Gambar Tazkiyatun Nafsi #3 Ilmu Penerang Jiwa Raga dakwah.id.jpg

Tazkiyatun Nafsi #3: Ilmu Penerang Jiwa Raga

Terakhir diperbarui pada · 263 views

Artikel berjudul Ilmu Penerang Jiwa Raga ini merupakan artikel ke-03 dari serial Tazkiyatun Nafsi yang disarikan dari kitab Tazkiyatun Nufus karya Syaikh Ahmad Farid.

***

Dalil yang menunjukkan keutamaan ilmu dan keutamaan mempelajarinya banyak sekali. Di antaranya, firman Allah Ta’ala,

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Allah niscaya akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. (Al-Mujadilah: 11)

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُوْنَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُوْنَ

Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui (hak-hak Allah) dengan orang-orang yang tidak mengetahui (hak-hak Allah)?’” (Az-Zumar: 9)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ.

Barang siapa yang dikehendaki kebaikannya oleh Allah, Dia akan memahamkannya tentang perkara agama.” (HR. Al-Bukhari no. 197; HR. Muslim no. 7/128)

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ.

Barang siapa menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 17/21)

Frasa menempuh jalan untuk mendapatkan ilmu dalam hadits di atas, mengandung arti berjalan untuk menghadiri majelis para ulama, dan juga menempuh jalan maknawi untuk mendapatkan ilmu seperti menghafalnya dan mengkajinya.

Frasa Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga bisa berarti Allah memudahkan baginya, ilmu yang ia pelajari. Ia menempuh jalan, dan Dia memudahkannya.

Ilmu adalah jalan menuju surga. Ini seperti penuturan sebagian salaf, “Setiap orang yang menuntut ilmu itu akan ditolong.

Frasa tersebut bisa juga berarti jalan menuju surga pada hari kiamat, yaitu shirath, termasuk apa-apa yang terjadi sebelumnya, dan apa-apa yang terjadi sesudahnya.

Selain itu, ilmu menunjukkan tentang Allah dari jalan yang paling dekat. Barang siapa menempuh jalan ilmu, ia akan sampai kepada Allah dan kepada surga dari jalan yang paling dekat.

Ilmu juga menjadi penerang dalam gelapnya kejahiliyahan, keragu-raguan, dan ketidakjelasan. Itulah sebabnya Allah menamai kitab-Nya dengan an-Nur, cahaya.

Abdullah bin Amru radhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ اِنْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ صُدُورِ النَّاسِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُهُ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ. فَإِذَا لَمْ يَبْقَ عَالِمٌ، اِتَّخَذَ النَّاسُ رُؤُوسًا جُهَّالًا. فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا.

Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu langsung dari dada manusia, tetapi Dia mencabutnya dengan mewafatkan para ulama. Maka jika tidak ada lagi seorang alim pun, manusia akan mengangkat orang-orang yang bodoh sebagai pemimpin. Mereka ditanya (dimintai fatwa). Dan mereka pun berfatwa tanpa ilmu. Mereka sesat lagi menyesatkan.” (HR. Al-Bukhari no. 234; HR. Muslim no. 16/223)

Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu ditanya tentang hadits ini, ia menjawab,

لَوْ شِئْتَ لَأَخْبَرْتُكَ بِأَوَّلِ عِلْمٍ يُرْفَعُ مِنَ النَّاسِ: اَلْخُشُوْعُ.

Aku beri tahukan kepada kalian, ilmu yang pertama kali dicabut dari manusia adalah khusyuk.”

Sehubungan dengan ucapan Ubadah bin Shamit ini, perlu diketahui bahwa ilmu itu ada dua. Salah satunya adalah ilmu yang buahnya ada di hati manusia. Yaitu ilmu tentang Allah, nama-nama-Nya, sifat-sifat-Nya dan perbuatan-perbuatan-Nya yang menuntut rasa takut, pengagungan, kecintaan, raja’, dan tawakal kepada-Nya. Ini adalah ilmu yang bermanfaat.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata,

إِنَّ أَقْوَامًا يَقْرَءُوْنَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ، وَلَكِنْ إِذَا وَقَعَ فِيْ الْقَلْبِ فَرَسَخَ فِيْهِ نَفَعَ.

Sungguh, ada segolongan kaum yang membaca al-Quran, tetapi bacaan mereka tidak sampai ke tenggorokan mereka. Andai saja bacaan itu masuk ke dalam hati, terhunjam ke dalamnya, pastilah ia bermanfaat.”

Hasan Al-Bashri rahimahullah berkata,

اَلْعِلْمُ عِلْمَانِ: عِلْمٌ عَلَى اللِّسَانِ فَذَاكَ حُجَّةُ عَلَى اِبْنِ آدَمَ، كَمَا فِيْ الْحَدِيْثِ اَلْقُرْآنُ حُجَّةُ لَكَ أَوْ عَلَيْكَ. وَعِلْمٌ فِيْ الْقَلْبِ، فَذَاكَ الْعِلْمُ النَّافِعُ.

Ilmu itu ada dua:(1) ilmu di lidah—yang akan menghujat anak Adam, seperti tersebut dalam hadits, ‘Al-Quran itu akan menjadi hujjah bagimu atau menghujatmu‘ (HR. Muslim No. 3/99); dan (2) ilmu di hati. Ilmu inilah yang bermanfaat.”

Ilmu yang pertama-tama dicabut adalah ilmu yang bermanfaat, yaitu ilmu batin yang dapat memperbaiki dan meluruskan hati.

Sisanya ilmu lisan, yang orang-orang pun meremehkannya dan tidak mengamalkan hal-hal yang menjadi tuntutannya. Lalu ilmu ini pun hilang dengan kematian pemiliknya.

Akhirnya terjadilah kiamat, ketika penduduk bumi menjadi sejahat-jahat makhluk. Wallahu a’lam. (Tazkiyatun Nufus, Syaikh Ahmad Farid/dakwah.id)

Serial Tazkiyatun Nafsi terbaru:

Topik Terkait

Sodiq Fajar

Bibliofil. Pemred dakwah.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *