Visi dan Misi Madrasah Ramadhan

0 548

Artikel yang berjudul Visi dan Misi Madrasah Ramadhan ini adalah artikel ke-1 dari serial artikel #MadrasahRamadhan

 

Pernahkah Anda mendengar istilah Madrasah Ramadhan?

Madrasah, jika dimaknai secara harfiah memiliki arti; tempat belajar. Sebuah ruang yang digunakan untuk menyelenggarakan proses transformasi ilmu. Tempat di mana seorang murid dididik dan dibentuk.

Jika Ramadhan adalah sebuah madrasah, maka kurikulumnya adalah al-Quran dan hadist-hadist Nabi, kepala madrasahnya  adalah Sang Nabi, staf pengajarnya adalah para sahabat dan para salaful ummah dari generasi terbaik umat.

Sebagai sebuah madrasah, pastilah memiliki visi dan misi yang menjadi tujuan dan program. Demi menghasilkan insan-insan mulia, berakhlak, dan penuh ketundukan serta kepatuhan.

Madrasah Ramadhan menjadi berbeda karena ia tidak terikat oleh ruang dan tempat, Tapi ia Visi dan Misi Madrasah Ramadhandiikat oleh waktu tanpa dibatasi tempat dan ruang.

Karena ruang kelas madrasah Ramadhan bisa di mana saja. Bukan hanya di masjid dan tempat-tempat yang lazim digunakan untuk membicarakan soal-soal keagamaan. Bukan. Tapi ia melebur dalam satu bulan yang penuh taburan keberkahan, keluasan ampunan, dan pahala amal yang digandakan.

 

Materi Khutbah Jumat: 5 Tipe Orang yang Beruntung di Bulan Ramadhan

 

Jika datang kepada kalian bulan Ramadhan, maka akan dibuka pintu-pintu Surga, ditutup pintu-pintu Neraka, dan Setan akan dibelenggu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Jalan menuju Surga terbuka lebar ketika Ramadhan, dengan dimudahkan amal-amal kebaikan untuk dikerjakan.

Pun, demikian dengan pintu Neraka yang ditutup, bermakna dijauhkannya keinginan beramal keburukan, dan dilemahkannya tipu daya setan untuk menggoda manusia. (Fath al-Bari Syarhu Shahih al-Bukhari, Ibnu Hajar, 6/136)

Inilah bulan Ramadhan dengan segala keindahannya. Sebuah waktu yang Allah berikan kepada hamba-hamba-Nya untuk lebih dekat dalam taat. Maka madrasah Ramadhan adalah transformasi diri seorang hamba untuk menjadi lebih shalih lagi, lebih takwa lagi.

Madrasah Ramadhan menyentuh dua garis sekaligus; garis vertikal hubungan seorang hamba dengan Allah; dan garis horizontal hubungan sesama manusia.

Sebagai contoh, di dalam madrasah Ramadhan terdapat materi puasa Ramadhan, mengajarkan kita dua hal sekaligus. Secara vertikal ia menempa diri seorang hamba untuk menjadikan dirinya tulus dan ikhlas. Karena puasa adalah ibadah yang penuh dengan kerahasiaan. Tidak terlihat orang lain, maka saat itulah keikhlasan mulai meluruh dalam hati orang-orang beriman.

Secara horizontal dalam hubungan antar sesama hamba, puasa Ramadhan adalah tarbiyah sosial. Sebuah proses belajar simpati sekaligus empati dengan keadaan orang-orang di sekelilingnya; para jelata, fakir-miskin, dan kaum dhuafa.

 

Apa Visi Madrasah Ramadhan?

Madrasah Ramadhan adalah konsepsi Ilahiyah yang membentuk manusia-manusia menjadi pribadi mulia dengan takwa. Konsep yang menghapuskan kasta-kasta dan perbandingan status sosial di antara manusia. Karena di hadapan Allah; alat ukur mulianya seseorang adalah dengan takwa.

Allah berfirman:

إِنَّ أَكۡرَمَكُمۡ عِندَ ٱللَّهِ أَتۡقَىٰكُمۡۚ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Takwa menjadi visi utama dari madrasah Ramadhan untuk mencetak hamba-hamba mulia yang menjaga hubungannya kepada Allah secara vertikal dan menjadi manusia penuh kasih pada sesama secara horizontal.

Visi madrasah Ramadhan tersebut tertulis jelas dalam al-Quran.

Allah berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيۡكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini adalah sebuah panggilan mesra dari Allah kepada orang-orang beriman. Sebuah pengingat akan sebuah kewajiban yang selalu dikerjakan orang-orang beriman sejak dahulu; yaitu berpuasa.

 

Artikel Sejarah: Abu Umamah, Ahli Sedekah yang Penuh Berkah

 

Salah satu tujuannya adalah mempersiapkan hati mereka (orang-orang beriman) untuk bertakwa, menjadi lembut, sensitif, dan takut kepada Allah. (Tafsir Fii Zilal al-Quran, Sayyid Qutb, 1/199)

Puasa Ramadhan adalah jembatan yang menghubungkan seorang hamba dengan sifat takwa. Karena saat berpuasa seseorang belajar menahan dirinya dari sesuatu yang halal; makan, minum, dan jimak bagi suami-istri, demi mendapat pahala dan ridha Allah.

Pelajarannya adalah, saat seseorang meninggalkan sesuatu yang halal saja mampu, maka mengabaikan yang haram akan lebih mudah lagi. Lebih ringan lagi.

Saat seseorang berpuasa, maka akan sedikit makannya, jika sedikit makannya akan teredam syahwatnya, jika teredam syahwatnya maka akan berkurang maksiatnya.

Itulah kenapa puasa disebut sebagai perisai. Ya, puasa adalah perisai yang membentengi seseorang dari kemaksiatan dan mendekatkan kepada ketakwaan. (Al-Jami’ li Ahkam al-Quran, Imam al-Qurthubi, 2/126-127)

Imam al-‘Izz bin Abdissalam juga menyebutkan pendapat yang senada bahwa puasa adalah sebab datangnya ampunan Allah atas dosa dan kesalahan serta menjadi penghalang dari api Neraka. (Maqasid ash-Shaum, Al-’Izz bin Abdissalam, 10)

 

Misi Madrasah Ramadhan

Misi madrasah Ramadhan termanifestasi lewat teladan Nabi sebagai qudwah hasanah dan guru besar dari madrasah ini. Nabi adalah contoh kongkret yang harus selalu diupayakan setiap mukmin untuk digugu dan ditiru.

Jika visi dari madrasah Ramadhan adalah mencetak hamba-hamba bertakwa, maka misi-misi inilah yang akan menjembati seorang hamba untuk menjadi manusia bertakwa tersebut.

Secara sederhana, takwa adalah mengerjakan segala perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Adapun indikatornya, bisa beraneka ragam seperti yang banyak disebutkan dalam al-Quran.

 

Artikel Dakwah: Virus Corona Menyebar, Adakah Hadits Doa Terhindar dari Wabah Penyakit?

 

Namun bisa disederhanakan: bahwa orang bertakwa adalah seorang hamba yang menjaga hubungannya kepada Allah dan manusia. Ia sempurna secara ibadah dan muamalah, keduanya menjadi sinergi yang tidak terpisahkan.

Begitu juga dalam misi madrasah Ramadhan Sang Nabi, jika diperhatikan apa saja yang dikerjakan Nabi di bulan Ramadhan, maka dapat disimpulkan bahwa ada dua hal asasi yang menjadi konsentrasi Nabi; hablu minallahi (vertikal) dan hablu minannas (horizontal). Hubungan hamba dengan Rabbnya, dan hubungan antar sesama.

Dari sisi ibadah, banyak riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi pada bulan Ramadhan akan meningkatkan intensitas ibadahnya, lebih dari yang ia lakukan di luar bulan Ramadhan.  Beberapa contoh misalnya:

 

Pertama, Interaksi dengan al-Quran

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam al- Bukhari, bahwa Nabi Shallahu ‘alahi wa salam selalu belajar al-Quran kepada Malaikat Jibril ‘alaihi salam setiap bulan Ramadhan.

وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآن

“Malaikat Jibril menemui Nabi shlallahu ‘alaihi wa salam setiap malam bulan Ramadhan, dan Nabi belajar (al-Quran) dengannya.” (HR. Al-Bukhari, dari Ibnu Abbas)

 

Kedua, Menghidupkan malam

Nabi memang senantiasa menghidupkan malamnya dengan ibadah, baik di bulan-bulan lainnya, terkhusus pada bulan Ramadhan, Nabi lebih giat lagi karena keutamaannya yang besar. Sebagaimana Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barang siapa yang melakukan qiyam Ramadhan (menghidupkan malamnya) karena iman dan mencari pahala, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah berlalu.” (HR. Al-Bukhari, dari Abu Hurairah)

 

Artikel Fikih: Rukyat Hilal: Cara Menentukan Awal Ramadhan menurut Mazhab Syafi’i

 

Ketiga, I’tikaf

Salah satu ibadah khusus Nabi pada bulan Ramadhan adalah i’tikaf, berdiam diri di masjid dan menyibukkan diri dengan ibadah; shalat, membaca al-Quran, zikir dll. Ibadah i’tikaf ini tidak pernah ditinggalkan Nabi hingga beliau wafat.

