materi kultum ramadhan i'tikaf momen rehab hati di bulan suci dakwah.id

Materi Kultum 20: I’tikaf Momen Rehab Hati di Bulan Suci

Tulisan yang berjudul I’tikaf Momen Rehab Hati di Bulan Suci adalah seri ke-20 dari serial Materi Kultum Ramadhan yang ditulis oleh ustadz Muhammad Faishal Fadhli.

Surah-surah yang terkandung dalam Juz ‘Amma, pada umumnya, berbicara tentang akidah. Dan pembahasan akidah yang sangat ditekankan dalam juz terakhir ini adalah gambaran tentang hari Kiamat yang begitu mengerikan.

Tujuannya agar ketika dibaca, dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan.

Mulai dari surah an-Naba’, an-Nazi’at, ‘Abasa, at-Takwir, al-Infithar, al-Insyiqaq, al-Ghasiyah, az-Zalzalah hingga al-Qari’ah. Semuanya membahas tentang kehancuran seisi langit dan bumi, serta akhir dari kehidupan duniawi.

Di sela-sela pembahasan akidah, terdapat pula pembahasan tentang akhlak dan falsafah hidup. Salah satunya adalah surah al-Balad.

Surah ini, menurut Sayyid Quthb dalam Tafsir fi Dzhilalil-Quran, mengandung sejumlah hakikat pokok kehidupan manusia. Di dalamnya juga terdapat isyarat-isyarat yang sarat dengan motivasi dan sentuhan-sentuhan yang mengesankan.

Berbagai persoalan yang rumit, diringkas dalam surah ini dengan gaya bahasa yang unik dan menggetarkan kalbu. Utamanya yang tercantum dalam ayat keempat. Allah Ta’ala berfirman,

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْ كَبَدٍۗ

Laqad khalaqnal-insāna fī kabad

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.(QS. Al-Balad: 4)

Para mufassir menjelaskan, isyarat dari ayat ini, menunjukkan bahwa; hakikat hidup manusia, selalunya dipenuhi dengan berbagai kesulitan. Dimulai dari kesulitan saat masih dalam kandungan sang ibu: janin hampir tidak melihat cahaya, sehingga ia mendorong sampai terbuka jalan keluarnya dari rahim.

Saat terlahir, fase kehidupan yang lebih sulit dan lebih berat dimulai. Bayi yang mungil, belajar bernapas dan menghirup udara yang belum pernah ia kenal sebelumnya. Ia membuka mulut dan rahang untuk pertama kali. Lalu berteriak, dan menarik napas panjang dengan permulaan yang berat.

Kemudian proses-proses berikutnya, juga dilalui dengan penuh perjuangan. Saat disapih, tumbuh gigi, belajar berjalan, tulang punggung mulai tegak, semua hal itu, terjadi dengan penuh kesengsaraan. Dalam menuntut ilmu, seorang manusia juga merasakan banyak kesulitan.

Begitulah. Selalu ada rasa susah payah setiap kali melakukan percobaan baru.

Uniknya, al-Quran memulai pembahasan ini dengan sumpah: demi kota Makkah dan nabi yang lahir di sana, serta demi Nabi Ibrahim dan putranya, Nabi Ismail.

Mengapa Allah mengawali pembahasan ini dengan banyak sumpah yang begitu istimewa?

Ibnu ‘Asyur, dalam tafsirnya at-Tahrir wa at-Tanwir, menyebutkan bahwa “Kabad” yang dimaksud dalam surah ini bukan semata kesengsaraan yang bersifat jasadi. “Kabad” dalam ayat ini bersifat umum. Maknanya bisa diperluas. Hati dan pikiran seseorang juga bisa terjebak dalam kesengsaraan yang tidak kalah peliknya dengan kesengsaraan fisik.

Dan kesengsaraan batin yang kita alami, sesungguhnya merupakan hasil dari berinteraksi dengan orang-orang di sekitar kita. Mereka yang kita anggap kawan, teman seperjuangan, terkadang, justru menjadi duri dalam daging; menggunting dalam lipatan.

Belum lagi mulut-mulut berisik yang suka ikut campur urusan hidup kita, menggunjing, menghina, bahkan memfitnah. Itu semua bisa membekas di dalam hati dan mengusik pikiran.

Sengsara batin bisa terjadi karena terlalu banyak berpikir. Akibat over thinking, seseorang bisa dilanda stres, insomnia (gangguan sulit tidur) atau bahkan anxiety; gelisah yang berlebihan.

Jika sudah demikian, terkadang seseorang menghambur-hamburkan harta demi menghibur diri. Dia menuruti hawa nafsu dalam rangka “healing” atau menenangkan pikiran.

Namun sebenarnya, dia sedang menipu dirinya sendiri. Karena melakukan tabdzir (pemborosan) tidak bisa menyembunyikan kesengsaraan yang melanda hatinya. Lalu, adakah metode healing yang islami dalam menghadapi “Kabad” atau kesengsaraan hidup?

Dalam al-Quran dengan jelas dikatakan, bahwa ketenangan hati hanya didapat dengan berzikir.

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

Allażīna āmanụ wa taṭma`innu qulụbuhum biżikrillāh, alā biżikrillāhi taṭma`innul-qulụb

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28)

Di bulan suci Ramadhan, kesempatan untuk merehab hati dengan zikir, sangat terbuka lebar. Khususnya di sepuluh hari terakhir, yaitu dengan ibadah i’tikaf.

I’tikaf adalah berdiam di dalam masjid dengan niat taqarrub (mendekat) kepada Allah.

Arti i’tikaf adalah sejenak menjauh dari manusia, berkontemplasi dan introspeksi diri dengan memperbanyak zikir dan tilawah. Dalam i’tikaf, hanya amal ketaatan yang dikerjakan. Dan hanya Allah tempat mengadu.

Dalam surah al-Baqarah: 187, Allah mensyariatkan ibadah i’tikaf kepada Nabi Muhammad. Dan umat-umat terdahulu juga sudah terbiasa melakukan i’tikaf, termasuk Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail (QS. Al-Baqarah: 125).

Ibunda Maryam, juga berdiam diri di mihrab dalam rangka i’tikaf, sebagaimana Allah kisahkan dalam surah Ali Imran: 37.

Maka sudah selayaknya umat Islam memanfaatkan bulan Ramadhan untuk i’tikaf, meski hanya sekali dalam setahun. Namun sayangnya, hanya sedikit yang benar-benar bersemangat menunaikan ibadah ini.

Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili, dalam karyanya yang berjudul al-Fiqhu al-Islamiy wa Adillatuhu, mengutip perkataan Imam az-Zuhri, “Sungguh mengherankan keadaan kaum muslimin. Mereka meninggalkan i’tikaf. Padahal, Rasulullah tidak pernah meninggalkannya sejak tiba di Madinah, sampai Allah mewafatkannya.”

Syaikh Wahbah juga menyebutkan beberapa hikmah di balik syariat i’tikaf. Di antaranya yang paling utama adalah “Shafa’ul qalbi” (beningnya hati).

Ketika seseorang melazimi zikir, melepaskan diri dari segala hiruk-pikuk kehidupan duniawi, selalu setia menunggu waktu shalat, sehingga dengan begitu ia meraih cinta dari Allah, maka, bisa dipastikan hati orang yang demikian itu, akan bersih mengkilap.

Hadits Puasa #20: I’tikaf di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Terlebih lagi jika waktu i’tikaf dilakukan bersamaan dengan ibadah shiyam. Jiwanya akan semakin bening dan bercahaya. Faedah i’tikaf sebagai sarana rehab hati di bulan suci, terangkum dalam perkataan Ibrahim al-Khawwash berikut ini:

دَوَاءُ الْقَلْبِ خَمْسَةُ أَشْيَاءَ: قِرَاءَةُ الْقُرْآنِ بِتَدَبُّرٍ، وَخُلُوُّ الْبَطْنِ، وَقِيَامُ اللَّيْلِ، وَالتَّضَرُّعُ عِنْدَ السَّحَرِ، وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِيْنَ

Penawar hati yang sakit itu ada lima perkara: membaca al-Quran dengan tadabbur, perut yang kosong, qiyamul lail, berkeluh kesah pada Allah pada waktu sahur, dan bermajlis dengan orang-orang saleh.” (Ar-Risalah al-Qusyairiyah, al-Qusyairi, 1/104)

Kelima hal tersebut akan didapat dengan menjalan i’tikaf di bulan Ramadhan. Wallāhul muwaffiq ilā aqwamith tharīq. (Muhammad Faishal Fadhli/dakwah.id)

Baca juga artikel Materi Kultum Ramadhan atau artikel menarik lainnya karya Muhammad Faishal Fadhli.

Penulis: Muhammad Faishal Fadhli
Editor: Ahmad Robith

Artikel Materi Kultum Ramadhan sebelumnya:

Topik Terkait

Muhammad Faishal Fadhli

Pengkaji Literatur Islami. Almnus Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor angkatan 14.

3 Tanggapan

Barakaallah fikum🙏

Wa fikum barakallah. Doakan dan support tim dakwah.id selalu, agar Allah mudahkan dalam menyajikan materi-materi yang bergizi dan bermanfaat.

Barokallahu fikum

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.

%d blogger menyukai ini: