06 materi kultum ramadhan kenapa perlu mempelajari sirah nabawiyah dakwah.id

Materi Kultum Ramadhan 06: Kenapa Perlu Mempelajari Sirah Nabawiyah

Terakhir diperbarui pada · 950 views

Materi Kultum Ramadhan 06
Kenapa Perlu Mempelajari Sirah Nabawiyah?

Tulisan yang berjudul Kenapa Perlu Mempelajari Sirah Nabawiyah ini adalah seri ke-06 dari serial Materi Kultum Ramadhan 1445 H yang ditulis oleh Ustadz Nofriyanto Abu Kayyisa Al-Minangkabawy.

اَلْحَمْدُ ِللهِ وَكَفَى وَنُصَلِّى وَنُسَلِّمُ عَلَى النَّبِيِّ الْمُصْطَفَى وَآلِهِ الْمُسْتَكْمِلِيْنَ الشَّرَفَا

Hadirin jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah subhanahu wataala!

Kenapa kita perlu mempelajari sirah nabawiyah? Apa pentingnya?

Pada kesempatan kali ini, mari kita cermati sepenggal ungkapan ulama Ibnu Hazm rahimahullah dalam buku beliau yang berjudul Al-Fashl fi al-Milal wa al-Ahwa’ wa an-Nihal juz 2 halaman 73,

فَإِنَّ سِيْرَةَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَنْ تَدَبَّرَهَا تَقْتَضِي تَصْدِيْقَهُ ضَرُوْرَةً وَتَشْهَدَ لَهُ بِأَنَّهُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَقًّا فَلَوْ لَمْ تَكُنْ لَهُ مُعْجِزَةٌ غَيْرَ سِيْرَتِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَكَفَى

Sesungguhnya bagi siapa yang menelaah dan menghayati perjalanan hidup Nabi Muhammad, akan mengharuskannya untuk membenarkan Nabi dan bersaksi bahwa beliau adalah benar-benar utusan Allah. Seandainya tidak ada mukjizat Nabi selain sirah beliau maka itu sudah cukup.”

Setidaknya ada tiga hal utama yang akan diraih bagi siapa saja yang mempelajari sirah nawabiyah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Pertama: Menumbuhkan Rasa Cinta kepada Nabi SAW

Mempelajari sirah nabawiyah berarti mempelajari kedudukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Kedudukan di sini mencakup segala hal, baik kemuliaan, derajat, dukungan Allah subhanahu wata’ala terhadap risalah yang ia bawa, pertolongan para malaikat khususnya di saat berperang melawan para musuhnya, bahkan mukjizat, dan lain-lain.

Tidak terkecuali, dengan mempelajari perjalanan hidup Nabi pasti akan mengetahui betapa mulia sifat-sifat baginda nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Kecerdasannya, kewibawaannya, kejujuran, kesabaran, keikhlasan, kelembutan, kehangatan dan kasih sayangnya.

Pengetahuan dan penghayatan mendalam tentang sifat-sifat mulia tersebut tentulah akan menjadi wasilah utama seseorang menerima risalah yang beliau bawa.

Ibarat pepatah semakin mengetahui, semakin mengenal. Semakin mengenal, semakin sayang. Semakin sayang tentulah semakin cinta.

Agaknya, susah untuk mengaku cinta kepada Baginda Nabi saat pengakuan tersebut tidak diiringi dengan pengetahuan mendalam tentang kehidupan yang beliau jalani. Padahal cinta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan salah satu konsekuensi iman.

Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari hadits nomor 14,

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian, hingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia.”

Kedua: Membantu Memahami al-Quran

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah contoh wujud nyata al-Quran. Semua yang ada pada diri beliau merupakan praktik keseluruhan ajaran agama ini. Betapa banyak kejadian yang beliau alami sejatinya merupakan penjelasan dari ayat-ayat itu sendiri.

Tidak diragukan bahwa beliau merupakan sosok yang paling paham tentang al-Quran. Melihat kepada tugas beliau sebagai pembawa risalah yang menjelaskan ajaran Islam.

Maka, tidak heran dengan mempelajari sirahnya merupakan salah satu cara terbaik memahami al-Quran yang turun kepadanya. Hal ini sebagaimana yang ditegaskan oleh Ibunda Aisyah radhiyallahu ‘anha ketika ditanya oleh sahabat Sa’ad bin Hisyam radhiyallahu ‘anhu tentang akhlak Nabi, sebagaimana diriwayatkan oleh imam Muslim, hadits nomor 746,

فَقُلتُ: يَا أُمَّ المُؤمِنِينَ! أَنبئِينِي عَن خُلُقِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ ؟ قَالَت: أَلَستَ تَقرَأُ القُرآنَ؟ قُلتُ: بَلَى .قَالَت: فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ كَانَ القُرآنَ. قَالَ: فَهَمَمْتُ أَن أَقُومَ وَلَا أَسأَلَ أَحَدًا عَن شَيْءٍ حَتَّى أَمُوتَ

Aku berkata, ‘Wahai Ummul Mukminin, beritahukan kepadaku tentang akhlak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam!’ Aisyah bertanya, ‘Bukankah engkau membaca al-Quran?’ Aku menjawab, ‘Ya.’ Ia berkata, ‘Sesungguhnya akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah al-Quran.’ Kemudian aku hendak berdiri dan tidak bertanya kepada siapapun tentang apapun hingga aku mati.”

Ketiga: Meraih Keteladanan Nabawy

Siapa saja yang mempelajari sirah baginda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ia akan memperoleh keteladanan hakiki dan komprehensif.

Dengan mempelajari sirah nabawiyah, para pemuda akan mendapatkan keteladanan beliau dalam berperilaku, berkarya, berinteraksi dengan para sahabat dari semua kalangan dan usia.

Dengan mempelajari sirah nabawiyah, seorang da’i memperoleh bagaimana manhaj dakwah beliau yang dibalut dengan penuh hikmah, nasehat dan perdebatan yang baik.

Dengan mempelajari sirah nabawiyah, seorang kepala negara akan melihat bagaimana cara Nabi berpolitik dengan penuh kebijaksanaan.

Dengan mempelajari sirah nabawiyah, suami istri akan memperoleh bagaimana cara terbaik dalam membina keluarga dan rumah tangga. Bagi orang tua, mereka akan memperoleh cara terbaik mendidik generasi penerus. Dan keteladanan-keteladanan lainnya.

Bukankah Allah subhanahu wata’ala telah menegaskan hal ini dalam al-Quran? Sebagaimana forman-Nya dalam al-Quran surat al-Ahzab ayat 21,

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah (Muhammad) itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.”

Maka, mari kita pelajari sirah nabawiyah, perjalanan hidup nabi kita yang tercinta. Semoga upaya mempelajari sirah nabawiyah ini menjadi salah satu bukti bahwa kita benar-benar cinta dan mengimani kenabian Rasululllah shallallahu ‘alaihi wasallam. (Nofriyanto/dakwah.id)

Baca juga artikel Materi Kultum Ramadhan atau artikel menarik lainnya karya Nofriyanto Abu Kayyisa Al-Minangkabawy.

Materi Kultum Ramadhan Terbaru:

Topik Terkait

Nofriyanto, M.Ag

Dosen Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UNIDA GONTOR, Direktorat Islamisasi UNIDA GONTOR, Alumni Program Kaderisasi Ulama Gontor angkatan VII, Konsentrasi bidang pemikiran Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *