Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Kenali Hawa Nafsu yang Ada Pada Dirimu Agar Selamat dari Segala Kejelekan

231

Barang siapa tidak mengenali hawa nafsu pada dirinya, bagaimana mungkin ia mengenal Penciptanya?  — Ibnu Qayyim

Abu Muslim al-Khaulani berkata, “Bagaimana pendapat kalian tentang sesuatu yang jika aku muliakan, memberinya berbagai kenikmatan dan membiarkannya, maka kelak ia akan mencelaku di sisi Allah. Dan jika aku menghinakannya, membuatnya marah, penat dan mempekerjakannya, maka kelak ia akan memujiku di sisi Allah?”

Mereka bertanya, “Siapakah dia, wahai Abu Muslim?”

Ia menjawab, “Dialah hawa nafsuku.” (Hilyatul Auliya’, 2/124)

Di antara sarana tarbiyah untuk membina dan mendidik hawa nafsu, serta membawanya berjalan menuju Allah ‘azza wajalla adalah tarbiyah dengan mengenal hakikat hawa nafsu. Sebab, hawa nafsu adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Qayyim, “Barang siapa tidak mengenali hawa nafsu pada dirinya, bagaimana mungkin ia mengenal Penciptanya?” (Al-Fawaid, 191)

Dari sini generasi tabiin memahami bahaya kebodohan terhadap hakikat hawa nafsu dan pentingnya mengenal hakikatnya. Sebab, mengenal hawa nafsu adalah langkah penting yang harus ditempuh sebagai sarana untuk memperbaikinya. Sebagaimana dikatakan oleh wahib bin al-Wird, “Di antara penyebab lurusnya nafsuku adalah karena aku mengetahui kerusakannya. Cukuplah bagi seorang mukmin untuk dikatakan jelek manakala mengetahui kerusakan, tapi tidak mau memperbaikinya.” (Al-Awa’iq, Muhammad Ahmad Rasyid, 72)

Baca Juga: Hujan, Rahmat Allah yang tak Tergantikan

Hawa nafsu itu mempunyai kecenderungan, ketamakan, dan tuntutan. Sesuai sunnatullah dalam penciptaan, hawa nafsu itu tidak akan lurus dan terkendali kecuali apabila berjalan di atas jalan yang telah ditetapkan oleh Zat Yang Mengetahui rahasia hawa nafsu ini.

Tujuan seseorang mengenali hawa nafsunya ialah agar sadar akan kelemahan dan kebodohan dirinya, dan merasa butuh terhadap apa yang bisa meluruskan dan memperbaikinya sehingga yakin bahwa ia sangat butuh kepada Rabbnya.

Selain itu, dengan mengenal hawa nafsu dan hakikatnya yang cenderung kepada kemaksiatan, suka popularitas, melampaui batas, dan berlebihan, maka orang akan mengetahui kalau nafsunya dibiarkan ia tidak akan mau mengerjakan ketaatan apapun dan tidak akan meninggalkan kemaksiatan.

“Kalau seseorang mengetahui apa yang disukai hawa nafsu, dan tampak apa yang tersembunyi darinya, kemudian tidak menuruti apa yang dicintai hawa nafsu kalau menyimpang, dan tidak memalingkan dari padanya apa yang dibenci kalau benar, maka sesungguhnya ia telah berhasil menguasainya setelah sebelumnya dikuasai, dan mengalahkannya setelah sebelumnya dikalahkan.” (Adab ad-Dunya wa ad-Diin, al-Mawardi, 283)

 

Ambisi Hawa Nafsu

Tujuan lain dari mengenal hakikat hawa nafsu adalah mengetahui apa yang dikejar hawa nafsu agar terpenuhi keinginan dan syahwatnya, dan mengetahui kebodohan hawa nafsunya, dan bahwa ia selalu menyuruh orang berbuat jelek. Apabila dilepas kendalinya dan orang berbaik sangka kepadanya, maka itulah kebinasaan baginya.

Imam Abu Hamid al-Ghazali memberi wejangan, “Ketahuilah, bahwa musuh yang paling berbahaya bagimu adalah nafsumu yang selalu ada bersamamu. Sebab, ia tercipta dengan tabiat selalu memerintahkan kepada yang jelek, cenderung kepada kemungkaran, dan lari dari kebaikan.”

“Oleh karena itu, engkau diperintahkan untuk selalu menyucikan, meluruskan, dan mengendalikannya dengan belenggu paksaan agar beribadah kepada Rabb Penciptanya, mencegahnya dari syahwatnya dan menyapihnya dari menikmatinya.”

“Apabila engkau membiarkannya, maka ia akan menjadi liar tak terkendali, dan setelah itu engkau tidak akan bahagia bersamanya.” (Ihya’ Ulumid Din, Abu Hamid al-Ghazali, 4/600)

Imam Ibnu Qayyim berkata, “Ada beberapa faedah dari mengenali nafsu, di antaranya mengetahui bahwa nafsu itu bodoh dan zalim. Sedangkan kebodohan dan kezaliman hanya akan melahirkan segala hal yang jelek.” (Madarijus Salikin, 1/205)

Yahya bin Muadz berkata, “Sebuah kebahagiaan bagi seseorang apabila lawannya mau memahami, tapi lawanku tidak mau memahami.”

Beliau ditanya, “Siapakah lawan Anda?”

Beliau menjawab, “Lawanku adalah nafsuku. Dia tidak pernah mau memahami, dia menjual Jannah beserta seluruh kenikmatan di dalamnya yang serba kekal dengan kenikmatan syahwat yang hanya sesaat di dunia.” (Hilyatul Auliya’, 10/59)

Oleh karena itu, mereka berwasiat kepada kita agar kita mengenali nafsu kita. Sufyan ats-Tsauri berkata, “Apabila engkau mengenali nafsumu, maka apa yang dikatakan orang tidak akan membahayakanmu.” (Az-Zuhdu, Imam Ahmad, 439)

Senada dengan itu, Sufyan bin Uyainah berkata, “Pujian tidak akan membahayakan orang yang telah mengenali nafsunya.” (Shifatush Shafwah, 2/557)

Baca Juga: Begini Trik Menghafal Al-Quran dan Murajaah Hingga Tingkatan Mutqin

Apapun yang dikatakan orang kepadamu itu tidak akan membahayakanmu selama engkau mengenali nafsumu. Pujian orang kepadamu hanyalah jaring perangkap yang dipasang oleh setan. Dan setiap kita lebih mengetahui kejelekan-kejelekan dirinya, yang Allah akan tutupi dari pandangan orang lain.

‘Aun bin Abdillah mengatakan, “Apabila nafsumu bermaksiat kepadamu dalam hal yang engkau benci, janganlah engkau menaatinya dalam hal yang disukai, janganlah tertipu oleh pujian orang yang tidak mengetahui keadaan dirimu.” (Adab ad-Dunya wa ad-Diin, Al-Mawardi, 284)

Adapun doa yang selalu mereka panjatkan adalah sebagaimana yang diucapkan oleh Yusuf bin Asbath,

اَللَّهُمَّ عَرِّفْنِي نَفْسِي، وَلَا تَقْطَعْ رَجَاءَكَ مِنْ قَلْبِي

“Ya Allah, kenalkan aku dengan nafsuku, dan janganlah Engkau putuskan harapanku kepada-Mu dari hatiku.” (Shifatush Shafwah, 2/408)

Sesungguhnya di dalam nafsu ada hal-hal yang tersembunyi dan rahasia yang tidak bisa disingkap kecuali dengan pertolongan Allah ‘azza wajalla, karena pengetahuan terhadapnya adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Sahal bin Abdullah at-Tusturi, “Pengetahuan tentang nafsu adalah lebih pelik dari mengenali musuh.” (Shifatush Shafwah, 4/316)

Artinya, kejelekannya sangat tersembunyi dan menipu, sebagaimana musuh menyembunyikan diri dan menipu. Namun, apabila kita mau mentazkiyah jiwa, maka hal yang tersembunyi itu bisa tersingkap dan terang.

Intinya, kita harus memahami bahwa kita hanya memiliki satu jiwa yang wajib dipelihara dan tidak ada peluang untuk menggantinya dengan selain itu. Abul Abyadh pernah menulis surat kepada salah seorang kawannya. Isi suratnya begini,

“Sungguh, engkau tidak diberi beban dari dunia kecuali hanya satu jiwa. Apabila engkau menjadikannya baik, maka orang yang merusaknya tidak akan membahayakanmu. Namun, apabila engkau merusaknya, maka tidak akan berpengaruh orang yang memperbaiki kerusakannya. Ketahuilah, bahwa engkau tidak akan selamat dari dunia hingga tidak peduli dengan orang dari golongan ‘merah’ atau ‘hitam’ yang memakannya.” (Hilyatul Auliya’, 3/111)

Tujuan lain dari mengenali hakikat hawa nafsu adalah agar setiap dari kita mengetahui asal penciptaan manusia, yaitu dari tanah yang diinjak, kemudian awal kejadiannya adalah dari air mani yang apabila ia melihatnya pasti jijik, maka dari sini wajib baginya agar tidak tertipu, sombong, dan durhaka.

Baca Juga: Masjidil Aqsha, Beginilah Keutamaanmu yang Sangat Luar Biasa

Suatu ketika, Mihlab bin Abi Shafrah berjalan dengan angkuh dan sombong di depan Malik bin Dinar, maka Malik berkata kepadanya,

“Tidak tahukah engkau bahwa cara jalan seperti ini makruh (dibenci) kecuali ketika di depan barisan musuh?”

Mihlab berkata, “Anda tidak tahu siapa saya?”

Malik pun menjawab, “Aku tahu betul siapa Anda.”

Mihlab berkata, “Apa yang Anda ketahui tentang saya?”

Malik menjawab, “Bukankah Anda berasal dari air mani yang menjijikkan dan akhirnya menjadi bangkai yang busuk, dan di antara keduanya selalu membawa kotoran?”

Maka Mihlab menjawab, “Sekarang Anda benar-benar tahu siapa saya.” (Hilyatul Auliya’, 2/384)

Bakr asy-Syabli menyadarkan kita untuk pandai-pandai mengenal hakikat hawa nafsu dengan gambaran dan cara seperti ini,

“Apabila Anda ingin melihat hakikat dunia seutuhnya, maka lihatlah tempat pembuangan sampah. Itulah hakikat dunia.”

“Apabila Anda ingin melihat hakikat diri, maka ambillah segenggam tanah. Dari tanah itulah Anda diciptakan, kepadanya Anda akan dikembalikan, dan dari tanah itu pula Anda akan dibangkitkan.”

“Apabila Anda ingin melihat siapa Anda sebenarnya, maka lihatlah apa yang keluar darimu ketika masuk tempat buang air. Barangsiapa keadaannya seperti itu, maka tidak layak baginya untuk congkak dan sombong.” (Shifatush Shafwah, 2/695)

Apabila Anda sombong, maka pikirlah kembali apa yang ada dalam perut Anda.

 

Mengenali Hawa Nafsu Agar Terhindar dari Kemaksiatan

Tujuan lain dari mengenal hakikat hawa nafsu adalah apa yang telah dijelaskan oleh Abul faraj Abnul Jauzi (‘Uluwwul Himmah, Muhammad Ahmad Islamil, 103). Mari kita perhatikan apa yang telah beliau uraikan agar kita mengetahui kedudukan diri ini di sisi Allah.

“Kalau engkau mengetahui kedudukan dirimu, maka engkau tidak akan menghinakannya dengan kemaksiatan. Iblis dijauhkan dari kamu karena ia tidak mau sujud kepadamu. Maka, sangat aneh, bagaimana negkau bisa berbaikan dengannya dan menjauhi Allah.” (Al-Majalis wal Mawa’idh, Ibnul Jauzi, 29)

“Seorang mukmin tentu mengetahui kedudukan dirinya tanpa sombong, congkak, dan tertipu. Dia akan menjauhkan dirinya dari kejelekan, menjaganya dari kehinaan, menyucikannya dari dari hal-hal yang rendah dan tidak bermanfaat baik yang tersembunyi atau terang-terangan. Ia juga menjauhkan dirinya dari tempat yang hina seperti membebaninya dengan yang tidak dimampu, atau meletakkannya pada posisi yang tidak sesuai dengan kedudukannya, sehingga dia selalu terjaga, berada dalam kemuliaan, tidak mendatangi yang rendah, tidak ridha dengan kekurangan, dan tidak puas dengan kerendahan.” Wallahu a’lam (Lamhah Tarbawiyah min Hayati at-Tabiin, Asyarf Hasan Thabal edisi terjemahan/Shodiq/dakwah.id)