dianggap sok suci.

Padahal, apa yang sudah kita sebut tadi adalah barometer minimal seorang muslim.

Adalah Hasan al-Bashri rahimahullah, salah seorang tabi’in ia berkata, sebagaimana dikutip dalam kita hilyatul Auliya’, nomor 1833,

لَوْ رَأَيْتُمُوهُمْ لَقُلْتُمْ: مَجَانِين، وَلَوْ رَأَوْا خِيَارَكُمْ لَقَالُوا: مَا لِهَؤُلَاءِ مِنْ خَلَاقٍ

Jika kalian melihat para sahabat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam niscaya kalian akan mengatakan bahwa mereka adalah orang gila. Sebaliknya, seandainya mereka melihat orang-orang pilihan dari kalian, niscaya mereka akan mengatakan bahwa orang-orang pilihan itu tak benar benar-benar beragama. Hanya bermain-main saja.”

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Jamaah shalat Idul Fithri arsyadakumullah,

Jika hari ini kita mendapatkan olok-olok, bullying, kata-kata yang tak pantas, celaan, tekanan atau apa pun karena komitmen kita kepada Islam, mari sabarkan diri… mari teguhkan jiwa… janganlah kita mengendorkan pegangan kita kepada Islam… janganlah kita melepaskan komitmen kita kepada kebenaran.

Sungguh, Allah subhanahu wata’ala sudah menjelaskan bahwa salah satu sifat orang-orang yang beriman itu adalah tidak peduli dan tidak takut pada celaan siapa pun. Dia akan bertahan meski harus menggenggam bara api… meski tangannya melepuh… meski badannya terbakar.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat al-Maidah ayat 54,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا مَنْ يَرْتَدَّ مِنْكُمْ عَنْ دِينِهِ

“Wahai orang-orang yang beriman, siapa di antara kalian yang murtad dari agamanya,

فَسَوْفَ يَأْتِي اللَّهُ بِقَوْمٍ يُحِبُّهُمْ وَيُحِبُّونَهُ

maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya,

أَذِلَّةٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ أَعِزَّةٍ عَلَى الْكَافِرِينَ

bersikap lembut terhadap orang beriman, tegas terhadap orang kafir,

يُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا يَخَافُونَ لَوْمَةَ لَائِمٍ،

berjihad di jalan Allah, dan tidak takut terhadap celaan orang yang mencela.

ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ، وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Itu adalah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al Maidah: 54)

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Jamaah arsyadakumullah,

Berpegang teguh kepada kebenaran di akhir zaman ini kiranya benar-benar seperti menggenggam bara api. Jika kita lepaskan, maka kita akan kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ridha Allah… kita akan kehilangan kebahagiaan yang sebenar-benarnya… kebahagiaan yang setetes darinya, jika dibandingkan dengan segala hal terpahit dan tersakit di dunia dijadikan satu, maka kebagiaan itu jauh lebih berharga.

Imam Muslim meriwayatkan, sebuah hadits nomor 2807, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

يُؤْتَى بِأَنْعَمِ أَهْلِ الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ النَّارِ يَوْمَ القِيَامَةِ، فَيُصْبَغُ فِي النَّارِ صَبْغَةً،

“Pada hari kiamat akan didatangkan orang yang paling mendapatkan kenikmatan di dunia tetapi termasuk penghuni neraka, lalu ia dicelupkan sekali celup ke dalam neraka.

ثُمَّ يُقَالُ: يَا ابْنَ آدَمَ، هَلْ رَأَيْتَ خَيْرًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ نَعِيمٌ قَطُّ؟

Kemudian dia ditanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah melihat sedikit kebaikan? Apakah pernah engkau merasakan kenikmatan?’

فَيَقُولُ: لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ.

Ia menjawab, ‘Tidak, demi Allah wahai Rabbku, aku tidak pernah melihat kenikmatan sama sekali.’

وَيُؤْتَى بِأَشَدِّ النَّاسِ بُؤْسًا فِي الدُّنْيَا مِنْ أَهْلِ الجَنَّةِ، فَيُصْبَغُ صَبْغَةً فِي الجَنَّةِ،

Dan didatangkan orang yang paling sengsara hidupnya di dunia tetapi termasuk penghuni surga, lalu ia dicelupkan sekali ke dalam surga.

فَيُقَالُ لَهُ: يَا ابْنَ آدَمَ، هَلْ رَأَيْتَ بُؤْسًا قَطُّ؟ هَلْ مَرَّ بِكَ شِدَّةٌ قَطُّ؟

Kemudian dia ditanya, ‘Wahai anak Adam, apakah engkau pernah merasakan kesengsaraan? Apakah pernah engkau mengalami kesulitan?’

فَيَقُولُ: لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ، مَا مَرَّ بِي بُؤْسٌ قَطُّ، وَلَا رَأَيْتُ شِدَّةً قَطُّ.

Ia menjawab: ‘Tidak, demi Allah wahai Rabbku, aku tidak pernah merasakan kesengsaraan sama sekali dan tidak pernah melihat kesulitan.’”

Demikianlah jika kita bandingkan. Kesulitan, kesengsaraan, melepuh tangan, menanggung celaan, dan semua yang merupakan risiko dan konsekuensi berpegang kepada kebenaran, tidak akan terasa sulit dan menyiksa lagi saat kita sudah merasakan sedikit balasannya.

Saat kita sudah di surga. Saat kita sudah mendapatkan ridha-Nya. Bahkan kita akan lupa bahwa kita pernah merasakan sulit, perih, pedih, dan luka itu.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Mari kita ingat juga, seuntai pesan penuh makna dari Imam Malik rahimahullah. Imam Asy-Syathibiy di dalam kitab al-I’tisham jilid 1 halaman 65 mengutip pernyataan beliau,

لَا يَصْلُحُ آخِرُ هَذِهِ الْأُمَّةِ إِلَّا بِمَا صَلَحَ بِهِ أَوَّلُهَا

Generasi akhir dari umat ini tidak akan menjadi baik kecuali dengan apa yang membuat generasi awalnya menjadi baik.”

Maka tidak ada jalan lain, kecuali menapaki jalan yang pernah mereka tempuh.

Akidah mereka. Pemahaman mereka. Fikih mereka. Akhlak mereka. Cara mereka merespon hal-hal baru yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Dan dalam meniti jejak langkah para pendahulu, orang-orang yang beriman ini, tidak takut maupun khawatir terhadap celaan, cacian, bullying, atau apapun dari mereka yang tidak suka kepada mereka.

Yang paling mereka takutkan adalah jika mereka tidak dapat menyusul para pendahulu… jika tidak dapat menjadi teman-teman mereka… mereka yang telah mendapatkan nikmat dari Allah subhanahu wata’ala.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam surat an-Nisa’ ayat 69,

وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَٰئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَٰئِكَ رَفِيقًا

Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul, maka mereka akan bersama orang-orang yang Allah beri nikmat, yaitu: para nabi, para ṣhiddīqīn (orang-orang yang paling serius dalam mengikuti Nabi), para syuhada, dan orang-orang shalih. Mereka itulah sebaik-baik teman.” (QS. An-Nisa`: 69)

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

Semoga Allah menguatkan hati kita. Semoga Allah mengokohkan jiwa kita semua dalam menapaki jalan kebenaran dan menggenggam bara api Islam di zaman kita ini. Dan semoga kelak kita dikumpulkan bersama para nabi, para shiddiqin, para syuhada, dan orang-orang shalih dalam ridha Allah ‘azza wa jalla.

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَبِهِ نَسْتَعِيْنُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّيْنِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ اْلأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أْجْمَعِيْنَ

أُوصِيكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ

Jamaah Shalat Idul Fithri yang berbahagia,

Di hari yang kita semua berbahagia ini, mari kita ingat saudara-saudara kita yang tampak kurang beruntung dari kita. Saya katakan tampak kurang beruntung karena bisa jadi mereka jauh lebih beruntung daripada kita semua.

Mereka adalah saudara-saudara kita di Gaza Palestina, dan di negeri-negeri lainnya, yang lepuh tangan mereka oleh sebab genggaman bara api mereka jauh lebih dahsyat daripada luka yang kita dapati di tangan kita karena melakukan hal yang sama.

Baca juga: Membela Palestina Bukti Keimanan

Mari kita memiliki hati. Mari kita bantu mereka semaksimal kemampuan kita. Sebab kita dan mereka adalah satu. Kita dan mereka adalah umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang hidup di masa yang sama dan di bumi yang sama.

Bagi umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, batas-batas negara adalah garis-garis semu yang membuat kita terpecah belah. Garis-garis semu yang membuat sebagian kita lupa bahwa kita adalah umat yang satu.

Umat yang terikat dengan firman Allah subhanahu wata’ala surat al-Hujurat ayat 10.

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

Hanyasanya orang-orang yang beriman itu bersaudara.” (QS. Al-Hujurat: 10)

Umat yang terikat dengan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sebagaimana diriwaayatkan oleh imam al-Bukhari hadits nomor 6011 dan imam Muslim hadits nomor 2586,

مَثَلُ المُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالحُمَّى

Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi adalah seperti satu tubuh. Apabila satu anggota tubuh merasakan sakit, maka seluruh tubuh ikut merasakannya; tidak bisa tidur dan merasakan demam.” (HR. Al-Bukhari no. 6011; dan Muslim no. 2586)

Jika hati kita tak tergerak untuk turut merasakan apa yang mereka rasakan… jika hati kita tak tergerak untuk memberikan bantuan atau pertolongan untuk mereka… mestinya kita khawatir, jangan-jangan iman sudah sangat tipis menempel di hati kita, atau bahkan sudah sirna. Jangan-jangan kita sudah kehilangan pondasi keislaman kita.

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ

Jamaah arsyadakumullah,

Akhirnya, mari kita berdoa kepada Allah. Mari kita hadirkan hati kita memanjatkan permohonan kepada-Nya, dengan begitu kiranya Allah berkenan mengabulkannya.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ وَالْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأمَوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ وَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ

اَللَّهُمَّ أَسْعِدْ فِي هَذَا الْعِيْدِ قُلُوْبَنَا، وَفَرِّجْ هُمُوْمَنَا، وَاشْفِ مَرْضَانَا، وَارْحَمْ مَوْتَانَا، وَأَصْلِحْ أَحْوَالَنَا وَأَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ فِيْ كُلِّ مَكَانٍ

اَللَّهُمَّ فِيْ هَذَا الْمَقَامِ نَسْأَلُكَ مَسْأَلَةَ الْمُضْطَرِّ اللَّهُمَّ لَا تَدَعْ ذَنْبًا إِلاَّ غَفَرْتَهُ وَ لَا هَمًّا إِلاَّ فَرَّجْتَهُ وَ لَا دَيْنًا إِلاَّ قَضَيْتَهُ وَ لَا مَظْلُوْمًا إِلَّا نَصَرْتَهُ وَ لَا فَقِيْرًا إِلَّا أَغْنَيْتَهُ وَ لَا ضَالًّا إِلَّا هَدَيْتَهُ وَ لَا غَائِبًا إِلاَّ رَدَدْتَهً إِلَى أهْلِهِ وِلاَ مَرِيْضًا فِيْنَا إِلاَّ شَفَيْتَهُ وَ لَا مَيِّتًا إِلَّا رَحِمْتَهُ وَ لَا حَاجَةً مِنْ حَوَائِجِ الدُّنْيَا لَكَ فِيهَا رِضًا إِلاَّ قَضَيْتَهَا وَ يَسَّرْتَهَا

اَللَّهُمَّ احْقَن دِمَاءَ الْمُسْلِمِيْنَ وَاحْفَظْ أَوْطَانَ الْمُسْلِمِيْنَ

اَللَّهُمَّ احْفَظْنَا فِي بَلَدِنَا هَذَا وَارْزُقْنَا اْلأَمْنَ وَاْلأَمَانَ وَالْاِسْتِقْرَارَ وَأَصْلٍحْ بَيْنَنَا وَوَحِّدْ صُفُوْفَنَا.

اَللَّهُمَّ احْمِ بِلاَدَنَا وَسَائِرَ بِلاَدِ اْلإِسْلاَمِ مِنَ اْلفِتَنِ وَالْمِحَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، اللَّهُمَّ وَفِّقْ وُلَاةَ أُمُوْرِنَا لِماَ تُحِبَّ وَتَرْضَى، وَخُذْ بِنَاصِيَتِهِمْ لِلْبِرِّ وَالتَّقْوَى.

اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي غَزَّةَ

اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي غَزَّةَ

اَللَّهُمَّ انْصُرِ الْمُجَاهِدِيْنَ فِي غَزَّةَ

اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا

اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا

اَللَّهُمَّ انْصُرْهُمْ نَصْرًا مُؤَزَّرًا

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلهِ الْحَمْد

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Download PDF Materi Khutbah Idul Fitri Terbaru
Istiqamah Menggenggam Bara Api Kebenaran
di sini

Semoga bermanfaat!

Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?

Topik Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading