rasa futur dan solusi mengatasinya dakwah.id

Rasa Futur dan Solusi Mengatasinya

Rasa futur atau malas dalam beribadah adalah ‘momok’ bagi sebagian umat Islam. Waktu yang sebenarnya produktif untuk beribadah ataupun untuk mengerjakan aktivitas sehari-hari menjadi kontraproduktif ketika rasa futur ini menghampiri.

Tentu kita pernah mengalaminya, atau bahkan sering. Berbagai usaha telah kita upayakan, tetapi mungkin karena kita belum mengupayakan atau menemukan solusi yang jitu, rasa futur ini masih aja melekat pada diri kita.

Sebenarnya rasa futur itu apa, sih? Apakah para sahabat dahulu juga merasakannya? Ketika kita futur apa yang harus kita lakukan, dan apa solusi-solusi jitu untuk mengatasi futur?

Semua pertanyaan tersebut terjawab pada artikel dakwah.id kali ini. Untuk menguraikannya, kita awali dahulu dengan kisah sahabat Hanzhalah berikut ini.

Terjemah Hadits Hanzhalah yang Mengaku Menjadi Munafik

“Aku rasa diriku telah munafik,” kata-kata itu terucap begitu saja dari lisan Hanzhalah al-Usaidiy radhiyallahu ‘anhu kepada sahabat mulia Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu ketika beliau menanyakan kabar dirinya.

Tatkala mendengar jawaban Hanzhalah, Abu Bakar terkejut. “Subhanallah, apa katamu?”, Abu Bakar mencoba memastikan, jawaban itu masih terasa janggal di telinganya, seolah tak percaya.

Lalu berceritalah Hanzhalah tentang kegalauan yang dirinya rasakan.

Saat kita bermajelis bersama baginda Rasul”, kata Hanzhalah memulai cerita, “Kita diingatkan oleh beliau tentang surga dan neraka, keduanya seperti begitu dekat dan nyata adanya. Hati khusyu’, jiwa tenang, bulir-bulir air mata penyesalan menetes tanpa terasa. Tapi selepas itu, kita pulang bertemu istri, anak, sibuk dengan urusan dunia, suasananya menjadi berbeda dengan saat bersama Rasul, seolah-olah kita lupa dengan apa-apa yang telah disampaikan oleh Rasul.”

Mendengar penuturan jujur dari sahabatnya itu, Abu Bakar berkata,

“Apa yang barusan kau ceritakan, terjadi juga padaku. Mari kita temui Rasulullah, kiranya beliau punya solusi atas kecemasan yang sama-sama kita alami ini.”

Materi Khutbah Jumat: Tetap Istiqamah Ibadah di Musim Wabah

Keduanya lalu beranjak menemui Rasululullah dan menceritakan perihal masalah mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tersenyum, lantas berkata,

“Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalau seandainya keadaan kalian senantiasa seperti saat bersamaku, dan senantiasa mengingatnya, maka para malaikat pasti akan menyalami kalian di tempat-tempat tidur dan di jalan-jalan kalian, tapi apa yang kalian rasakan itu masing-masing ada masanya; saa’atan, saa’atan, saa’atan.” (HR. Muslim no. 2750)

Sampai di sini kisahnya selesai. Kisah ini terabadikan apik dalam Shahih Muslim (4/2107). Perawi yang menyampaikan hadits tidak merinci lebih detail lagi kejadian setelahnya. Meski demikian, kita tetap bisa mengambil hikmahnya.

Hikmah Hadits Hanzhalah yang Mengaku Menjadi Munafik

Tanpa bermaksud menyamakan diri kita dengan para sahabat, kita pun kadang demikian. Saat berada di majelis ilmu (pengajian) hati terasa khusyuk, damai, dan tenteram. Nuansa keimanan begitu lekat terasa. Nasihat demi nasihat kita serap dengan mudahnya, menjadi semacam pelecut atau motivasi atas diri yang masih lupa dan lalai.

Lalu memunculkan sebongkah tekad, aku harus berubah menjadi lebih baik, rasa-rasanya tak boleh ada sedetik pun waktu dalam hidup ini yang lewat tanpa ada nilai kebaikan dan pahala di dalamnya. Itu sewaktu dalam majelis.

Kemudian majelis ilmu yang kita ikuti pun selesai, masing-masing kita pulang kembali ke kesibukan masing-masing.

Perlahan namun pasti, nasihat-nasihat indah penggugah jiwa yang barusan didapat akhirnya tercampur dengan hiruk pikuk kesibukan duniawi kita, baik itu urusan pekerjaan, anak, istri, tugas-tugas, dan sebagainya. Alhasil, tekad kuat dan mantap saat berada di pengajian menguap seiring kesibukan duniawi kita. Begitu terjadi berulang-ulang.

Pertanyaannya, apakah ini salah?

Jika melihat dari pernyataan Rasulullah pada kisah di atas, tidak salah. Karena memang demikianlah fitrah manusia.

Manusia sampai kapan pun tetaplah manusia yang Allah bekali dengan akal dan hawa nafsu sebagai bekal untuk menjadi hamba-Nya sekaligus khalifah (wakil Allah) di muka bumi. Beda dengan malaikat yang Allah beri akal tanpa nafsu, tugasnya hanya beribadah tanpa ada dorongan untuk melakukan perbuatan maksiat.

Maka komentar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam setelah mendengar pernyataan dari sahabat Hanzhalah dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma adalah komentar yang bijaksana. Kalaulah manusia dipaksa untuk selalu berada dalam keimanan terus menerus layaknya malaikat, itu merupakan sebuah kemustahilan.

Apa itu Rasa Futur?

Perasaan yang dialami oleh sahabat Hanzhalah pada hadits di atas menurut Dr. Nashir bin Sulaiman al-Umar dalam bukunya, al-Futur al-Mazhahir al-Asbab al-‘Ilaj (hlm. 20—21), disebut dengan istilah futur.

Imam ar-Raghib al-Asfahani rahimahullah dalam kitabnya, Mufradat fi Garib al-Quran (hlm. 371) menjelaskan bahwa futur secara bahasa adalah bentuk masdar dari kata fatara dalam bahasa Arab yang bermakna tumpul setelah tajam, melempem setelah keras, dan lemah setelah sebelumnya kuat.

Di atas adalah pengertian rasa futur secara bahasa. Kemudian, jika ditanyakan: apa itu futur dalam beribadah? maka pertanyaan tersebut terjawab dalam pengertian futur secara istilah.

Sebagaimana penjelasan dari Sayyid Muhammad Nuh bahwa futur secara istilah adalah penyakit yang menjangkiti aktivitas amal ibadah (ketaatan) seorang muslim secara khusus, bahkan terkadang berpengaruh juga terhadap tindakan umum keseharian.

Tingakatan terendahnya adalah malas, lemah, serta lesu. Sedangkan tingkat tertingginya, berhenti atau terputus sama sekali dari kegiatan atau aktivitas yang sebelumnya sudah menjadi kebiasaan dan sudah dilakukan secara terus menerus. (Aafatun ‘ala at-Thariq, Sayyid Muhammad Nuh, 3)

Dari penjelasan di atas dapatlah kita mengambil sebuah kesimpulan bahwa futur secara istilah adalah rasa futur dalam menjalankan ibadah, dan terkadang berpengaruh juga terhadap tindakan umum keseharian.

Jadi, kata futur dalam tulisan ini bermakna futur secara istilah, yaitu futur dalam menjalankan ibadah.

Jenis-jenis rasa futur dalam beribadah

Futur terbagi menjadi empat macam sebagaimana yang disarikan dari tulisan Dr. Nashir bin Sulaiman al-Umar yang berjudul al-Futur al-Mazhahir al-Asbab al-‘Ilaj (hlm. 18—21), dengan sedikit perubahan dan tambahan.

  1. Futur secara umum.

Pertama adalah futur secara umum. Futur jenis ini adalah futur yang ada pada jiwa orang-orang munafik.

Bentuknya adalah rasa malas dalam melaksanakan semua ketaatan diiringi dengan rasa benci, serta tidak adanya keinginan untuk mengerjakannya.

2. Futur yang berbentuk rasa malas dalam melakukan sebagian ketaatan.

Sedangkan jenis futur yang kedua adalah rasa malas dalam melakukan sebagian ketaatan, tidak ada antusias untuk melaksanakannya.

Bedanya dengan jenis pertama adalah tidak ada rasa benci di hati pelakunya pada ketaatan atau ibadah tersebut. Futur yang seperti ini adalah futurnya orang-orang fasik; para pendosa atau para pemuja syahwat dan kesesatan.

Dua jenis pertama ini adalah futur yang disebabkan oleh kondisi hati pelakunya yang sakit. Tingkat keparahan ditentukan oleh naik turunnya syahwat pada diri sang pelaku.

3. Futur yang disebabkan oleh kondisi fisik.

Kemudian jenis futur selanjutnya adalah rasa futur yang disebabkan oleh kondisi fisik (badan).

Dalam artian, bukan badannya tak mampu melaksanakan ketaatan, tapi semangatnya yang fluktuatif (bersifat ketaktetapan) yang membuat badannya malas bergerak sedangkan hati masih tetap mengakui keutamaan amalan tersebut, bahkan terkadang ada rasa sesal ketika melewatkannya.

Orang yang sedang mengalami rasa futur jenis ini didapati sangat bersemangat untuk beribadah, sangat ingin mengerjakan shalat tahajud, bahkan terkadang merasa sedih dan menyesal jika melewatkan malam tanpa tahajud. Namun, kesedihan dan rasa sesal itu tak mampu mengalahkan empuk kasur dan hangatnya selimut tidur.

Di waktu lain, azam untuk mengkhatamkan al-Quran sekali dalam sebulan begitu menggebu. Pada kenyataanya, bulan demi bulan telah berlalu tapi sekali khatam pun belum dia tuntaskan. Atau dia mendaku cinta shaum sunah, padahal sangat jarang sekali shaum itu dikerjakannya.

Futur jenis inilah yang dialami oleh kebanyakan kaum muslimin. Orang yang terkena futur jenis ini bisa saja orang saleh, dan bisa saja para pendosa ataupun para pemuja syahwat. Syahwat dan dosa yang dilakukan menyebabkan berat atau bahkan menghalanginya dari mengerjakan ketaatan kepada Allah.

4. Futur yang tetiba datang dan kadang hilang.

Jenis futur yang terakhir adalah futur yang tetiba datang dan kadang hilang.

Rasa futur ini tidak lama. Tidak sampai menjerumuskan seseorang pada kemaksiatan dan tidak mengeluarkannya dari ketaatan yang telah dilaziminya.

Hampir semua muslim bisa dipastikan pernah merasakan futur ini. Meskipun tingkatannya tentu berbeda-beda antara seorang muslim dengan muslim yang lainnya. Penyebabnya bisa karena lelah (bosan), sakit, dan sebagainya. Futur inilah yang dirasakan oleh sahabat Hanzhalah radhiyallahu ‘anhu ketika mengadu kepada Abu Bakar as-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.

Rasa futur sebenarnya adalah hal yang wajar, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim al-Jauziyah rahimahullah,

Saat-saat futur bagi seorang yang beramal adalah hal wajar yang harus terjadi. Seseorang yang masa futurnya cenderung kepada muraqabah (mendekatkan diri dengan Allah) dan beramal semampunya, tidak keluar dari amal-amal fardhu, dan tidak melaksanakan sesuatu yang diharamkan oleh Allah subhanahu wata’ala, ketika pulih ia akan berada dalam kondisi yang lebih baik dari keadaan sebelumnya.” (Madarij as-Salikin, Ibnu Qayyim al-Jauziyah, 3/126)

Perkatan Ibnu Qayyim ini juga sesuai dengan sabda Rasul yang berbunyi,

لِكُلِّ عَمَلٍ شِرَّةٌ، وَلِكُلِّ شِرَّةٍ فَتْرَةٌ، فَمَنْ كَانَتْ فَتْرَتُهُ إِلَى سُنَّتِي، فَقَدْ أَفْلَحَ، وَمَنْ كَانَتْ إِلَى غَيْرِ ذَلِكَ فَقَدْ هَلَكَ

Setiap amal itu ada masa semangatnya, dan pada setiap masa semangat itu ada masa futur (bosan). Barang siapa yang ketika futur tetap berpegang kepada sunahku, maka sesungguhnya ia telah beruntung. Dan barang siapa yang ketika futur berpegang kepada selain sunahku, maka sesungguhnya ia telah tersesat.” (HR. Ahmad no. 6919, 6725, 22963; HR. Ibnu Khuzaimah no. 2105)

Siapa pun akan merasakannya tak terkecuali seorang penuntut ilmu, ahli ibadah, ataupun aktivis dakwah.

Ketika raga berada di majelis ilmu namun jiwa dan pikiran seolah terbang melalang buana, ketika mata menatap tempat sujud tapi hati berada di tempat lain, ketika ayunan langkah kaki yang biasanya ringan ketika diajak melakukan ketaatan tapi kali ini seolah ada beban berat yang menahannya untuk melangkah, maka hal-hal itu bisa jadi adalah indikasi dari rasa futur.

Ketika Kita Futur Apa yang Harus Kita Lakukan?

Sebagaimana yang telah disebutkan, futur adalah penyakit hati (maknawi) yang bisa menjangkiti setiap orang, siapa pun tanpa terkecuali. Akan tetapi, tidaklah Allah subhanahu wata’ala menurunkan sebuah penyakit kecuali bersamaan dengan itu Allah subhanahu wata’ala juga menurunkan obatnya.

Karena futur terkategori dalam penyakit hati, lantas, apa obat dari penyakit futur?

Dalam Aafaatun A’la ath-Thariq (hlm. 14—19), Dr. Sayyid Muhammad Nuh menyebutkan sebanyak tujuh belas solusi cara mengatasi futur yang hendaknya dilakukan ketika seseorang dilanda rasa futur agar kembali semangat dalam aktivitas ketaatan dan amal saleh.

Makalah: Amal Jariyah dan Logika Investasi Robert Kyosaki

Berikut ini adalah solusi yang beliau tawarkan untuk mengobati rasa futur.

  1. Menjauhi perbuatan maksiat baik besar atau kecil, karena maksiat adalah api yang akan membakar hati dan mendatangkan murka Allah.
  2. Membiasakan diri untuk melazami amal harian, seperti istigfar, membaca al-Quran, shalat malam, shalat dhuha, dan berdoa pada waktu sahur. Apabila amalan itu dilakukan, maka akan menambah keimanan, mempertinggi semangat, serta memperkuat azam dalam berkhidmat kepada Allah.
  3. Memperhatikan waktu-waktu khusus yang memiliki keutamaan ibadah. Cara ini akan memberikan keteguhan pada jiwa dan memperkokoh iradah (kemauan).
  4. Menghindari sikap berlebih-lebihan dalam menjalankan agama. Karena yang demikian akan membuat seseorang giat untuk beramal secara kontinu.
  5. Bergabung dalam sebuah komunitas (jamaah) dan tidak meninggalkannya dalam kondisi apa pun.
  6. Senantiasa memperhatikan kaidah sunatullah dalam kehidupan.
  7. Menyadari adanya kendala atau tantangan yang akan dihadapi (dalam konteks dakwah).
  8. Teliti dan sabar dalam menerapkan strategi dakwah yang baik.
  9. Senantiasa menjalin hubungan baik dengan orang-orang saleh, sebab mereka adalah hamba Allah yang memiliki jiwa yang bersih, cahaya hati, dan rohani yang tertata.
  10. Memberikan waktu kepada jasmani untuk istirahat, makan, dan minum secukupnya.
  11. Menghibur diri dengan hal-hal yang dibolehkan, misalnya bermain bersama keluarga (anak dan istri), rihlah, olahraga, tadabur, dan semisalnya.
  12. Membaca atau melakukan kajian secara kontinu terhadap buku-buku yang membahas perjalanan hidup para sahabat atau orang-orang saleh.
  13. Mengingat kematian dan kejadian-kejadian yang dialami setelahnya.
  14. Mengingat nikmat surga dan azab neraka.
  15. Menghadiri majelis-majelis ilmu.
  16. Menjalankan ajaran Islam secara total.
  17. Selalu bermuhasabah, melakukan evaluasi atas berbagai hal yang telah dilakukan.

Bagi siapa yang bisa mendeteksi diri bahwa dia berada dalam kondisi futur kemudian melakukan hal-hal tersebut di atas, dengan izin Allah rasa futurnya akan hilang dan semangat untuk melakukan kebaikan dan amal saleh kembali seperti sebelumnya. Wallahu a’lam. (Ashabul Yamin/dakwah.id)

Baca juga artikel Refleksi atau artikel menarik lainnya karya Ashabul Yamin.

Penulis: Ashabul Yamin
Editor: Ahmad Robith

Topik Terkait

0 Tanggapan

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.

%d blogger menyukai ini: