materi kultum ramadhan abu sulaiman ad-darani teladan zuhud dakwah.id

Materi Kultum 18: Abu Sulaiman Ad-Darani Teladan dalam Zuhud

Tulisan yang berjudul Abu Sulaiman Ad-Darani Teladan dalam Zuhud adalah seri ke-18 dari serial Materi Kultum Ramadhan yang ditulis oleh ustadz Muhammad Faishal Fadhli.

Di kalangan pengkaji ilmu tasawuf, nama Abu Sulaiman ad-Darani sudah tidak asing lagi. Beliau adalah pemuka para ulama dan auliya. Orang paling zuhud di masanya. Dalam kitab Siyar A’lam an-Nubala’, Imam adz-Dzahabi menyebutnya dengan gelar “al-Imam al-Kabir Zahid al-‘Ashr.” Ibnu Katsir juga ikut menyanjungnya dalam kitab al-Bidayah wan Nihayah, dengan pujian, “Ahadu Aimmatil A’lam al-Ulama al-Amilin.” Salah satu imam agung yang mengamalkan ilmunya.

Abu Sulaiman ad-Darani menetap di Darayya, sebuah desa di Damaskus, Suriah. Nama aslinya adalah Abdurrahman bin Athiyyah ad-Darani. Ada pun Abu Sulaiman adalah nama kunyah yang terkadang lebih populer daripada nama lahirnya.

Beliau lahir pada tahun 140 H dan wafat pada tahun 215 H. Ini menurut pendapat yang tercantum dalam kitab Thabaqat ash-Shufiyah, karya Abu Abdurrahman as-Silmi. Sedangkan Ibnul Jauzi dan Ibnu Katsir berpendapat bahwa Abu Sulaiman wafat tahun 205 H. Wallahu a’lam bish shawab.

Abu Sulaiman ad-Darani, menimba ilmu kepada sejumlah guru; Imam Sufyan ats-Tsauri, Alqamah bin Suwaid, dan Abu al-Asyhab al-Atharidy. Ada pun muridnya yang paling sering disebut-sebut bernama Ahmad bin Abi al-Hawari. Dari murid yang satu ini, ada banyak riwayat menarik tentang pengalaman-pengalaman Abu Sulaiman.

Seperti yang tertulis dalam kitab Shifatu ash-Shafwah; masterpiece Ibnul Jauzi. Dalam kitab ini disebutkan mimpi Abu Sulaiman ad-Darani yang sangat unik.

Alkisah, di suatu malam, Abu Sulaiman sedang khusyuk beribadah. Dalam keadaan menggigil, ia tetap melanjutkan ibadahnya. Namun, karena cuaca malam itu terlalu dingin, Abu Sulaiman berdoa hanya dengan satu tangan dan tangan yang satunya ia selipkan ke dalam baju. Tetiba Abu Sulaiman tertidur dan bermimpi. Dalam mimpinya itu, ia mendengar bisikan.

Wahai Abu Sulaiman, telah Kami letakkan sesuatu yang kau minta di tangan yang engkau angkat dalam doa,” ujar suara bisikan dalam mimpi.

Seandainya kau angkat juga tanganmu yang lain, maka pasti Kami juga akan meletakkan sesuatu yang kau minta di tangan itu.” Selepas mendengar bisikan tersebut, Abu Sulaiman bersumpah untuk selalu berdoa dengan mengangkat kedua tangan.

Kisah lainnya lebih seru lagi. Cerita tentang belaian lembut bidadari. Abu Sulaiman hanya menuturkan pengalaman ini kepada Ahmad bin Abi al-Hawari. Bahkan beliau berpesan, jangan sampai cerita ini disebarluaskan, kecuali setelah beliau wafat.

Begini kisahnya.

Pada suatu malam, ia tertidur pulas sampai melewatkan kesempatan untuk shalat Tahajud. Lalu ia dikejutkan dengan sebuah teguran dari sesosok bidadari,

Wahai Abu Sulaiman, apakah engkau tertidur, sementara para malaikat mengawasi orang-orang yang bangun untuk melaksanakan tahajud? Sungguh merugi mata yang lebih senang tidur daripada berjaga untuk bermunajat kepada Allah Yang Mahamulia. Bangunlah, sebentar lagi orang-orang yang mencintai Allah akan saling bertemu. Wahai kekasih dan permata hatiku, apakah kamu masih juga akan tidur sementara aku menemanimu dalam keheningan malam ini sedari tadi?”

Seketika Abu Sulaiman melompat. Tubuhnya bermandikan keringat. Ia merasa malu dengan teguran bidadari itu.

Nasihat Bijak Abu Sulaiman Ad-Darani

Sebagai seorang maha guru dalam ilmu olah ruhani yang sangat diakui, Abu Sulaiman tentu mempunyai warisan kata-kata mutiara nasihat yang sangat patut untuk kita renungi, kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Berikut ini di antaranya petuah bijaknya:

Ancaman Bagi Penghafal Quran Tapi Gemar Bermaksiat

اَلزَّبَانِيَةُ أَسْرَعُ إِلَى حَمْلَةِ الْقُرْآنِ الَّذِيْنَ يَعْصُوْنَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ مِنْهُمْ إِلَى عُبْدَةِ الْأَوْثَانِ حِيْنَ عَصَوْا اللهَ سُبْحَانَهُ بَعْدَ الْقُرْآنِ

Malaikat Zabaniyah (penunggu neraka), akan lebih dahulu menyiksa para ahli Quran yang durhaka kepada Allah, sebelum menyiksa para penyembah berhala ketika mereka mendurhakai Allah.” (Ihya’ Ulumiddin, Imam Al-Ghazali, 1/274)

Celaan Bagi Orang yang Meninggalkan Ketaatan

لَيْسَ ‌الْعَجَبُ ‌مِمَّنْ ‌لَمْ ‌يَجِدْ ‌لَذَّةَ ‌الطَّاعَةِ، إِنَّمَا الْعَجَبُ مِمَّنْ وَجَدَ لَذَّتَهَا ثُمَّ تَرَكَهَا كَيْفَ صَبَرَ عَنْهَا؟

Bukan suatu hal yang mengherankan ketika seseorang tidak merasakan lezatnya ketaatan. Tetapi yang mengherankan adalah ketika seorang hamba sudah merasakan bagaimana nikmatnya ketaatan, lalu ia malah meninggalkannya. Bagaimana ia bisa bersabar setelah menghindarinya?” (Hilyah Auliya, Abu Nu’aim al-Ashfahani, 9/262)

Ciri Ahli Zuhud Sejati

الزَّاهِدُ ‌حَقًّا ‌لَا ‌يَذُمُّ ‌الدُّنْيَا، وَلَا يَمْدَحُهَا، وَلَا يَنْظُرُ إِلَيْهَا، وَلَا يَفْرَحُ بِهَا إِذَا أَقْبَلَتْ، وَلَا يَحْزَنُ عَلَيْهَا إِذَا أَدْبَرَتْ

Seorang ahli zuhud yang sesungguhnya adalah ia yang tidak mencela dunia tapi juga tidak memujanya. Dia juga tidak melihat dunia. Tidak terlalu senang ketika dunia memihak padanya. Serta tidak bersedih hati ketika dunia berpaling darinya.” (Az-Zuhd al-Kabir li al-Bayhaqi, 4)

Jangan Terlalu Kenyang

مَنْ شَبِعَ دَخَلَ عَلَيْهِ سِتُّ آفَاتٍ: فَقْدُ حَلَاوَةِ الْمُنَاجَاةِ، وَحِرْمَانُ الشَّفَقَةِ عَلَى الْخَلْقِ – لِأَنَّهُ إِذَا شَبِعَ ظَنَّ أَنَّ الْخَلْقَ كُلُّهُمْ شِبَاعٌ – وَثَقْلُ الْعِبَادَةِ – وَزِيَادَةُ الشَّهَوَاتِ، وَأَنَّ سَائِرَ الْمُؤْمِنِيْنَ يَدُوْرُوْنَ حَوْلَ الْمَسَاجِدِ، وَالشِّبَاعَ يَدُوْرُوْنَ حَوْلَ الْمَزَابِلِ

Orang yang perutnya kekenyangan, ia akan ditimpa enam bencana: Hilangnya rasa nikmat dalam bermunajat, hilangnya rasa welas asih kepada makhluk–karena mengira semua orang sudah kenyang seperti dirinyaberat dalam beribadah, syahwat kian meningkat, orang beriman berkeliling di sekitaran masjid, orang-orang kekenyangan berkeliling di area tempat-tempat pembuangan sampah.” (Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali, 3/87)

Khutbah Jumat Singkat: Analogi dan Filosofi Madrasah Ramadhan

لِكُلِّ شَيْءٍ صَدَأٌ ‌وَصَدَأُ ‌نُورِ ‌الْقَلْبِ ‌شِبَعُ ‌الْبَطْنِ

Segala sesuatu bisa berkarat atau melapuk. Sedangkan karatnya cahaya hati adalah kenyangnya perut.” (Thabaqat al-Auliya’, Ibnu Mulaqqin, 387)

Keutamaan Menahan Rasa Lapar

عَلَيْكَ بِالْجُوْعِ، فَإِنَّهُ مَذَلَّةٌ لِلنَّفْسِ وَرَقَّةٌ لِلْقَلْبِ وَهُوَ يُوْرِثُ الْعِلْمَ السَّمَاوِيَّ.

Hendaknya kalian menahan rasa lapar. Karena ia dapat mengendalikan jiwa, melembutkan hati, dan mewarisi ilmu samawi. (Ihya’ Ulumiddin, Imam al-Ghazali, 3/84-87)

Untaian nasihat ini sangat relate jika dikaitkan dengan hikmah disyariatkannya ibadah shiyam di bulan Ramadhan. Wallāhul muwaffiq ilā aqwamith tharīq. (Muhammad Faishal Fadhli/dakwah.id)

Baca juga artikel Materi Kultum Ramadhan atau artikel menarik lainnya karya Muhammad Faishal Fadhli.

Penulis: Muhammad Faishal Fadhli
Editor: Ahmad Robith

Artikel Materi Kultum Ramadhan sebelumnya:

Topik Terkait

Muhammad Faishal Fadhli

Pengkaji Literatur Islami. Almnus Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor angkatan 14.

Tinggalkan Balasan

You have to agree to the comment policy.

%d blogger menyukai ini: