Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Keutamaan Membaca Al-Quran di Bulan Ramadhan — Hadits Puasa #6

447

Keutamaan Membaca Al-Quran di Bulan Ramadhan— Hadits Puasa #6

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيُّ، قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَقُولُ: اِقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

Dari Abu Umamah al-Bahili ia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Bacalah Al-Quran, sebab ia akan datang di hari kiamat kelak sebagai pemberi syafaat kepada pembacanya.” (HR. Muslim No. 804)

 

Hadits di atas menjelaskan tentang keutamaan membaca al-Quran. Pahala sangat besar yang dijanjikan dalam hadits di atas adalah al-Quran sebagai pemberi syafaat untuk masuk Jannah bagi para pembacanya.

Dari an-Nawas bin Sam’an al-Kilabi ia berkata, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُؤْتَى بِالْقُرْآنِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَهْلِهِ الَّذِينَ كَانُوا يَعْمَلُونَ بِهِ تَقْدُمُهُ سُورَةُ الْبَقَرَةِ، وَآلُ عِمْرَانَ، وَضَرَبَ لَهُمَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثَلَاثَةَ أَمْثَالٍ مَا نَسِيتُهُنَّ بَعْدُ، قَالَ: كَأَنَّهُمَا غَمَامَتَانِ، أَوْ ظُلَّتَانِ سَوْدَاوَانِ بَيْنَهُمَا شَرْقٌ، أَوْ كَأَنَّهُمَا حِزْقَانِ مِنْ طَيْرٍ صَوَافَّ، تُحَاجَّانِ عَنْ صَاحِبِهِمَا

Al-Quran akan didatangkan pada hari kiamat bersama ahlinya yang telah beramal dengannya. Yang pertama kali adalah surat al-Baqarah dan Ali Imran.”

Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan tiga pemisalan tentang itu yang tak pernah aku lupakan selamanya, yakni,

Seperti dua tumpuk awan hitam yang di antara keduanya terdapat cahaya, atau seperti dua kelompok burung yang sedang terbang dalam formasi hendak membela pembacanya.” (HR. Muslim No. 805)

Baca juga: Materi Khutbah Jumat: Saatnya Menggalang Persatuan Umat

Mengingat betapa besar pahalanya, maka hendaknya orang yang sedang melaksanakan puasa memperbanyak membaca al-Quran di bulan Ramadhan baik di waktu siang atau malam hari. Karena memperbanyak membaca al-Quran di bulan Ramadhan memiliki keistimewaan yang lebih dibanding membacanya di bulan-bulan lain.

Apalagi, membaca al-Quran di bulan Ramadhan pada waktu malam memiliki kelebihan; di malam bulan Ramadhan adalah waktu dimana seluruh aktivitas harian terhenti, sehingga semangat mulai terkumpul, hati dan lisan mudah untuk diajak fokus mentadaburi al-Quran.

Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali menjelaskan,

إِنَّمَا وَرَدَ النَّهْيُ عَنْ قِرَاءَةِ الْقُرْآنِ فِي أَقَلِّ مِنْ ثَلَاثٍ عَلَى الْمُدَاوَمَةِ عَلَى ذَلِكَ فَأَمَّا فِي الْأَوْقَاتِ الْمُفَضَّلَةِ كَشَهْرِ رَمَضَانَ خُصُوْصًا اَللَّيَالِي الَّتِي يُطْلَبُ فِيْهَا لَيْلَةُ الْقَدَرِ أَوْ فِي الْأَمَاكِنِ الْمُفَضَّلَةِ كَمَكَّةَ لِمَنْ دَخَلَهَا مِنْ غَيْرِ أَهْلِهَا فَيُسْتَحَبُّ الْإِكْثَارُ فِيْهَا مِنْ تِلَاوَةِ الْقُرْآنِ اِغْتِنَامًا لِلزَّمَانِ وَالْمَكَانِ وَهُوَ قَوْلُ أَحْمَدٍ وَإِسْحَاقٍ وَغَيْرِهِمَا مِنَ الْأَئِمَّةِ

“Adanya larangan mengkhatamkan al-Quran kurang dari tiga hari hanya berlaku jika itu dijadikan kebiasaan. Akan tetapi bila itu dilakukan di bulan-bulan yang diutamakan seperti bulan Ramadhan, khususnya di malam hari dimana terjadi peristiwa lailatul qadar, atau di tempat-tempat yang diutamakan seperti kota Mekkah bagi penduduk luar yang mengunjunginya, maka dianjurkan untuk memperbanyak membaca al-Quran di dalamnya. Itu dilakukan dalam rangka meraih keutamaan terkait tempat dan waktu tersebut. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Ishaq, dan ulama-ulama lain.” (Lathaif al-Ma’arif, Ibnu Rajab al-Hanbali, 201, 202)

Baca juga: Asal-Usul Istilah Ramadhan dalam Kalender Qamariyah

Adab yang Harus Diperhatikan ketika Membaca Al-Quran di Bulan Ramadhan

Bagi para pembaca al-Quran, hendaknya menghiasi diri dengan adab-adab membaca al-Quran seperti niat ikhlas karena Allah ‘azza wajalla, membaca al-Quran dalam keadaan suci, dan bersiwak.

Ini adalah bentuk pemuliaan terhadap kalam Allah ‘azza wajalla. Demikian pula orang yang membaca al-Quran dituntut untuk tadabur al-Quran, karena ini merupakan tujuan utama diturunkannya al-Quran.

Termasuk bagian dari adab membaca al-Quran adalah bersujud ketika membaca ayat sajdah, sujud yang dilakukan dalam keadaan berwudhu; suci, di waktu kapan pun ketika membacanya.

Baca juga: Obat yang Membatalkan Puasa Ramadhan — Hadits Puasa #2

Selain itu, hendaknya tidak mengeraskan bacaan al-Quran jika dikhawatirkan akan  mengganggu orang-orang yang ada di sekelilingnya. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Said al-Khudhri radhiyallahu anhu,

اعْتَكَفَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي الْمَسْجِدِ، فَسَمِعَهُمْ يَجْهَرُونَ بِالْقِرَاءَةِ، فَكَشَفَ السِّتْرَ، وَقَالَ:

أَلَا إِنَّ كُلَّكُمْ مُنَاجٍ رَبَّهُ، فَلَا يُؤْذِيَنَّ بَعْضُكُمْ بَعْضًا، وَلَا يَرْفَعْ بَعْضُكُمْ عَلَى بَعْضٍ فِي الْقِرَاءَةِ،

أَوْ قَالَ: فِي الصَّلَاةِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam beri’tikaf di masjid lalu mendengar orang-orang mengeraskan bacaan al-Quran. Lalu beliau menyingkap tirai dan bersabda,

Ketahuilah, kalian semuanya sedang bermunajat kepada Rabbnya, maka jangan sebagian kalian mengganggu sebagian yang lain! Janganlah sebagian dari kalian mengeraskan suara atas lainnya dalam membaca al-Quran.”

Atau menyatakan, “Dalam shalat.” (HR. Abu Daud No. 1332; HR. An-Nasa’i No. 8038. Ini hadits shahih) wallahu a’lam [Sodiq Fajar/dakwah.id]

 

اَللَّهُمَّ اجْعَلِ الْقُرآنَ الْعَظِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْبِنَا، وَنُوْرَ صُدُوْرِنَا، وَجِلَاءَ أَحْزَانِنَا، وَذِهَابَ هُمُوْمِنَا، وَدَلِيْلَنَا إِلَيْكَ وَإِلَى جَنَّاتِ النَّعِيْمِ، اَللَّهُمَّ ذَكِّرْنَا مِنْهُ مَا نَسِيْنَا، وَعَلِّمْنَا مِنْهُ مَا جَهِلْنَا، وَارْزُقْنَا الْإِكْثَارَ مِنْ تِلَاوَتِهِ عَلَى مَا تُحِبُّ وَتَرْضَى

Ya Allah, jadikanlah al-Quran sebagai penyejuk hati kami, cahaya dada kami, pelipur kesedihan kami, pelenyap kegundahan kami, dan penuntun kamu kepada-Mu dan kepada Surga-Mu yang penuh kenikmatan. Ya Allah, ingatkan kami jika kami melupakannya, ajari kami pengetahuan darinya yang kami masih bodoh tentangnya, beri kami rezeki memperbanyak membacanya dengan cara yang Engkau sukai dan ridhai.

 

Diadaptasi dari kitab: Mukhtashar Ahadits ash-Shiyam
Penulis: Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan
Penerjemah: Sodiq Fajar