Materi Khutbah Jumat
Memperjuangkan Agama Allah
Pemateri: Ustadz Fatih Izzul Haq
Mukadimah Khutbah Jumat
الْحَمْدُ لِلَّهِ نَاصِرِ الْمَظْلُومِينَ، وَمُنْجِي الْمُسْتَضْعَفِينَ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَلِيُّ الصَّالِحِينَ، وَعَدَ عِبَادَهُ الْمُؤْمِنِينَ بِالنَّصْرِ وَالتَّمْكِينِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ، إِمَامُ الْمُجَاهِدِينَ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ حَيْثُ يَقُوْلُ رَبُّنَا الْكَرِيْمُ:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ، أَمَّا بَعْدُ
Khutbah Pertama
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Segala puji hendaknya kita selalu panjatkan kepada Allah yang telah memberikan berbagai pintu nikmat hingga kita bisa melaksanakan syariat-Nya dengan rasa aman dan tenteram. Shalawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang telah memperjuangkan agama hingga tersebarlah tauhid dan keadilan.
Khatib berwasiat kepada para jamaah agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah. Sebab sebaik-baik bekal di dunia dan akhirat adalah ketakwaan dalam hati. Orang bertakwa adalah orang yang selalu mendapatkan pertolongan Allah, diberikan keberkahan hidup, dan jalan keluar dari setiap masalah.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pada hari-hari ini kita dihadapkan dengan berbagai momentum peringatan kemerdekaan. Wajar, kemerdekaan yang telah kita rasakan delapan puluh satu tahun ini adalah sebuah nikmat yang patut selalu kita syukuri dan lestarikan. Namun, bagi seorang muslim sejati, kemerdekaan tidak cukup hanya diingat dan dikenang.
Bagi kita yang meyakini bahwa nikmat kemerdekaan ini datangnya dari Allah, sudah semestinya kita perlu merawat dan mempertahankan kemerdekaan tersebut dengan nilai-nilai keislaman. Sebab, kemerdekaan yang kita nikmati ini tak lepas dari kalimat takbir dan keimanan para pejuang yang menjadikan nilai-nilai agama sebagai bagian dari perjuangan mereka.
Kita bisa melihat bagaimana keimanan menjadi bagian dari perjuangan para pendahulu kita. KH. Hasyim Asy’ari, melalui Resolusi Jihad menyerukan umat Islam untuk mempertahankan kemerdekaan dan membela tanah air. Demikian pula Jenderal Sudirman, panglima besar yang dikenal memiliki keteguhan iman dan nilai-nilai agama sebagai bagian dari kehidupannya. Ini menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya lahir dari semangat kebangsaan, tetapi juga didorong oleh keimanan kepada Allah.
Karena itu bagi kita, perjuangan tidak berhenti pada mempertahankan kemerdekaan. Ada perjuangan yang lebih besar dan lebih penting, yaitu memperjuangkan tegaknya agama Allah (iqamatuddin).
Lantas bagaimana langkah kita dalam memperjuangkan agama Allah?
Langkah-Langkah Memperjuangkan Agama Allah
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Pertama: Memperjuangkan Agama Allah Dimulai dari Diri Sendiri
Memulai dari diri sendiri untuk komitmen dengan syariat. Mulai dengan menjalankan tauhid, menghindari syirik, bid’ah, dan maksiat, serta meninggalkan syahwat yang melalaikan. Sungguh naif jika mengaku-ngaku peduli terhadap agama, namun di balik itu kita melalaikan syariatnya. Orang yang ingin memperjuangkan nilai agama hendaknya ia juga gemar membaca Al-Qur’an, gemar beribadah, menjaga urusan shalat, dan berakhlak yang baik. Jika hal ini terus dilazimi, maka dengan izin Allah pertolongan-Nya akan selalu menaungi mereka.
Sebagaimana teladan istiqamah Bilal bin Rabah radhiyallahu ‘anhu dalam mempertahankan tauhidnya di tengah tekanan, komitmen pribadi semacam ini adalah pondasi sebelum seseorang layak memperjuangkan agama Allah secara lebih luas.
