Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Memperdagangkan Iman demi Mengharap Keuntungan

142

Seorang muslim yang jujur meyakini bahwa iman adalah sesuatu yang paling berharga pada dirinya. Sebab dengan Islam dan iman ia menjadi berbeda dengan hewan. Oleh karena itu untuk mempertahankan iman dan Islamnya seorang muslim akan rela berkorban apapun.

Seorang mukmin tidak akan akan menukar iman dan Islamnya dengan apapun. Iman tidak bisa dibeli bahkan dengan emas sepenuh bumi sekalipun.

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَمَاتُوْا وَهُمْ كُفَّارٌ فَلَنْ يُّقْبَلَ مِنْ اَحَدِهِمْ مِّلْءُ الْاَرْضِ ذَهَبًا وَّلَوِ افْتَدٰى بِهٖۗ اُولٰۤىِٕكَ لَهُمْ عَذَابٌ اَلِيْمٌ وَّمَا لَهُمْ مِّنْ نّٰصِرِيْنَ ۔

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan mati sedang mereka tetap dalam kekafirannya, Maka tidaklah akan diterima dari seseorang di antara mereka emas sepenuh bumi, walaupun dia menebus diri dengan emas (yang sebanyak) itu.” (QS. Ali Imran: 91)

Baca juga: Langkanya Kejujuran di Tahun-tahun Kebohongan

Namun bagi para pembohong, orang-orang munafik, Islam tidak lebih dari sekadar pakaian yang bisa ia kenakan dan lepaskan kapan pun ia suka. Islam atau tidak bagi mereka tergantung kondisi, kepentingan, dan keuntungan.

Jika kondisi menguntungkan dan sejalan dengan kepentingan diri, kelompok dan syahwatnya, maka ia menampilkan diri sebagai muslim; tiba-tiba fasih bicara Islam, tiba-tiba dekat-dekat dengan ulama, tiba-tiba akrab dengan atribut-atribut muslim; jubah, sorban, peci, bahkan ibadah ritual yang sejatinya adalah hubungan pribadinya kepada Allah pun dipublish sedemikian rupa.

Namun jika keuntungan sudah didapat, Islam sudah tidak lagi ia butuhkan, atau hendak mencari muka kepada orang-orang kafir, maka dengan mudah ia akan melepaskan Islamnya, bahkan menunjukkan permusuhannya kepada Islam dan kaum muslimin.

Baca juga: Golongan Munafik Lebih Berbahaya dari Musuh, Kenali Sifat dan Karakter Mereka!

Ya, Islam baginya hanyalah barang komoditas yang bisa ia jual dan beli kapan ia mau. Itulah orang-orang munafik yang sesungguhnya.

وَاِذَا لَقُوا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قَالُوْٓا اٰمَنَّا ۚ وَاِذَا خَلَوْا اِلٰى شَيٰطِيْنِهِمْ ۙ قَالُوْٓا اِنَّا مَعَكُمْ ۙاِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِءُوْنَ

“Dan bila mereka berjumpa dengan orang-orang yang beriman, mereka mengatakan, “Kami telah beriman.” Namun apabila mereka kembali kepada setan-setan mereka, mereka mengatakan, “Sesungguhnya kami sependirian dengan kamu, kami hanyalah berolok-olok.” (QS. Al-Baqarah: 14)

Maka sampai kita terjangkit penyakit nifaq, dan jangan pula mau ditipu oleh munafik yang suka memperdagangkan agama. [Ibnu Syarqi/dakwah.id]

 

 

Ustadz Ibnu Syarqi – Alumnus Ma’had ‘Aly An-Nuur Liddirasat al-Islamiyah wa Tahfidzil Qur’an, Solo, Jawa Tengah. Beliau sekarang aktif sebagai dai di Lembaga Majelis Dakwah Islam Indonesia (MADINA) dan aktif menulis buku-buku ilmu Islam.