Bahwasanya Nabi senantiasa i’tikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim, dari ‘Aisyah)

Selain peningkatan hubungan dengan Allah dengan ibadah, Nabi juga melakukan beberapa ibadah lainnya yang punya dampak sosial di tengah masyarakat secara langsung.

Langkah-langkah ini punya implikasi nyata dalam proses perbaikan hablu minannas di antara manusia. Beberapa contoh yang bisa disorot misalnya:

 

Ringan berinfak

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ

“Bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan lagi ketika Ramadhan” (HR. Al-Bukhari, dari Ibnu Abbas)

 

Nabi menjadi yang terdepan dalam soal teladan berbagi. Maka tidak heran kita dapati para sahabat mengikuti hal tersebut, maka lahirlah sifat dermawan dan ringan tangan di tengah-tengah masyarakat. Harta tidak menumpuk karena terdistribusikan lewat infak sehingga mampu mengurangi angka kemiskinan.

 

Artikel Fikih: Hukum Meninggalkan Shiyam Ramadhan Tanpa Udzur Syar’i

 

Mengeluarkan zakat

فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَكَاةَ الْفِطْرِ صَاعًا مِنْ تَمْرٍ أَوْ صَاعًا مِنْ شَعِي

“Rasululllah mewajibkan zakat fitri berupa satu sha’ kurma atau satu sha’ gandum” (HR. Al-Bukhari, dari Ibnu Umar)

Allah mewajibkan untuk mengeluarkan zakat fitri berupa makanan pokok yang diberikan kepada para fakir miskin. Salah satu hikmah dibalik kewajiban ini adalah untuk meringkankan mereka, mencukupkan kebutuhan mereka, mencegah mereka dari meminta-minta dan menggembirakan hati mereka saat hari ‘Ied tiba. (Fiqhu az-Zakah, Yusuf al-Qaradhawi, 2/922-923)

 

Menjaga hubungan antar sesama

Puasa tidak hanya soal menahan lapar dan dahaga, lebih dari itu puasa adalah menahan perbuatan dan perkataan kotor dan buruk yang menjadi pangkal kerusakan hubungan sesama manusia.

Maka Nabi mempertegas bahwa puasa yang tidak diiringi dengan pengendalian terhadap perbuatan dan perkataan, maka Allah tidak membutuhkan puasanya. Nabi bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ، وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَه

Barang siapa yang berpuasa dan tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan kotor, maka Allah tidak membutuhkan puasanya.” (HR. Al-Bukhari, dari Abu Hurairah)

Adapun yang disebut kotor (az-Zur) dalam hadist ini meliputi perkataan dusta atau perbuatan dengan tujuan menipu, dan berbagai perbuatan dosa yang Allah larang. (‘Umdah al-Qari’ Syarhu Shahih al-Bukhari, Badruddin al-‘Aini, 16/277)

Maka saat seseorang menghindari perbuatan dan perkataan buruk terhadap sesama. Akan terciptalah atmosfer persaudaraan dan saling cinta, serta menjauhkan dari terciptanya kejahatan dan perpecahan.

 

Madrasah Ramadhan Adalah Madrasah Shalah wal Ishlah

Madrasah Ramadhan adalah madrasah dengan semangat perbaikan (ash-Shalah) dan memperbaiki (al-Ishlah). Ia tidak hanya punya dampak secara spiritual tapi juga dari sisi sosial.

Semangat ketakwaan itu tidak hanya berefek pada diri orang yang melakukan amal kebaikan saja, ia juga harus punya dampak kepada orang lain dan lingkungannya.

 

Materi Khutbah Jumat: Membaca al-Quran saja Belum Cukup, Pahami Juga Artinya!

 

Bukankah Nabi adalah contoh paripurna dari sosok insan bertakwa?

Tapi apakah Nabi hanya konsentrasi pada ritual ibadah tanpa memperhatikan aspek lainnya?

Jawabannya sudah pasti tidak.

Nabi adalah qudwah hasanah, teladan terbaik dalam kehidupan di setiap aspeknya. Beliau tidak hanya menjadi shalih tapi juga muslih, tidak hanya baik tapi juga memperbaiki.

وَمَا كَانَ رَبُّكَ لِيُهۡلِكَ ٱلۡقُرَىٰ بِظُلۡمٍ وَأَهۡلُهَا مُصۡلِحُونَ

“Dan Rabbmu sekali-kali tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, sedang penduduknya orang-orang yang berbuat kebaikan.”  (QS. Hud: 117) Wallahu a‘lam (Fajar Jaganegara/dakwah.id)

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.