Kita memasuki zaman kecerdasan buatan. AI menjamur dan makin canggih. Banyak orang menggunakan AI untuk mendapatkan suatu jawaban yang cepat dan mudah, termasuk pada ranah agama. Lantas, bisakah AI memberikan fatwa? Temukan jawabannya pada artikel berikut.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ.
“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya dari dada manusia. Akan tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama.” (HR. Al-Bukhari, no. 100; Muslim, no. 2673).
Dari hadits ini, berarti ilmu identik dengan ulama. Hilangnya ulama berakibat pada hilangnya ilmu.
Namun, pada era ketika AI begitu menjamur dan semakin canggih, maka akses terhadap ribuan kitab dan pendapat fatwa bisa dikumpulkan. Orang-orang pada akhirnya bisa mencari fatwa di ChatGpt, Gemini, Claude, dan lain-lain. Apakah ulama masih dibutuhkan?
Bahkan sebelum menjawab pertanyaan itu, apakah dengan kekayaan datanya, AI memang sudah bisa memberikan fatwa? Agaknya ini menjadi hal yang perlu kita renungkan.
AI dan Candu Kecepatan
AI membiasakan manusia untuk mendapat jawaban secara instan. Lambat laun, kecepatan itu sendiri yang mulai dianggap sebagai ukuran kualitas.
Sosiolog Jerman, Hartmut Rosa, menyebut fenomena ini social acceleration. Laju teknologi mempercepat seluruh ritme kehidupan sosial, sampai-sampai cara manusia berpikir dan mengambil keputusan pun ikut berubah bentuk.
Tapi kecepatan tidak pernah gratis. Ia selalu menagih sesuatu sebagai gantinya.
Filsuf teknologi Albert Borgmann, tiga dekade sebelum ChatGPT lahir, sudah mengingatkan lewat konsep device paradigm-nya. Ia menuliskan argumennya dalam Technology and the Character of Contemporary Life: A Philosophical Inquiry.
Baginya, perangkat modern selalu menyembunyikan kerumitan di balik kemudahan yang ia tawarkan. Kita menikmati hasil akhir, tapi sejatinya sedang kehilangan kontak dengan proses yang melahirkannya.
Nicholas Carr, dalam The Shallows-nya, lebih detail lagi. Mesin pencari, dan sekarang AI, mengoptimalkan proses memperoleh informasi agar berlangsung secepat mungkin. Padahal bagi Carr, membaca secara mendalam adalah latihan bagi otak untuk membangun struktur pengetahuan yang utuh.
Baca Juga: Gadget dan Bias Pikiran: Ketika Informasi Menggerus Kewarasan Berpikir
Tanpa deep reading, otak tidak sempat membangun pola pengetahuan yang memungkinkan seseorang memahami hubungan antarkonsep, mengenali prinsip-prinsip umum, dan menarik kesimpulan secara bijaksana.
Dengan AI seseorang mungkin saja mendapat informasi yang begitu cepat, tapi ia lupa secepat itu pula informasi itu hilang dari pikirannya. Apa yang secara spesifik oleh Carr sebut dengan outsourcing memory. Pengalihdayaan proses mengingat dan berpikir kepada mesin.
Ulama Sebagai Pewaris Nabi Bukan Mesin Pencari
Kata ulama sendiri berakar dari huruf ‘ain-lām-mīm, akar yang sama dengan kata ‘ilm (ilmu), ‘ālim (orang berilmu), dan ta’līm (proses mengajarkan ilmu) (Ibnu Mandzur, Lisan al-Arab, 12/416-419). Artinya, seorang ulama sejak dalam akar katanya bukan sekadar “orang yang tahu banyak”, melainkan orang yang memang dibentuk oleh ilmu yang ia pelajari.
Karena itu al-Quran tidak menyandarkan kemuliaan ulama semata pada keluasan data. Yang menjadi sandaran pujian justru karena kualitas batin.
Allah subhanahu wata’ala berfirman,
اِنَّمَا يَخْشَى اللّٰهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمٰۤؤُاۗ
“Sesungguhnya yang paling takut (khasyah) kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama.” (QS. Fathir: 28)
Rasa khasyah-lah yang menjadi bukti kualitas diri seorang ulama. Tidak disebut ulama, jika hilang rasa takutnya kepada Allah. Rasa takut inilah yang juga kemudian menjadikan seorang ulama tidak malu untuk tidak menjawab semua persoalan atau bahkan bilang, “tidak tahu”.
Imam Malik contohnya. Beliau pernah ditanya tentang 48 permasalahan, namun hanya sedikit yang dijawab. Sisanya beliau mengatakan, “La adri (aku tidak tahu).” (Al-Khaṭīb al-Baghdadi, al-Faqih wa al-Mutafaqqih, 2/170).
Imam Malik mengatakan seperti itu jelas bukan karena bodoh. Namun, beliau cukup tahu untuk kapan mengatakan tidak tahu, karena tahu bahwa ia belum bisa memberikan jawaban yang benar-benar tepat dan valid.
Itulah kenapa Imam asy-Sya’bi mengatakan, “La adri nishfu al-ilmi.” (Abu Khaytsamah, Kitāb al-’Ilm, no. 879; al-Khaṭīb al-Baghdadi, Al-Faqīh wa al-Mutafaqqih, 2/171). Tidak tahu itu adalah setengah dari ilmu. Karena asal menjawab hanya agar cepat tapi tidak tepat, akan memiliki konsekuensi yang tidak sederhana. Pemahaman itulah yang harus dimiliki oleh seorang ulama.
