hadits keutamaan menghafal al-quran dakwah.id

14 Keutamaan Menghafal Al-Quran

Terakhir diperbarui pada · 1,844 views

Keutamaan menghafal al-Quran sangat luar biasa. Karena al-Quran adalah Kalamullah yang Allah subhanahu wataala wahyukan kepada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam melalui Malaikat Jibril ‘alaihissalam.

Al-Quran adalah kitab suci bagi umat Islam. Tujuan diturunkannya al-Quran adalah sebagai pedoman hidup atau petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, obat penyembuh, dan menjadi kabar gembira sekaligus sebagai pemberi peringatan.

Al-Quran sebagai kitab suci akan senantiasa dijaga keasliannya oleh Allah hingga hari Kiamat. Allah subhanahu wataala berfirman,

اِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَاِنَّا لَهٗ لَحٰفِظُوْنَ

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Quran, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)

Beribu orang diwisuda sebagai hafiz al-Quran setiap bulannya. Beribu orang mengikuti musabaqah hifzu al-Quran setiap tahunnya. Setiap hari, berjuta orang menghafal al-Quran mulai dari anak usia dini hingga lansia usia senja. Semuanya tak mau kalah.

Bahkan, sampai ada yang merumuskan metode dan menuliskannya menjadi sebuah buku yang berjudul Jadi Hafiz Sebelum Balig. Buku yang membahas metode menghafal al-Quran untuk anak usia sebelum balig. Buku ini dapat dipesan DI SINI.

Mereka semuanya adalah hamba pilihan Allah yang mendapatkan keberkahan al-Quran. Tentu kita juga ingin menjadi bagian dari hamba-hamba pilihan tersebut. Banyak kesempatan bagi kita ataupun anak-anak kita untuk menjadi bagian dari mereka. Kita dimudahkan. Terlebih pada zaman sekarang di mana sekolah tahfidz maupun gerakan-gerakan menghafal al-Quran telah menjamur di mana-mana.

Banyak ayat, hadits, maupun perkataan para ulama yang menyebutkan keutamaan menghafal al-Quran, baik bagi orang yang hafiz, bagi orang tuanya, keluarganya maupun bagi masyarakat sekitarnya.

Berikut ini beberapa hadits keutamaan menghafal al-Quran yang bersumber dari hadits Rasulullah. Semoga memotivasi kaum muslimin dan menjadi pengingat kembali bagi kita yang lupa agar semangat dalam menghafal al-Quran.

14 Hadits Keutamaan Menghafal Al-Quran

Pertama: Hafalan al-Quran akan mengukuhkan jiwa

Bagaimana bisa hafalan al-Quran dapat mengukuhkan jiwa?

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas secara marfu’ disebutkan,

إِنَّ الَّذِي لَيْسَ فِي جَوْفِهِ شَيْءٌ مِنْ الْقُرْآنِ كَالْبَيْتِ الْخَرِبِ

Orang yang jiwanya tidak terisi dengan al-Quran sedikit pun, seperti rumah yang hampir runtuh.” (HR. At-Tirmidzi no. 2913, ia berkata: hadits ini hasan shahih)

Nah, agar jiwa selalu diwarnai dengan al-Quran, maka hafalkanlah al-Quran. dengan hafalan tersebut, ke mana pun pergi, di mana pun berada, kapan pun al-Quran tetap bisa dilantunkan. Inilah keutamaan mengafal al-Quran yang pertama.

Kedua: Memperoleh kehormatan khusus dari Rasulullah

Dari Abi Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengutus satu utusan yang terdiri dari beberapa orang. Kemudian Rasulullah mengecek kemampuan membaca dan hafalan al-Quran mereka. Seseorang yang paling muda ditanya oleh Rasulullah,

Berapa banyak al-Quran yang telah engkau hafal, hai fulan?”

Ia menjawab,

Aku telah menghafal surat ini dan surat ini, serta surat al-Baqarah.”

Rasulullah kembali bertanya,

Apakah engkau hafal surat al-Baqarah?”

Ia menjawab,

Betul.”

Rasulullah bersabda,

Pergilah, dan engkau menjadi ketua rombongan itu!”

Salah seorang dari mereka yang terhormat berkata,

Demi Allah, aku tidak mempelajari dan menghafal surat al-Baqarah semata karena takut aku tidak dapat menjalankan isinya.” Mendengar komentar itu Rasulullah bersabda,

تَعَلَّمُوا الْقُرْآنَ وَاقْرَءُوهُ فَإِنَّ مَثَلَ الْقُرْآنِ لِمَنْ تَعَلَّمَهُ فَقَرَأَهُ وَقَامَ بِهِ كَمَثَلِ جِرَابٍ مَحْشُوٍّ مِسْكًا يَفُوحُ رِيحُهُ فِي كُلِّ مَكَانٍ وَمَثَلُ مَنْ تَعَلَّمَهُ فَيَرْقُدُ وَهُوَ فِي جَوْفِهِ كَمَثَلِ جِرَابٍ وُكِئَ عَلَى مِسْكٍ

Pelajarilah al-Quran dan bacalah, karena perumpamaan orang mempelajari al-Quran dan membacanya, adalah seperti tempat bekal perjalanan yang diisi dengan minyak misk, wanginya menyebar ke mana-mana. Sementara orang yang mempelajarinya kemudian dia tidur—dan dalam dirinya terdapat hafalan al-Quran—adalah seperti tempat bekal perjalanan yang disambung dengan minyak misk.” (HR. At-Tirmidzi no. 2876, ia berkata: hadits ini hasan)

Ketiga: Penghafal al-Quran mendapat ridha Allah

Penghafal al-Quran akan dimuliakan dengan mahkota kehormatan, ridha Allah, dan derajat di Surga setinggi dengan ayat yang ia baca.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

يَجِيءُ الْقُرْآنُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُولُ: يَا رَبِّ حَلِّهِ، فَيُلْبَسُ تَاجَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ زِدْهُ، فَيُلْبَسُ حُلَّةَ الْكَرَامَةِ ثُمَّ يَقُولُ: يَا رَبِّ ارْضَ عَنْهُ، فَيَرْضَى عَنْهُ فَيُقَالُ لَهُ: اقْرَأْ وَارْقَ وَتُزَادُ بِكُلِّ آيَةٍ حَسَنَةً

Penghafal al-Quran akan datang pada hari Kiamat, kemudian al-Quran berkata,‘Wahai Rabbku, bebaskanlah dia.’ Kemudian orang itu dipakaikan mahkota kehormatan. Al-Quran kembali meminta,‘Wahai Rabbku, tambahkanlah.’ Maka orang itu dipakaikan jubah kehormatan. Kemudian al-Quran memohon lagi,‘Wahai Rabbku, ridhailah dia.’ Maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu,‘Bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat Surga),’ dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan.” (HR. At-Tirmidzi no. 2915, ia berkata: hadits ini hasan shahih)

Keempat: Dapat membahagiakan kedua orang tua

Keutamaan menghafal al-Quran yang berikutnya adalah orang yang hafal al-Quran dapat membahagiakan kedua orang tuanya di akhirat kelak.

Orang tua yang memiliki anak penghafal al-Quran akan memperoleh pahala dan keutamaan khusus.

Dari Buraidah al-Aslami radhiyallahu anhu, ia berkata, ia mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

وَإِنَّ الْقُرْآنَ يَلْقَى صَاحِبَهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَ يَنْشَقُّ عَنْهُ قَبْرُهُ كَالرَّجُلِ الشَّاحِبِ فَيَقُولُ لَهُ: هَلْ تَعْرِفُنِي؟ فَيَقُولُ: مَا أَعْرِفُكَ. فَيَقُولُ لَهُ: هَلْ تَعْرِفُنِي؟ فَيَقُولُ: مَا أَعْرِفُكَ؟ فَيَقُولُ: أَنَا صَاحِبُكَ الْقُرْآنُ الَّذِي أَظْمَأْتُكَ فِي الْهَوَاجِرِ وَأَسْهَرْتُ لَيْلَكَ وَإِنَّ كُلَّ تَاجِرٍ مِنْ وَرَاءِ تِجَارَتِهِ وَإِنَّكَ الْيَوْمَ مِنْ وَرَاءِ كُلِّ تِجَارَةٍ. فَيُعْطَى الْمُلْكَ بِيَمِينِهِ وَالْخُلْدَ بِشِمَالِهِ وَيُوضَعُ عَلَى رَأْسِهِ تَاجُ الْوَقَارِ وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ لَا يُقَوَّمُ لَهُمَا أَهْلُ الدُّنْيَا، فَيَقُولَانِ: بِمَ كُسِينَا هَذِهِ؟ فَيُقَالُ: بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ. ثُمَّ يُقَالُ لَهُ: اقْرَأْ وَاصْعَدْ فِي دَرَجَةِ الْجَنَّةِ وَغُرَفِهَا

Pada hari Kiamat nanti, al-Quran akan menemui penghafalnya ketika penghafal itu keluar dari kuburnya. Al-Quran akan berwujud seseorang dan ia bertanya kepada penghafalnya,‘Apakah Anda mengenalku?’

Penghafal tadi menjawab,‘Saya tidak mengenalmu.’

Al-Quran berkata,‘Saya adalah kawanmu, al-Quran yang membuatmu kehausan di tengah hari yang panas dan membuatmu tidak bisa tidur di malam hari. Setiap pedagang akan memperoleh keuntungan dari dagangannya dan kamu pada hari ini memperoleh keuntungan dari semua dagangan.’

Penghafal al-Quran tadi diberi kekuasaan di tangan kanannya dan kekekalan di tangan kirinya, serta di atas kepalanya dipasang mahkota. Sedang kedua orang tuanya diberi dua pakaian yang harganya tidak dapat dibayar oleh penghuni dunia seluruhnya.

Kedua orang tua itu bertanya,‘Kenapa kami diberi pakaian seperti ini?’

Kemudian dijawab,‘Karena anakmu hafal al-Quran.’

Kepada penghafal al-Quran tadi diperintahkan,‘Bacalah dan naiklah ke tingkat-tingkat Surga dan kamar-kamarnya’.” (HR. Ahmad no. 22441) Nuruddin al-Haitsami berkata: Rijal dalam hadits tersebut adalah rijal sahih. (Majma’ az-Zawa’id, al-Haitsami, 7/159)

Dari Buraidah al-Aslami, ia berkata, Rasulullah bersabda,

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ وَتَعَلَّمَهُ وَعَمِلَ بِهِ أُلْبِسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ تَاجًا مِنْ نُورٍ ضَوْءُهُ مِثْلُ ضَوْءِ الشَّمْسِ، وَيُكْسَى وَالِدَاهُ حُلَّتَيْنِ لَا تُقَوَّمُ بِهِمَا الدُّنْيَا فَيَقُولَانِ: بِمَا كُسِيْنَا هَذَا؟ فَيُقَالُ: بِأَخْذِ وَلَدِكُمَا الْقُرْآنَ

Siapa yang membaca al-Quran, mempelajarinya, dan mengamalkannya, maka dipakaikan mahkota dari cahaya pada hari Kiamat, cahayanya seperti cahaya matahari, kedua orang tuanya dipakaikan dua jubah (kemuliaan), yang tidak pernah didapatkan di dunia, keduanya bertanya,‘Mengapa kami dipakaikan jubah ini?’ Dijawab,‘Karena kalian berdua memerintahkan anak kalian untuk mempelajari al-Quran’.” (HR. Al-Hakim no. 2132, ia berkata: hadits ini sahih berdasarkan syarat Imam Muslim)

Kelima: Bersama para Malaikat yang mulia

Orang yang baik akan berkumpul dengan yang baik pula. Demikian pula, keutamaan menghafal al-Quran adalah akan mendapatkan teman yang baik. Dia akan dibersamai oleh makhluk-makhluk Allah subhanahu wata’ala yang baik pula.

Dari Aisyah radhiyallahu anha, dari Nabi shallallahu alaihi wasallam,beliau bersabda,

مَثَلُ الَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَهُوَ حَافِظٌ لَهُ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ

Orang yang membaca al-Quran sementara ia telah menghafalnya, maka ia bersama para Malaikat yang baik dan mulia.” (HR. Al-Bukhari no. 4653)

Keenam: Penghafal al-Quran adalah keluarga Allah

Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنْ النَّاسِ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ هُمْ؟ قَالَ: هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ؛ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

Sungguh Allah memiliki keluarga yang terdiri dari manusia.”

Ya Rasulullah, siapakah mereka?” Tanya seorang sahabat.

Rasul menjawab,

Mereka ialah Ahlul Quran (orang yang membaca, menghafalkan, dan mengamalkan al-Quran). Mereka adalah keluarga Allah dan orang-orang istimewa bagi Allah.” (HR. Ibnu Majah no. 215)

Abu al-Hasan al-Hanafi atau yang dikenal dengan as-Sindi berkata, dalam kitab az-Zawaid disebutkan bahwa sanad hadits ini sahih. (Hasyiyah as-Sindi ala Ibni Majah, as-Sindi, 1/93)

Ketujuh: Menjadi orang yang arif di Surga

Husain bin Ali radhiyallahu anhuma berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

حَمَلَةُ الْقُرْآنِ عُرَفَاءُ أَهْلِ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Para pembaca al-Quran adalah orang-orang arif di antara penduduk Surga.” (HR. Ath-Thabrani dalam Mujam al-Kabir no. 2899)

Al-Haitsami berkata: Dalam hadits tersebut terdapat Ishaq bin Ibramim bin Said al-Madini, ia dhaif. (Majma’ az-Zawaid, al-Haitsami, 7/161)

Kedelapan: Memperoleh penghormatan dari manusia.

Abu Musa al-Asy’ari radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إِنَّ مِنْ إِجْلَالِ اللَّهِ: إِكْرَامَ ذِي الشَّيْبَةِ الْمُسْلِمِ، وَحَامِلِ الْقُرْآنِ غَيْرِ الْغَالِي فِيهِ وَالْجَافِي عَنْهُ، وَإِكْرَامَ ذِي السُّلْطَانِ الْمُقْسِطِ

Termasuk perbuatan mengagungkan Allah adalah menghormati muslim yang sudah tua, hafiz al-Quran yang tidak berlebih-lebihan dalam mengamalkan isinya dan tidak membiarkan al-Quran tidak diamalkan, serta penguasa yang adil.” (HR. Abu Dawud no. 4843. Dinilai sahih oleh Syekh al-Albani)

Maksud “ḥāmil al-Quran” dalam hadits tersebut adalah seorang hafiz al-Quran. Al-Azizi berpendapat, Nabi menamainya dengan nama “ḥāmil al-Quran” sebab para hafiz al-Quran memikul kepayahan yang banyak dan berat. Al-Qari menjelaskan, maksud “ḥāmil al-Quran” adalah para pembaca, penghafal, dan ahli tafsir al-Quran. (‘Aunul Ma’bud Syarah Sunan Abi Dawud, al-‘Azim Abadi, 13/158)

Kesembilan: Terbebas dari siksa Allah

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

اِقْرَؤُوْا القُرْآنَ فَإِنَّ اللهَ تَعَالَى ‌لَا ‌يُعَذِّبَ ‌قَلْبًا ‌وَعَى ‌القُرْآنَ وَإِنَّ هَذَا القُرْآنَ مَأْدُبَةُ اللهِ فَمَنْ دَخَلَ فِيْهِ فَهُوَ آمِنٌ وَمَنْ أَحَبَّ الْقُرْآنَ فَلْيُبْشِرْ

Bacalah al-Quran, karena Allah taala tidak menyiksa orang yang hatinya menghayati al-Quran. Al-Quran adalah perjamuan Allah, siapa yang menghadirinya ia akan aman. Dan barang siapa yang mencintai al-Quran, hendaknya ia bergembira.” (At-Tibyan, Imam an-Nawawi, 20)

Dr. Sayyid Nuh menjelaskan, maksud dari “Menghayati al-Quran” adalah menghafalkan dan mengamalkannya. (Islamsyria.com)

Hadits di atas tidak berasal dari satu atsar, ia berasal dari tiga atsar yang berbeda. Kalimat pertama adalah hadits mauquf dari Abu Umamah, Ibnu Hajar rahimahullah menilai sahih sanad hadist tersebut (Fathul Bari, Ibnu Hajar, 8/698).

Kalimat kedua (HR. Ad-Darimi no. 3365) dan ketiga (HR. Ad-Darimi no. 3367) adalah hadits mauquf dari Ibnu Mas’ud. Muhaqqiq kitab Musnad ad-Darimi, cet. Darul Mughni, menilai sahih sanad kedua hadits tersebut (Musnad ad-Darimi, ad-Darimi, 4/2093).

Dari Uqbah bin Amir radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

لَوْ أَنَّ الْقُرْآنَ جُعِلَ فِي إِهَابٍ ثُمَّ أُلْقِيَ فِي النَّارِ مَا احْتَرَقَ

Andai al-Quran dihimpun dalam satu kulit kemudian dilemparkan ke neraka, niscaya ia tidak akan terbakar.” (HR. Ahmad no. 16914. Dinilai hasan oleh al-Albani dalam silsilah ash-shahihah no. 3562)

Kesepuluh: Penghafal al-Quran lebih berhak menjadi Imam dalam shalat

Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ

Orang yang mengimami shalat suatu kaum hendaknya yang paling pandai membaca (hafal) al-Quran.” (HR. Muslim no. 673)

Kesebelas: Disayangi oleh Rasulullah

Jabir bin Abdullah radhiyallahu anhu berkata,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَجْمَعُ بَيْنَ الرَّجُلَيْنِ مِنْ قَتْلَى أُحُدٍ فِي ثَوْبٍ وَاحِدٍ. ثُمَّ يَقُولُ: أَيُّهُمْ أَكْثَرُ أَخْذًا لِلْقُرْآنِ؟ فَإِذَا أُشِيرَ لَهُ إِلَى أَحَدِهِمَا قَدَّمَهُ فِي اللَّحْدِ

