Materi Khutbah Jumat: Sahabat Muadz bin Jabal, Pemimpin para Ulama

0 793

Materi Khutbah Jumat
Sahabat Muadz bin Jabal, Pemimpin para Ulama

Oleh: Abdul Halim Tri Hantoro, S.Pd.I

 

 

*) Link download PDF materi khutbah Jumat ini ada di akhir tulisan

إنَّ الحمدَ لله نَحمدُهُ وَنَستَعِينُهُ ونَستَغفِرُه، وَنعوذُ بِالله مِن شُرورِ أنفسِنا وَسَيِّئاتِ أعمالِنا مَن يَهدِ اللهُ فَلا مضلَّ لَه ومن يُضلِل فَلَن تَجِدَ لهُ وَلِيَّا مُرشِدًا

أشهَد أن لا إلهَ إلا اللهُ وَحدَهُ لا شَريكَ لهُ وَأشهَدُ أنَّ مُحَمّدًا عَبدُهُ ورَسُولُه بَلَّغَ الرِّسالةَ، وَأدّى الأمانَةَ، وَنَصَحَ الأمَّةَ، وَجاهَدَ فِى اللهِ حَقَّ جِهادِهِ حَتَّى أتاهُ اليَقِينُ.

اللهُمَّ صَلِّ وَسَلِّم وَبارِك عَلَى سَيِّدِنا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِه وَصَحبِهِ وَمَن تَبِعَهُم بِإِحسانٍ إلى يِومِ الدِّينِ، أمَّا بَعد

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

فَأِنّ أَصْدَقَ الْحَدِيْثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرَ الْهَدْىِ هَدْىُ مُحَمّدٍ صَلّى الله عَلَيْهِ وَسَلّمَ، وَشَرّ اْلأُمُوْرِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةً، وَكُلّ ضَلاَلَةِ فِي النّارِ. أَمَّا بَعْد

 

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Segala puji bagi Allah subhanahu wata’ala yang telah memberi petunjuk kepada kita terhadap Iman dan Islam, dan sekali-kali kita tidaklah mendapat petunjuk melainkan Dialah Allah subhanahu wata’ala yang memberikannya.

Kita bershalawat kepada baginda Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, Nabi junjuangan sekaligus penutup para Nabi dan Rasul, atas bimbingannya juga petunjuknya kepada sebaik-baik jalan dan manhaj, yakni dinul Islam.

Semoga keselamatan juga Allah senantiasa limpahkan kepada para istri beliau, para sahabat dan segenap umatnya yang tsiqah terhadap ajarannya hingga hari kiamat.

Marilah kita senantiasa tingkatkan iman dan takwa kepada Allah Azza wa Jalla di mana saja berada, berusaha dengan maksimal melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Dan senantiasa memperhatikan amalan untuk bekal menghadapi pengadilan Allah subhanahu wata’ala di hari akhirat kelak.

Allah subhanahu wata’ala berfirman:

يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّهَ ‌وَلۡتَنظُرۡ ‌نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

Wahai orang-orang yang beriman! bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertaqwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hasyr: 18)

Alasan Kenapa Harus Mencintai Sahabat Nabi

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Di antara cara berislam yang benar dan sesuai dengan prinsip Ahlu Sunnah wal Jamaah adalah mencintai para sahabat Nabi dan mengutamakan mereka di antara para manusia selainnya.

Mencintai sahabat Nabi termasuk juga mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mencintai Rasulullah termasuk juga mencintai Allah subhanahu wata’ala.

Kenapa demikian? Mari simak penjelasan berikut ini:

Pertama: Sahabat Nabi adalah generasi terbaik di kalangan umat manusia.

Sebagaimana diterangkan dalam hadits dari Abdullah bin Mas’ud bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ، ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

Sebaik-baik manusia adalah pada masaku, kemudian (masa) setelah mereka, kemudian (masa) setelah mereka.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kedua: Sahabat Nabi adalah generasi yang diakui sifat keadilannya

Allah berfirman:

لَّقَدۡ ‌رَضِيَ ‌ٱللَّهُ عَنِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ إِذۡ يُبَايِعُونَكَ تَحۡتَ ٱلشَّجَرَةِ فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمۡ فَأَنزَلَ ٱلسَّكِينَةَ عَلَيۡهِمۡ وَأَثَٰبَهُمۡ فَتۡحٗا قَرِيبٗا

Sungguh Allah telah meridhai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji di bawah pohon, Dia mengetahui apa yang ada dalam hati mereka lalu Dia memberikan ketenangan atas mereka dan memberi balasan dengan kemenangan yang dekat.” (QS. Al-Fath: 18)

Ibnu Katsir menjelaskan ayat di atas dalam kitab Tafsir al-Qur’an al-Adzim: Yang dimaksud dengan فَعَلِمَ مَا فِي قُلُوبِهِمۡ Dia (Allah) mengetahui apa yang ada dalam hati. Adalah berupa kejujuran, menepati janji dan selalu mendengar dan taat.

Beliau juga berkata: Para sahabat semuanya adalah orang-orang yang adil, sebagaimana Allah telah memuji mereka di dalam Kitab-Nya dan sebagaimana Nabi mengucapkan dalam haditsnya akan kebaikan akhlak dan perbuatan mereka, pengorbanan mereka baik harta dan nyawa untuk Rasulullah, kecintaan mereka akan pahala amal dari sisi Allah subhanahu wata’ala. (Ibnu Katsir, Al-Ba’its Al-Hatsits, 176)

Ketiga: Melalui para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemenangan-kemenangan Islam dicapai

Saat Rasulullah masih berdakwah di Mekkah, perlawanan dari kaum kafir quraisy terhadap dakwah beliau sungguh luar biasa. Maka suatu saat beliau berdoa meminta kepada Allah agar menurunkan adzab atas mereka. Namun justru Allah menurunkan teguran berupa ayat:

لَيۡسَ لَكَ مِنَ ٱلۡأَمۡرِ شَيۡءٌ أَوۡ يَتُوبَ عَلَيۡهِمۡ أَوۡ يُعَذِّبَهُمۡ فَإِنَّهُمۡ ظَٰلِمُونَ

Itu bukan menjadi urusanmu (Muhammad) apakah Allah menerima taubat mereka, atau menazabnya, karena sesungguhnya mereka orang-orang zalim.(QS. Ali Imran: 128)

Materi Khutbah Jumat: Muhammad bin Maslamah Teladan Menyikapi Orang yang Menghina Nabi

Ternyata ayat di atas adalah menjelaskan akan sahabat Amru bin Ash yang mendapat hidayah Allah dan diterima tobatnya. Sehingga dalam sejarah beliau dikenal sebagai “Sang Pembebas negeri Mesir” dalam peperangan Yarmuk melawan pasukan Romawi timur.

Keempat: Sahabat Nabi yang menyebarluaskan keutamaan Islam di antara umat manusia.

Sebagaimana disebutkan dalam hadits Abu Said Al-Khudry, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي، فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ، ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ، وَلَا نَصِيفَهُ

Janganlah kalian mencela sahabatku, seandainya salah seorang di antara kalian bersedekah dengan satu gunung emas sekalipun, maka tidak akan bisa menyamai amalan mereka meski hanya satu mud saja. (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

 

5 Keutamaan Sahabat Muadz bin Jabal

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Pada kesempatan kali ini, khatib ingin mengangkat kisah hidup seorang sahabat mulia bernama Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu yang bisa kita ambil teladan dalam kehidupan kita.

Nama lengkap beliau adalah Muadz bin Jabal bin Amr bin Aus. Ibunya bernama Hindun binti Sahl dari bani Rifa’ah. Kunyah beliau adalah Abu Abdurrahman.

Beliau memeluk Islam pada usia yang tergolong sangat muda, yakni 18 tahun. Setelah masuk Islam, ia turut serta dalam perang Badar dan seluruh perang yang diikuti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Beliau adalah salah satu sahabat yang terlibat dalam peristiwa penting yakni Baiat Aqabah. Muadz bersama 70 orang Yatsrib berjanji akan menyediakan tempat baru di negeri mereka (Madinah), apabila Rasulullah dan para sahabat akan berhijrah.

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Imam adz-Dzahabi menyebutkan beberapa keutamaan sahabat Muadz bin Jabal dalam kitabnya, Siyar A’lam an-Nubala’:

Pertama: Paling Mengerti Halal dan Haram

Satu ungkapan yang sering kita dengarkan dalam kehidupan kita di mana itu menggambarkan akan rendahnya kondisi keimanan dan keyakinan kaum muslimin khususnya masalah jaminan rezeki dari Allah adalah “Mencari yang haram saja susah apalagi yang halal.”

Padahal kita sudah tahu bahwa Allah telah menjamin rezeki manusia bahkan seluruh makhluk-Nya.

Dia berfirman:

وَمَا مِن ‌دَآبَّةٖ فِي ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَيَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلٌّ فِي كِتَٰبٖ مُّبِينٖ

Dan tidak ada satu pun makhluk yang bergerak (bernyawa) di bumi melainkan semuanya dijamin Allah rezekinya. Dia mengetahui tempat kediamannya dan tempat penyimpanannya. Semua tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).” (QS. Hud: 6)

Allah berfirman lagi:

وَكَأَيِّن مِّن دَآبَّةٖ لَّا تَحۡمِلُ رِزۡقَهَا ٱللَّهُ يَرۡزُقُهَا وَإِيَّاكُمۡۚ وَهُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ

Dan berapa banyak makhluk bergerak yang bernyawa yang tidak dapat membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allahlah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu. Dia Maha mendengar dan Maha Mengetahui.” (HR. Al-Ankabut: 60)

Urusan halal dan haram dalam kehidupan seorang muslim adalah masalah yang sangat penting karena menyangkut keabsahan ibadah dan amal shalih yang mereka kerjakan. Dalam sebuah hadits shahih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ اللهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا، وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الْمُؤْمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الْمُرْسَلِينَ،

“Wahai manusia, Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik, dan bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin dengan apa yang diperintahkannya kepada para rasul.

فَقَالَ: يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا، إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ [المؤمنون: 51]

Allah berfirman: ‘Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal shaleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’” (QS. Al-Mu’minun: 51).

وَقَالَ: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ [البقرة: 172]

Dan Ia berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” (QS. Al-Baqarah: 172)

ثُمَّ ذَكَرَ الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشْعَثَ أَغْبَرَ، يَمُدُّ يَدَيْهِ إِلَى السَّمَاءِ، يَا رَبِّ، يَا رَبِّ، وَمَطْعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشْرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلْبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالْحَرَامِ، فَأَنَّى يُسْتَجَابُ لِذَلِكَ؟

Kemudian beliau menyebutkan seorang laki-laki yang kusut warnanya seperti debu mengulurkan kedua tangannya ke langit sambil berdoa: ‘Ya Rabb, Ya Rabb,’ sedang makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, ia kenyang dengan makanan yang haram, maka bagaimana mungkin orang tersebut dikabulkan permohonannya?” (HR. Muslim)

Hadits di atas menjelaskan bahwasanya amal shalih dan ibadah seseorang itu diterima atau tidaknya oleh Allah subhanahu wata’ala sangat dipengaruhi oleh makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh mereka, berasal dari yang halal atau yang haram.

Inilah yang menjadikan kita sebagai seorang muslim itu begitu serius menyikapi masalah halal dan haram.

Artikel Sejarah: Goresan Api Fitnah dalam Lembaran Sejarah Islam

Bahkan Imam Ibnu Rajab Al-Hambali mengatakan,

Amal tidak akan diterima melainkan dengan makanan yang halal, sedangkan makanan haram bisa merusak amal perbuatan dan menjadikannya tidak diterima.” (Jami’ul Ulum wal Hikam, 1/260)

Sahabat nabi yang satu ini adalah orang yang paling mengerti masalah halal dan haram dan tentunya dia adalah orang yang paling hati-hati dalam persoalan tersebut.

Ini adalah sebuah prestasi amal yang luar biasa, di mana sangat sulit bagi kita untuk mencapai hal tersebut.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memberikan pujian kepada beliau dengan sabdanya:

مُعَاذُ بنُ جَبَلٍ أَعْلَمُ النَّاسِ بِحَرَامِ اللهِ وَحَلَالِهِ

Muadz bin Jabal adalah manusia yang paling tahu apa yang di haramkan dan yang di halalkan Allah.” (Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam Al-Hilyah, dengan sanad lemah)

Dalam sabdanya yang lain:

أَرْحَمُ أُمَّتِي بِأُمَّتِي: أَبُو بَكْرٍ، وَأَشَدُّهَا فِي دِيْنِ اللهِ: عُمَرُ، وَأَصْدَقُهَا حَيَاءً: عُثْمَانُ، وَأَعْلَمُهُم بِالحَلَالِ وَالحَرَامِ: مُعَاذٌ، وَأَفْرَضُهُم: زَيْدٌ، وَلِكُلِّ أُمَّةٍ أَمِيْنٌ، وَأَمِيْنُ هَذِهِ الأُمَّةِ: أَبُو عُبَيْدَةَ

Umatku yang paling lembut terhadap manusia adalah Abu Bakar, yang paling tegas dalam urusan agama adalah Umar, yang paling pemalu adalah Utsman, yang paling tahu halal dan haram adalah Muadz bin Jabal, yang paling tahu faraidh adalah Zaid, dan setiap umat ada orang kepercayaan, sedangkan kepercayaan umat ini adalah Abu Ubaidah.” (Hadits marfu’ diriwayatkan oleh Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Kedua: Dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Mendapatkan cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah kedudukan yang tinggi dan mulia, karena ia adalah kekasih Allah. Tidak mungkin Rasulullah mencintai seseorang yang tidak dicintai oleh Allah subhanahu wata’ala atau orang itu dimurkai Allah.

Artinya mendapatkan cinta Rasulullah tentunya juga mendapatkan cinta Allah subhanahu wata’ala. Bagaimana seseorang tidak ingin mendapatkan cinta nabinya sementara yang dicintainya itu adalah yang diharapkan menjadi ahli surga.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

Setiap umatku masuk surga selain yang enggan, “Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, lantas siapa yang enggan?” Nabi menjawab: “Siapa yang taat kepadaku masuk surga dan siapa yang membangkang aku berarti ia enggan. (HR. Bukhari)

Demikian halnya sahabat mulia Muadz bin Jabal, dikarenakan kebaikan yang ada pada dirinya hingga membuat Rasulullah mencintainya. Dalam sebuah riwayat disebutkan:

عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَخَذَ بِيَدِهِ وَقَالَ يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّي لَأُحِبُّكَ فَقَالَ أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لَا تَدَعَنَّ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ

Dari Muadz bin Jabal, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggandeng tangannya dan berkata, “Wahai Muadz, demi Allah, aku mencintaimu. “Kemudian beliau berkata, “Aku wasiatkan kepadamu wahai Muadz, janganlah engkau tinggalkan setiap selesai shalat untuk mengucapkan, (Ya Allah, bantulah aku untuk berzikir dan bersyukur kepada-Mu serta beribadah kepada-Mu dengan baik).” (HR. Abu Dawud)

Kita semuanya berpeluang untuk mendapatkan cinta Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Dengan satu syarat saja. Yakni menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Apalagi kita adalah umat akhir zaman yang sangat dirindu oleh beliau.

Dalam hadits disebutkan, dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mendatangi pekuburan lalu bersabda:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا

Semoga keselamatan terlimpahkah atas kalian penghuni kuburan kaum mukminin, dan sesungguhnya insya Allah kami akan bertemu kalian, sungguh aku sangat gembira seandainya kita dapat melihat saudara-saudara kita.”

Para Sahabat bertanya,

أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ

Tidakkah kami semua saudara-saudaramu wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab,

أَنْتُمْ أَصْحَابِي وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ

Kamu semua adalah sahabatku, sedangkan saudara-saudara kita ialah mereka yang belum muncul.

Sahabat bertanya lagi,

كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بَعْدُ مِنْ أُمَّتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ

Bagaimana kamu dapat mengenali mereka yang belum muncul itu (termasuk) umatmu wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab dengan bersabda,

أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ

Apa pendapat kalian, seandainya seorang lelaki mempunyai seekor kuda yang berbulu putih di dahi serta di kakinya, dan kuda itu berada di tengah-tengah sekelompok kuda yang hitam legam. Apakah dia akan mengenali kudanya itu?”

Para Sahabat menjawab,

بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ

Sudah tentu wahai Rasulullah.

Beliau bersabda lagi,

فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ الْوُضُوءِ وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ

Maka mereka datang dalam keadaan muka dan kaki mereka putih bercahaya karena bekas wudlu. Aku mendahului mereka ke telaga.” (HR. Abu Dawud)

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Ketiga: Diridhai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

Jika keridhaan orang tua sebagai manusia biasa mendapat tempat yang tinggi disisi Allah, sebagaimana sabda Nabi dari hadits Abdullah bin Amru:

رِضَى الرَّبِّ فِي رِضَى الوَالِدِ، وَسَخَطُ الرَّبِّ فِي سَخَطِ الْوَالِدِ

Ridha Allah ada pada ridha orang tua dan kemurkaan Allah ada pada kemurkaan orang tua.” (HR. At-Tirmidzi)

Maka bagaimana dengan ridha orang yang paling mulia di kolong langit ini, yakni Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Maka jelaslah keridhaan beliau lebih mulia di sisi Allah dari pada yang lainnya.

Muadz bin Jabal adalah sahabat yang telah diridhai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagaimana dijelaskan dalam kisah yang ia tuturkan sendiri.

Dari Muadz bin Jabal; bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Muadz bin Jabal saat diutus ke Yaman; beliau bersabda,

كَيْفَ تَقْضِي إِنْ عَرَضَ لَكَ قَضَاءٌ

Apa yang akan kau lakukan bila terjadi perkara yang harus kau hukumi?”

Muadz menjawab,

أَقْضِي بِكِتَابِ اللَّهِ

Aku menghukumi berdasarkan yang ada dalam kitab Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi,

فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي كِتَابِ اللَّهِ

Bila didalam kitab Allah tidak ada, apa yang akan kau lakukan bila terjadi perkara yang harus kau hukumi?

Muadz menjawab,

فَسُنَّةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dengan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi,

فَإِنْ لَمْ يَكُنْ فِي سَنَةِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Bila tidak ada dalam sunnah Rasulullah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam?

Muadz menjawab,

أَجْتَهِدُ رَأْيِي وَلَا آلُو

Saya berijtihad dengan pendapatku, dan saya tidak mengabaikannya.

Muadz berkata,

فَضَرَبَ صَدْرِي

Kemudian Rasulullah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menepuk dadaku.

Dan beliau bersabda,

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي وَفَّقَ رَسُولَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِمَا يُرْضِي رَسُولَهُ

Segala puji bagi Allah yang memberi pertolongan pada utusan Rasulullah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam untuk sesuatu yang membuatnya ridha.”  (HR. Ahmad)

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Keempat: Termasuk empat orang Ahli Quran terbaik

Menjadi ahli Quran maknanya adalah menjadi keluarga Allah dan orang yang dikhususkannya. Sebagaimana dalam sabda Nabi:

إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا: مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ

Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya, “Siapakah mereka ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihanNya.” (HR. Ahmad)

Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan, maksud ahlul Quran bukan sekedar orang yang menghafal dan membacanya saja. Ahlu Quran yang sejati adalah mereka yang mengamalkannya, meskipun belum hafal.

Orang-orang yang mengamalkan al-Quran; menjalankan perintah dan menjauhi larangan, serta tidak melanggar batasan-batasan yang digariskan al-Quran, mereka itulah yang dimaksud dengan ahlu Quran, keluarga Allah serta orang-orang pilihannya Allah. Merekalah hamba-hamba yang istimewa.

Materi Khutbah Jumat: Meneladani 4 Karakter Sahabat Abu Ubaidah bin Jarrah

Muadz bin Jabal adalah sahabat Nabi yang direkomendasikan untuk para sahabat lain khususnya dan umumnya kaum muslimin untuk diambil ilmu Qurannya. Karena beliaulah orang yang hafal al-Quran, mengerti isi al-Quran dan paham maksud-maksudnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

خُذُوا القُرْآنَ مِنْ أَرْبَعَةٍ: مِنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ، وَأُبِيٍّ، وَمُعَاذِ بنِ جَبَلٍ، وَسَالِمٍ مَوْلَى أَبِي حُذَيْفَةَ

Ambillah bacaan al-Quran dari empat orang. Yaitu dari ‘Abdullah bin Mas’ud, beliau menyebutnya lebih dahulu, Salim, maula Abu Hudzaifah, Muadz bin Jabal dan Ubay bin Ka’ab.” (HR. Al-Bukhari)

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Kelima: Muadz bin Jabal adalah Pemimpin Para Ulama

Sesungguhnya penopang tegaknya agama dan dunia ini di antaranya adalah keberadaan para ulama yang mengamalkan ilmunya.

Sebaliknya, rusaknya agama dan dunia manakala ulama yang ada tidak mau mengamalkan ilmunya, atau amalannya menyelisihi ilmu yang ia miliki.

Sebagaimana dijelaskan dalam sebuah riwayat yang dinukil oleh Imam Fakhruddin Ar-Rozi dalam kitab tafsirnya Mafatihul Ghaib, ketika menjelaskan firman-Nya surat al-Kahfi ayat 65.

Bahwasanya sahabat Ali bin Abi Thalib pernah menasehati Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu:

يَا جَابِرُ، قِوَامُ هَذِهِ الدُّنْيَا بِأَرْبَعَةٍ: عَالِمٌ يَسْتَعْمِلُ عِلْمَهُ، وَجَاهِلٌ لَا يَسْتَنْكِفُ أَنْ يَتَعَلَّمَ، وَغَنِيٌّ جَوَادٌ بِمَعْرُوفِهِ، وَفَقِيرٌ لَا يَبِيعُ آخِرَتَهُ بِدُنْيَا غَيْرِهِ

Wahai Jabir, penopang tegaknya dunia ini ada 4 hal: Orang berilmu (ulama) yang mengamalkan ilmunya, Orang jahil yang tidak menolak untuk belajar, orang kaya yang dermawan dengan hartanya, orang miskin yang tidak menjual akhirat untuk dunianya.

Muadz bin Jabal tidak hanya ulama ia bahkan pemimpinnya para ulama di generasi terbaik umat ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri yang mengukuhkannya:

يَجِيْءُ مُعَاذٌ يَوْمَ القِيَامَةِ أَمَامَ العُلَمَاءِ، بَيْنَ يَدَي العُلَمَاءِ

Muadz bin Jabal akan datang pada hari kiamat nanti berada di depan para Ulama, di hadapan para ulama.”

Jamaah shalat Jumat rahimakumullah

Demikian materi khutbah Jumat tentang keutamaan sahabat Muadz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu yang dapat kami sampaikan, semoga Allah Ta’ala membimbing kita untuk meneladani para sahabat Nabi yang mulia.

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

 

 

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ للهِ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىَ رَسُوْلِ لله وَعَلىَ آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ

عِبَادَ اللهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى، أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ:

يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمسْلِمَاتِ وَالمؤْمِنِيْنَ وَالمؤْمِنَاتِ الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَةِ

اللَّهُمَّ أَلِّفْ بَيْنَ قُلُوبِنَا، وَأَصْلِحْ ذَاتَ بَيْنِنَا، وَاهْدِنَا سُبُلَ السَّلَامِ، وَنَجِّنَا مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ، وَجَنِّبْنَا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، وَبَارِكْ لَنَا فِي أَسْمَاعِنَا، وَأَبْصَارِنَا، وَقُلُوبِنَا، وَأَزْوَاجِنَا، وَذُرِّيَّاتِنَا، وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ، وَاجْعَلْنَا شَاكِرِينَ لِنِعَمِكَ مُثْنِيْنَ بِهَا عَلَيْكَ، قَابِلِينَ لَهَا، وَأَتِمِمْهَا عَلَيْنَا

رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا

اللَّهُمَّ إنَّا نَسْأَلُكَ الهُدَى، والتُّقَى، والعَفَافَ، والغِنَى

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ و َمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدّيْن

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمُنْكَرِ وَالبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

وَاذْكُرُوْا اللهَ الْعَظِيْمَ الْجَلِيْلَ يَذْكُرْكُمْ، وَأَقِمِ الصَّلَاة

 

 

 

Download PDF Materi Khutbah Jumat dakwah.id Muhammad bin Maslamah Teladan Menyikapi Orang yang Menghina Nabi di sini:

DOWNLOAD PDF

Semoga bermanfaat!

Ingin Langganan Artikel?
Daftarkan emailmu di sini untuk mendapatkan update artikel terbaru.
Anda dapat berhenti langganan kapan saja.
Anda mungkin juga berminat

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.