Cahaya menembus jeruji penjara, simbol hakikat kemerdekaan jiwa

Materi Khutbah Jumat: Hakikat Kemerdekaan — 3 Hikmah dari Kisah Nabi Yusuf

Terakhir diperbarui pada ·

Materi Khutbah Jumat
Hakikat Kemerdekaan — 3 Hikmah dari Kisah Nabi Yusuf
Pemateri: Ustadz Zaki Abu Barbarosa

Mukadimah Khutbah Jumat

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَلِيِّ الْمُتَّقِيْنَ، وَنَاصِرِ عِبَادِهِ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ، يَقْضِيْ بِالحَقِّ، وَهُوَ خَيْرُ الْفَاصِلِيْنَ. نَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا هُوَ، وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، رَبُّ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ. وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ النُّوْرُ الْهَادِيُ الْأَمِيْنُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحَابَتِهِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَمَّا بَعْدُ.

فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْنِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَأَحُثُّكُمْ عَلَى طَاعَتِهِ. اتَّقُوا اللَّهَ فَإِنَّهَا وَصِيَّةُ اللَّهِ، وَصَّى بِهَا الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ. اتَّقُوا اللَّهَ وَمَا تُقَدِّمُوْا لِأَنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوْهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا وَاسْتَغْفِرُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ غَفُوْرٌ رَحِيْمٌ.

Khutbah Pertama

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah subhanahu wata’ala dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Sebab bekal terbaik yang akan kita bawa menghadap Allah kelak adalah ketakwaan.

Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 102,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Sebentar lagi bangsa kita memperingati hari kemerdekaan. Bendera merah putih berkibar di mana-mana, perlombaan digelar sebegitu meriahnya, dan masyarakat menyambut 17 Agustus dengan penuh sukacita.

Kemerdekaan ini adalah nikmat besar yang wajib kita syukuri. Kita bebas, aman, dan patut mendoakan para pahlawan yang telah berjuang mengorbankan jiwa raga.

Namun, mari sejenak kita bertanya pada diri sendiri: negeri ini sudah merdeka, tapi apakah hati kita juga sudah benar-benar merdeka?

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Bisa jadi tubuh kita bebas berjalan ke mana saja, tapi hati kita masih terbelenggu hawa nafsu. Kita tidak lagi dijajah bangsa asing, tapi boleh jadi kita masih menjadi tawanan syahwat, amarah, cinta dunia, dan kemaksiatan yang menjauhkan kita dari Allah.

Orang yang menuruti hawa nafsunya mungkin merasa bebas melakukan apa saja. Tetapi hakikatnya, ia bukan orang yang merdeka, ia hanyalah tawanan dari dosanya sendiri.

Dari sini kita paham: merdeka itu bukan bebas berbuat semaunya. Merdeka yang hakiki adalah saat kita sanggup mengendalikan diri dan memilih taat kepada Allah, meski hawa nafsu terus mengajak pada dosa.

Inilah jalan menuju jiwa yang tenang (an-nafs al-muthma’innah), jiwa merdeka yang dipanggil lembut oleh Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana dalam firman-Nya, Surah Al-Fajr ayat 27-28,

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ () ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَرْضِيَّةً

“Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai.”

Lantas, bagaimana caranya agar hati kita tetap merdeka di tengah gempuran ujian dan godaan zaman?

Mari kita belajar dari teladan agung Al-Quran: kisah Nabi Yusuf ‘alaihissalam. Seorang nabi yang jiwanya tetap merdeka dan tak tersentuh belenggu maksiat, meski fisiknya pernah terkurung di balik jeruji penjara.

Hakikat Kemerdekaan: 3 Hikmah dari Kisah Nabi Yusuf

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Hikmah Pertama: Ketika Nabi Yusuf Kehilangan Kebebasan

Kisah Nabi Yusuf dimulai ketika beliau masih muda. Saudara-saudaranya membawanya pergi, lalu memasukkannya ke dalam sebuah sumur. Yusuf jauh dari ayahnya, jauh dari keluarganya, dan tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya.

Allah menggambarkan peristiwa itu dalam Surah Yusuf ayat 15,

فَلَمَّا ذَهَبُوْا بِهٖ وَاَجْمَعُوْٓا اَنْ يَّجْعَلُوْهُ فِيْ غَيٰبَتِ الْجُبِّۚ وَاَوْحَيْنَآ اِلَيْهِ لَتُنَبِّئَنَّهُمْ بِاَمْرِهِمْ هٰذَا وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ

“Maka ketika mereka membawanya dan sepakat memasukkan ke dasar sumur, Kami wahyukan kepadanya, ‘Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.'”

Menariknya, jamaah sekalian, justru ketika Yusuf berada dalam keadaan yang sangat sulit, Allah memberikan wahyu kepadanya.

Ibnu Katsir rahimahullah dalam kitab tafsirnya, jilid 4, halaman 321, menjelaskan bahwa ini adalah bentuk kasih sayang Allah kepada Yusuf. Wahyu itu menjadi penghibur bagi hatinya dan menguatkan dirinya, agar Yusuf tidak larut dalam kesedihan. Allah memberikan harapan bahwa kesulitan yang sedang ia alami bukanlah akhir dari segalanya. Akan ada jalan keluar, pertolongan, dan kemuliaan yang Allah berikan kepadanya.

Materi Kultum: Pendidikan Tasawuf dalam Kisah Nabi Yusuf

Dan benar, jamaah sekalian, apa yang saat itu belum diketahui oleh Yusuf, kelak Allah tunjukkan. Yusuf yang berada di dalam sumur, kemudian keluar. Yusuf yang pernah menjadi budak, kelak Allah angkat kedudukannya.

Dan inilah pelajaran pertama bagi kita. Kadang hidup kita juga terasa sempit. Ada masalah, ada kehilangan, ada sesuatu yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Tetapi jangan sampai kesulitan membuat kita kehilangan Allah.

Itulah salah satu bentuk kemerdekaan yang hakiki: hati yang tetap tenang, berharap, dan bersandar kepada Allah, meskipun keadaan sedang tidak sesuai dengan yang kita inginkan.

Hikmah Kedua: Ketika Yusuf Berhadapan dengan Godaan

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ujian Nabi Yusuf ‘alaihissalam ternyata belum selesai. Ketika sudah dewasa, Yusuf diuji dengan godaan syahwat yang sangat berat. Wanita pemilik rumah mengajaknya berbuat maksiat. Pintu-pintu sudah dikunci, tidak ada orang yang melihat, dan kesempatan itu ada di depan mata.

Secara manusia, ini adalah ujian yang sangat berat. Tetapi Yusuf berkata dengan tegas,

مَعَاذَ اللَّهِ

“Aku berlindung kepada Allah.”

Syaikh as-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya halaman 396 menggambarkan keadaan Yusuf saat itu. Beliau mengatakan, “Yusuf menahan dirinya dari maksiat, padahal dorongannya sangat kuat. Ia meninggalkan keinginan itu karena Allah. Ia mendahulukan apa yang Allah kehendaki daripada keinginan hawa nafsunya. Dan yang menguatkannya adalah ilmu serta iman yang ada dalam dirinya.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Coba kita perhatikan. Yusuf bukan tidak punya keinginan. Dorongan itu ada. Kesempatan juga ada. Tidak ada orang yang melihat. Tetapi Yusuf tetap memilih Allah. Di situlah letak kemuliaan Yusuf.

Mungkin kita tidak menghadapi ujian yang persis sama. Tetapi setiap hari kita juga punya ujian masing-masing. Ada godaan dari pandangan mata, dari layar handphone, dari harta, jabatan, amarah, dan berbagai keinginan lainnya. Maka di situlah kemerdekaan jiwa kita diuji.

Ketika ada kesempatan untuk berbuat dosa dan tidak ada seorang pun yang melihat, apakah kita masih mampu mengatakan, “Tidak, Allah melihat saya.”? Inilah kemerdekaan yang hakiki. Bukan bebas mengikuti semua keinginan, tetapi mampu meninggalkan keinginan yang Allah tidak sukai karena kita lebih memilih Allah.

Hikmah Ketiga: Ketika Yusuf Memilih Penjara

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ancaman demi ancaman didapatkan Nabi Yusuf ‘alaihissalam karena beliau menolak ajakan maksiat. Beliau dihadapkan pada dua pilihan: menuruti hawa nafsu manusia atau dijebloskan ke dalam penjara.

Dengan keutuhan imannya, Yusuf berdoa dan memilih penjara, sebagaimana yang Allah abadikan dalam Surah Yusuf ayat 33,

قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ

“Yusuf berkata, ‘Wahai Tuhanku! Penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka.'”

Bayangkan, beliau lebih memilih dirinya dipenjara daripada hatinya terbelenggu oleh kemaksiatan.

Hal ini dijelaskan secara indah oleh Imam Ibnu ‘Asyur rahimahullah dalam tafsirnya, at-Tahrir wa at-Tanwir, juz 12, halaman 265, “Penjara menjadi sesuatu yang dicintai oleh Nabi Yusuf karena pertimbangan bahwa penjara tersebut menyelamatkannya dari jatuh ke dalam perbuatan haram. Rasa cinta terhadap penjara ini muncul dari kesesuaian pertimbangan akal dan pikirannya.”

Dari sini kita memahami, Nabi Yusuf mencintai penjara bukan karena fisik penjaranya, melainkan karena akal dan imannya membimbing bahwa terkurung di dalam penjara jauh lebih mulia daripada jiwanya terbelenggu oleh kemaksiatan.

Secara lahiriah, raga Yusuf memang terkurung. Namun hatinya terbang bebas, tidak menjadi tawanan hawa nafsu, dan tidak menggadaikan imannya demi kesenangan sesaat.

Dari fase ketiga ini, mari kita pasang ikhtiar dalam diri kita: jangan pernah takut kehilangan kesenangan duniawi demi mempertahankan ketaatan kepada Allah. Jangan takut berkata “tidak” pada dosa. Karena apa pun yang kita tinggalkan karena Allah, tidak akan pernah membuat kita hina.

Mari Merdekakan Jiwa

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kalau kita melihat kisah Nabi Yusuf, kita sadar bahwa ujian kita hari ini mungkin berbeda, tetapi hawa nafsu tetap menjadi musuh yang sama.

Kita hidup di negeri yang sudah merdeka. Kita bebas pergi ke mana saja, bebas menggunakan handphone, bebas memilih apa yang kita lihat dan apa yang kita lakukan.

Tetapi jangan sampai kebebasan itu justru membuat kita menjadi tawanan dosa.

Jangan sampai mata kita menjadi tawanan hal-hal yang haram. Jangan sampai hati kita menjadi tawanan dunia. Jangan sampai waktu kita menjadi tawanan handphone. Dan jangan sampai hawa nafsu lebih kita ikuti daripada perintah Allah.

Nabi Yusuf mengajarkan kepada kita bahwa kemerdekaan yang hakiki adalah ketika kita mampu mengendalikan diri dan tetap taat kepada Allah, meskipun ada kesempatan untuk berbuat maksiat.

Khutbah Jumat: Jalan Kemenangan Palestina Era Shalahuddin

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Inilah hakikat kemerdekaan jiwa. Ibnul Qayyim rahimahullah dalam al-Wabil ash-Shaib, halaman 48, mengutip perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah yang memperjelas hakikat ini dengan sangat indah,

الْمَحْبُوْسُ مَنْ حُبِسَ قَلْبُهُ عَنْ رَبِّهِ تَعَالَى. وَالْمَأْسُوْرُ مَنْ أَسَرَهُ هَوَاهُ.

“Orang yang terkurung dan dipenjara sejati adalah orang yang hatinya terhalang dari Allah, dan orang yang tertawan sejati adalah orang yang ditawan oleh hawa nafsunya sendiri.”

Maka di momen kemerdekaan ini, saat fisik kita telah bebas dan negeri kita telah merdeka, mari kita bertanya kepada diri kita masing-masing: sudahkah hati dan jiwa kita benar-benar merdeka dari hambatan dosa dan cengkeraman hawa nafsu?

Jangan sampai tubuh kita bebas melangkah di bumi Allah, namun hati kita justru menjadi tawanan maksiat.

Demikian materi khutbah Jumat siang ini. Semoga Allah membersihkan hati kita, menguatkan kita untuk menundukkan hawa nafsu, dan mencatat kita sebagai hamba-hamba-Nya yang benar-benar merdeka di dunia dan akhirat.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ، وَلَا عُدْوَانَ إِلَّا عَلَى الظَّالِمِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالَاهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ بِقُدْسِهِ، فَقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا.

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَدِمْ عِزَّةَ هٰذِهِ الْبِلَادِ، وَاجْعَلْهَا بِلَادًا آمِنَةً مُسْتَقِرَّةً، يَتَمَتَّعُ أَهْلُهَا بِنِعَمِ الاِسْتِقْلَالِ وَالسَّلَامِ.

اَللَّهُمَّ ارْزُقْنَا سُبُلَ الشُّكْرِ عَلَى نِعْمَةِ الْاِسْتِقْلَالِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ وَ يَشْكُرُوْنَ. رَبَّنَا وَفِّقْ أَبْنَاءَنَا وَبَنَاتَنَا لِيَكُوْنُوْا أَجْيَالًا مُتَفَوِّقَةً عَقْلًا وَرُوْحًا وَجَسَدًا.

اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ كَمَا سَأَلَكَ نَبِيُّكَ مُوسَى: وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنْكَ وَلِيًّا وَاجْعَل لَّنَا مِن لَّدُنْكَ نَصِيْرً.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ.

Download PDF Materi Khutbah Jumat
Hakikat Kemerdekaan — 3 Hikmah dari Kisah Nabi Yusuf
di sini

Semoga bermanfaat!

Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?

Topik Terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Discover more from Dakwah.ID

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading