Menjadi Raja Najasyi Raja Habasyah yang Teliti Informasi dakwah.id

Menjadi Raja Najasyi: Raja Habasyah yang Teliti Informasi

Jika mereka (kaum muhajirin) seperti apa yang dikatakan oleh dua utusan ini, aku akan menyerahkan mereka, aku kembalikan mereka kepada kaumnya. Jika tidak, aku akan melindungi mereka dari kedua orang ini!” – Raja Najasyi (Sirah ar-Rasul, Mahmud al-Mishri, 141)

 

Raja Najasyi adalah raja di negeri Habasyah. Ia sosok raja yang cerdas. Cara berpikirnya baik. Mengenal Allah subhanahu wata’ala. berakidah murni bahwa Isa adalah hamba Allah dan rasul-Nya.

Nama asli raja Najasyi adalah Aṣḥamah bin Abjar. Ia berhasil membersihkan kezaliman di negerinya, hingga negeri tersebut dikenal dengan negeri yang aman dan tenang bagi siapa saja yang tinggal di sana.

Berkat keadilan dan kebijaksanaannya, setiap imigran yang dating ke kerajaannya, yang lari dari negerinya demi agama akan mendapat perlakuan yang baik.

Ketika umat Islam mengalami intimidasi dan kezaliman baik secara verbal maupun fisik oleh penduduk Makkah, Nabi shallallahu alaihi wasallam menyarankan beberapa sahabatnya untuk pergi hijrah ke negeri Habasyah.

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

لوْ خَرَجْتُمْ إِلَى أَرْضِ الْحَبَشَةِ فَإِنَّ بِهَا مَلِكًا لَا يُظْلَمُ عِنْدَهُ أَحَدٌ، وَهِيَ أَرْضُ صِدْقٍ حَتَّى يَجْعَلَ اللَّهُ لَكُمْ فَرَجًا مِمَّا أَنْتُمْ فِيهِ

Jika kamu hijrah ke Habasyah, sungguh di negeri tersebut ada seorang raja yang (rakyatnya) tidak dizalimi. Negeri itu adalah negeri yang aman, sampai Allah subhanahu wataala memberikan jalan keluar bagi kalian dari kondisi yang kalian hadapi saat ini.” (Siyar Alam an-Nubala’, Adz-Dzahabi, 26/146)

Narasi Penyesatan Opini Amru bin Ash Sebelum Ia Masuk Islam

Ketika Raja Najasyi telah menerima suaka sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam dan mengizinkan mereka untuk tinggal di dalam negerinya, para sahabat akhirnya mendapat ketenangan dalam mengamalkan wahyu ilahi.

Namun, pemuka Quraisy merasa gerah. Mereka mengirim dua utusan: Amru bin Ash yang saat itu belum masuk Islam, dan Abdullah bin Abi Rabi’ah. Tujuannya, memengaruhi raja Najasyi agar bersedia menyerahkan orang-orang Islam yang mencari suaka ke Habasyah.

Amru bin Ash begitu optimis dengan misi ini karena kemampuan diplomasinya di atas rata-rata. Apalagi, Amru bersahabat baik dengan para elite kerajaan Habasyah.

Langkah pertama yang dilakukan oleh Amru bin Ash adalah memberikan informasi provokatif; narasi untuk menimbulkan rasa kebencian, merendahkan, dan menyulut permusuhan. Konten narasinya berupa tuduhan ideologi baru yang akan merusak tatanan kehidupan–intoleran.

Berikut ini narasi Amru bin Ash yang terdokumentasikan dalam catatan sejarah.

أَيُّهَا الْمَلِكُ إِنَّهُ قَدْ صَبَأَ إِلَى بَلَدِكَ مِنَّا غِلْمَانٌ سُفَهَاءُ فَارَقُوا دِينَ قَوْمِهِمْ وَلَمْ يَدْخُلُوا فِى دِينِكَ وَجَاءُوا بِدِينٍ مُبْتَدَعٍ لاَ نَعْرِفُهُ نَحْنُ وَلاَ أَنْتَ

Wahai sang raja, sesungguhnya beberapa anak bangsa kami yang bodoh keluar dari negeri kami dan pergi ke negeri Tuan, meninggalkan agama kaumnya dan tidak akan masuk ke agama Tuan. Mereka membawa agama baru yang kami tidak mengetahuinya, dan juga Tuan.” (HR. Ahmad No. 1649 dan 21460. Lihat juga: Sirah Nabawiyyah, Ibnu Hisyam, 1/321)

Sikap Bijak Raja Najasyi Menghadapi Narasi Provokatif

Raja Najasyi yang terkenal dengan sikap bijak dan kehati-hatiannya tidak langsung memberi keputusan. Ketika Ia menerima informasi provokatif, ia tidak akan gegabah dalam mengambil kesimpulan.

Raja Najasyi sadar betul, respons yang gegabah hanya akan mencoreng martabat dan kehormatan pihak terkait.

Raja Najasyi menggali informasi dari pihak yang tertuduh, memverifikasi tuduhan tersebut dengan memanggil perwakilan umat Islam, Ja’far bin Abdul Muthalib radhiallahu anhu.

Raja Najasyi mempertemukan kedua belah pihak dalam satu ruang. Ia memberi kesempatan secara adil kepada kedua belah pihak untuk membawa argumen dan informasi.