Allah subhanahu wata’ala berfirman dalam Surah An-Nur ayat 55:
وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu pun dengan Aku. Dan barang siapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”
Kedua: Memperjuangkan Agama Allah dengan Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar
Langkah kedua adalah membela agama Allah dengan Amar Ma’ruf dan Nahi Mungkar, yaitu mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Termasuk di antaranya adalah melindungi saudara-saudara kita yang tertindas serta menentang segala bentuk kezaliman. Dengan amar makruf dan nahi mungkar, syariat Allah akan lebih terjaga dan nilai-nilai kebaikan akan tumbuh di tengah masyarakat. Dan inilah yang dilakukan oleh para nabi dan orang-orang saleh hingga mereka mendapatkan kemenangan dari Allah.
Allah Ta’ala berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 40-41:
وَلَيَنصُرَنَّ ٱللَّهُ مَن يَنصُرُهُۥٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ ٱلَّذِينَ إِن مَّكَّنَّٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ أَقَامُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَوُاْ ٱلزَّكَوٰةَ وَأَمَرُواْ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَنَهَوۡاْ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۗ وَلِلَّهِ عَٰقِبَةُ ٱلۡأُمُورِ
“Dan Allah pasti akan menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami beri kedudukan di bumi, mereka melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.”
Menurut Syekh Muhammad Al-Amin As-Syinqithi rahimahullah dalam kitab tafsirnya, Adhwa’ Al-Bayan fi Idhah Al-Qur’an bi Al-Qur’an, juz 5, halaman 266, ayat ini menjelaskan bahwa pertolongan Allah hanya akan didapat dengan melazimi dan memperjuangkan syariat Islam, dengan menegakkan shalat, zakat, dan bahkan berjihad untuk menolong agama-Nya. Hal tersebut disebabkan karena mereka telah menolong agama Allah. Dan di antara karakter khusus mereka adalah jika diberi kedudukan di bumi, mereka komitmen dengan shalat, zakat, menyuruh berbuat ma’ruf, dan mencegah kemungkaran.
Ketiga: Berdakwah dengan Ilmu, Amal, dan Akhlak
Langkah berikutnya adalah mendakwahkan ajaran syariat dengan ilmu, amal, dan akhlak yang baik. Sebab, Islam itu bukan hanya agama yang isinya teori, namun teladan keimanan yang diajarkan dan ditanamkan dalam hati. Tanpa dakwah dan pendidikan serta penanaman adab keislaman, akan banyak sekali warisan syariat yang hilang.
Karena itu Allah berfirman dalam Surah An-Nahl ayat 125:
ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
Imam As-Sa’di rahimahullah dalam kitab tafsirnya, Taisir Al-Karim Ar-Rahman, halaman 452, menjelaskan bahwa dakwah yang dimaksud mencakup ilmu yang bermanfaat dan amal saleh, dengan memperhatikan setiap orang sesuai dengan keadaan, pemahaman, perkataan, dan tingkat penerimaannya. Jika seseorang menerima dakwah dengan cara hikmah, maka itu sudah cukup. Namun jika belum, maka dakwah dilanjutkan dengan nasihat yang baik, yaitu perintah dan larangan yang disertai dengan dorongan untuk melakukan kebaikan dan peringatan dari keburukan.
Maka dari itu, marilah kita introspeksi diri kita masing-masing. Sudah sejauh mana kita melestarikan nilai-nilai keislaman, menjaga warisan perjuangan para ulama dan pejuang, serta mengisi kemerdekaan ini dengan ketaatan kepada Allah sebagai bentuk syukur atas nikmat-Nya.
بَارَكَ اللَّهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنَا بِهِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah Kedua
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ أَمَرَنَا بِالطَّاعَةِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الرَّاشِدُ إِلَى الْهِدَايَةِ.
فَإِنِّيْ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ حَقَّ تَقْوَاهُ. كَمَا قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ
إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا. اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى.
اللَّهُمَّ انْصُرْ إِخْوَانَنَا الْمُسْلِمِينَ فِي غَزَّةَ وَفِلَسْطِينَ، وَاحْفَظْهُمْ وَاشْفِ جَرْحَاهُمْ وَارْحَمْ شُهَدَاءَهُمْ، وَفَرِّجْ كُرْبَتَهُمْ، وَارْفَعْ عَنْهُمُ الظُّلْمَ وَالْعُدْوَانَ، وَاكْتُبْ لَهُمُ النَّصْرَ وَالْأَمْنَ وَالْفَرَجَ، يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِيْ الْأَمْرِ وَالْعَزِيْمَةَ عَلَى الرُّشْدِ. اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ
Download PDF Materi Khutbah Jumat
Memperjuangkan Agama Allah
di sini
Semoga bermanfaat!
Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?