Rasulullah pernah menyatukan dua orang dari orang-orang yang gugur dalam Perang Uhud dalam satu pakaian (kafan), kemudian Nabi bertanya, ‘Dari mereka berdua siapakah yang paling banyak hafal al-Quran?’ Apabila ada orang yang bisa menunjukkan kepada salah satunya, Nabi memasukkan mayat itu terlebih dahulu ke liang lahad.” (HR. Al-Bukhari no. 1278)

Kedua belas: Dapat memberi syafaat kepada keluarga

Keutamaan menghafal al-Quran yang kedua belas adalah dapat memberi syafaat kepada keluarga.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

مَنْ قَرَأَ الْقُرْآنَ فَاسْتَظْهَرَهُ، ‌وَحَفِظَهُ ‌أَدْخَلَهُ ‌اللَّهُ ‌الْجَنَّةَ، وَشَفَّعَهُ فِيْ عَشْرَةٍ مِنْ أَهْلِ بَيْتِهِ كُلُّهُمْ قَدْ وَجَبَتْ لَهُمْ النَّارَ

Barang siapa membaca al-Quran lalu mempelajarinya dan menghafalkannya, Allah akan memasukkannya ke dalam Surga dan memberikannya hak syafaat untuk sepuluh anggota keluarganya di mana mereka semuanya telah ditetapkan untuk masuk neraka.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman no. 2436)

Dr. Abdul ‘Aly Abdul Hamid Hamid, muhaqqiq kitab Syu’abul Iman, menilai sanad hadits tersebut dhaif.

Ketiga belas: Merupakan bekal-bekal yang terbaik

Uqbah bin Amir al-Juhani radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إِنَّكُمْ لَنْ تَرْجِعُوا إِلَى اللَّهِ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ شَيْءٍ خَرَجَ مِنْهُ يَعْنِي الْقُرْآنَ

Sungguh kamu tidak akan kembali menghadap Allah dengan membawa sesuatu yang paling Ia cintai dari sesuatu yang berasal dari-Nya yaitu al-Quran.”(HR. Al-Hakim no. 3703, ia berkata: sanad hadits ini sahih)

Keempat belas: Akan menempati tingkatan Surga paling tinggi

Aisyah radhiyallahu anha berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

عَدَدُ دَرَجِ الْجَنَّةِ عَدَدُ آيِ الْقُرْآنِ فَمَنْ دَخَلَ الْجَنَّةَ مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنِ فَلَيْسَ فَوْقَهُ دَرَجَةٌ

Tingkatan-tingkatan surga sejumlah bilangan ayat-ayat al-Quran. Maka penghuni surga dari kalangan ahli Quran adalah penghuni tingkatan teratas, di mana tidak ada lagi tingkatan surga setelahnya.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syuabi Iman no.1998. Al-Hakim berkata: sanad hadits ini sahih, tetapi ia syadz)

Dalam hadits lain, Aisyah radhiyallahu anha meriwayatkan,

إِنَّ عَدَدَ دَرَجِ الْجَنَّةِ عَدَدُ آيِ الْقُرْآنِ ‌فَمَنْ ‌دَخَلَ ‌الْجَنّةَ ‌مِمَّنْ ‌قَرَأَ القُرْآن لمْ يَكُنْ فَوْقَهُ أحَدٌ

Tingkatan-tingkatan surga sejumlah bilangan ayat-ayat al-Quran. Maka penghuni surga dari kalangan pembaca al-Quran adalah penghuni tingkatan surga tertinggi, tidak ada penghuni surga di atasnya.” (Al-Jami’ ash-Shaghir, as-Suyuthi, 4690—Maktabah asy-Syamilah)

Syaikh al-‘Azizi menilai hadist di atas derajatnya sahih. (As-Siraj al-Munir Syarah al-Jami ash-Shaghir, al-‘Azizi, 2/98)

Demikian 14 keutamaan menghafal al-Qurann yang bersumber dari hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Tentu masih ada banyak lagi keutamaan al-Quran yang lainnya. Dengan merenungi keutamaan-keutamaan tersebut, semoga dapat menjadi mood booster bagi kita semua dalam menghafal al-Quran. Amin. Wallahu a’lam. (Ahmad Robith/dakwah.id)

Baca juga artikel Doa dan Zikir atau artikel menarik lainnya karya Ahmad Robith.

Penulis: Ahmad Robith
Editor: Sodiq Fajar

Artikel lainnya:

Topik Terkait

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.

%d blogger menyukai ini: