Informasi Keislaman Terlengkap dan Terpercaya

Hujan, Karunia dan Rahmat Allah yang Tak Tergantikan

54

Hujan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia didefinisikan sebagai ‘Titik-titik air yang berjatuhan dari udara karena proses pendinginan.’ Makna ini sama dengan makna kata al-matharu dalam bahasa arab.  Selain bermakna asli, kata hujan juga memiliki makna kiasan, tidak selalunya dimaknai sebagai titik-titik air yang berjatuhan dari udara.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Zaid bin Khalid al-Juhani, bahwa ia berkata,

صلى لنا رسولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم صلاةَ الصبحِ بالحُدَيْبِيَةِ، على إثرِ سماءٍ كانت مِن الليلةِ، فلما انصرفَ، أقبلَ على الناسِ، فقال:

هل تدرون ماذا قال ربُّكم؟

قالوا: اللهُ ورسولُه أعلمُ.

قال: أصبحَ مِن عبادي مؤمنٌ وكافرٌ، فأما مَن قال: مُطِرْنا بفضلِ اللهِ ورحمتِه، فذلك مؤمنٌ بي وكافرٌ بالكوكبِ،

وأما مَن قال: بنَوْءِ كذا وكذا، فذلك كافرٌ بي ومؤمنٌ بالكوكبِ.

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melakukan Shalat Subuh mengimami kami di Hudaibiyah pada bekas hujan yang terjadi pada malam hari. Selesai shalat, beliau menghadap ke arah orang-orang dan berkata:

Apakah kalian mengetahui apa yang dikatakan Tuhan kalian?

Mereka menjawab, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahuinya.

Beliau bersabda: ‘Allah berfirman: ‘Pada pagi ini di antara para hamba-ku ada yang beriman kepada-ku dan ada yang kafir. Adapun orang yang mengatakan, ‘Hujan turun hujan kepada kami dengan karena Allah dan rahmat-Nya’, maka orang tersebut adalah orang yang beriman kepada-Ku dan kafir kepada bintang. Adapun orang yang mengatakan, ‘Hujan turun kepada kami berkat bintang ini dan ini’, maka orang tersebut adalah orang yang kafir kepada-Ku dan beriman kepada kepada bintang’.” (HR. Al-Bukhari: 846) 

Baca juga: Klasifikasi Air Berdasarkan Hukum Kesuciannya

 

PENELITIAN PARA ILMUWAN TENTANG HUJAN

Turunnya hujan dari awan masih menjadi isu ilmiah yang tidak jelas rinciannya. Adapun yang para ilmuwan ketahui bahwa Bumi adalah planet terkaya di tata surya dalam hal air. Diperkirakan Bumi berisi 1.360-1.385 juta km kubik. Adapun pembagiannya, samudera dan lautan (97,2%), sedangkan air tawar hanya mewakili 2,8% dari jumlah total air di Bumi.

Sebagian besar air tersebut (2,052% – 2,15%) tersimpan dalam lapisan es tebal yang menutupi kedua kutub Bumi dan puncak gunung. Sisanya disimpan dalam batuan dari kerak Bumi (0,27%), danau air tawar (0,36%), dalam bentuk kelembaban di tanah dan atmosfer (0,36%), serta air yang mengalir di sungai dan anak sungai (0,0047%).

Allah Yang Maha Kuasa mengeluarkan air dari dalam Bumi melalui gunung berapi, kemudian membagikannya sesuai dengan kebijakan-Nya. Allah juga memasukkannya ke dalam siklus yang sempurna antara Bumi dan langit.

Baca juga: Wudhu Anda Sudah Benar? Mari Cek Di Sini

Kalau bukan karena siklus ini, air di permukaan Bumi akan kotor. Sebab, air tersebut mengandung miliaran makhluk hidup, baik yang hidup maupun yang masi di banyak tempat yang dapat mengotori air jika tidak dibuat siklus mengelilingi Bumi.

Allah Yang Maha Kuasa menetapkan bahwa sejumlah tertentu dari air harus berada di Bumi dan didistribusikan secara akurat ke samudera, laut, danau, dan sungai. Allah juga menyimpan air dalam batuan kerak Bumi, menjaganya dalam bentuk es di puncak gunung dan dua kutub Bumi, serta menyebarkannya dalam wujud kelembaban di udara dan tanah. Semua ini terjadi menurut sistem tertentu yang sesuai dengan kebutuhan hidup di Bumi sekaligus menjaga keseimbangan panas pada permukaan Bumi dari satu tempat ke tempat yang lain; dari satu musim ke musim yang lain.

Jika takaran air tersebut lebih sedikit saja, maka akan menutupi Bumi (banjir). Sebaliknya, jika takaran kurang sedikit saja, maka air tersebut tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan makhluk hidup di Bumi.

Panas matahari menguapkan air dari permukaan laut, lautan, sungai, danau, kolam, rawa-rawa, daerah dingin (es), serta air tanah, nafas manusia, hewan, dan transpirasi tanaman, termasuk berbagai sumber lainnya, kemudian membawa uap ini ke lapisan atas atmosfer.

Uap tersebut akan kehilangan panas secara bertahap karena berpindah ke tempat yang lebih tinggi dan tekanan yang kian menurun. Hal tersebut memungkinkan uap air untuk mulai mengembun dari wujud gas menjadi butir-butir air. Dengan demikian, air yang naik dari Bumi akan kembali lagi ke Bumi dalam bentuk hujan, hujan es, salju, kabut, atau embun.

Sekitar 380.000 km kubik air di Bumi menguap setiap tahun. Sebagian besar dari jumlah tersebut (sekitar 320.000 km kubik) berasal dari lautan dan samudera. Sedangkan sisanya (60.000 km kubik) berasal dari darat.

Air kemudian akan kembali ke Bumi dengan jumlah angka yang berbeda (284.000 km kubik kembali ke lautan dan samudera, sementara 96.000 km kubik jatuh ke tanah). Adapun jumlah keduanya (380.000 km kubik) akan bermuara ke lautan dan samudera.

 

TEORI PARA ILMUWAN TENTANG PROSES TERJADINYA HUJAN

Seperti disebutkan sebelumnya, proses hujan masih belum diketahui dengan rincian ilmiah yang akurat. Peristiwa itu terdiri dari serangkaian proses yang tidak bisa secara langsung diamati. Oleh karena itu, para ilmuwan mengembangkan sejumlah hipotesis dan teori-teori untuk menjelaskan fenomena ini.

Beberapa teori tersebut ada yang menyebutkan bahwa hujan dipengaruhi gerakan angin darat (angin yang berembus dari darat ke laut) di mana terjadi peningkatan suhu di atas permukaan Bumi.

Teori yang lain merujuk pada arus listrik di antara awan yang berbeda lalu bertemu dan saling bertabrakan. Teori lainnya menyebutkan adanya pengaruh matahari pada lapisan atmosfer.

Namun demikian, satu-satunya faktor utama dari itu semua adalah kehendak Sang Pencipta, seperti telah jelas ditunjukkan dalam hadits Nabi.

Diketahui bahwa prosentase air di awan sangat kecil dan tidak melebihi 2% dari air di atmosfer, yang berjumlah tidak lebih dari 0,36% dari jumlah total air di Bumi. Adapun jumlah air di atmosfer diperkirakan sebanyak 15.000 juta km kubik.

Air ditemukan di zona iklim Bumi dalam wujud tetesan yang sangat kecil (berdiameter kurang dari satu micron). Tetesan ini menempel di udara karena viskositas dan tegangan permukaan yang intens. Hal ini terjadi di awan biasa yang dibawa oleh angin tanpa hujan. Kecuali jika bertemu dua awan; awan panas dan dingin atau awan bermuatan listrik positif dan negatif.

Baca juga: Air Kencing Bayi Itu Ternyata Najis, Ya?

Hal ini juga dapat terjadi melalui benda padat berukuran mikro dalam debu yang dibawa oleh angin dari permukaan Bumi untuk membuahi awan dan mempercepat kondensasi uap air dan turunnya hujan dengan izin Allah Yang Maha Kuasa, dan kapanpun Dia berkehendak.

 

HUJAN ADALAH KUASA ALLAH, SUDAH DITERANGKAN DALAM AL-QURAN

Hujan biasanya jatuh berwujud tetesan kecil, tapi terkadang juga jatuh berupa tetesan besar (diameter 4-8 mm). tetesan besar ini terbentuk sebagai akibat dari kondensasi uap air pada inti kondensasi dari debu yang relatif besar, yang secara bertahap membesar hingga mencapai ukuran tersebut.

Semua proses tersebut, baik secara individual maupun kolektif membutuhkan takdir dan tidak dapat terjadi sembarangan atau secara kebetulan. Ini membuktikan bahwa pembentukan hujan adalah salah satu rahasia Ilahi yang belum dipahami sepenuhnya oleh manusia.

Akan tetapi, kekuatan Ilahi dalam wujud matahari tampak jelas dalam proses ini, khususnya dalam mendistribusikan hujan di Bumi. Semua hal tersebut adalah kehendak Sang Pencipta.

Jika anda buka al-Quran, anda akan menemukan banyak ayat yang menginformasikan betapa vitalnya keberadaan hujan dalam ekosistem alam ini. Allah berfirman,

 

وَهُوَ الَّذِي يُرْسِلُ الرِّيَاحَ بُشْرًا بَيْنَ يَدَيْ رَحْمَتِهِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا أَقَلَّتْ سَحَابًا ثِقَالًا سُقْنَاهُ لِبَلَدٍ مَيِّتٍ فَأَنْزَلْنَا بِهِ الْمَاءَ فَأَخْرَجْنَا بِهِ مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ ۚ كَذَٰلِكَ نُخْرِجُ الْمَوْتَىٰ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

“Dan Dialah yang meniupkan angin sebagai pembawa berita gembira sebelum kedatangan rahmat-Nya (hujan); hingga apabila angin itu telah membawa awan mendung, Kami halau ke suatu daerah yang tandus, lalu Kami turunkan hujan di daerah itu, maka Kami keluarkan dengan sebab hujan itu pelbagai macam buah-buahan. Seperti itulah Kami membangkitkan orang-orang yang telah mati, mudah-mudahan kamu mengambil pelajaran.” (QS. Al-A’raf: 57)

Baca juga: Shalat Jamak Mathar Apakah Harus Bersama Imam Shalat Jamaah?

وَأَرْسَلْنَا الرِّيَاحَ لَوَاقِحَ فَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَسْقَيْنَاكُمُوهُ وَمَا أَنْتُمْ لَهُ بِخَازِنِينَ

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan (tumbuh-tumbuhan) dan Kami turunkan hujan dari langit, lalu Kami beri minum kamu dengan air itu, dan sekali-kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (QS. Al-Hijr: 22)

 

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ وَالَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ . الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ فِرَاشًا وَالسَّمَاءَ بِنَاءً وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجَ بِهِ مِنَ الثَّمَرَاتِ رِزْقًا لَكُمْ ۖ فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

“Hai manusia, sembahlah Rabbmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, ( ) Dialah yang menjadikan Bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 21-22)

 

وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ فَأَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُتَرَاكِبًا وَمِنَ النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَجَنَّاتٍ مِنْ أَعْنَابٍ وَالزَّيْتُونَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَغَيْرَ مُتَشَابِهٍ ۗ انْظُرُوا إِلَىٰ ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَيَنْعِهِ ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكُمْ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ

“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al-An’am: 99)

 

الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ مَهْدًا وَسَلَكَ لَكُمْ فِيهَا سُبُلًا وَأَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ أَزْوَاجًا مِنْ نَبَاتٍ شَتَّىٰ

“Yang telah menjadikan bagimu Bumi sebagai hamparan dan Yang telah menjadikan bagimu di Bumi itu jalan-jalan, dan menurunkan dari langit air hujan. Maka Kami tumbuhkan dengan air hujan itu berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.” (QS. Thaha: 53)

 

وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً بِقَدَرٍ فَأَسْكَنَّاهُ فِي الْأَرْضِ ۖ وَإِنَّا عَلَىٰ ذَهَابٍ بِهِ لَقَادِرُونَ

“Dan Kami turunkan air dari langit menurut suatu ukuran; lalu Kami jadikan air itu menetap di Bumi, dan sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa menghilangkannya.” (QS. Al-Mukminun: 18) (Disadur dari buku Miracles of al-Quran & as-Sunnah (Edisi Terjemah), Dr. Zakir Naik, Penerbit Aqwam, 113-120) [shodiq/dakwah.id]