01 materi kultum ramadhan 3 ciri orang bertakwa dakwah.id

Materi Kultum Ramadhan 01: 3 Ciri Orang Bertakwa

Terakhir diperbarui pada · 2,380 views

Materi Kultum Ramadhan 01
3 Ciri Orang Bertakwa

Tulisan yang berjudul Tiga Ciri Orang Bertakwa ini adalah seri ke-01 dari serial Materi Kultum Ramadhan 1445 H yang ditulis oleh Ustadz Nofriyanto Abu Kayyisa Al-Minangkabawy.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ حَمْدًا نَاعِمِيْنَ حَمْدًا شَاكِرِيْنَ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُوْلِهِ الْأَمِيْنِ سَيِّدِ الْخَلْقِ أَجْمَعِيْنَ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَكُلِّ مَنِ اهْتَدَى بِهَدْيِهِ وَاسْتَنَّ بِسُنَّتِهِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.

Hadirin jamaah shalat Tarawih yang dirahmati Allah subhanahu wataala!

Pada kesempatan kali ini marilah kita kaji bersama dua ayat dalam QS. Ali Imran ayat 133—134 yang berisikan tentang tiga ciri yang dimiliki oleh orang-orang yang bertakwa.

Ayat tersebut berbunyi:

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙ

Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Rabbmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,”

الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكَاظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

“(yaitu) orang yang berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.”

Dalam kitab tafsir Imam Al-Baghawi yang berjudul Maalimut Tanzil beliau menjelaskan ayat ini dimulai dengan kata wa saariuu yang merupakan fi’il amri (kata perintah) yang artinya bersegeralah kalian. Bersegera dalam hal ini yaitu kepada kebaikan. Sebab, sebagaimana sama-sama kita ketahui bahwa sebaik-baik kebaikan adalah yang disegerakan.

Adapun dalam ayat ini kita diminta untuk bersegera kepada maghfirah Allah subhanahu wataala.

Lalu apa makna maghfirah dalam ayat ini? Para ulama menjelaskan bahwa kata “maghfirah” dalam ayat ini ada yang bermakna taubat, jihad, melaksanakan kewajiban dinul Islam, shalat, jihad, dan masuk agama Islam. Semua hal ini mendatangkan ampunan Allah subhanahu wataala.

Ayat ini dilanjutkan dengan kata “jannatin” yang berarti surga. Sebutan untuk tempat dambaan setiap insan yang beriman. Tempat berlimpah kenikmatan yang hampir tidak pernah terlihat oleh mata dan tidak pernah terdengar oleh telinga dan juga tidak pernah terbetik dalam hati.

Namun, yang tak kalah menarik adalah penggunaan kata “ardh” setelahnya. Orang Arab menyebut kata lebar itu dengan sebutan ardhun.

Nah, kenapa disebut ‘lebar’? Padahal kalau kita lihat sehari-hari kalau kita mengukur jalan misalkan yang biasa terbayang adalah panjangnya bukan lebarnya, padahal sejatinya lebar jalan pasti lebih kecil volumenya dibandingkan panjangnya.

Maksud penggunaan kata ‘ardh pada al-Quran surat Ali Imran ayat 133 tersebut agar terbesit dalam benak para hamba-Nya betapa luasnya surga yang lebarnya saja seperti langit dan bumi.

Surga selebar itu Allah peruntukkan bagi para hamba-Nya yang bertakwa. Siapakah mereka orang-orang yang bertakwa itu?

Tiga Ciri Orang Bertakwa

Pertama: Senantiasa Berinfak di Jalan Allah

Jawabannya ada di ayat setelahnya, al-Quran surat Ali Imran ayat 133. Yaitu mereka yang memiliki tiga sifat utama.

Pertama, senantiasa berinfak di jalan Allah subhanahu wataala dalam keadaan lapang atau pun sempit. Apalagi berinfak di bulan Ramadhan ini.

Bulan Ramadan sudah jelas lebih besar dan berlipat ganda pahala dan ganjarannya. Sebab, di antara tiga amalan utama di bulan Ramadan salah satunya adalah berinfak atau bersedekah.

Jadi, ciri pertama orang bertakwa yang akan mendapatkan maghfirah dan akan mendapatkan surga yang luasnya seperti langit dan bumi yaitu orang-orang yang gemar membelanjakan hartanya di jalan Allah subhanahu wataala. Baik dalam kondisi susah maupun mudah.

Kedua: Bisa Menahan Emosi atau Marah

Ciri yang kedua adalah orang-orang yang bisa menahan emosi atau amarahnya. Saking bahayanya tidak bisa mengendalikan rasa amarah, orang Arab menyebutnya dengan al-ghadhabu ra`su kulli khatiiatin, yang artinya: marah adalah sumber segala keburukan. Namun, bagi siapa saja yang mampu menahan amarahnya maka dijamin baginya banyak kebaikan.

Salah satunya sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Nabi shallallahu  ‘alaihi wasallam,

مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنْ الْحُورِ الْعِينِ مَا شَاءَ

Barang siapa yang mampu menahan atau mengendalikan rasa marahnya, padahal ia mampu melampiaskannya, namun ia tahan dan ia kendalikan, maka Allah  ‘azza wajalla akan panggil ia dengan panggilan kehormatan nanti di akhirat di depan khalayak umum dan diberi kebebasan untuk memilih siapa saja yang ingin ia jadikan pasangan dari para bidadari surga.” (HR. At-Tirmidzi no. 2021, 2491; Abu Dawud no. 4777; Ibnu Majah no. 4186; Ahmad no. 15210)

Materi Khutbah Jumat: 3 Cara Meningkatkan Takwa

Salah satu cara yang diajarkan oleh baginda Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wasallam untuk mengendalikan rasa marah, yaitu apabila seseorang marah sedang dia dalam kondisi berdiri, hendaklah ia duduk; jika tetap marah, hendaklah ia berbaring; jika tetap marah, hendaklah ia berjudul; dan jika tetap marah juga, hendaklah ia shalat.

Kenapa harus dengan wudhu? Sebab, marah itu bagian dari setan dan setan itu tercipta dari api, dan api hanya bisa dipadamkan dengan air sebagaimana petunjuk Rasulullah shallallahu  ‘alaihi wasallam. Dan hampir semua kejahatan yang terjadi yang sampai bisa melukai orang lain atau menzalimi bahkan menghilangkan nyawa orang lain itu pangkal masalahnya adalah tidak bisa menahan rasa marah.

Ketiga: Mudah Memaafkan

Sifat ketiga orang bertakwa yang akan mendapatkan maghfirah dan masuk ke surga Allah subhanahu wataala adalah orang yang mau memaafkan orang lain.

Marilah kita mencontoh orang-orang saleh terdahulu yang mudah memaafkan kesalahan sesama.

Nabi Yusuf ‘alaihissalam semasa kecil dimusuhi oleh saudara-saudaranya. Hingga mereka berhasil memisahkan Yusuf kecil dari Ya’qub ‘alaihissalam, ayahanda tercinta, selama hampir empat puluh tahun lamanya. Dibuang di sumur, dijadikan budak, dijual dengan harga yang murah, beliau rasakan.

Namun, apa yang terjadi? Setelah Allah mengangkat Nabi Yusuf menjadi Nabi, setelah Allah membebaskannya dari perbudakan, menjadikannya bendaharawan Al-Aziz, Raja Mesir. Setelah Mesir berada di bawah kekuasaannya, dan saudara-saudaranya yang dahulu berniat membunuhnya datang memohon belas kasihan.

Di saat Nabi Yusuf berkuasa atas mereka, apa yang beliau katakan?

قَالَ لَا تَثْرِيْبَ عَلَيْكُمُ الْيَوْمَۗ يَغْفِرُ اللّٰهُ لَكُمْ ۖوَهُوَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ

Dia (Yusuf) berkata, “Pada hari ini tidak ada cercaan terhadap kalian, mudah-mudahan Allah mengampuni kalian. Dan Dia Maha Penyayang di antara para penyayang.” (QS. Yusuf: 92)

Sebelum saudara-saudaranya meminta maaf, beliau sudah memaafkan. Bahkan memohonkan agar Allah mengampuni mereka. Inilah contoh sifat mudah memaafkan yang sesungguhnya.

Demikianlah tiga ciri orang bertakwa sebagaimana yang tercantum dalam Surat Ali Imran ayat 133 dan 134.

Semoga ada banyak manfaatnya dan bisa diambil pelajaran oleh kita semua dalam menjalani kehidupan terutama di bulan Ramadan yang penuh berkah ini. (Nofriyanto/dakwah.id)

Baca juga artikel Materi Kultum Ramadhan atau artikel menarik lainnya karya Nofriyanto Abu Kayyisa Al-Minangkabawy.

Materi Kultum Ramadhan Terbaru:

Topik Terkait

Nofriyanto, M.Ag

Dosen Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UNIDA GONTOR, Direktorat Islamisasi UNIDA GONTOR, Alumni Program Kaderisasi Ulama Gontor angkatan VII, Konsentrasi bidang pemikiran Islam

1 Tanggapan

Ustad Mohon ijin untuk digunakan materi kultum bada subuh di masjid wiswa mukti surabaya. Jazakallahu khoiron katsiro

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *