Sisi Lain dari Tahadduts Binni’mah

0 968

Budaya pamer seakan sudah menjadi ciri khas masyarakat jaman sekarang. Kebanyakan warganet hari ini, saat berselancar di media sosial, selain gemar mengonsumsi berbagai jenis berita, mereka juga sangat aktif dalam mengunggah foto-foto pribadi.

Media untuk berkomunikasi dan mempresentasikan pikiran serta perasaan seperti Facebook dan Instagram, kerap dimanfaatkan sebagai sarana untuk menonjolkan diri. Aplikasi-aplikasi itu, seperti mempunyai daya magnet yang membuat seseorang merasa tertarik untuk menunjukkan kepada dunia, bahwa kehidupan yang ia jalani, penuh dengan kebahagian.

Dan perilaku yang digandrungi oleh berbagai individu ini, juga diikuti oleh para santri. Mereka bahkan mempunyai justifikasi syar’i tersendiri.

Adapun ayat yang sering dikutip sebagai dalil untuk mendukung kebiasaan tersebut adalah,

وَاَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

Dan terhadap nikmat Rabbmu hendaklah engkau nyatakan (dengan bersyukur).” (QS. Adh-Dhuha: 11)

Kata “fahaddits” (maka nyatakanlah) yang tercantum di dalam ayat ini, dianggap menunjukkan sebuah isyarat; “Menceritakan kenikmatan-kenikmatan yang kita rasakan melalui lisan atau pun tulisan, di dunia nyata atau pun dunia maya, bukanlah suatu perbuatan tercela bahkan sangat dianjurkan.”

Kurang lebih, demikianlah argumen yang seringkali digunakan dalam rangka menepis image buruk perilaku tersebut.

Artikel Ramadhan: Jangan Biarkan Dirimu Kehilangan Keutamaan Ramadhan

Tetapi, masalahnya tidak sesederhana itu. Dengan menyebarnya pembenaran ini, definisi kenikmatan ataupun kebahagian mengalami inflasi. Makna nikmat dan bahagia akhirnya menyempit. Terbatas hanya pada hal-hal yang bersifat glamour dan hedonis.

Maka dari itu, daya kritis terhadap penggunaan ayat di atas sepertinya perlu diasah. Wacana Tahadduts Binni’mah (menceritakan kenikmatan kepada orang lain), perlu ditinjau ulang. Kira-kira, bagaimana penerapannya? Jangan sampai, maksud dan tujuan yang dikehendaki oleh Allah melalui ayat ini, justru tidak tercapai sebagaimana mestinya.

Lebih dari itu, masalah memublikasikan nikmat dan kebahagiaan, bukan sekedar boleh atau tidak boleh. Karena seorang muslim yang baik, tidak melihat suatu persoalan hanya dengan kaca mata legal formal. Tetapi ia juga mengkajinya dari sudut pandang ideal moral.

Dalam masalah shalat misalnya. Secara legal formal, asalkan terbebas dari benda najis dan menutup aurat, mendirikan shalat dengan menggunakan celana jeans dan kaos oblong, boleh-boleh saja karena sudah bisa dikatakan sah. Namun, secara ideal moral, mengingat bahwa ia akan menghadap Allah subhanahu wata’ala, tentu ia akan memilih pakaian terbaik dan berpenampilan serapih mungkin.

 

Catatan Penting Agar Tidak Keliru Menerapkan Ayat Tahadduts bin Ni’mah

Anggaplah secara legal formal memang tidak ada yang melarang seseorang untuk memosting pengalaman suka cita di laman-laman media sosial. Tetapi, ada beberapa catatan jika hal ini disoroti dari sisi ideal moral dan dikaitkan dengan nilai-nilai spiritual. Agar semangat Tahadduts Binni’mah, tepat sasaran dan tidak salah arah.

 

Pertama: Pentingnya memahami dan menghayati tafsir surat Adh-Dhuha secara menyeluruh (kajian kompherensif).

Sebab, dalam mengutip sebuah ayat, tidak boleh sembarangan: asal sesuai dengan selera kita, lalu ayat-ayat sebelumnya malah diabaikan.

Surat Adh-Dhuha adalah surat Makkiyyah yang menceritakan kondisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Beliau mengalami kegelisahan dan kesedihan. Hal ini sangatlah wajar. Sebab, pada fase Makkah, beliau dan para sahabatnya selalu diteror secara fisik dan psikis oleh kafir Quraisy.

Sebagian mufassir menyebutkan bahwa sebab turunnya surat ini dikarenakan Ummu Jamil mengejek Sang Nabi yang sudah lama tidak mendapat wahyu. Bahkan ketika itu Rasulullah sedang jatuh sakit. Isteri Abu Lahab yang terlaknat itu, mencemooh nabi, “Wahai Muhammad, sesungguhnya aku tidak melihat setanmu, kecuali telah meninggalkanmu.”

Perhatikanlah kebiadaban dalam kata-kata tersebut. Ummu Jamil, terlalu lancang menuduh Allah telah melupakan nabi-Nya.

Materi Khutbah Jumat: 3 Balasan Amal Saleh di Dunia dan di Akhirat

Maka, di awal-awal surat ini, Allah menghibur hati nabi dengan bersumpah demi waktu dhuha dan waktu malam, bahwa Allah takkan pernah membiarkannya bersedih, takkan pernah meninggalkannya sendirian, apalagi memarahinya. Sumpah di sini juga berfungsi sebagai bantahan yang telak atas tuduhan kaum musyrikin Makkah.

Kemudian Allah mengingatkan bahwa nabi telah dikaruniai berbagai kenikmatan yang sangat berharga. Kefakiran, keadaan yatim, kesusahan dan kebingungan yang pernah dialaminya, Allah ganti dengan kecukupan, kesuksesan, bahkan diangkat derajatnya di langit dan di bumi.

Semua itu adalah karunia Allah yang layak untuk disyukuri. Maka, Allah memberikan perintah untuk mensyukurinya dengan menyayangi anak yatim dan mengasihi orang-orang miskin yang membutuhkan bantuan.

Demikianlah gambaran umum tentang surat Adh-Dhuha.

Jadi, Tahadduts Binni’mah yang diinginkan oleh ayat ini adalah menunjukkan rasa syukur atas nikmat-nikmat-Nya yang diekspresikan dengan berbagi macam cara, seperti menyantuni anak yatim dan berlemah lembut kepada orang miskin. Perintah untuk menolong mereka, lebih didahulukan sebelum membicarakan atau menceritakan nikmat-nikmat yang Allah berikan.

Bahwa makna “tahadduts” adalah menyampaikan secara lisan memang benar. Tetapi, makna “nikmat” dalam ayat ini, tidak selalunya identik dengan harta benda dan hal-hal yang bersifat materi.

Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan bahwa “membicarakan nikmat” di sini artinya adalah menyampaikan risalah dan kenabian yang telah diwahyukan kepada Nabi Muhammad.

Mujahid, mufasir dari kalangan tabi’in, menjelaskan bahwa maksud dari “nikmat” adalah al-Quran.

Demikianlah catatan pertama terkait Tahadduts Binni’mah.

 

Kedua: Pertimbangkan lagi sebelum publikasi.

Sebelum mempublikasikan kenikmatan, harus dipertimbangkan betul apakah Tahadduts Binni’mah tersebut akan membawa mashlahat atau justru mendatangkan mudarat.

Dalam kitab tafsirnya, saat menjelaskan ayat di atas, Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata, “Pujilah Allah atas kenikmatan agama dan kenikmatan dunia. Sebutlah jenis kenikmatan itu jika di dalamnya terdapat mashlahat. Jika tidak, maka sebutlah nikmat-nikmat Allah secara umum.”

 

Ketiga: Waspadailah timbulnya penyakit hasad (dengki).

Salah satu mudarat yang dikhawatirkan akan muncul tersebab menceritakan nikmat yang kita rasakan adalah berseminya rasa iri di hati orang lain.

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa,

إِنَّ ‌كُلَّ ‌ذِي ‌نِعْمَةٍ ‌مَحْسُودٌ

Sesungguhnya setiap pemilik kenikmatan akan dihasadi.” (HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir No. 183. Ibnul Jauzi menyebutkan, hadits ini maudhu’).

Artinya, potensi hasad itu sangat besar sekali.

Artikel Pemikiran Islam: Loss of Adab, Salah Langkah atau Salah Arah Pendidikan?

Oleh karenanya, dalam Islam, sebagaimana telah dijelaskan panjang lebar bahwa, Tahadduts Binni’mah atau membicarakan kenikmatan itu ternyata tidak seharfiah pemahaman parsial yang menganggap bahwa maksudnya adalah bercerita kepada orang lain, baik dengan lisan atau tulisan.

Maka, dalam rangka mencegah timbulnya penyakit hasad, cara Tahadduts Binni’mah yang dianjurkan bagi orang kaya adalah dengan berderma; zakat, infak, dan sedekah.

 

Keempat: Ingatlah bahwa segala bentuk kenikmatan akan dihisab.

Sebab terkadang, kemewahan dan keberlimpahan harta, melalaikan seseorang dari kehidupan akhirat. Allah Ta’ala berfirman,

ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ

“Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu).” (QS. At-Takatsur: 8)

Ayat ini sangat penting untuk direnungi bagi para pegiat media sosial yang gemar memamerkan segala bentuk kesenangan duniawi. Karena semua kelebihan yang mereka banggakan, akan ditanya satu persatu oleh Allah.

Artikel Tazkiyatun Nafs: Ingin Maksiat? Jawab dulu Pertanyaan Ini!

Dalam hadits yang cukup panjang riwayat Imam Ahmad bin Hanbal disebutkan, hanya ada tiga hal saja yang tidak dihisab.

Pertama, sepotong makanan untuk sekedar memadamkan rasa lapar. Kedua, secarik pakaian untuk sekedar menutup aurat. Ketiga, kediaman untuk sekedar berlindung dari panas dan dingin. Apa yang lebih dari tiga perkara itu, akan dimintai laporan pertanggung jawabannya.

 

Kelima, Lihat kembali niatmu.

Ada satu pertanyaan yang harus dijawab dengan jujur, benarkah niat dari memosting kenikmatan dan kebahagian di media sosial adalah dalam rangka mengamalkan surat Adh-Dhuha ayat 11?

Realitanya, banyak orang membeli barang-barang mewah (aksesoris), mengunjungi tempat-tempat wisata, serta pilihan restoran cepat saji, hanya untuk menunjukkan gengsi sosial dengan mengambil gambar lalu didemonstrasikan ke khalayak ramai.

Secara psikologis, pada dasarnya hampir sebagian besar motif utama yang menggerakkan seseorang melakukan hal yang demikian adalah karena ingin menunjukkan eksistensi dirinya.

Hal ini dikonfirmasi oleh lembaga psikologi Indonesia bahwa 80 % orang yang hobi selfie di dalam mobil, jendela pesawat, dan memosting foto makanan termasuk gambar-gambar yang diperlihatkan di tempat-tempat spesial, adalah mereka yang butuh pengakuan kalau mereka orang berada.

 

Kesimpulan

Data-data di atas merupakan rentangan benang merah dalam masalah ini. Social climber. Demikianlah para akademisi menyebutnya.

Kata ‘climb’, diambil dari bahasa Inggris yang artinya menanjak. Jadi, pengertian istilah social climber adalah ‘sebuah kecenderungan pada diri seseorang untuk diakui bahwa status sosialnya sudah menanjak; mengalami peningkatan.’

Sayangnya, beberapa warganet justru menunjukkan kebahagian semu dengan berbagai polesan. Demi eksistensi, mereka rela mencari ‘pinjaman’ ke sana ke mari. Fenomena ini, menunjukkan wajah dan identitas sosial masyarakat postmodern yang gaya hidupnya jauh dari kata sederhana dan penuh kepalsuan.

Di dunia maya, ia terlihat bahagia, banjir like dan pujian. Padahal di dunia nyata, pusing tujuh keliling gegara memikirkan daftar cicilan.

Tahadduts Binni’mah, salah satu inti sari ajaran Islam dalam surat Adh-Dhuha, memuat sebuah filsafat kehidupan yang sangat berharga. Bahwa kebahagian hakiki, dapat diraih dengan berbagi, bukan dengan menonjolkan diri. Selain itu, bahwa kepedulian terhadap sesama adalah ekspresi syukur yang penuh ketulusan. Bukan perilaku haus pengakuan yang penuh pencitraan. Wallahul muwaffiq ilaa aqwamith thariiq. (Muhammad Faishal Fadhli /dakwah.id)

 

Referensi:

Al-Hafidzh Imaduddin Abu Ismail Ibnu Katsir, Tafsirul Qur’anil ‘Adzhiim, Darul Aqiidah, tahun 2008.
Al-Husain bin Mas’ud Al-Baghawi, Ma’alimut Tanzil, Darut Thaybah, tahun 1989.
Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan, Riyadh: Maktabah Darus Salam lin Nasyr wat Tauzi’, 1422 H /2002 M.
Jalaluddin as-Suyuthi, Al-Itqân fi ‘Ulûmil Qur’ân, Beirut: Darul Kutub al-Ilmiah, Cet.I, 2004 M/1425 H.
Badruddin az-Zarkasyi, Al-Burhân fi ‘Ulûmil Qur’ân, Beirut: Darul Fikr, Cet.I, 1988 M/1408 H.
Jum’ah Ali Abd. Qadir, Ma’âlim Suwaril Qur’ân, Cairo: Universitas al-Azhar, cet. I, 2004 M/1424 H.
Muhammad Ali Ash-Shabuni, Ijazul Bayan fi Suar al-Qur’an, Cairo: Dar Ali Shabuni, 1986 M-1406 H
Mahyuddin, Social Climber dan Budaya Pamer: Paradoks Gaya Hidup Masyarakat Kontemporer, UGM, Jurnal Kajian Islam Interdisipliner.

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.