Ilmu adalah pengenalan yang benar terhadap hakikat sesuatu sehingga setiap perkara dapat ditempatkan pada tempatnya yang tepat dalam tatanan wujud. Berarti ilmu sama sekali berbeda dengan akumulasi data.
Dari makna ini, otoritas ulama lahir. Bukan karena punya jawaban untuk segala hal, melainkan karena mereka juga memahami “jalan” menuju jawaban itu. Dalam khazanah Islam jalan itu disebut dengan talaqqi, sanad, ijtihad, istinbath, tarjih, dll.
Semua konsep ini menggambarkan satu hal yang sama. Ilmu didapat lewat proses panjang yang menjaga koneksi konseptual antara wahyu, akal, dan pengalaman umat manusia. Ilmu tidak diperoleh secara instan.
Batas yang Belum Bisa Dilampaui
Jika merujuk pada makna fiqh sendiri, dari akar fa-qāf-hā’, berarti “memahami secara mendalam” (Ibnu Mandzur, Lisan al-Arab, 13/522—533).
Seorang faqih berarti dituntut untuk tidak hanya menyebutkan hukum, tapi juga memahami alasan, tujuan, dan konteks yang melahirkannya. Lagi-lagi memahami adalah suatu proses yang sangat penting. Masalahnya, apakah AI benar-benar melakukan proses pemahaman?
John Searle, seorang filsuf Amerika yang mengajar filsafat pikiran di UC Berkeley punya argumen menarik. Argumennya ia sebut dengan Ruang China (Chinese Room Argument), yang dia ajukan tahun 1980 dalam artikel “Minds, Brains, and Programs.”
Bayangkan ada seseorang yang sama sekali tidak bisa bahasa Mandarin berada di sebuah ruangan. Ia memegang buku berbahasa Inggris yang menjelaskan cara menjawab setiap rangkaian simbol Mandarin. Setiap kali ada pertanyaan dalam bahasa Mandarin, ia cukup mengikuti petunjuk itu dan mengeluarkan rangkaian simbol yang dianggap sebagai jawaban.
Bagi orang di luar ruangan, jawabannya tampak benar dan masuk akal. Mereka akan mengira orang di dalam benar-benar memahami bahasa Mandarin. Padahal kenyataannya tidak. Ia hanya mengikuti aturan untuk mencocokkan simbol, tanpa memahami arti dari satu kata pun yang ia proses.
Memproses simbol jelas tidak sama dengan memahami makna. Mesin mungkin bisa menghasilkan jawaban yang cerdas, tapi tidak berarti ia sedang memahami. Barangkali inilah yang mungkin belum—untuk tidak mengatakan “tidak mungkin”—dilampaui AI.
AI bisa saja menulis puisi tentang kematian tanpa pernah takut mati. Ia bisa membahas cinta tanpa pernah kasmaran. Kecerdasan tanpa kesadaran, kefasihan tanpa perasaan, jawaban tanpa mempertaruhkan eksistensial apa pun.
Imam Malik juga sudah lama mengatakan,
لَيْسَ الْعِلْمُ بِكَثْرَةِ الرِّوَايَةِ، إِنَّمَا الْعِلْمُ نُوْرٌ يَجْعَلُهُ اللَّهُ تَعَالَى فِي الْقَلْبِ.
“Ilmu itu bukan karena banyaknya riwayat yang dihafal. Sesungguhnya ilmu adalah cahaya yang Allah Ta’ala letakkan di dalam hati.” (Ibn ‘Adi, al-Kamil fi Dhu’afa’ al-Rijal, 1/100).
Baca Juga: Siapa yang Layak Berfatwa?
AI mungkin makin canggih merangkum kitab-kitab klasik dan menjelaskan persoalan beda mazhab dengan bahasa paling mudah. Tapi, ia jelas tidak pernah bisa mewarisi amanah yang menjadikan ilmu sebagai jalan pembentukan manusia.
Sebab tujuan ilmu dalam Islam bukan hanya menghilangkan ketidaktahuan (meski ini juga tetap penting), tapi juga membentuk manusia yang baik. Ia yang adil terhadap dirinya, adil terhadap sesamanya, dan adil terhadap Tuhannya.
Sesuatu yang sudah diingatkan oleh al-Quran,
يُّؤْتِى الْحِكْمَةَ مَنْ يَّشَاۤءُ ۚ وَمَنْ يُّؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ اُوْتِيَ خَيْرًا كَثِيْرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ اِلَّآ اُولُوا الْاَلْبَابِ
“Dia memberikan hikmah kepada siapa yang Dia kehendaki. Barang siapa diberi hikmah, sesungguhnya dia telah diberi kebaikan yang banyak. Dan tidak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Al-Baqarah: 269)
Ilmu yang benar akan melahirkan hikmah (wisdom). Hanya hikmah yang akan melahirkan kebaikan yang begitu banyak. Menjadikan AI sebagai sumber ilmu, sejatinya sedang membunuh lubb kita. Sebuah perangkat yang hanya dimiliki oleh kecerdasan asli, bukan tiruan. Wallahu a’lam. (Muhamad Wildan Arif Amrulloh/dakwah.id)
Penulis: Muhamad Wildan Arif Amrulloh
Baca juga artikel Pemikiran lainnya: