Ngaji Fikih 36 Apakah Air Mani Najis Bedanya dengan Mazi dakwah.id

Ngaji Fikih #36 Apakah Air Mani Najis? Bedanya dengan Mazi?

Bagi seorang muslim, mengetahui hukum kenajisan atau sucinya suatu benda itu wajib. Termasuk persoalan mani; apakah air mani najis ataukah suci. Masih banyak masyarakat yang kebingungan membedakan air mani, mazi, dan wadi. Pembahasan terkait ini penting  karena akan berdampak pada sah atau tidaknya suatu ibadah yang akan dikerjakan.

Berikut penjelasannya:

Empat Jenis Basah

Ada beberapa jenis “basah” yang keluar dari kemaluan manusia. Tentu basah ini selain daripada air kencing yang juga keluar dari lubang kemaluan. Disebut dengan basah karena ini tidak seencer jika dibanding dengan air kencing pada umumnya.

Pertama adalah basah kewanitaan/keputihan, kedua basah wadi, ketiga basah mazi, dan keempat basah air mani. Keempat jenis ini memiliki sifat yang berbeda dan beda pula hukumnya: ada yang najis serta ada yang suci.

Pertama: Keputihan

Pertama, basah kewanitaan, yaitu basah yang keluar dari kemaluan wanita. Biasanya berwarna putih, disebut juga dengan keputihan. Keputihan itu tidak najis, meskipun tetap dianjurkan untuk membersihkannya.

Kedua: Wadi

Kedua, basah wadi. Wadi adalah cairan putih yang tebal, tidak bening, dan keluar beriringan setelah kencing atau berbarengan dengan kencing. Biasanya, wadi akan keluar saat cuaca sangat dingin atau tubuh terasa sangat lelah.

Apakah air wadi najis? Ya, air wadi itu najis. Basah wadi ini najis karena keluar beriringan dengan kencing. Cara menyucikannya cukup dengan dicuci menggunakan air bersih, kemudian berwudhu.

Ketiga: Mazi

Ketiga, basah mazi. Mazi adalah cairan putih yang tipis, tidak terlalu keruh dan juga tidak bening, dan keluar saat tubuh merasa bergairah melakukan hubungan seksual.

Apakah air mazi najis? Ya, air mazi itu najis, sehingga siapa pun yang keluar mazi maka dia wajib mencuci kemaluannya dan berwudhu.

Ngaji Fikih #28: Cara Menghilangkan Najis Mughaladzah

Dalilnya adalah ketika shahabat Ali bin Abi Thalib mengutus al-Miqdad bin al-Aswad radhiyallahu anhuma datang kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam untuk bertanya tentang mazi, Rasulullah menjawab,

يَغْسِلُ ذَكَرَهُ ثُمَّ لِيَتَوَضَّأْ

Hendaklah ia mencuci kemaluannya kemudian berwudhu.” (HR. An-Nasai No. 435)

Keempat: Mani

Keempat, basah mani. Mani adalah cairan putih tebal yang keluar setelah seseorang berada dalam puncak syahwatnya. Biasanya mani keluar saat seseorang bermimpi basah atau saat melakukan hubungan suami istri.

Apakah air mani najis? jika wadi dan mazi adalah cairan najis maka mani bukan cairan yang najis. Mani itu suci, sekalipun keluarnya mani menyebabkan orang berhadas besar dan wajib mandi.

Ibunda Aisyah radhiyallahu anhuma menceritakan bahwa dia mengerok mani yang ada pada pakaian Rasulullah dan lalu beliau shallallahu alaihi wasallam menggunakannya untuk shalat. (HR. Muslim No. 436)

Bagaimana dengan air mani anjing dan babi?

Semua mani itu suci, baik mani manusia maupun mani binatang, kecuali mani anjing dan babi: najis hukumnya. Air mani dari peranakan anjing dan babi, atau air mani peranakan salah satu dari keduanya, hukumnya juga najis. Wallahu alam. (dakwah.id/arifhidayat)

 

Daftar Pustaka:

Al-Bayan wa at-Ta’rif bi Ma’ani wa Masa’ili wa Ahkam al-Mukhtashar al-Lathif, Syaikh Ahmad Yunus an-Nishf, hal. 124–125, cet. 2/2014 M, Kuwait: Dar Adh-Dhiya’.
Al-Wajiz fi al-Fiqhi al-Islami, Syaikh Wahbah az-Zuhaili, 1/34–36, cet. 1/2005 M, Lebanon: Dar Al-Fikr.
Al-Iqna fi halli Alfaz Abi Syuja’, al-Khathib asy-Syarbini, 1/220, cet. 2/2013 M, Syarikatu Al-Quds.
Kasyifatu as-Saja Syarhu Safinati an-Naja, Syaikh Muhammad Nawawi al-Bantani, hal. 125, cet. 1/2018 M, Jakarta: Dar Al-‘Alamiyah.

 

Baca juga artikel Serial Ngaji Fikih atau artikel menarik lainnya karya Arif Hidayat.

Penulis: Arif Hidayat
Editor: Ahmad Robith

 

 

Serial Ngaji Fikih sebelumnya:
Ngaji Fikih #35 Cuka Dari Khamr, Najis Atau Suci?

Topik Terkait

Arif Hidayat

Pemerhati fikih mazhab Syafi'i

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.