Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

I’tikaf di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan – Hadits Puasa #20

289

I’tikaf di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan — Hadits Puasa #20

 

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ العَشْرَ الأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ

Dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasanya melaksanakan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari No. 2025; HR. Muslim No. 1171)

Baca juga: Puasa Adalah Perisai — Hadits Puasa #12

Hadits di atas mengisyaratkan tentang keutamaan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri biasanya melaksanakan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan hingga beliau wafat.

مَا فَعَلَهُ الرَّسُوْلُ عَلَى وَجْهِ الطَّاعَةِ وَالْقُرْبَةِ فَهُوَ مَنْدُوْبٌ لَنَا

Ibadah yang dilakukan Nabi atas dasar ketaatan dan taqarub kepada Allah, maka ibadah itu dianjurkan (sunnah) bagi kita.” — Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan

 

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Tentang I’tikaf di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

I’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan tidak sah jika dilaksanakan di masjid yang tidak digunakan untuk shalat jamaah.

Selain itu, sebaiknya i’tikaf dilaksanakan di masjid yang digunakan untuk shalat Jumat sebagai bentuk sikap kehati-hatian. Karena ada pendapat ulama yang mensyaratkan masjid yang digunakan untuk i’tikaf haris masjid yang digunakan untuk shalat Jumat.

Baca juga: Menghidupkan Malam Bulan Ramadhan — Hadits Puasa #5

Hendaknya orang yang ingin i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan mulai memasuki masjid tempat i’tikaf sebelum matahari tenggelam malam ke-21. Ini adalah pendapat jumhur ulama fikih.

Dalilnya hadits Abu Said radhiyallahu ‘anhu,

مَنْ كَانَ اعْتَكَفَ مَعِي، فَلْيَعْتَكِفِ العَشْرَ الأَوَاخِرَ

Barang siapa ingin i’tikaf bersamaku, silakan mulai i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari No. 2018; HR. Muslim No. 1167)

Tujuan adanya pensyariatan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan adalah memburu Lailatul Qadar.

Lailatul Qadar diharapkan terjadinya di malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Malam ganjil yang pertama dimulai dari malam ke-21.

I’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan memiliki faedah yang sangat mulia. Ibadah ini adalah sebentuk uzlah (menyendiri) dari berbagai persoalan dan kesibukan duniawi dana fokus menghadap Allah ‘azza wajalla secara keseluruhan untuk beberapa waktu tertentu.

Baca juga: Keutamaan Membaca Al-Quran di Bulan Ramadhan — Hadits Puasa #6

Ketika seseorang telah memutuskan untuk i’tikaf fokus beribadah di salah satu rumah Allah ‘azza wajalla, maka ia dilarang untuk mencumbu istrinya baik dengan menggauli istri, mencium istri, atau semisalnya.

Demikian pula, orang yang i’tikaf dilarang keluar dari masjid kecuali untuk keperluan manusiawi yang sifatnya darurat, seperti mandi janabah, buang air kecil dan buang air besar jika di masjid tidak ada toilet dan kamar mandi.

Boleh juga orang yang i’tikaf keluar dari masjid untuk mencari makanan untuk berbuka atau untuk sahur, jika tidak ada yang menyediakannya di masjid.

Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata,

كَانَ لاَ يَدْخُلُ البَيْتَ إِلَّا لِحَاجَةٍ إِذَا كَانَ مُعْتَكِفًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak masuk rumah kecuali ketika ada keperluan mendesak ketika beliau sedang i’tikaf.” (HR. Al-Bukhari No. 2029; HR. Muslim No. 297)

Adapun jika orang yang i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan keluar masjid untuk aktivitas ketaatan, seperti menjenguk orang sakit, mengantar jenazah, dan semisalnya, maka hendaknya itu tidak ia lakukan. Kecuali jika ia telah mensyaratkan sejak awal mulai i’tikaf, berdasarkan salah satu pendapat ulama fikih.

Baca juga: Malam Ganjil Bertepatan dengan Malam Jumat, Pertanda Lailatul Qadar?

Orang yang melaksanakan i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan hendaknya memahami betul hikmah dari i’tikaf itu sendiri.

Sehingga ia benar-benar memanfaatkan waktunya selama i’tikaf untuk shalat, membaca al-Quran, zikir, melakukan kegiatan yang bermanfaat seperti belajar ilmu agama, membaca buku-buku tauhid, tafsir, hadits, dan lainnya.

 

عَنْ صَفِيَّةَ بِنْتِ حُيَيٍّ، قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُعْتَكِفًا فَأَتَيْتُهُ أَزُورُهُ لَيْلًا، فَحَدَّثْتُهُ

Dari Shafiyyah binti Huyay, ia berkata,

Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sedang melaksanakan i’tikaf aku datang menemui beliau di malam hari, lalu aku berbincang-bincang sejenak dengan beliau.” (HR. Al-Bukhari No. 2035; HR. Muslim No. 2175)

Orang yang i’tikaf di sepuluh hari terakhir Ramadhan juga diperkenankan untuk berbincang ringan yang sifatnya mubah dengan sesama muslim atau dengan keluarganya di masjid dalam rangka kemaslahatan tertentu, sebagaimana disebutkan dalam hadits di atas. Wallahu a’lam [Sodiq fajar/dakwah.id]

 

اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ خَشْيَتَكَ فِي الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، وَنَسْأَلُكَ كَلِمَةَ الْحَقِّ فِي الْغَضَبِ وَالرِّضَا، وَنَسْأَلُكَ الْقَصْدَ فِي الْفَقْرِ وَالْغِنَى، وَنَسْأَلُكَ نَعِيْمًا لَا يُنْفَدُ، وَقُرَّةَ عَيْنٍ لَا تَنْقَطِعْ، وَنَسْأَلُكَ لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ، وَاغْفِرْ اَللَّهُمَّ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ.

Ya Allah, sungguh kami memohon rasa takut kepada-Mu dalam keadaan tersembunyi atau terang-terangan, kami juga memohon kalimat haq-Mu dalam kondisi murka atau pun ridha, kami juga memohon kepada-Mu keikhlasan dalam kefakiran dan kekayaan, kami mohon kepada-Mu nikmat yang tak henti, penyejuk mata yang tak terputus, kami mohon kepada-Mu kenikmatan melihat wajah-Mu yang Mulia, ampuni dosa kami ya Allah, dosa kedua orang tua kami dan dosa seluruh kaum muslimin.

 

Diadaptasi dari kitab: Mukhtashar Ahadits ash-Shiyam
Penulis: Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan
Penerjemah: Sodiq Fajar