Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Sifat Ahli Surga — Hadits Puasa #25

438

Sifat Ahli Surga — Hadits Puasa #25

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: قَالَ اللَّهُ أَعْدَدْتُ لِعِبَادِي الصَّالِحِينَ مَا لاَ عَيْنٌ رَأَتْ، وَلاَ أُذُنٌ سَمِعَتْ، وَلاَ خَطَرَ عَلَى قَلْبِ بَشَرٍ، فَاقْرَءُوا إِنْ شِئْتُمْ فَلاَ تَعْلَمُ نَفْسٌ مَا أُخْفِيَ لَهُمْ مِنْ قُرَّةِ أَعْيُنٍ

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Allah berfirman, ‘Aku telah menyediakan buat hamba-hamba-Ku yang shalih (kenikmatan) yang belum pernah mata melihatnya, telinga mendengarnya, dan terbetik dari lubuk hati manusia’. Bacalah firman-Nya jika kamu mau (QS. As-Sajadah: 17) yang artinya (‘Tidak seorang pun yang mengetahui apa yang telah disediakan untuk mereka (kenikmatan) yang menyedapkan mata’).” (HR. Al-Bukhari No. 3244; HR. Muslim No. 2824)

Baca juga: 6 Hikmah Puasa Ramadhan — Hadits Puasa #1

Hadits di atas mengisyaratkan adanya balasan pahala yang besar dan kenikmatan yang kekal yang disiapkan Allah ‘azza wajalla untuk hamba-Nya yang shalih sebagai bentuk rahmat-Nya dan balasan atas amal kebaikan mereka.

Di mana kenikmatan ini tidak ada yang mengetahui bentuk dan ukurannya secara pasti kecuali hanya Allah ‘azza wajalla semata.

Ibnul Qayyim mengatakan, “Renungkanlah, bagaimana bisa ia membandingkan antara shalat malam yang ia kerjakan secara sembunyi-sembunyi dengan balasan yang Allah ‘azza wajalla berikan atas apa yang telah ia sembunyikan sementara ia tidak pernah tahu ukurannya? Bagaimana bisa ia membandingkan antara kegelisahan dan keraguan di atas tempat tidur mereka ketika ingin bangun untuk shalat malam dengan balasan berupa kenikmatan yang menyedapkan mata di Jannah?” (Hadi al-Arwah, Ibnul Qayyim, 174)

Baca juga: 12 Keutamaan Shalat Malam dalam Al-Quran dan Hadits Shahih

 

Sifat Ahli Surga

Banyak ayat dan hadits yang menginformasikan bagaimana sifat Surga dan sifat Ahli surga.

Allah ‘azza wajalla berfirman,

وَفِيْهَا مَا تَشْتَهِيْهِ الْاَنْفُسُ وَتَلَذُّ الْاَعْيُنُ ۚوَاَنْتُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَۚ

Dan di dalam surga itu terdapat apa yang diingini oleh hati dan segala yang sedap (dipandang) mata. Dan kamu kekal di dalamnya.” (QS. Az-Zukhruf: 71)

Kemudian firman Allah ‘azza wajalla,

وَبَشِّرِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ ۗ كُلَّمَا رُزِقُوْا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِّزْقًا ۙ قَالُوْا هٰذَا الَّذِيْ رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ وَاُتُوْا بِهٖ مُتَشَابِهًا ۗوَلَهُمْ فِيْهَآ اَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَّهُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang beriman dan berbuat kebajikan, bahwa untuk mereka (disediakan) surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Setiap kali mereka diberi rezeki buah-buahan dari surga, mereka berkata, “Inilah rezeki yang diberikan kepada kami dahulu.” Mereka telah diberi (buah-buahan) yang serupa. Dan di sana mereka (memperoleh) pasangan-pasangan yang suci. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 25)

Baca juga: Keutamaan Membaca Al-Quran di Bulan Ramadhan — Hadits Puasa #6

Dalam hadits disebutkan, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَوَّلُ زُمْرَةٍ تَلِجُ الجَنَّةَ صُورَتُهُمْ عَلَى صُورَةِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ، لاَ يَبْصُقُونَ فِيهَا، وَلاَ يَمْتَخِطُونَ، وَلاَ يَتَغَوَّطُونَ، آنِيَتُهُمْ فِيهَا الذَّهَبُ، أَمْشَاطُهُمْ مِنَ الذَّهَبِ وَالفِضَّةِ، وَمَجَامِرُهُمُ الأَلُوَّةُ، وَرَشْحُهُمُ المِسْكُ، وَلِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمْ زَوْجَتَانِ، يُرَى مُخُّ سُوقِهِمَا مِنْ وَرَاءِ اللَّحْمِ مِنَ الحُسْنِ، لاَ اخْتِلاَفَ بَيْنَهُمْ وَلاَ تَبَاغُضَ، قُلُوبُهُمْ قَلْبٌ وَاحِدٌ، يُسَبِّحُونَ اللَّهَ بُكْرَةً وَعَشِيًّا

“Rombongan pertama yang masuk Surga rupa mereka seperti bentuk bulan saat purnama, mereka tidak akan pernah beringus, tidak meludah dan tidak pula membuang air besar (tinja). Alat perabot mereka di dalam surga terbuat dari emas, sisir-sisir mereka terbuat dari emas dan perak, alat penghangat mereka terbuat dari kayu cendana, keringat mereka seharum minyak kasturi. Setiap orang dari mereka memiliki dua istri (bidadari) yang sumsum tulangnya dapat kelihatan dari betis-betis mereka dari balik daging karena teramat sangat cantiknya. Tidak ada perselisihan (pertengkaran) di sana dan tidak ada pula saling benci. Hati mereka bagaikan hati yang satu yang senantiasa bertasbih pagi dan petang.” (HR. Al-Bukhari No. 3245)

Baca juga: Keutamaan Berdoa di Akhir Malam — Hadits Puasa #24

Dan sebaik-baik kemuliaan yang didapat seseorang di Surga adalah kesempatan untuk melihat Allah ‘azza wajalla.

