Dzulqarnain Penguasa Dunia yang Melegenda [bag.1]

0 76

Tulisan yang berjudul Dzulqarnain Penguasa Dunia yang Melegenda [bag.1] ini adalah bagian pertama dari dua tulisan.

Setiap hari Jumat, umat Islam disunnahkan membaca surat al-Kahfi. Di antara faidahnya adalah agar terhindar dari fitnah Dajjal. Namun, lebih dari itu, surat ini memuat banyak kisah-kisah menarik untuk direnungi dan ditadabburi.

Salah satunya adalah kisah Dzulqarnain; raja yang mencintai dan dicintai Allah.

Para mufassir dari kalangan sahabat hingga generasi berikutnya, seperti Ibnu Abbas dan Ibnu Jarir ath-Thabari, sepakat menyebutkan bahwa sepanjang sejarah umat manusia, hanya ada empat raja yang paling berkuasa di dunia. Dua yang beriman; Sulaiman bin Daud dan Dzulqarnain. Dua yang kafir: Namrud dan Nebukadnezar.

Tulisan ini mencoba menelusuri jejak cerita Dzulqarnain Agung dan menelusuri siapakah dia yang sebenarnya, mengingat pembahasan tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan akademisi.

Apakah dia Alexander dari Macedonia, Cyrus dari Persia, atau malah bukan keduanya; ash-Sha’b Sang Penguasa Himyar?

Akan diterangkan juga dalam artikel ini, asal-usul dari nama Dzulqaranin.

Kemudian, agar tidak terjebak dalam khayalan dan fantasi cerita belaka, penulis mencoba menggali hikmah dan pelajaran berharga dari kisah Dzulqarnain di part kedua artikel ini, yang berjudul, “Pesan Peradaban dalam Kisah Dzulqarnain; Penguasa Dunia yang Melegenda.”

 

Dzulqarnain dalam al-Quran dan Sunnah

Al-Quran berkisah tentang Dzulqarnain hanya ada di tiga belas ayat, yakni di dalam surat al-Kahfi dari ayat 83-91. Adapun hadits-hadits yang bisa dijadikan rujukan terkait sosok yang agung ini, tidak begitu banyak.

Di antaranya adalah sebuah riwayat yang menyatakan bahwa seorang lelaki menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya bertanya mengenai Dzulqarnain.

Beliau menjawab, “Pada awalnya, ia berasal dari Romawi. Kemudian dianugerahkan Allah Ta’ala sebagai penguasa. Kemudian ia bergerak ke Mesir dan membangun kota Alexandria.”

Artikel Akidah: Kezaliman, Dosa Besar yang Harus Ditumpas

Selesai membangun, malaikat mendatanginya lalu membawanya naik seraya berkata, “Perhatikankah arah bawahmu.”

Ia menjawab, “Aku melihat sebuah kota.”

Malaikat berkata, “Itu adalah bumi. Allah menghendaki untuk memperlihatkannya kepadamu. Dia menjadikan sebagai penguasa di bumi. Karena itu, berjalanlah di sana. Ajarkanlah kepada orang yang bodoh, dan teguhkanlah orang alim.”

Meskipun memuat sejumlah informasi yang menarik, sayangnya, hadits ini tidak dapat dipertanggungjawabkan. Sebab, di dalam mata rantai sanadnya, terdapat perawi yang dinilai cacat; yakni Ibnu Lahi’ah.

Ibnu Hajar dalam Fathul Bari-nya, mengomentari hadits ini dha’if.

Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa di dalamnya terdapat perawi yang tidak dikenal, kemudian beliau mengkritisi matannya yang mengatakan bahwa Dzulqarnain berasal dari Romawi. Itu artinya ia adalah Alexander II bin Philips dari Macedonia. Ibnu Katsir menolak anggapan tersebut.

 

Makna dan Asal Usul Gelar Dzulqarnain

Syaikh Muhammad Khair Ramadhan Yusuf dalam kitabnya yang berjudul Dzul Qarnain; al-Qaid al-Fatih wa al-Hakim ash-Shalih, menyebutkan beberapa pendapat mengenai sebab penamaan Dzulqarnain yang artinya “Pemilik Dua Tanduk.”

Dari sekian banyak analisis, beliau menyimpulkan setidaknya ada empat aspek dalam penyematan gelar tersebut:

Pertama, Dzulqranain dalam arti kekuasannya yang mencapai belahan Timur dan Barat dunia.

Kedua, karena ia menjadi raja yang berkuasa selama dua generasi.

Ketiga, karena ia memakai mahkota yang bertanduk dua.

Keempat, karena rambutnya berkepang dua dan menarik perhatian. Masing-masing kepangan rambutnya, sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Atsir, terlihat seperti tanduk.

Setelah memaparkan berbagai kemungkinan asal-usul julukan Dzulqarnain, Syaikh Muhammad Khair seakan lebih menguatkan pendapat yang keempat.

Di akhir pembahasan, beliau menukil perkataan Ibnu Hajar yang menunjukkan bahwa orang Arab biasa menyebut rambut kepang dengan istilah qarn yang bermakna tanduk.

Materi Khutbah Jumat: Peristiwa Mendebarkan Setelah Kematian

Kemudian, untuk memperkuat pendapatnya, beliau mengutip perkataan Abu Sufyan sebagai contoh, “Tidak pernah aku melihat seperti hari ini, ketaatan suatu kaum, dan kepatuhan bangsa Persia dan Romawi yang rambutnya berkepang seperti tanduk (melebihi ketaatan para sahabat kepada Rasulullah).”

 

Dua “Mazhab” Besar tentang Sosok Dzulqarnain

Tidak dapat dipungkiri, Dzulqarnain merupakan sosok yang sangat menarik untuk dikaji. Berbagai teori bermunculan saat menelusuri siapa tokoh bersejarah yang paling dekat dengan sifat-sifat raja yang disanjung oleh al-Quran itu.

Ada yang mengatakan dia adalah Alexander the Great dari Yunani, Cyrus Agung dari Persia, Raja Himyar, dan atau Akhenaten.

Namun, yang paling populer adalah teori yang menjagokan Alexander dan Cyrus. Karena dilihat dari sejarahnya, hanya mereka berdualah raja yang melakukan ekspedisi besar.

Muarrikhun; para ulama pakar sejarah yang lebih memilih Alexander, tergolong cukup banyak. Di antaranya adalah ats-Tsa’labi dalam Qashash al-Anbiya’, al-Mas’udi dalam at-Tanbih wa al-Isyraf, al-Maqrizi dalam al-Mawa’izh wa al-I’tibar, Ibnu al-Atsir dalam an-Nihayah, dan al-Idirisi dalam al-Musytaq.

Ditambah lagi sebagian mufasir juga ikut memopulerkan teori ini, seperti al-Alusi dalam Ruhul Ma’ani. Maka tidak heran jika teori inilah yang masih mengakar di kalangan umat Islam pada umumnya.

Adapun alasan para ulama yang mengutarakan pendapat ini adalah karena dalam diri Iskandar atau Alexander, terdapat karakter Dzulqarnain jika ditinjau dari sisi kekuatan militer dan luas wilayah kekuasaan.

Akan tetapi, meski demikian, argumen tersebut tidak luput dari kritik para peneliti.

Di antara sanggahannya adalah catatan kelam sejarah hidup Alexander yang dinilai sangat bertolak belakang dengan kepribadian Dzulqarnain, seperti: menyembah dewa-dewi, sikap haus darah, gemar minum khamr, dan, yang lebih parah lagi, masalah orientasi seksual; suka sesama jenis. Tentu saja bukan seperti itu sosok raja yang dipuji dan diabadikan namanya dalam al-Quran.

 

Menimbang Teori Cyrusian

Jika mayoritas teori pendukung Alexander didominasi ulama terdahulu, kebalikan darinya, teori Cyrusian dipromosikan oleh beberapa ulama kontemporer. Di antaranya adalah menteri pendidikan pertama India; Maulana Abul Kalam Azad dan cendikiawan besar Pakistan; Sayyid Abu A’la al-Maududi.

Dalam kitabnya yang berjudul “Tafhim al-Quran”, al-Maududi menyebutkan bahwa sosok Dzulqarnain haruslah seorang penguasa dan penakluk besar di mana wilayah penaklukannya kemungkinan membentang dari timur ke barat.

Kemudian, ia membangun dinding kokoh di antara dua gunung untuk melindungi wilayah yang menjadi kerajaannya dari serangan Ya’juj dan Ma’juj.

Selain harus memiliki sejumlah karakteristik tersebut, syarat utama Dzulqarnain haruslah penyembah Allah dan raja yang adil. Abu A’la menyatakan bahwa ciri di atas mudah ditemukan pada raja Cyrus.

Penulis dari Indonesia yang ikut memopulerkan pendapat kedua ulama tersebut adalah Wisnu Tanggap Prabowo dalam bukunya Zulkarnain Agung; Antara Cyrus dan Alexander.

Meskipun pada akhirnya ia mengakui bahwa apa yang ia bahas belum final dan tidak mempermasalahkan siapakah sosok Dzulqarnain yang sebenarnya. Namun, jauh lebih tepat jika dikatakan bahwa ia termasuk pendukung Cyrus.

Sebab, jika diamati, terlalu banyak porsi yang ia tuangkan dalam menguatkan pendapat tersebut. Selain itu, tidak ada kritik menukik untuk membantahnya sebagaimana ia menolak mentah-mentah teori pendukung Alexander.

Ditambah lagi, sejak awal, secara implisit, Wisnu mengagung-agungkan peradaban Achaemenid, kerajaan Cyrus di Persia. Bahkan ketika membahas apakah Cyrus seorang pemeluk agama Majusi atau Zoroaster, Wisnu menganalogikan bahwa tidak menutup kemungkinan bahwa di lingkungan musyrik atau kafir, ada orang beriman seperti Asiyah dan Masyithah pada masa Firaun.

Dalam hal ini, nampak sekali ia ingin menonjolkan tokoh Cyrus. Bahkan saat membahas Tuhan yang disembah oleh Cyrus, Ahura Mazda, dikesankan bahwa itu adalah Allah dan secara tidak langsung Cyrus dipercayai sebagai seorang yang bertauhid; dengan memakai istilah monoteisme.

cyrus
Ilustrasi Cyrus

Berbeda halnya dengan Syaikh Muhammad Khair. Sebagai peneliti, beliau menyebutkan berbagai teori terkait Dzulqarnain secara objektif dan proporsional. Teori Raja Himyar, aliran yang mengkandidatkan Alexander dan Cyrus, sama-sama disebutkan sisi argumentasinya untuk kemudian dianalisis dengan kritis dan lebih adil.

Setelah memaparkan dalil-dalil dari kalangan pendukung Cyrus, Muhammad Khair mengajukan sebuah pertanyaan sederhana, “Apakah bisa dipastikan bahwa Cyrus berperang atas nama Allah, beriman kepada-Nya dan membela akidah Islam; menghapuskan kekufuran dan kemusyrikan dari hadapan manusia; membersihkan dan menyucikan mereka dari penyembahan api?

Sayangnya, pertanyaan mendasar tentang sosok Dzulqarnain ini, tidak bisa diiyakan secara pasti. Maka, tidak berlebihan jika dikatakan pendapat tersebut masih bersifat dugaan belaka; belum memiliki dasar yang kuat.

Pada tahun 1679, sebuah dokumen Pengumuman Hak Asasi Manusia, ditemukan di wilayah Aura, yang terletak antara dua sungai. Dokumen ini; ditulis dengan Bahasa Babel, terukir dalam silinder yang terbuat dari tanah yang dimasak, dan diterbitkan langsung oleh Cyrus Agung—pendiri imperium Persia—sejak tahun 2500 lalu, setelah ia menaklukkan Babel.

Sekarang, silinder Cyrus tersebut disimpan di museum Inggris di London. Di dalam dokumen yang penting dan bersejarah itu, dapat dikenali bagaimana sosok Cyrus yang sebenarnya.

Setelah meneliti dokumen tersebut, Syaikh Muhammad Khair menarik beberapa kesimpulan.

Pertama, terdapat kata-kata yang menunjukkan kejumawaan Cyrus; ketika ia mendaku diri sebagai penguasa dunia, Maharaja, raja yang kuat, yang menguasai Babel, Sumeria, Akadia, raja empat penjuru dunia, dan semacamnya.

Kedua, kebanggaan dan pensakralan kepada nenek moyangnya, serta agamanya belum bisa dipertanggungjawabkan.

Ketiga, beriman dan menyembah dewa-dewa dan mempunyai perhatian tinggi terhadap dewa-dewa tersebut.

Kemudian, kritik terhadap teori Cyrusian diperkuat dengan mengutip perkataan sejawawan muslim kontemporer, Prof. Mahmud Syakir, “Cyrus merumuskan dinasti Akhemeniyah di Persia tahun 550 SM dan memeluk agama Zoroaster lalu menerapkannya kepada warganya.” (Lihat, Iran, karya Mahmud Syakir, hlm. 14, cetakan 1395).

 

Benang Merah Perdebatan

Jika diteliti lebih lanjut, ternyata banyak ulama yang menolak pendapat bahwa Alexander adalah Dzulqarnain. Mereka menyebutkan tiga perkara yang membedakan antara keduanya.

Pertama, berbeda dalam masalah akidah; keimanan kepada Allah.

Kedua, perbedaan zaman yang sangat jauh. Ibnu Katsir menyebutkan, selisih masa antara keduanya lebih dari dua ribu tahun. (Lihat al-Bidayah wan Nihayah, 2/542)

Adapun perbedaan ketiga, yakni beda asal daerah. Dzulqarnain dari Arab dan sezaman dengan Nabi Ibrahim, memeluk Islam dengan perantaranya. Sedangkan Alexander berasal dari Yunani. Hal ini sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Asqallani, dalam kitabnya yang berjudul Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari (Kitab Ahaditsul Anbiya’, bab 7, hlm. 312)

Artikel Tsaqafah: ‘Statement’ Politik Syaikh Ibnu Taimiyah Rahimahullah

Sedangkan teori yang mengajukan Cyrus, setelah ditelusrui, ternyata banyak didukung oleh para peneliti dari India, Pakistan dan Iran. Seperti Kalam Azad, Israr Ahmad, Jawwad Ahmad Ghamidi dan Thab’ab’i dalam tafsirnya.

Kalangan Yahudi juga ikut mengagungkan Cyrus, karena ialah yang membebaskan Bani Israel dengan menaklukkan Babylonia. Namun, tiga hal yang membedakan antara Dzulqarnain dengan Alexander di atas, juga ada pada diri Cryus.

Maka dari itu, saat membahas siapa sebenarnya sosok Dzulqarnain, jawaban yang paling tepat, menurut penulis, adalah apa yang disampaikan oleh Syaikh Muhammad Khair.

Dengan singkat dan tegas, beliau berkata, “Dia adalah Dzulqarnain al-Qurani, sebagaimana yang diilustrasikan Allah Ta’ala dalam kitab suci-Nya dan memujinya dengan iman, kebaikan dan keadilan dalam sebuah surat yang agung. Jadi, Dzulqarnain adalah Dzulqarnain. Bukan Cyrus, juga bukan Alexander. Ia adalah sosok yang berbeda dari keduanya, yang berpetualang mengelilingi dunia, baik, adil, beriman, takut pada Allah, dan tidak pernah tergiur dengan dunia. (Muhammad Faishal Fadhli/dakwah.id)

 

Baca lanjutan tulisan ini bagian kedua: Dzulqarnain Penguasa Dunia yang Melegenda [bag.2]

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.