Materi khutbah Jumat berjudul Menyikapi Krisis Global Terkini yang disusun oleh Ustadz Zaki Abu Barbarosa ini mengangkat tema strategi spiritual dalam menghadapi krisis global. Penulis materi khutbah Jumat terbaru ini menekankan pentingnya menjaga ketakwaan dan rasa syukur sebagai fondasi utama seorang muslim saat menghadapi ketidakpastian dunia.
Terdapat dua pesan inti yang disampaikan, yakni kewajiban untuk bersabar menghadapi ujian serta perintah untuk senantiasa bertawakal kepada Allah. Khutbah ini menegaskan bahwa tawakal yang benar harus disertai dengan usaha yang maksimal dan keyakinan penuh terhadap takdir-Nya.
Melalui pendekatan berbasis ayat Al-Quran dan hadis, naskah khutbah Jumat ini bertujuan memberikan ketenangan batin bagi jamaah di tengah situasi ekonomi dan politik dunia yang sulit.
Materi Khutbah Jumat
Menyikapi Krisis Global Terkini
Pemateri: Ustadz Zaki Abu Barbarosa
Mukadimah Khutbah Jumat
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَجَعَلَ الظُّلُمَاتِ وَالنُّورَ ثُمَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
أَمَّا بَعْدُ.
عِبَادَ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ حَيْثُ قَالَ: يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ.
Khutbah Pertama
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah subhanahu wata’ala, Dzat yang telah melimpahkan kepada kita begitu banyak nikmat: nikmat iman, nikmat Islam, dan nikmat kesehatan, hingga pada siang hari ini kita masih diberikan kesempatan untuk melangkahkan kaki menuju rumah Allah, menunaikan kewajiban shalat Jumat secara berjamaah.
Sungguh, betapa pun beratnya kehidupan, betapa pun dunia sedang diliputi berbagai krisis dan kegelisahan, kita masih berada dalam naungan rahmat Allah.
Maka tidak pantas bagi kita, kecuali untuk terus bersyukur. Karena dengan syukur itulah nikmat akan ditambah, dan dengan kufur nikmat, justru azab yang akan mendekat.
Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, suri teladan terbaik, yang telah mengajarkan kepada kita bagaimana bersikap dalam setiap keadaan, baik dalam kelapangan maupun kesempitan, dalam kemudahan maupun kesulitan.
Semoga kita semua termasuk umatnya yang setia mengikuti sunahnya, dan kelak mendapatkan syafaatnya di hari kiamat.
Khatib berwasiat kepada diri pribadi dan juga kepada jamaah sekalian untuk senantiasa bertakwa kepada Allah. Sungguh, orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang beruntung.
Bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya takwa, merasa diawasi oleh-Nya, baik dalam keadaan terang-terangan maupun tersembunyi. Ketahuilah bahwa takwa adalah sebaik-baik bekal untuk menghadapi kehidupan akhirat.
Sikap Muslim di Tengah Krisis Global
Jamaah shalat Jumat rahimani wa rahimakumullah
Akhir-akhir ini kita menyaksikan berbagai kabar dari penjuru dunia. Konflik dan peperangan terus terjadi, ketegangan global semakin meningkat.
Para ahli memperingatkan bahwa jika kondisi ini terus berlangsung, maka akan berdampak besar terhadap kehidupan manusia di seluruh dunia, termasuk negeri kita Indonesia.
Harga-harga kebutuhan pokok berpotensi naik, bahan bakar bisa menjadi langka, dan kehidupan menjadi semakin sulit.
Dalam kondisi seperti ini, Islam tidak membiarkan umatnya bingung dan panik tanpa arah. Islam memberikan tuntunan yang jelas: bagaimana seorang muslim bersikap di tengah krisis global yang melanda.
Maka khutbah hari ini mengajak kita semua untuk merenungi: bagaimana seharusnya sikap seorang muslim ketika dunia sedang berada di ambang krisis global?
Pertama: Bersabar dan Menguatkan Iman
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Allah subhanahu wata’ala mengingatkan dalam al-Quran, Surat al-Baqarah: 155,
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ayat ini adalah ketetapan atau sunatullah dalam kehidupan manusia. Ayat ini juga menegaskan bahwa krisis global, kesulitan, bahkan ketakutan adalah bagian dari ujian kehidupan.
Oleh karena itu, sikap pertama seorang muslim adalah tidak panik, tetapi bersabar dan menguatkan iman.
Sikap sabar dalam menghadapi ujian atau krisis adalah sikap tertinggi seorang muslim. Bagaimana tidak, di balik semua krisis global yang menimpa saat ini, pasti tidak terlepas dari peran Allah subhanahu wata’ala.
Sehingga dengan sikap tersebut menjadi bukti bahwa iman kepada takdir Allah itu menghujam kuat dalam hati seorang muslim.
Khutbah Jumat: Sabar dan Shalat Kunci Hadapi Ujian Hidup
Hal ini sebagaimana keterangan Imam Ibnu Katsir, dalam kitab tafsirnya, juz 2, hlm. 53, ketika menafsirkan ayat di atas,
وَكُلُّ هَذَا وَأَمْثَالُهُ مِمَّا يَخْتَبِرُ اللَّهُ بِهِ عِبَادَهُ، فَمَنْ صَبَرَ أَثَابَهُ اللَّهُ وَمَنْ قَنَطَ أَحَلَّ اللَّهُ بِهِ عِقَابَهُ.
“Hal ini dan semisal dengannya yaitu segala bentuk ujian, merupakan suatu cobaan yang ditimpakan oleh Allah subhanahu wata’ala kepada hamba-hamba-Nya. Barang siapa yang sabar, maka ia mendapat pahala dan barang siapa tidak sabar, maka azab-Nya akan menimpanya.”
Sabar dalam menghadapi krisis global merupakan suatu keharusan, dengannya Allah menjanjikan pahala yang besar. Dengannya pula akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang lainnya.
Hal ini sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, hadits riwayat Muslim, hadits no. 2999,
عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ.
“Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruh urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.”
Maka marilah kita mencoba untuk tidak larut dalam kecemasan, tidak berlebihan dalam ketakutan. Sebaliknya, kita kuatkan hati, kita jaga iman, dan kita hadapi semua ini dengan kesabaran.
Karena bisa jadi, apa yang kita anggap sebagai kesulitan hari ini, justru menjadi jalan Allah untuk menguatkan iman kita.
Kedua: Bertawakal dan Berusaha
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Setelah kita diperintahkan untuk bersabar, maka sikap berikutnya adalah bertawakal kepada Allah dengan benar.
Setelah kita berusaha dan menghadapi berbagai ujian kehidupan, maka sudah sepatutnya kita tidak hanya mengandalkan kekuatan diri semata.
Kita perlu belajar untuk bersandar kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, menyerahkan segala hasil kepada-Nya, dan meyakini bahwa pertolongan-Nya selalu dekat bagi hamba yang berharap kepada-Nya.
Dalam Islam, tawakal memiliki makna menyerahkan segala urusan kepada Allah setelah melakukan usaha yang maksimal, dengan keyakinan bahwa segala sesuatu ditentukan oleh-Nya.
Pengertian ini mengandung dua unsur penting, yaitu (pertama) usaha atau ikhtiar, dan (kedua) penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah.
Maka dari itu, Allah subhanahu wata’ala berjanji kepada orang yang bertawakal saat ujian atau krisis melanda, saat segala daya dan usaha telah dilakukan, dan saat sabar telah menjadi kunci utama.
Allah subhanahu wata’ala berfirman, dalam al-Quran Surat ath-Thalaq: 3,
وَمَن يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.”
Ayat ini memberi ketenangan bagi hati kita, bahwa dalam kondisi sesulit apa pun, Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang bersandar kepada-Nya. Namun perlu kita pahami, tawakal bukan berarti diam tanpa usaha.
Khutbah Jumat: Sabar dan Tawakal Menghadapi Ujian
Adapun hati yang penuh tawakal digambarkan dengan keadaan burung pada hadits dari Umar bin al-Khatthab radhiyallahu ‘anhu, hadits riwayat at-Tirmidzi, no. 2344. Umar berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
لَوْ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ، لَرُزِقْتُمْ كَمَا يُرْزَقُ الطَّيْرُ، تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا.
“Seandainya kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian akan diberi rezeki seperti burung; ia pergi pagi dalam keadaan lapar dan pulang dalam keadaan kenyang.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Para ulama telah menjelaskan kepada kita tentang hakikat tawakal yang sebenarnya, agar kita tidak keliru dalam memahaminya.
Di antaranya adalah apa yang dijelaskan oleh Imam Ibnu Rajab al-Hanbali, dalam Jami’ al-’Ulum wal Hikam, hlm. 915,
وَحَقِيقَةُ التَّوَكُّلِ: هُوَ صِدْقُ اعْتِمَادِ الْقَلْبِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي اسْتِجْلَابِ الْمَصَالِحِ، وَدَفْعِ الْمَضَارِّ مِنْ أُمُورِ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ كُلِّهَا.
“Hakikat tawakal adalah ketulusan hati dalam bersandar kepada Allah subhanahu wata’ala untuk meraih segala kemaslahatan dan menolak segala kemudaratan, baik dalam urusan dunia maupun seluruh urusan akhirat.”
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Di tengah ancaman krisis global, jangan sampai kita hanya sibuk menghitung-hitung segala kemungkinan buruk yang bisa menambah ketakutan kita. Mari kita belajar untuk bersandar kepada Allah.
Kita tetap bekerja, kita tetap berusaha, tetapi hati kita tidak bergantung pada dunia, melainkan kepada Allah semata. Karena ketika manusia bersandar pada dunia, ia mudah gelisah, tetapi ketika bersandar kepada Allah, hatinya akan tenang.
أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِينَ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.
Khutbah Kedua dan Doa Penutup Khutbah Jumat
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ، وَسَلِّمْ تَسْلِيمًا كَثِيرًا. أَمَّا بَعْدُ،
فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، اتَّقُوا اللّٰهَ فِيمَا أَمَرَ، وَانْتَهُوا عَمَّا نَهَى. وَاعْلَمُوا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيهِ بِنَفْسِهِ، وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ بِقُدْسِهِ. وَقَالَ تَعَالَى:إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلِّمْ، وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ، وَالْمَلَائِكَةِ الْمُقَرَّبِينَ. وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ: أَبِي بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَعُثْمَانَ، وَعَلِيٍّ، وَعَن بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِينَ، وَتَابِعِي التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِينَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّينَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَأَعْلِ كَلِمَتَكَ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ.
اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلَاتَنَا، وَصِيَامَنَا، وَرُكُوعَنَا، وَسُجُودَنَا، وَقُعُودَنَا، وَتَضَرُّعَنَا، وَتَخَشُّعَنَا، وَتَعَبُّدَنَا، وَتَمِّمْ تَقْصِيرَنَا يَا اللّٰهُ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا، وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ. لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ، إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ، وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى، وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. وَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ.
Download PDF Materi Khutbah Jumat
Menyikapi Krisis Global Terkini
di sini
Semoga bermanfaat!
Anda ingin mendapat kiriman update materi khutbah
& artikel dakwah.id melalui WhatsApp?