Dari Jarir radhiyallahu ‘anhu, ia berkata,

كُنَّا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ نَظَرَ إِلَى القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ،

فَقَالَ: أَمَا إِنَّكُمْ سَتَرَوْنَ رَبَّكُمْ كَمَا تَرَوْنَ هَذَا، لاَ تُضَامُّونَ فِي رُؤْيَتِهِ فَإِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ لاَ تُغْلَبُوا عَلَى صَلاَةٍ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا، فَافْعَلُوا

ثُمَّ قَالَ: وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ وَقَبْلَ غُرُوبِهَا

Pada suatu malam kami pernah bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau lalu melihat ke arah bulan purnama.

Kemudian beliau bersabda, “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan purnama ini. Dan kalian tidak akan saling berdesakan dalam melihat-Nya. Maka jika kalian mampu untuk tidak terlewatkan untuk melaksanakan shalat sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya, maka lakukanlah.”

Beliau kemudian membaca ayat, “Dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum matahari terbit, dan sebelum terbenam (QS. Thāhā: 130).”

Materi Khutbah Jumat: Tazkirah di Balik Musibah Gempa

Sungguh, kenikmatan Surga itu lebih dari apa yang ada di benak manusia, lebih tinggi dari apa yang diimajinasikan manusia. Oleh karena itu, sangat pantas jika banyak hamba Allah ‘Azza wa Jalla yang berlomba-lomba dalam beramal shalih demi meraihnya. Dan seperti inilah suasana kehidupan para salaf dahulu.

Kemudian datang generasi berikutnya yang memiliki karakter jauh bertolak belakang dengan karakter para salaf. Semangat yang mereka miliki dikuras habis untuk mengejar dunia dan mengumpulkan serpihan-serpihan hartanya.

Al-Hasan al-Bashri rahimahullah berpesan,

يَا ابْنَ آدَمَ إِذَا رَأَيْتَ النَّاسَ فِي خَيْرٍ فَنَافِسْهُمْ فِيهِ وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ فِي هَلَكَةٍ فَذَرْهُمْ

“Wahai anak Adam, jika engkau melihat orang-orang dalam kebaikan, kejarlah. Tapi jika engkau melihat mereka dalam kehancuran, waspadalah.” (Hilyatu al-Auliya’, 2/157)

Baca juga: Keutamaan Sepuluh Hari Terakhir Bulan Ramadhan — Hadits Puasa #21

Oleh sebab itu, hendaknya setiap muslim selalu bersemangat mengejar kenikmatan Allah ‘azza wajalla yang kekal abadi ini. Berjuang dengan amal shalih sepanjang hayat untuk mendapatkannya.

Kemudian berusaha memantaskan dan menghias diri dengan sifat Ahli Surga sebagaimana yang telah disebutkan oleh Allah ‘azza wajalla dan Rasul-Nya.

Di antaranya, mengimani segala hal yang wajib diimani, senantiasa bertakwa dan istiqamah di atas jalan takwa, semangat dalam melaksanakan ibadah sunnah, menghias diri dengan akhlak yang mulia; ihsan, pemaaf, menahan amarah, menjauhi permainan yang melenakan, menjauhi majelis-majelis keburukan, menjaga kemaluan dari apa yang diharamkan Allah ‘azza wajalla, dan semisalnya. Wallahu a’lam [Sodiq Fajar/dakwah.id]

 

اَللَّهُمَّ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِيْنَ، وَأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنَا الْخُلْدَ فِي جَنَّاتِكَ، وَأَنْ تُحِلَّ عَلَيْنَا فِيْهَا رِضْوَانَكَ، وَأَنْ تَرْزُقَنَا لَذَّةَ النَّظَرِ إِلَى وَجْهِكَ الْكَرِيْمِ، وَاغْفِرْ اَللَّهُمَّ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ.

Ya Allah, wahai Dzat Yang paling Mulia di antara yang mulia. Wahai Dzat Yang mengasihi di antara yang mengasihi, kami memohon agar engkau karuniai kami kekekalan di Surga-Mu, dan Engkau halalkan ridha-Mu untuk kami, dan karuniai kami kenikmatan melihat wajah-Mu Yang Mulia, ampuni dosa kami ya Allah, ampuni dosa kedua orang tua kami dan dosa seluruh kaum muslimin.

 

Diadaptasi dari kitab: Mukhtashar Ahadits ash-Shiyam
Penulis: Syaikh Abdullah bin Shalih al-Fauzan
Penerjemah: Sodiq Fajar