Dengan demikian, Raja Najasyi mampu mengidentifikasi dengan sejelas-jelasnya informasi asli dan informasi palsu. Walhasil, tampak di hadapan beliau bahwa informasi Amru bin Ash adalah dusta.

Hadiah dan kedekatan Amru bin Ash dengan elite politik Habasyah sama sekali tidak memengaruhi sikap dan kebijakan raja Najasyi.

Sangat tampak beliau sama sekali tidak terpengaruh dengan pendapat atau pandangan pribadi. Langkah beliau dalam mengumpulkan dan memverifikasi data untuk memberikan keputusan yang adil, tepat, dan menjaga martabat adalah langkah yang sangat tepat.

Materi Khutbah Jumat: Tips Menangkal Informasi Hoaks

Langkah verifikasi dalam menyikapi informasi provokatif haruslah ditempuh demi menjaga kehormatan, martabat, dan harga diri. Karena menjaga kehormatan seseorang merupakan salah satu nilai yang ditanamkan oleh Islam kepada pemeluknya.

Hal ini ditegaskan oleh Nabi shalallahu alahi wassallam dalam khutbah Wada’, “Wahai manusia, hari apakah ini?

Mereka menjawab, “Hari ini hari haram (suci).

Nabi bertanya lagi, “Lalu negeri apakah ini?”

Mereka menjawab, “Ini tanah haram (suci).

Nabi bertanya lagi, “Lalu bulan apakah ini?”

Mereka menjawab, “Ini bulan suci.

Beliau lalu bersabda,

فَإِنَّ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ عَلَيْكُمْ حَرَامٌ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا

Sesungguhnya darah kalian, harta-harta kalian dan kehormatan kalian, adalah haram atas sesama kalian. Sebagaimana haramnya hari kalian ini di negeri kalian ini dan pada bulan kalian ini.” (HR. Al-Bukhari No. 1623)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, Teladan Terbaik dalam Menyikapi Isu

Proses verifikasi dengan mengumpulkan data valid dari semua sumber informasi terkait juga pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu alahi wasallam.

Ketika Rasulullah shallallahu alahi wasallam mengutus al-Walid bin ‘Uqbah bin Abil Mu’id untuk mengambil zakat dari Bani Musthaliq. Namun al-Walid tidak berani melakukannya karena Walid pernah terlibat konflik dengan mereka.

Al-Walid pun menghadap Rasulullah shallallahu alahi wasallam dan menyampaikan bahwa bani Musthaliq telah murtad, enggan membayar zakat. Dalam peristiwa ini, al-Walid telah membuat kesimpulan sepihak bahwa bani Musthaliq telah murtad karena enggan membayar zakat.

Mendengar informasi tersebut, Rasulullah shallallahu alahi wasallam tidak langsung membuat keputusan. Beliau membutuhkan informasi lebih lengkap untuk menguji validitas informasi yang dibawa oleh al-Walid. Beliau mengutus beberapa sahabat yang dipimpin oleh Khalid bin Walid radhiallahu anhu untuk mencari informasi langusng ke sumbernya: bani Musthaliq.

Artikel Sejarah: Ibnu Fadhlan, Penjelajah Hebat di Masa Kejayaan Daulah ‘Abbasiyah

Di malam hari Khalid mengutus seseorang untuk misi menggali kebenaran informasi yang dibawa oleh al-Walid. Ketika utusan ini sampai di wilayah Bani Musthaliq, mereka mendengar suara adzan dan iqamah yang menggema di pemukiman bani Musthaliq.

Bukti berupa azan dan iqamah yang masih berkumandang yang didapatkan oleh utusan Khalid bin Walid ini menunjukkan bahwa mereka masih memeluk Islam. Bani Musthaliq tidak murtad.

Sehingga, informasi pembanding yang didapatkan oleh Khalid bin Walid telah menggugurkan kevalidan informasi yang dibawa oleh al-Walid ke hadapan Rasulullah. Peristiwa inilah yang menjadi sebab turunnya surat al-Hujurat ayat keenam. (Al-Jami li Ahkami al-Quran, al-Qurtubi, 16/311)

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنْ جَاۤءَكُمْ فَاسِقٌۢ بِنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْٓا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًاۢ بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat: 6)

Pelajaran Penting dalam Kisah Raja Najasyi dan Al-Walid

Sikap Raja Najasyi radhiyallahu anhu dan Nabi shallallahu alahi wasallam dalam menghadapi informasi sebagaimana dalam uraian di atas adalah sikap yang seharusnya menjadi teladan setiap muslim.

Di era post truth di mana informasi sangat mudah diakses dan cepat menyebar menembus batas ruang dan waktu seperti saat ini, sikap hati-hati dan teliti terhadap informasi adalah perkara yang sangat penting.

Artikel Sejarah: Dzulqarnain Penguasa Dunia yang Melegenda [bag.1]

Setiap muslim wajib berhati-hati terhadap informasi yang isinya mencoreng martabat seseorang atau kelompok tertentu. Terlebih informasi tersebut menyangkut martabat dan kehormatan seorang muslim atau kelompok Islam.

Jika ingin selamat dari dosa berantai penyesatan informasi, maka jangan terlalu cepat mengambil kesimpulan, keputusan, atau membagikan ulang informasi sebelum melakukan verifikasi terhadap kebenaran informasi yang datang. Wallahu Alam. (Khatib Mukhtar/dakwah.id)

Topik Terkait

Sodiq Fajar

Bibliofil. Pemred dakwah.id

1 Tanggapan

Syukron, jazakumulloh

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.